ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 40


__ADS_3

Reynard menghenyakkan diri di atas sofa, di ruang kerja Ferdian. Diseruputnya kopi hitam yang sudah tak hangat lagi, lalu diletakkan perlahan di atas meja.


“Jadi, info apa yang kamu dapat tentang aset-aset Almarhum ayah Lusi?” tanya Ferdian seraya menyandarkan punggungnya yang terasa berat.


“Almarhum Hamzah, ayahnya Lusi itu adalah pemilik sebuah perusahaan ekspedisi yang lumayan punya nama juga. Sekitar sepuluh tahun ke belakang memang perusahaan itu cukup berkembang pesat. Tapi setelah istrinya meninggal sekitar enam tahun lalu dan Almarhum nikah dengan istri barunya, Ibu Merry, perusahaan itu lambat laun malah jadi makin merosot," tutur Reynard membuka info yang dia dapat.


“Almarhum Ayah Lusi sempat bermain investasi saham dengan rekannya, tapi tak beruntung. Hutangnya di bank sangat banyak. Rumah dan aset-asetnya berupa properti lain dan tanah digadaikan semua. Tapi menurut sumberku, ada beberapa aset yang sudah ditebus almarhum sebelum meninggal dunia nilainya hampir lima belas milyar, dan rumah yang ditempati ibu tirinya sekarang itu sudah ditebus juga belum lama ini nilainya sekitar empat milyar.“


“Lalu soal status kepemilikan aset-aset yang sudah ditebus, bagaimana?” tanya Ferdian serius.


“Oh iya. Semuanya masih atas nama almarhum Bapak Hamzah. Setelah aku cek memang belum ada satu pun yang beralih kepemilikan. Tapi yang jadi persoalan, semua sertifikat aset-aset yang sudah ditebus dari bank sekarang dikuasai oleh Ibu Merry. Itu kendala besar untuk dikembalikan ke tangan Lusi.”


Ferdian berpikir sejenak. Otaknya berputar mencari cara untuk mengembalikan semua harta warisan Almarhum Pak Hamzah yang menjadi hak Lusi. Karena itu juga tercantum dalam kesepakatan yang mereka tanda tangani sebelum pernikahan.


“Kau harus cari orang untuk mendekati Bu Merry, Rey,“ usul Ferdian kemudian.


“Maksudmu?”


“Cari laki-laki yang bisa mendekati dan merayu Bu Merry. Bikin perempuan itu jatuh cinta dan percaya penuh untuk menyerahkan semua sertifikat itu. Kau paham maksudku, kan?”


Jelas Reynard mengerti, lalu mengangguk-angguk seraya tersenyum penuh arti.


“Setuju, Bro. Nanti aku carikan laki-laki yang tepat untuk tugas itu,“ jawab Reynard mantap.


“Oiya, soal Cantika. Apa reaksi dia setelah tau kau menikah dengan Lusi?” tanya Reynard lagi karena tiba-tiba terpikir olehnya tentang sindiran Cantika pada Ferdian tadi.


“Hmm, kurang welcome sepertinya," jawab Ferdian setelah menghela napas panjang.


“Sudah kuduga. Apalagi pernikahan kalian mendadak. Pasti dia menyangka macam-macam.“


“Apa aku harus kasih tau Cantika soal kesepakatan kita ini, Rey? Aku lihat sikapnya pada Lusi kurang bersahabat.”


“Lebih baik jangan sekarang, Bro. Kita tunggu waktu yang tepat. Jangan sampe rencana kita gagal,” saran Reynard dengan tatapan serius. Ferdian pun mengangguk paham.


Di kolam renang.


Amanda dan Cantika duduk berhadapan di kursi panjang pinggir kolam. Amanda sebentar-sebentar menoleh ke dalam rumah dengan tatapan penuh tanya.


“Tika, kakak kamu sama Reynard lama banget di ruang kerjanya. Ngapain yah?” tanya Amanda penasaran. Cantika yang sedang menikmati segelas Jus orange mengangkat bahu sekilas.


“Mungkin lagi omongin kerjaan,” jawab Cantika singkat.


Amanda mendengkus kesal. Sejak tadi dia sengaja berada di kolam renang itu menunggu kesempatan untuk berbicara dengan Ferdian tapi justru Reynard yang diladeni.


Amanda kurang menyukai Reynard karena dia tahu Reynard selalu mempengaruhi Ferdian untuk menjauhi dirinya.


“Kak, Kak Amanda masih cinta sama Kak Ferdian?” tanya Cantika tiba-tiba.


Amanda tersenyum mendengar pertanyaan itu. Serasa mendapat angin segar dari surga.


“Masih dan selalu cinta,“ jawab Amanda penuh harap.


“Tapi, kan kak Ferdian sudah menikah. Bagaimana?” tanya Cantika lagi.


“Yaaa, biar aja. Aku tetap menunggu Ferdian kembali lagi padaku.”


Cantika mengangkat sebelah alisnya. Heran dengan Amanda yang sebegitu cintanya pada kakaknya itu walaupun sudah ditinggal menikah dengan perempuan lain.


“Kamu sendiri, bagaimana pendapat kamu soal pernikahan kakak kamu dengan anak bau kencur itu?” Amanda balik bertanya dengan nada suara sinis.


“Entahlah, Kak. Aku masih bingung dan gak mengerti dengan Kak Ferdian yang tiba-tiba menikahi Lusi. Aku gak pernah tau dan gak pernah dengar nama Lusi diantara wanita-wanita yang dekat dengan kakakku sebelumnya. Apalagi usia mereka terpaut jauh sekali, hampir sembilan tahun. Rasanya gak percaya aja kak Ferdian punya selera sama anak baru gede begitu,” ungkap Cantika dengan kesal yang meluap.


Amanda pun tersenyum lebar. Dia paham, dari ucapan Cantika terdengar jelas gadis itu tidak menyukai Lusi sebagai istri Ferdian.


Sikap Cantika membuatnya semakin berharap gadis itu bisa membantunya membuka hubungan kembali dengan Ferdian.


“Seperti yang pernah aku bilang ke kamu, Tika. Mungkin ada sesuatu yang membuat Ferdian terpaksa menikahi Lusi.”

__ADS_1


“Aku sempat berpikir begitu juga, Kak. Aku kira karena Lusi hamil. Tapi aku perhatikan sikap dan bentuk badan Lusi biasa aja, tidak seperti rata-rata perempuan yang sedang hamil.”


“Cantika, aku yakin mereka menikah bukan karena cinta. Aku tau banget selera Ferdian soal wanita itu seperti apa.”


“Benar, Kak. Dan anehnya lagi aku dengar dari asisten rumah tangga disini bahwa selama ini mereka tidur pisah kamar sejak awal loh, Kak,” ujar Cantika penuh tanda tanya.


Amanda terkesiap, mulutnya menganga dan matanya terbelalak mendengarnya.


“Serius, Tik?” tanyanya tak percaya


“Beneran, Kak. Lusi tidur di kamarku selama tinggal disini.”


“Hmmm ... begitu ya?” Amanda mengangguk-angguk. Bibirnya menyungging senyum tipis.


Hatinya mengembang mendengar informasi itu. Berarti selama ini kecurigaannya benar, ada sesuatu dibalik pernikahan mantan tunangannya itu.


Berarti selama ini kemesraan yang mereka tunjukan diluar adalah palsu, hanya sandiwara. Luar biasa akting kamu, Ferdian. Sudah bikin aku tertipu dan nyaris putus asa. Pikir Amanda dalam hati.


Keduanya langsung menghentikan obrolan ketika melihat Ferdian dan Reynard menghampiri tempat mereka.


“Hai, Amanda.“ sapa Reynard melambai sekilas pada Amanda. Namun nada suaranya datar saja.


Amanda hanya balas melambai sambil tersenyum kecil.


“Cantika, aku pergi dulu ya,“ pamit Reynard pada Cantika.


“Kok buru-buru, Kak Rey. Makan siang disini aja. Aku masih pengen ngobrol-ngobrol sama Kak Rey.” Cantika merajuk dan mengaitkan jarinya pada telunjuk Reynard dengan manja.


“Next time ya, Adik manis. Oke?” Reynard mengacak-acak rambut Cantika gemas. Lalu melangkah keluar diantar Ferdian sampai teras depan rumah.


“Bro, kayaknya Amanda mulai pedekate ke kau lagi tuh. Hati-hati bisa kepincut lagi,” bisik Reynard sebelum melangkah menuju mobilnya.


“Tenang aja. Gak akan. Aku udah punya Lusi," jawab Ferdian sambil mengulum senyum.


“Oke lah, kalo begitu. Semoga sukses membuat Lusi jatuh cinta sama kamu. Semangat ya,” balas Reynard menggoda Ferdian, kemudian masuk ke mobilnya.


Ferdian kembali masuk ke dalam menuju meja makan. Diambilnya beberapa lembar roti lapis dan segelas susu coklat untuk Lusi yang masih berada dikamar. Sebenarnya itu alasannya saja agar bisa mengakrabkan diri dengan Lusi.


“Kak, sini dong sebentar,” panggil Cantika setengah berteriak.


Ferdian menoleh lalu melangkah malas menghampiri Cantika.


“Ada apa?” tanya Ferdian di hadapan adiknya.


Amanda menatap Ferdian intens dan menikmati wajah tampan dengan bekas cukuran yang kebiruan di sekitar rahang dan dagunya. Ferdian tahu Amanda sedang menatapnya lekat tapi dia enggan menoleh.


“Tolong temani Kak Amanda sebentar aja, aku mau ke kamar kecil dulu.” Cantika langsung ngeloyor pergi tanpa menunggu jawaban Ferdian.


“Tika...” Panggil Ferdian, tapi tak digubris. Justru Cantika setengah berlari masuk ke dalam rumah.


Amanda menggeser duduknya agar lebih mendekat dihadapan Ferdian yang masih tegak ditempatnya.


“Istri kamu belum bangun?” tanya Amanda lembut.


“Mungkin. Yang pasti masih dikamar," jawab Ferdian malas.


“Udah jam segini kok masih tidur ya? Manja sekali,” ketus nada suara Amanda.


Dan itu sangat tak nyaman di pendengaran Ferdian.


“Mungkin dia kecapean karena semalam melayani aku beberapa kali.” Ferdian berdusta, namun berhasil membuat hati Amanda panas terbakar api cemburu.


“Ferdian...” Amanda meraih tangan Ferdian.


“Kamu sengaja bikin aku cemburu ya?“ tanya Amanda lembut menggoda.


Ferdian tak menjawab hanya menggeleng. Lalu menarik tangannya kembali dari genggaman Amanda.

__ADS_1


“Ferdian, Aku....”


“Maaf, aku masuk dulu.” Ferdian malas menanggapi. Lalu pergi begitu saja meninggalkan Amanda yang kesal karena sikap Ferdian yang sangat acuh padanya.


Ferdian membuka pintu kamarnya perlahan, bersama roti lapis dan segelas susu coklat di atas nampan.


Dia mencari Lusi di ranjangnya, tapi tak ada. Mungkin dikamar mandi, pikirnya. Diletakkannya nampan itu di atas meja sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.


Ternyata Lusi tengah berdiri di balkon menghadap ke kolam renang. Ferdian langsung menghampirinya.


Jangan-jangan dia liat aku disana bersama Amanda. Bathin Ferdian menduga.


“Sudah bangun?” Ferdian berdiri di belakang Lusi. Lalu menyejajarkan diri di sampingnya.


“Sudah dari tadi, Mas,” jawab Lusi datar.


“Kok gak turun, aku tadi nunggu kamu sarapan di bawah?”


“Gak, lebih suka disini. Bisa nonton orang mesra-mesraan,” Nada suaranya mengandung sindiran. Lalu membalikkan badannya menatap Ferdian.


Wajah Ferdian seketika memerah. Dia tahu yang dimaksud Lusi adalah dirinya bersama Amanda di kolam renang tadi.


Lusi tersenyum sekilas melihat Ferdian yang tampak kikuk dihadapannya.


“Aku cuma ngobrol sebentar tadi sama dia.” Tanpa ditanya Ferdian menjelaskan.


Lusi hanya mengedipkan mata, menyentuh lengan Ferdian sejenak lalu melangkah masuk kamar.


Di raihnya segelas susu coklat hangat kesukaannya, diteguknya pelan sampai tandas tak bersisa.


Ferdian mengikuti Lusi masuk. Dia duduk di sofa memperhatikan Lusi yang tengah menikmati sarapannya.


Cantik. Puji Ferdian dalam hati.


Memandangi Lusi yang hanya mengenakan celana tidur sebatas paha dan baju kaos hitam tanpa lengan, ditambah rambut yang di gulung ke atas yang memperlihatkan leher putih Lusi yang mulus membuat gairah kelaki-lakiannya seketika meninggi.


Lusi tahu Ferdian menatap dirinya begitu dalam. Dia merasa Ferdian akan melakukan sesuatu padanya.


Benar saja.


Ferdian mendekati Lusi yang berdiri di samping meja. Di sentuhnya pinggang Lusi dari belakang. Dikecupnya dengan lembut bahu Lusi yang putih mulus.


Lusi hanya diam, matanya terpejam menikmati kecupan Ferdian yang berulang-ulang di bahu dan lehernya.


Ferdian membalikkan tubuh Lusi dan merapatkan ke tubuhnya. Pandangan mereka pun bertemu.


Gairahnya makin memuncak melihat belahan dada Lusi yang menyembul di balik t-shirt nya yang berkerah rendah. Bibirnya mendekat dan mengecup bibir mungil Lusi sesaat.


Namun tiba-tiba Lusi mengalihkan wajahnya, menghindari bibir Ferdian yang sudah menempel di bibirnya lalu melepaskan rengkuhan tangan Ferdian dari pinggangnya.


“Kenapa?” tanya Ferdian merasa terusik.


Lusi hanya menggeleng. “Aku belum siap, Mas.” jawab Lusi lirih.


“What? Belum siap? Menikah sudah selama ini kita belum melakukan apa-apa?” gerutu Ferdian dengan sangat kesal. Disaat nafsunya sudah dipuncak Lusi malah menolaknya.


“Kita kan cuma nikah pura-pura, Mas. Ingat kesepakatan kita," ucap Lusi begitu ringannya.


“Itu lagi - itu lagi yang kamu sebut. Ya udah kita nikah beneran aja kalo begitu,” tantang Ferdian dengan suara meninggi.


Alih-alih menjawab, Lusi malah kabur dan masuk ke kamar mandi meninggalkan Ferdian yang menatap kesal padanya sambil mengelus dada. Sabar.


 “Apa perlu pake kekerasan nih ngadepin kamu?” gumam Ferdian menggerutu seolah Lusi masih di hadapannya.


Di ambilnya segelas air putih diatas meja. Lalu diminumnya sampai tak bersisa untuk menurunkan nafsu liarnya yang tadi sudah nyaris meledak.


PLEASE LIKE, VOTE AND COMMENTS YAH READER YANG BAIK, UNTUK MENDUKUNG AUTHOR TETAP SEMANGAT MENULIS 

__ADS_1


__ADS_2