ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 46


__ADS_3

Cantika dan Amanda masih ternganga menatap bingung pada Ferdian dan Lusi yang berdiri terpaku saling menatap grogi di depan pintu ruangan kerja.


Ditambah lagi ketika menoleh pada Reynard yang muncul tersenyum-senyum sendirian dari arah ruang tamu sehabis mengantar keluar para pengacara dan notaris tadi.


Senyum Reynard seketika lenyap ketika mendapati Cantika menatap tajam ke arahnya. Dia langsung paham tatapan Cantika yang penuh tanda tanya itu.


Reynard menghampiri Ferdian dan Lusi dengan rautnya yang mulai menampakkan kegugupan.


“Aku jalan dulu, ya, Bro. Ada janji sama klien siang ini," ucap Reynard pelan pada Ferdian.


“Oke, thanx ya, Rey."


“Eehhh....Tunggu, tunggu! Jangan ada yang pergi dulu!” cegah Cantika membentangkan tangan di hadapan ketiganya. Ferdian dan Reynard saling menoleh sekilas.


“Yang tadi itu pengacara kantor kak Ferdian, kan? Yang tinggi tadi," tanya Cantika cepat.


“Iya, betul,” jawab Ferdian ringan.


“Ngapain mereka kesini?“


Ferdian dan Reynard saling melirik.


“Urusan kerjaan,” jawab Ferdian singkat. Namun semakin membuat Cantika mendelik curiga.


“Urusan kerjaan? Kenapa gak di kantor aja? Kenapa di rumah ini? Dan kenapa ada Lusi juga?” tunjuk Cantika melotot pada Lusi yang berdiri di belakang bahu Ferdian.


Ferdian mulai tampak kebingungan mencari jawaban atas pertanyaan Cantika yang bertubi-tubi itu.


“Apalagi yang kakak sembunyikan dari aku, Kak?” Suara Cantika mulai meninggi.


Amanda yang berdiri di belakang Cantika ikut melotot geram pada Lusi.


“Aku gak sembunyikan apa-apa, Cantika. Beneran. Ini cuma masalah satu pekerjaanku yang belum selesai. Aku butuh bantuan Pengacara," jawab Ferdian dengan suara melunak.


“Kak Rey, ayo ngaku, ngapain Kak Rey juga ikut ke dalam sana. Kak Rey, kan gak sekantor dengan Kak Ferdian. Urusan apa yang kalian sembunyikan?” Cantika beralih menodong Reynard. Pria tampan itu celingak- celinguk dengan ekspresi lucu, pura-pura tak mendengar.


“Kak Rey!” bentak Cantika lagi. Reynard tersentak lalu tersenyum kecut pada Cantika yang berkacak pinggang menghadap padanya.


“Ohh, Hmm ... aku cuma temani Ferdian kok, beneran deh. Sawer, eh, suwer deh.” Reynard mengangkat dua jarinya dengan ekspresi wajah yang memelas, maksudnya ingin mencandai Cantika supaya tidak marah padanya. Tapi justru makin membuat Cantika meradang.

__ADS_1


“Kak Reeeyy....!” jerit Cantika kesal mendengar jawaban Reynard yang nyeleneh.


“Maaf, maaf, aku udah ditunggu klien nih. Aku pergi dulu, yah. Yuk, bye semua!“ Reynard langsung buru-buru melangkah cepat keluar dari rumah Ferdian menghindari bredelan pertanyaan Cantika yang sedang emosi tinggi itu.


Cantika menghentakan kakinya kesal lalu berbalik badan menghadapi Ferdian dan Lusi yang saling bergenggaman tangan.


“Aku tau pasti ada sesuatu yang disembunyikan. Sama seperti Kakak sembunyikan pernikahan Kakak dari aku. Kakak gak jujur sama aku. Oke fine, aku akan cari tau sendiri nanti," ucap Cantika kesal menatap Ferdian dan Lusi bergantian dengan tatapan sangar.


Dengan hati yang penuh amarah bercampur rasa penasaran Cantika melangkah cepat menaiki anak tangga menuju kamar nya.


Sekilas Amanda menatap pasangan itu dengan sorot mata yang bengis lalu ikut menyusul Cantika.


“Mas?” Lusi memanggil Ferdian lirih. Dia merasa sangat bersalah karena menyembunyikan ini semua dari Cantika. Dia tidak tersinggung sedikit pun dengan semua perkataan adik iparnya itu, justru memaklumi.


Cantika sinis padanya memang karena ketidaktahuan mengenai masalah serius yang tengah dia hadapi sekarang ini.


“Gak pa-pa. Kamu tenang aja. Nanti ada saatnya aku kasih tau yang sebenarnya pada Cantika. Yang terpenting sekarang urusan kamu harus selesai dulu," ucap Ferdian menenangkan kegusaran Lusi.


Gadis itu menghela nafasnya yang sempat tertahan, kemudian mengangguk pelan pada Ferdian.


Dikamar Cantika. Gadis itu menelungkupkan tubuhnya keatas ranjang. Dia membenamkan kepalanya pada bantal besar untuk meredam emosinya yang hampir meledak menghadapi kakaknya tadi.


Cantika bangkit lalu duduk bersila memeluk bantal masih dengan raut wajah kesal.


“Kak, aku kok merasa Kak Ferdian sangat jauh berubah, seperti bukan dirinya," ucap Cantika pada Amanda di sampingnya.


“Apalagi sejak bersama perempuan itu. Sangat jauh berubah. Entah apa yang dikasih perempuan itu untuk Ferdian. Aku penasaran deh,” timpal Amanda memanas-manasi suasana.


“Lusi? Dia cuma gadis biasa tapi kenapa Kak Ferdian keliatan begitu sayang sama dia? Sampai-sampai aku adiknya sendiri aja seolah gak dianggap. Aku pulang ke Indonesia ingin menghabiskan waktu bersama kak Ferdian, tapi apa yang aku dapat. Kak Ferdian justru lebih sering berduaan sama istrinya itu. Untung ada Kak Amanda yang selalu temenin aku disini," gerutu Cantika seraya mendengus sebal.


“Yaaa, kayak yg dulu pernah aku bilang ke kamu, Tika. Perempuan seperti Lusi belum tentu tulus mencintai pria mapan seperti kakak kamu. Pasti ada sesuatu yang dia kejar dari Ferdian. Karena itu dia pake segala cara supaya Ferdian mengabulkan semua apa yang dia minta.”


Cantika menatap Amanda lama. Dia belum mengerti maksud omongan Amanda barusan.


“Maksud Kak Amanda?” tanya Cantika penasaran


Amanda tidak langsung menjawab. Dia keluarkan handphonenya dari dalam tas tangannya. Lalu memencet tombol recorder dan di hadapkan pada Cantika.


Mas Ferdian punya segalanya yang aku butuhkan, apapun yang aku minta pasti dia kasih. Jadi aku gak perlu uang siapapun. Memiliki Mas Ferdian ibarat mendapatkan harta karun yang terpendam di dasar lautan Antartika, kamu juga tau itu kan?

__ADS_1


Rekaman suara Lusi terdengar jelas dari ponsel Amanda. Cantika menarik bibirnya saking kesal mendengarnya. Dia ulangi lagi rekaman suara Lusi beberapa kali untuk meyakinkan apa yang didengarnya.


“Perempuan matre ternyata!" umpat Cantika membayangkan wajah Lusi di benaknya.


Amanda tampak tersenyum puas karena telah memperdengarkan rekaman suara Lusi pada Cantika. Dia sengaja membuat Cantika beropini yang kurang baik pada Lusi.


“Sekarang kamu tau, kan maksud perempuan itu menikah dengan kakak kamu?” pancing Amanda, Dia sangat senang melihat Cantika dengan raut yang tampak geram menahan emosi.


“Haduuh! Kakakku ketemu dimana sih sama Lusi? Kok bisa-bisanya kecantol sama perempuan model begitu?”


“Yang pasti bukan di tempat yang se-level dengan kita, Tika. Kamu tau, kan bagaimana pergaulan kakak kamu. Teman-teman dan kerabatnya semua dari kalangan atas. Sementara Lusi? Entah dari mana dia berasal, kok tiba-tiba bisa jadi istri Ferdian,” tambah Amanda semakin membangun kecurigaan Cantika pada Lusi.


“Iya juga ya, Kak. Aku juga bingung, deh. Dan sepertinya kak Rey juga mendukung Lusi. Padahal kita tau sendiri, kan Kak Rey borjuis-nya seperti apa. Mana mau dia bergaul dengan perempuan sembarangan,“ ujar Cantika, otaknya berpikir keras.


“Jangan-jangan Lusi pake ilmu pelet yang bisa bikin semua laki-laki tergila-gila sama dia,” duga Amanda tiba-tiba. Cantika melirik Amanda dengan mengernyitkan keningnya.


“Ah, Kak Amanda mengada-ngada, deh! Hari gini mana ada ilmu gitu-gituan. Ini udah jaman milenial, Kak. Bukan jaman kolotnial lagi,“ sergah Cantika sambil tertawa ringan.


“Eehh, masih ada, loh yang pake gitu-gituan. Apalagi untuk perempuan pekerja *3** komersil, mereka pasti pake itu untuk memikat laki-laki hidung belang demi dapet uang banyak,” ucap Amanda serius.


Tawa Cantika semakin keras menggema. Dia tak menyangka Amanda, seorang wanita yang elegant dan modern, kaya raya dan high class ternyata masih percaya dengan hal-hal klenik seperti itu.


“Kamu gak percaya, silahkan, Tika. Tapi liat gimana kuatnya pengaruh Lusi pada Ferdian. Dan kamu pikir ngapain mereka tadi kumpul-kumpul di ruang kerja Ferdian?” tanya Amanda agak sebal juga dirinya ditertawakan oleh Cantika.


“Entah, Kak. Aku pasti akan cari tau secepatnya. Aku kenal dengan pengacara Kak Ferdian tadi.“


“Apa kamu gak kepikiran pertemuan mereka ada hubungannya dengan harta kakak kamu?” pancing Amanda melirik tajam pada Cantika.


“Maksud Kak Amanda apa? Aku gak ngerti.” Cantika menautkan kedua alisnya.


“Bisa jadi mereka sedang bikin kesepakatan untuk membagi sebagian harta Ferdian untuk Lusi. Kamu dengar kan isi rekaman suara Lusi tadi seperti apa dia ingin menguasai Ferdian.” Amanda kian beropini liar untuk memperparah suasana hati Cantika yang masih membara.


“Gak bisa! Aku gak rela. Aku akan cegah jangan sampai itu terjadi. Kalo perlu aku akan ambil cuti kuliah satu semester untuk mengawasi kakakku dan istrinya itu," tekad Cantika memicingkan mata, gemas membayangkan kemungkinan buruk yang disampaikan Amanda.


Amanda semakin menaruh harapan besar pada Cantika untuk memisahkan Lusi dari Ferdian. Dia tahu Ferdian sangat sayang pada adik semata wayangnya itu. Dia yakin apa yang Cantika minta pasti dituruti oleh Ferdian. Jadi memang tak salah Amanda mendekati Cantika untuk merebut Ferdian kembali.


Jika nanti Lusi keluar dari kehidupan kamu, aku siap menunggu dudamu, Ferdian. Tekad Amanda dalam hatinya berharap.


MOHON KRITIK DAN SARANNYA DI KOLOM KOMEN YA PARA READER YANG BAIK. JIKA SUKA SILAHKAN VOTE, LIKE DAN KASIH BINTANG NYA. TRIMA KASIH. HATUR NUHUN

__ADS_1


__ADS_2