
Mbak Ira dan Pak Dirman tersontak kaget melihat kondisi Lusi yang lunglai tengah dipapah hati-hati oleh Ferdian menuju ke kamarnya.
“Non Lusi kenapa, Boss?” tanya Mbak Ira dengan raut cemas.
“Accident,” jawab Ferdian singkat.
Dia sengaja menggunakan istilah asing supaya Mbak Ira ataupun Pak Dirman tidak banyak bertanya tentang apa yang terjadi sebenarnya.
Kedua asisten rumah tangganya itu saling menoleh, sama sekali tak mengerti apa yang di katakan Boss mereka.
“Oksigen?” tanya Mbak Ira berbisik pada Pak dirman yang berjalan merapat padanya.
“Bukan, kata Boss tadi sinden,” bantah Pak Dirman dengan mimik wajah serius.
Mereka berjalan mengikuti Ferdian menuju kamarnya dengan rasa khawatir yang mendalam melihat istri Boss mereka itu dalam keadaan tak berdaya.
Ferdian membaringkan tubuh Lusi ke atas tempat tidur. Lalu menutupi tubuhnya dengan selimut sebatas leher.
Kelopak mata Lusi terpejam rapat menahan pusing yang masih menggelayut di kepalanya.
“Mbak, tolong ambilkan air hangat dan handuk kecil,“ perintah Ferdian pada Mbak Ira.
“Baik, Boss.” Segera Mbak Ira bergegas pergi melaksanakan apa yang diminta Bossnya.
“Pak Dirman. Nanti kalo Reynard sudah datang suruh dia langsung ke kamar ini, ya,” perintah Ferdian pada Pak Dirman yang masih mematung menatap Lusi yang terbaring lemah dan pucat.
“Baik, Boss. Saya jaga di pos dulu,” pamit Pak Dirman lalu bergegas melangkah keluar dari kamar Ferdian.
Tak makan waktu lama Mbak Ira datang membawa sebaskom air hangat dan handuk putih kecil. Lalu dia letakkan di atas meja dekat ranjang.
“Cantika kemana, Mbak?”
“Oh, tadi Non Cantika pergi sama mantannya si Boss. Katanya nonton ke bioskop,” jawab Mbak Ira polos.
Ferdian tahu siapa yang Mbak Ira sebut 'mantan' itu. Lalu melotot geram pada Mbak Ira. “Mantan apa? Dasar nyinyir!"
Spontan Mbak Ira menbekap mulutnya sendiri lalu melirik Lusi yang masih terpejam.
“Sorry, Boss. Aduh! ini mulut emang gak ada saringannya. Bikin repot aja," sesal Mbak Ira sambil menepuk bibirnya sendiri.
“Huush! Berisik!” omel Ferdian lagi.
“Sini biar Mbak Ira aja yang lap Non Lusi, Boss.” Mbak Ira menawarkan diri.
“Gak usah, biar saya aja. Mbak Ira cepat ke dapur, bikinin bubur untuk Lusi.”
“Baik, Boss.” Mbak Ira mengangguk hormat lalu keluar dari kamar itu dan menutup pintunya pelan.
Ferdian memandang wajah polos Lusi yang pucat. Lalu mengaitkan rambut Lusi ke belakang telinga.
Sejenak dia menggeleng-geleng kepala seraya menghela nafasnya berat, tak tega melihat keadaan Lusi yang begitu syok dengan kejadian yang dialaminya hari ini.
Dia ambil handuk yang sudah dibasahi air hangat lalu meraih lengan Lusi dan mengusapnya pelan.
Gadis itu membuka kelopak matanya lemah. Lalu menatap wajah Ferdian dalam-dalam dengan bola matanya yang sayu.
“Aku jadi inget ayah....” ujar Lusi lirih seraya membentuk senyum kecil disudut bibir.
Ferdian mengangkat wajahnya menatap bola mata Lusi yang bening dan mulai berkaca-kaca. Lalu menyungging senyum manis padanya.
“Mas persis kayak ayahku," lirih Lusi lagi.
__ADS_1
Ferdian mendelik. “Maksud kamu, aku tua gitu?“ selorohnya.
Lusi pun tersenyum lebar menampilkan deretan giginya yang rapi, lalu menggeleng lemah.
“Dulu kalau aku lagi sakit, ayah yang paling panik. Sama kayak Mas sekarang. Makanya aku inget ayah," ucap Lusi dengan suara yang lemah.
Sebulir air mata yang tak mampu dia tahan akhirnya bergulir dari sudut matanya. Ferdian jelas melihat itu.
“Seandainya ayah masih hidup, mungkin nasibku gak kayak begini sekarang ya, Mas.” Suara Lusi serak, air matanya tak terbendung lagi. Dia menangis tersedu-sedu.
Ferdian mengusap air mata Lusi dengan lembut.
“Gak boleh ngomong begitu. Nanti Ayah kamu gak tenang di alam sana,” ucap Ferdian pelan.
Lusi tak berhenti terisak. Yang dia rasakan kini adalah kangen yang sangat mendalam pada mendiang ayahnya yang semasa hidup selalu memanjakan dirinya, membelanya dan melindunginya.
“Ayah Mertuaku, tenang-tenang ya di surga sana. Putri mu yang cantik ini aman kok bersama menantu mu yang gantengnya kebangetan ini. Oke, Ayah, Love you full." canda Ferdian seraya menengadahkan kepalanya menatap langit-langit seolah-olah tengah berbicara pada seseorang di atas sana.
Lusi tertawa kecil di sela isaknya melihat tingkah Ferdian. Dan itu sedikit mengurangi rasa sakit dikepalanya.
Tok...Tok...Tok... Terdengar ketukan di pintu kamar. Ferdian lekas menghampiri dan membukanya.
Reynard dengan penampilannya yang sudah fresh nyelonong masuk tanpa menyapa Ferdian yang membukakan pintu untuknya dan langsung menempatkan duduknya di samping tubuh Lusi.
Dia memperhatikan wajah Lusi sudah bersemu pink kembali dan tampak masih menyisakan senyum karena di candai oleh Ferdian tadi.
“Kayak nya Lusi udah seger nih? Dikasih vitamin C ya sama suster Ferdian?” goda Reynard seraya menempelkan telapak tangannya pada pipi Lusi yang masih tampak merah bekas perbuatan Bu Merry.
“Heeeehhh, jangan pegang-pegang!" omel Ferdian spontan menepuk bahu Reynard.
“Idiihh, ama aku aja pake dicemburuin.“ gerutu Reynard melirik Ferdian yang berdiri disampingnya.
Ferdian mencolek bahu Reynard untuk mengikuti dirinya ke balkon. Ada sesuatu yang ingin dia bicarakan tanpa di dengar oleh Lusi.
“Kita ke kantor polisi sekarang, aku akan melaporkan ibu tirinya Lusi itu. Aku gak terima melihat Lusi di perlakukan sekejam itu.” ucap Ferdian setengah berbisik.
“Iya, Bro. Aku udah telepon pak Hermansyah pengacara kau. Dia menunggu kau di polsek setempat sekarang untuk mendampingi bikin Laporan.”
“Good. Ayo kita berangkat sekarang.“
Ferdian dan Reynard masuk lagi ke dalam kamar menghampiri Lusi.
“Lusi, kamu istirahat ya. Nanti Mbak Ira yang temenin kamu di sini. Aku pergi dulu sebentar," pamit Ferdian. Lusi hanya mengangguk. Ferdian dan Reynard pun bergegas keluar dari kamar itu.
Di Rumah Bu Merry
Wanita menor setengah baya itu duduk meringkuk di sudut kamarnya yang gulita. Sengaja dia mematikan lampu dan menutup gordennya dengan maksud untuk mengelabui keadaan jika ada orang yang mencarinya.
Dia membenamkan tubuhnya dalam selimut, hanya kepalanya yang menyembul keluar. Nafasnya turun naik tak beraturan. Seluruh tubuhnya gemetar. Dia sangat ketakutan.
Bayangan wajah Ferdian dan mengingat ancaman Ferdian tadi siang membuatnya bergidik dan panas dingin.
Apa benar laki-laki itu suami Lusi? Aku gak percaya. Dilihat dari penampilannya sepertinya orang yang sangat berkelas. Mana mungkin dia mau sama Lusi yang hidup ala kadarnya itu. Tapi bagaimana dia bisa tau bahwa aku telah menjual Lusi pada Bramanto? Aku takut sekali. Kalo benar laki-laki itu suami Lusi dan melaporkan aku ke polisi, habis lah aku. Ucap bathin Bu Merry dengan tubuh gemetar tak terkira.
Ceklek...!
Tiba-tiba pintu kamar nya dibuka seseorang. Bu Merry kaget dan langsung menutup kepalanya dengan selimut lalu beringsut pelan masuk ke kolong tempat tidurnya.
Langkah kaki orang itu mendekati tempat tidur. Ketukan sepatunya nya sangat dekat di telinga Bu Merry yang tengah meringkuk.
Tiba-Tiba lampu menyala. Seketika ruangan itu terang benderang.
__ADS_1
“Maaa? Maaa? Mama dimana?“ suara cempreng Priska nyaring memanggilnya.
Ya Tuhan, ternyata Priska, hampir copot jantung ku. Gumam Bu Merry dalam hati.
“Priska...Pris...Bantu mama keluar. Cepat.” Bu Merry melambai-lambaikan tangannya di bawah kolong tempat tidur.
Priska menoleh cepat ke asal suara. Dia terkejut, spontan berjongkok dan menunduk melihat ke dalam kolong.
“Ya ampun, mama ngapain di situ?” tanya Priska heran.
“Tolong bantu mama keluar dulu,” pinta Bu Merry dengan nafas yang sudah sesak karena badannya terhimpit.
Priska mengangkat sedikit ranjang besi itu memberi ruang untuk mamanya keluar dari bawahnya.
“Mama apa-apaan sih ngumpet di kolong tempat tidur? Mana semua lampu di matiin lagi. aku kira listrik padam. Kan gelap tau, Ma," gerutu Priska sambil berjongkok di samping tubuh mamanya yang bersandar pada pinggir ranjang.
“Mama takut, Pris," ucap Bu Merry dengan suara bergetar.
Priska memperhatikan raut wajah Bu Merry yang tampak pucat dengan buliran keringat dingin membasahi wajah dan lehernya.
“Takut sama siapa, Ma? Takut setan?”
“Ini lebih menyeramkan dari setan.”
Priska mengernyitkan keningnya tak mengerti dengan jawaban mamanya.
“Mama ketemu Lusi tadi.” Beritahu Bu Merry tergagap.
“Hah? Jadi maksud mama, Lusi lebih seram dari setan ?”
“Bukan Lusi yang lebih seram dari setan. Tapi suami nya," ucap Bu Merry mendelik kesal pada Priska. Otak anaknya itu memang terlalu lemah untuk mengerti sesuatu.
“Suami Lusi memang lebih seram dari Setan. Sudah lah jelek, jidat nya lebar, bandot tua pula. Masa Mama baru sadar sekarang” Umpat Priska seenaknya.
“Heh, bod0h! Itu sih Bramanto yang kamu sebutkan itu.” Bu Merry menjitak kepala anaknya, gemas dengan kelemotan otak putri tersayangnya itu.
“Loh, memang Om Bramanto kan suaminya Lusi? Iiihhh mama amnesia ya? Kan Mama sendiri yang bilang begitu sama aku.”
Bu Merry makin kesal dengan kebodohan hakiki yang dimiliki putrinya itu.
“Heh, Priska. Dengar. Lusi itu sudah menikah dengan orang lain, orangnya ganteng tinggi putih bersih. Dari penampilannya kayaknya orang berduit.“
“Hah? Masa? Yang bener, Ma?"
“Lusi itu kabur dari rumah Bramanto sebelum di apa-apain. Dan tadi mama ketemu Lusi, mama seret dia, maksud mama akan mama bawa ke Bramanto. Tapi tiba-tiba ada cowok yang menghadang mama, dia bilang dia
suaminya Lusi. Awalnya mama gak percaya. Tapi dia bilang dia tau soal urusan mama dengan Bramanto. Dan mengancam akan melaporkan mama ke polisi,” cerita Bu Merry dengan nafas tersengal-sengal tak beraturan.
“O my God. Terus yang lebih seram dari setan yang mana, Ma.”
“Haduuuhh, Priska. Yang lebih seram dari setan itu maksudnya si suami Lusi itu ngancam mama akan laporkan mama ke polisi, Mama takut masuk penjara, Pris.” rengek Bu Merry.
Dia kembali bergidik membayangkan dirinya di borgol polisi dan masuk ke dalam bilik penjara yang penuh sesak berbaur dengan para napi wanita.
Priska tampaknya mulai mengerti apa yang dimaksud ibu nya itu. Dia menyandarkan kepalanya ke bahu mamanya. Dia pun mulai merasakan takut jika apa yang dibayangkan mamanya itu terjadi.
“Kalo mama masuk penjara, terus aku sama siapa? Huuhuuuhuu....” Priska menangis.
Bu Merry membelai pipi anaknya itu dengan sayang. ketakutannya makin membuncah mendengar ucapan anaknya itu.
Ya Tuhan, semoga suami Lusi itu tidak melaporkan aku ke polisi. Doanya dalam hati.
__ADS_1
Please like. vote, kritik dan sarannya di kolom komentar ya. Terima kasih. Happy Reading