ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 29


__ADS_3

Di lounge sebuah hotel mewah.


Ferdian berdiri menjabat tangan ketiga orang kolega bisnisnya secara bergantian. Begitupun Vika yang mendampinginya untuk rapat siang itu.


“Semoga kerjasama kita lancar dan sukses, Pak Ferdian," ucap salah satu dari koleganya itu sebelum meninggalkan pasangan pimpinan dan sekertaris itu. Ferdian dan Vika berbarengan mengangguk dengan hormat.


Sepeninggalan mereka, Vika dan Ferdian masih terduduk di sofa merah di tengah ruangan Lounge itu, memberi waktu sejenak untuk mengistirahatkan daya pikirnya.


Ferdian menyesap minumannya beberapa saat sambil memeriksa beberapa pesan baru di kotak masuk aplikasi percakapan di layar handphonenya. Sementara Vika dengan teliti dan sigap merapikan berkas-berkas meeting mereka barusan.


“Hai, Ferdian.” Tiba-tiba suara wanita menyapanya lembut dengan nada suara sensual.


Ferdian dan Vika mendongak berbarengan ke asal suara. Dihadapannya berdiri anggun sosok Amanda dibalik dress merah selutut dengan belahan dada yang sangat rendah.


Vika menelan ludahnya menatap Ferdian dan Amanda bergantian. Namun tidak dengan Ferdian yang seketika membuang muka ke arah lain. Jengah.


“Baru selesai meeting?” tanya Amanda lagi tanpa meminta ijin langsung beringsut menempatkan dirinya di hadapan Ferdian.


Hanya Vika yang menanggapinya dengan mengangguk kikuk. Ditengoknya Ferdian yang masih membuang pandangannya ke arah lain enggan menoleh pada sosok wanita seksi diseberang mejanya.


“Maaf, Pak. Saya permisi mau ke toilet sebentar.” Pamit Vika grogi pada Ferdian dan hendak beranjak dari duduknya.


“Tidak boleh. Kamu jangan kemana-mana.” Cegah Ferdian lantang sambil melotot tajam ke arahnya.


“Tapi udah kebelet rasanya, Pak,” ucap Vika lagi dengan mimik wajah meringis menahan panggilan alamnya.


“Tahan!" Perintah Ferdian seraya menunjuk sofa menyuruh Vika untuk kembali duduk.


Dengan terpaksa Vika menurut dan kembali menempati tempat duduknya. Lalu diam hanya memperhatikan kedua orang yang tak saling bicara itu.


Mendingan aku jagain sendal di mesjid deh daripada nungguin dua orang ini ngobrol pake bahasa kalbu. Gerutu Vika dalam hati.


“Hmm, Ferdian. Sekali lagi aku mau minta maaf atas semua nya. Semoga kamu mau memaafkan semua kesalahan ku yang lalu,” ucap Amanda lembut. Kali ini bicaranya sangat sopan dan tak ada nada arogan seperti kebiasaannya.


Ferdian tampak malas menanggapi. Dia masih menyibukkan jempolnya mengutak-ngatik tombol di layar handphonenya.


“Kamu sengaja buntutin aku kesini cuma untuk bicara ini?” tanya Ferdian datar.


“Oooh, maaf. Kebetulan aku ada meeting juga dengan klien di hotel ini,” jawab Amanda spontan dengan tersenyum manis. Padahal dia berbohong. Memang dia sengaja mengikuti Ferdian semenjak dari kantornya menuju hotel ini.


Uuhhh, Ge Er banget si Boss. Ucap Vika dalam hati nya tertawa geli.


Ferdian tersenyum sinis. Dia sendiripun sempat melihat mobil Amanda yang membuntutinya sejak keluar dari pelataran parkir gedung kantornya menuju ke hotel ini. Tapi dia sama sekali tak peduli.


“Fer, aku cuma mau ucapin selamat atas pernikahan kamu. Aku ikut bahagia untuk kamu," ucap Amanda lagi. Ferdian hanya mengangguk sekilas.


“Aku juga akan belajar mengubur masa lalu kita dan menjadikan pengalaman berharga untuk aku,” Sambungnya lagi.


“Bagus lah kalo begitu. Jadi kita bisa sama-sama tenang menjalani hidup kita masing-masing," sindir Ferdian melirik Amanda sekilas dengan ujung matanya lalu kembali menatap layar handphonenya.


Amanda mengangguk mencoba memaksakan tersenyum. Di liriknya Vika yang masih melongo bingung menyaksikan mereka berdua. Sepertinya Ferdian sengaja ingin mempermalukan Amanda didepan sekertarisnya.


“Tapi, bisakah kita tetap berteman baik, Fer? Aku cuma tak ingin ada dendam lagi diantara kita,” pinta Amanda setengah memelas.

__ADS_1


Ferdian menghela nafasnya tampak kian malas menanggapi ocehan Amanda.


“Lebih baik tidak,” jawabnya singkat.


Ferdian melirik jam tangannya. Sudah hampir jam dua siang. Waktunya dia harus menjemput Lusi di kampusnya.


“Permisi, aku harus pergi. Ada urusan penting. Ayo Vika saya antar dulu balik ke kantor,” ucap Ferdian seraya berdiri dari sofanya dan merapikan jasnya sebentar. Vika pun mengikuti geraknya.


“Baiklah, Fer. Hati-hati dijalan.” Amanda mengulurkan tangannya ke hadapan Ferdian.


Ferdian tidak langsung menyambutnya. Ada rasa curiga, diliriknya sekilas wajah Amanda yang menyungging senyum. Kemudian membalas juga uluran tangan Amanda sebentar dan berlalu begitu saja meninggalkan Amanda yang menarik kedua ujung bibirnya kesal lantaran sikap Ferdian yang masih dingin padanya.


“Lihat saja kau, Ferdian. Kau pasti akan kembali padaku lagi,” gumam Amanda sambil menatap punggung Ferdian yang semakin menjauh.


Satu jam kemudian di depan Kampus.


Ferdian sudah memasuki mobilnya ke pelataran parkir. Dibukanya kaca mobil untuk mengedarkan pandangannya mencari sosok Lusi yang biasanya berdiri didepan teras Lobi kampus, tempat biasanya gadis itu menunggunya. Namun tak tampak olehnya.


Sekali lagi dia berputar di depan lobi melewati taman depan. Dilajunya mobilnya sangat pelan. Tampak Lusi keluar dari pintu lobi bersama seorang pria muda tengah berbincang-bincang sangat akrab sambil tertawa-tawa. Ada perasaan kurang nyaman menghinggapi hati Ferdian menyaksikan pemandangan itu. Cemburu?


Klakson dibunyikannya lebih kencang dari biasanya. Lusipun menoleh seketika. Lalu melambai kecil pada pria yang bersamanya tadi. Lusi bergegas berlari kecil menuju mobil. Kemudian segera masuk kedalamnya.


Diraihnya punggung tangan Ferdian lalu di kecupnya dengan penuh rasa hormat.


“Siapa cowok tadi keluar sama kamu?“ tanya Ferdian seketika. Nada suara nya berbeda. Lebih datar dan terdengar kesal. Tanpa senyum pula di wajahnya tak seperti biasa dia menyambut Lusi.


“Ooo, itu teman aku, Mas," jawab Lusi santai.


“Mesra bagaimana sih, Mas? Biasa aja kok,” jawab Lusi pelan karena menyadari sikap Ferdian yang sinis padanya.


Ferdian tak menjawab. Yang pasti ada perasaan tak nyaman dihatinya melihat Lusi bersama pria tadi.


“Kalo sama cowok lain jangan terlalu dekat. Ingat kamu itu bersuami.” Ferdian memperingatkan datar namun tegas.


Lusi mengangguk, “Iya, Mas. Maaf.”


Sepanjang perjalanan sampai tiba di rumah Ferdian tak bicara sama sekali. Lusi yang duduk di sampingnya hanya menunduk tak berani membuka suara. Dia menerka suasana hati pria itu sedang kurang baik karena melihat dirinya bersama sahabatnya tadi.


Ferdian bergegas masuk terlebih dulu ke kamarnya tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Lusi. Di tutupnya pintu kamarnya agak kasar. Lusi hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Ferdian yang menurutnya jauh dari sikap dewasa itu.


Lusi masuk ke kamarnya kemudian meletakkan tas dan bukunya di atas meja belajar. Dihempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Pikirannya kembali mengingat sikap Ferdian yang dingin dan acuh padanya.


Masa cuma gara-gara aku ngobrol sama Dio aja dia jadi marah begitu? tanya Lusi dalam hatinya.


“Ternyata pencemburu juga dia.”


Gadis itu melangkah ke kamar mandi. Di lepaskan semua bajunya lalu merendamkan tubuh polosnya ke dalam bathtub. Mencoba meluruhkan semua penat di tubuhnya. Matanya terpejam sesaat meresapi dingin dan sejuknya air yang menggenangi seluruh tubuhnya.


Tak lama, hanya lima belas menit memanjakan diri di dalam bathtub, dibasuhnya seluruh tubuhnya di bawah siraman shower. Lalu keluar dari kamar mandi dengan tubuh dan pikiran yang lebih segar.


Lusi dengan mengenakan celana tidur dan baju kaos putihnya turun menuju ruang makan. Tapi tak tampak seorangpun disana. Hidangan masih tersedia utuh diatas meja. Berarti belum ada yang menyentuhnya.


Dia melangkah memasuki dapur. Tampak olehnya Mbak Ira sedang duduk di kursi kecil tengah tertawa cekikikan sendiri. Ternyata sedang ber-chat ria dengan pacarnya di aplikasi percakapan di handphonenya.

__ADS_1


“Mbak....“ Sapa Lusi dari belakang punggungnya. Spontan Mbak Ira menoleh.


“Eh iya, Non.“ sahut Mbak Ira masih menyisakan senyum mesemnya.


“Mas Ferdian apa sudah makan malam?” tanya Lusi.


“Ehhmm, belum, Non. Si Boss belum turun dari kamarnya sejak pulang tadi.”


Lusi mengangguk lemah seraya menghela berat nafasnya. Dia melangkah menuju meja makan lagi. Di ambilnya piring lalu di masukkan nasi dan beberapa lauknya beserta segelas air mineral.


Diketuknya pintu kamar Ferdian beberapa kali. Tak ada jawaban dari penghuninya. Ditekannya gagang pintu, ternyata tak dikunci.


Lusi masuk perlahan mencari sosok Ferdian. Tak ada di tempat tidurnya. Melangkah lagi lebih dalam. Tampak olehnya Ferdian tengah berdiri mematung bersandar di balkon kamarnya.


“Mas,” panggil Lusi pelan. Yang dipanggil hanya menoleh sekilas lalu melemparkan kembali pandangannya keluar.


“Makan dulu ya, ini aku bawain makanan untuk Mas.” Lusi meletakkan nampan nya di atas meja kecil di sudut balkon itu.


Ferdian menggeleng, “Aku belum lapar, lagi gak berselera,” jawab Ferdian datar.


“Mas kenapa sih? Kok jadi jutek gini?” tanya Lusi seraya mensejajarkan diri di samping Ferdian.


Ferdian menatap dingin pada Lusi di sebelahnya.


“Masih nanya lagi, gak nyadar bikin kesalahan?” ketus nada bicara Ferdian.


“Soal teman aku tadi?“


Ferdian tak menyahut. Tangannya bersidekap di depan dada.


“Aku minta maaf sekali lagi. Dia itu Cuma temen aku, Mas. Beneran deh.”


“Aku liat sikapnya beda ke kamu, gak kayak teman biasa.” Curiga Ferdian memicingkan matanya.


“Masa sih? Mas aja kali yang lagi sensitif.”


“Kamu bilang gak sama dia kalo kamu itu udah nikah?” Ferdian menginterogasi.


Lusi mengangguk. “Aku bilang kok, Mas. Aku pernah kasih tau dia kalo aku sudah nikah.”


Ferdian menghela nafas nya lega. Dia percaya pada Lusi. Gadis itu terlalu polos, bukan tipe yang mampu mengarang cerita dusta.


“Baiklah, jangan diulangi lagi ya. Aku gak suka,” ucap Ferdian sambil mencolek hidung Lusi gemas.


Lusi mengangguk sambil tersenyum menggemaskan. Ferdian merengkuh bahu Lusi dan di usap-usapnya dengan lembut, lalu menarik sudut bibirnya dan tersenyum manis.


“Apa aku cemburu?” tanya Ferdian dalam hatinya.


“Entahlah, yang pasti aku tak suka liat Lusi dekat-dekat cowok lain.”


PLEASE LIKE NYA YA DEAR READER.


VOTE, BINTANG, KOMENT, KRITIK DAN SARANNYA MONGGO

__ADS_1


__ADS_2