
Keduanya saling menatap lama. Ada getaran dan air mata rindu disana. Tak menyangka akan bertemu kembali akhirnya, setelah sekian lama terpisah.
Priska merentangkan tangannya menghambur menuju Lusi yang masih terpana tak percaya. Dia memeluk tubuh Lusi erat dan menumpahkan segala sesal dan rasa bersalah terhadap kakak tirinya.
“Priska,” panggil Lusi lirih seraya membalas pelukan adik tirinya itu.
“Lusi, aku kangen,” bisik Priska masih dengan air matanya yang merebak.
Lusi mengangguk sambil membelai rambut Priska. Lalu melepaskan pelukannya.
“Lusi aku mohon maaf atas semua salahku padamu. Begitu juga mama. Almarhumah mama memintaku untuk mencarimu, untuk memohon maaf padamu.”
Lusi menggeleng pelan seraya menyungging senyum di tengah pipinya yang basah.
“Aku sudah lama memaafkan kamu dan almarhumah ibu, Priska.“
“Lusi....” Kembali Priska merengkuh tubuh Lusi.
Mata Lusi tertuju pada Bu Tantri yang berdiri beberapa meter di belakang Priska bersama Reynard disampingnya. Matanya terbelalak melihat ‘malaikat’ penolongnya itu kini hadir kembali di hadapannya.
“Ibu?” Perlahan Lusi melepaskan pelukannya dari Priska lalu berhambur menuju Bu Tantri yang tersenyum lebar padanya.
Bu Tantri menyambut tubuh Lusi dan memeluknya erat.
Kembali air mata Lusi merebak hingga sedu sedannya terdengar lirih.
“Apa kabar, Ibu?” tanya Lusi setelah merenggangkan pelukannya di tubuh kurus Bu Tantri.
“Kabar Ibu baik, Nak. Ibu senang bisa jumpa kamu lagi. Dan melihat kamu sekarang jauh lebih cantik dan dewasa. Ibu bahagia sekali,” ucap Bu Tantri seraya membelai pipi Lusi.
Reynard dan Ferdian saling mendekat tanpa melepaskan pandangannya pada Lusi dan Bu tantri. Kedua pria tampan itu terpana melihat pertemuan yang mengharu biru itu.
Lusi menoleh pada Ferdian, “Ibu, ini suamiku. Mas Ferdian,” tunjuk Lusi pada Ferdian yang melemparkan senyum untuk Bu Tantri.
“Iya, Ibu lihat kemarin di tivi. Kalian serasi sekali. Cinta kalian banyak ujian, ya. Ibu sudah tau semua dari Reynard.
“Iya begitulah, Bu. Kami sudah lulus ujian. Sekarang tinggal menikmati hasilnya. Doakan kami cepat punya momongan ya, Bu,” ujar Ferdian mendekati Lusi lalu merangkul bahunya erat.
Bu Tantri mengangguk dan tersenyum seraya mengelus bahu Lusi dan Ferdian.
Ferdian mempersilahkan semuanya duduk sambil menikmati hidangan santap malam di meja makan.
“Ibu juga minta maaf pada kalian, atas kesalahan almarhum Bramanto....”
“Almarhum?“ Ferdian dan Lusi tersentak nyaris berbarengan.
“Iya, sebulan yang lalu. Almarhum meninggal karena serangan jantung mendadak ketika akan dipindahkan ke ruang tahanan kejaksaan.”
Ferdian dan Lusi saling berpandangan.
“Turut berduka cita, Bu.” ucap Ferdian pelan.
Alih-alih bersedih, Bu Tantri justru tertawa kecil mendengar ucapan Ferdian. Membuat Lusi dan Ferdian kembali saling menoleh keheranan.
“Ibu justru bersuka cita. Manusia seperti Bramanto itu tidak takut pada apapun. Jadi memang seharusnya dia pertanggungjawabkan dosa-dosanya langsung pada Sang Pencipta.”
“Dan Ibu juga sedikit kecewa pada Reynard," lanjut Bu Tantri seraya melirik Reynard.
Reynard yang namanya disebut langsung menghentikan suapannya.
“Kenapa keluar dari perusahaan itu? Sementara kondisi perusahaan sekarang terombang ambing seperti tak bernahkoda,“ tanya Bu Tantri pada Reynard.
__ADS_1
Reynard dan Ferdian kini saling menoleh
“Saya tidak sepenuhnya keluar dari perusahaan itu, Ibu. Saya tetap pantau dari balik layar. Untuk mendireksi langsung memang saya off dulu untuk sementara waktu sampai keadaaan benar-benar pulih semua,” jawab Reynard meyakinkan Bu Tantri.
“Sebaiknya kamu kembali lagi ke posisi kamu di perusahaan itu, Rey. Karena aku dengar Bramanto lewat kuasa hukumnya sudah mengutus keponakan satu-satunya untuk menjalankan perusahaan pusat. Dia ditempatkan di posisi kamu sebelumnya,“ tutur Bu Tantri dengan wajah serius.
“What? Siapa, Bu? Kenapa gak ada konfirmasi?“ Reynard tersentak kaget sekaligus kesal.
“Namanya Vero, dia juga seorang pengusaha. Lahir dan tinggal lama di Malaysia. Aku dengar dari karyawan di sana, orangnya tak jauh beda dengan Bramanto. Keras, tegas dan tempramental.“
Reynard mendengkus pelan, membayangkan sosok Vero yang di maksud Ibu Tantri. Pasti tampangnya pun tak jauh beda dengan Bramanto. Berperawakan tambun, kepala yang nyaris botak dan pipi yang berkeriput karena jarang tersenyum.
“Rey, kau harus kembali ke kantormu. Segera aku atur penempatanmu kembali ke jabatanmu semula. Kita punya saham terbesar di perusahaan itu. Kita yang harusnya lebih berkuasa di sana,” ucap Ferdian mantap
“Alright, Bro. I’ll be back!” Seru Reynard bersemangat.
****
Reynard memasuki ruang kantornya yang hampir dua bulan dia tinggalkan. Dengan pandangan aneh dia menatap ruangan tempatnya sehari-hari memutar otak, yang kini tampak berubah total.
Mulai dari wallpapernya, hiasan dindingnya, bahkan sofanya pun berganti menjadi warna ungu.
'*Ungu? '
'Hmm rasanya aku harus menahan muntahku ketika bertemu laki-laki penyuka warna ungu ini*,' bathin Reynard merasa jijik.
Kerja keras Reynard tampaknya dimulai dari merubah kembali ruangannya ke design semula, dengan design interior yang lebih macho dan maskulin, sesuai dengan kepribadiannya.
“Diana, cepat ke ruangan saya sekarang!” Reynard memanggil sekertarisnya melalui telepon.
Tak lama pintu dibuka. Tampak di hadapannya seorang wanita sekitar empat puluh lima tahunan dengan penampilan yang sangat kaku.
Memakai rok panjang semata kaki dan baju kemeja putih di lapisi rompi sweater bercorak belang-belang penuh warna. Dilengkapi dengan sepatu ventovel hitam.
Reynard tak kuasa menutup mulutnya yang auto menganga menatap wanita yang berdiri tepat di hadapannya itu.
“Kamu siapa?” tanya Reynard heran menunjuk wanita itu.
“Saya Diana, Pak. Diana Srideviana. Sekertaris direksi di ruangan ini. Tadi bapak panggil saya, kan?”
'Hah? Diana kok jadi berubah begini? Diana sekertarisku mana? Yang cantik dan seksi dengan kaki jenjang dan betis indahnya yang selalu terpampang?' tanya Reynard dalam hati penasaran.
“Diana sekertarisku yang dulu mana?“
“Ooh, Diana yang kurus kering yang pakaiannya kekurangan bahan itu, Pak? Dia Sudah diberhentikan oleh Direksi yang baru. Dan saya penggantinya sekarang.”
'What? Bahkan pria penyuka warna ungu itu pun mengganti sekertarisku yang cantik molek dengan wanita ini? ' gerutu Reynard dalam hati.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak? Kalau cuma bengong memandang kecantikan saya, lebih baik saya kembali ke meja saya karena kerjaan saya masih menumpuk. Karena Direktur yang baru pemilik ruangan ini sebentar lagi datang. Dan saya tidak mau kerjaan saya masih berantakan sebelum beliau datang,” ucapnya lugas dan tegas.
“Ooh begitu, ya? Baiklah, tak ada yang bisa kamu bantu disini, Oma Cantik. Silahkan kamu kembali ke meja kamu,” omel Reynard pada wanita yang berwajah datar dan sangat serius itu.
Wanita itu pun pergi berlalu keluar dari ruangan Reynard tanpa sedikit pun permisi padanya.
“Huh! Hari pertamaku kembali ke kantor, nyebelin," gerutu Reynard seraya membuka laptopnya. Lalu memeriksa email dari Ferdian yang berisi beberapa surat dan berkas penting dari Perusahaan bentukan Ferdian yang mengakuisisi Perusahaan Bramanto.
Tiba-tiba pintu ruangannya dibuka seseorang. Reynard tak menggubrisnya sama sekali. Bola matanya tetap tertuju membaca berkas-berkas penting di layar laptopnya.
Dalam hatinya berpikir pasti yang datang adalah si Oma Cantik tadi. Jadi rasanya mubazir untuk menoleh pada si sekertaris muka datar itu.
“Selamat pagi, Pak Reynard." Sebuah suara wanita yang sangat lembut menyapanya.
__ADS_1
Spontan Reynard menoleh dan seketika itu juga matanya terbelalak mendapati seorang wanita cantik berdiri di hadapannya.
Wanita dewasa sekitar tiga puluh tahunan dengan rambut tergerai indah dan riasan wajah yang minimalis namun terkesan elegant.
Mengenakan outfit yang sedap di pandangan mata, rok panjang hitam dengan belahan tinggi sebatas paha dipadukan dengan blazer ungu muda dan sepatu high heel yang membuatnya semakin terlihat sexy.
“Se ... selamat pagi,” sambut Reynard gugup.
“Perkenalkan, nama saya Veronika,” sebutnya seraya menyodorkan telapak tangan ke hadapan Reynard.
“Ohh, hai, Ibu Veronika.“ Reynard membalas jabatan tangan wanita cantik itu masih dengan keterpanaannya.
“Panggil saja aku Vero.“
“Hah? Vero? Jadi anda yang menggantikan posisi saya di sini?” tanya Reynard terbelalak, mengingat nama Vero yang di sebut-sebut Bu Tantri tempo hari dia sangka seorang laki-laki, ternyata seorang wanita yang sangat cantik.
Veronika pun mengangguk mantap. ”Betul. Dan yang Pak Reynard tempati sekarang adalah kursi saya karena ini ruangan saya.”
Ohhh, pantas saja ruangan ini berubah jadi aneh dan terlalu shabby menurut Reynard.
“Hmm, begini ya, Ibu Veronika atau Ibu Vero. Ini ruangan saya. Dan ini kursi saya. Saya sah menjadi direktur di perusahaan pusat ini sejak lima tahun lalu. Dan saya kembali lagi ke posisi ini diperkuat oleh surat pengangkatan saya dari hasil keputusan rapat umum pemegang saham. Mengerti sampai disini? Atau butuh penjelasan lebih lanjut?” jelas Reynard perlahan sambil beranjak dari kursinya.
“Yaa ya, aku ngerti. Tapi Omku juga pemilik saham disini dan lumayan besar. Nama aku pun diajukan sebagai Direksi disini. Karena dua bulan ini ‘dapur’ perusahaan ini anda tinggalkan dalam keadaan kacau balau, maka aku yang menjalankannya sesuai dengan rule yang berlaku. Dan lihat, sekarang semua kembali normal bahkan membaik. Berkat aku.“ ujar Veronika membanggakan diri.
“Membaik katamu? Hehehe! Perusahaan induk ini dari dulu baik-baik saja. Berkat aku. Namun sejak direktur baru yang menjalankan, justru grafiknya menurun drastis. Aku punya datanya. Jangan pikir aku gak pantau perkembangan perusahaan ini, walaupun aku gak aktif selama dua bulan belakangan.”
Reynard membantah perkataan Veronika. Membuat wanita itu terdiam sama sekali tak bisa menjawab bantahan Reynard.
“Baiklah, Jagoan. Silahkan kamu merasa di atas angin karena di angkat oleh para pemegang saham mayoritas. Yang pasti aku tetap diruangan ini menjalankan apa yang almarhum Om Bramanto perintahkan padaku.“ Lawan Veronika sambil berkacak pinggang.
“Ooh, tentu tidak boleh. Kamu cari ruangan lain. Ini ruangan aku!” bantah Reynard lagi seraya duduk di kursinya dan melengos pada Veronika.
“Huh, egois!“ umpat Veronika seraya membalikkan badan.
“Bawa itu sofa ungumu dan sekertarismu sekalian. Bikin sakit mataku.”
Veronika meninggalkan ruangan Reynard dengan hati dongkol seraya membanting pintunya dengan keras.
“Huh, bekerja dengan wanita seperti itu bisa pecah kepalaku dibuatnya,“ gerutu Reynard.
Lalu kembali berkutat dengan berkas-berkas di laptopnya yang belum selesai dia periksa.
Veronika di luar ruangan itu, menghampiri Diana, sekertaris yang dia piiih untuk membantu pekerjaannya.
“Diana, cepat telpon ke bagian maintanance, suruh siapkan satu ruangan untukku dan pindahkan semua barang-barangku dari ruangan Dirut yang sombong itu!" perintah Veronika dengan tegas.
“Baik, Bu. Segera saya laksanakan.”
“Dan kamu ikut aku pindah ke ruangan baru. Biar si Dirut sombong itu cari sendiri sekertarisnya.”
“Baiklah, saya juga kurang suka dengan bapak Dirut itu, matanya jelalatan memandang saya. Serasa dilecehkan," timpal Diana sang sekertaris setengah berbisik pada Bossnya yang sedang gusar itu.
Dengan melengos kesal Veronika meninggalkan sekertarisnya yang tampak melotot sebal ke arah pintu ruangan Reynard.
Yuuhuuu... Keep kepoin side story nya ya Gaess...
Please, Like, vote, favorite, 5 rate dan kritik saran tetep Author butuhkan
Salam sehat selalu...
Visual cast Veronika
__ADS_1