
Dua orang perawat pria petugas IGD sebuah rumah sakit menyongsong tubuh Ferdian dengan sangat hati-hati. Perlahan direbahkan ke atas brangkar. Dan bergegas membawanya masuk ke dalam ruang perawatan intensif.
Dokter yang berjaga dengan cekatan menurunkan semua alat-alat medis untuk membantu membuka jalan pernapasan bagi Ferdian yang sangat kesulitan untuk bernafas karena banyaknya air yang masuk ke paru-parunya.
Lusi yang kuyup dan lemas, akhirnya jatuh terkulai tanpa energi di lantai dingin rumah sakit. Pandangannya gelap dan telinganya tak mendengar suara apapun lagi selain desingan yang perlahan hilang. Gadis itu tak sadarkan diri.
Seorang perawat dan laki-laki yang menolongnya tadi segera memapah tubuh Lusi dan di bawa masuk ke ruang rawat intensif, tepat di sebelah ruangan dimana Ferdian sedang berjuang mengembalikan nafasnya kembali.
Seperti memburu waktu perawat dan dokter jaga di rumah sakit tersebut membantu Lusi menyadarkan dirinya kembali.
Dia membuka kelopak matanya pelan. Dia kerjap-kerjapkan lemah untuk memperjelas penglihatannya yang semula samar.
Kini setelah netranya kembali normal, yang tampak olehnya hanya ruangan serba putih dan beberapa perawat yang berseliweran di samping tubuhnya.
“Mas Ferdian,” panggilnya lirih. Air bening dan hangat berderai bulir sebulir dari kedua sudut mata.
“Mas, jangan tinggalin aku.”
Namun yang dipanggil tak nampak di hadapannya. Hanya benaknya saja yang mampu menghadirkan bayangan wajah tampan Ferdian yang tengah tersenyum manis padanya.
Lusi tampak terguncang dan syok. Dia memejamkan matanya kembali. Menahan air matanya yang tak kunjung reda. Lalu kembali tak sadarkan diri.
****
Lusi membuka kelopak matanya perlahan, pandangannya sudah mulai jelas dan terang. Namun tubuhnya masih lemah serasa tak bertulang. Wajahnya pun masih tampak memucat pias.
Dia mengedarkan bola matanya yang bulat ke seluruh penjuru ruangan bercat putih di sekelilingnya.
Dia sudah berpindah tempat ke ruang pemulihan, gaun cantiknya pun sudah tertanggal berganti dengan baju hijau khusus pasien rumah sakit yang kini dikenakannya.
“Lusi....” Seseorang memanggil namanya.
Lusi mencari asal suara. Tampak Reynard yang bergegas menghampiri dirinya.
“Kamu sudah siuman?” Reynard menatap wajah Lusi dengan penuh kekhawatiran.
“Bang Rey....” panggil Lusi lemah, suaranya nyaris tak terdengar.
“Iya Lusi.”
“Mas Ferdian....” Kalimat Lusi menggantung. Kerongkongannya terasa tercekat tak sanggup meneruskan kata-kata. Air matanya kembali mengalir sebulir dari sudut mata.
Reynard menyentuh punggung tangan Lusi dan meremasnya lembut, menghantarkan ketenangan untuknya.
“Ferdian masih ditangani dokter, Lusi. Kamu sabar ya.”
“Aku mau dampingi Mas Ferdian, Bang.” Suara Lusi lirih disertai tangisan.
“Iya, nanti ya. Ferdian masih di ICU.“
__ADS_1
Lusi berusaha bangkit dari tidurnya. Namun tubuhnya masih terasa lemah dan tak ada daya.
“Kamu jangan banyak bergerak dulu, Lusi."
Namun Lusi tak menggubrisnya. Dia tetap berusaha keras untuk bangkit dan menurunkan kakinya dari atas ranjang.
“Aku mau dampingi Mas Ferdian," ucapnya kali ini lebih tegas.
“Jangan dulu, Lusi. Nanti kalo dia sudah dipindah ke ruang pemulihan baru boleh kamu dampingi, oke,” cegah Reynard seraya merangkul bahu Lusi.
Lusi pun terisak tak tertahankan. Reynard mengelus-elus punggung Lusi berusaha menenangkan.
Bola mata Reynard pun ikut menghangat. Jika mengikuti emosi yang nyaris tak terkendali bisa saja air matanya luruh juga saat ini.
Terlebih saat dini hari tadi ketika ia menerima panggilan telepon yang berasal dari kediaman Ferdian dan suara Mbak Ira terdengar ketakutan saat memberitahunya mengenai kecelakaan yang di alami Ferdian.
Saat itu, dia merasa tulang-tulangnya tak mampu lagi menopang tubuhnya.
"Mas Rey, Boss sama Non Lusi kecelakaan. Barusan dokter dari Rumah Sakit Permata Husada telepon ke sini. Tolong Mas Rey ke sana sekarang, ya Mas. Mbak Ira sudah kasih tau Non Cantika juga. Dia segera nyusul ke sana."
Tanpa menunggu lebih lama lagi Reynard langsung melesat cepat ke rumah sakit ini dan mendapati kenyataan sahabat beserta Istri berada di ruangan intensif tengah berjuang mengembalikan pernafasan.
Tiba-tiba pintu di buka kasar dari luar. Cantika masuk ke ruangan itu dengan wajah yang sangat panik dan penuh kemarahan. Menyusul Amanda di belakangnya dengan raut wajah yang sama.
“Kamu... kamu ya yang bikin kakakku celaka dan sekarang kritis!” Cantika menunjuk-nunjuk geram ke arah Lusi.
Lusi menggeleng lemah. Wajahnya sudah basah dengan air mata. Bibirnya kelu tak sanggup berucap apa-apa, hanya tertunduk meratapi kesedihannya.
“Gara-gara dia Kak Ferdian jadi begini. Gara-gara selalu memenuhi setiap keinginan istrinya yang manja ini Kak Ferdian sekarang sedang bertaruh nyawa, Kak Rey.“
“Cantika, gak boleh ngomong begitu!” Reynard makin melotot pada Cantika yang siap menyerang Lusi.
“Lusi gak salah. Ini kecelakaan.“ sambung Reynard lagi.
“Rey, kamu jangan selalu bela-bela perempuan gak jelas ini,“ serobot Amanda tak kalah sewot dengan Cantika.
“Heh, kamu jangan ikut campur, Amanda. Dia istri Ferdian. Kamu siapa?” Tunjuk Reynard seraya melotot geram pada Amanda yang berdiri berkacak pinggang dengan angkuhnya.
“Permisi, maaf. Tolong jangan buat keributan di sini.” Tiba-tiba seorang dokter wanita masuk ke ruangan bersama seorang suster yang mengikuti di belakangnya. Spontan semuanya terdiam.
Dokter itu memeriksa tubuh Lusi, mengecek luka-luka di kepala dan sekitar lengannya.
“Dokter, gimana suami saya?” tanya Lusi lemah memandang dokter wanita disampingnya.
“Pak Ferdian masih di ruang intensif, sedang ditangani dokter lain, Mbak." Jawab dokter itu singkat sambil memeriksa denyut nadi dipergelangan tangan Lusi.
“Tekanan darah Mbak sudah stabil. Harus banyak istirahat, ya. Dan untuk yang lain tolong jangan mengganggu ketenangan pasien dulu,” perintah Dokter itu sambil menatap Reynard, Cantika dan Amanda bergantian.
“Dokter, bisa bicara sebentar?” Reynard mencegat dokter yang hendak keluar dari ruangan. Dokter itu mengangguk dan memberi kode dengan tangannya mengajak Reynard untuk bicara di luar. Reynard pun menurut.
__ADS_1
“Gimana sebenarnya keadaan Ferdian, Dokter?” tanya Reynard setengah berbisik.
“Kondisinya masih kritis, Pak. Pak Ferdian mengalami gegar otak yang cukup parah karena cedera serius di kepala akibat benturan yang sangat keras,” tutur Dokter dengan kata-kata teratur dan perlahan.
“Tapi bisa segera pulih kembali, Dokter?”
“Ya kita sama-sama berdoa dan kami akan berusaha semaksimal mungkin, Pak. Permisi, saya tinggal dulu.” Dokter itupun pamit dan berlalu dari hadapan Reynard yang sangat khawatir terhadap keadaan sahabatnya itu.
Reynard menghenyakkan pantatnya di kursi panjang dan terpaku dalam diam. Wajahnya tertunduk lebih dalam. Dia merasa sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa Ferdian, sahabat sejatinya.
Jika bisa air matanya bicara pasti sudah sedari tadi dia meneteskannya. Namun tak bisa. Dia harus tetap tegar di hadapan Lusi dan Cantika.
Triiiiing....Triiiing....Triiiing...
Handphone Reynard berbunyi dan bergetar di saku celana. Segera dia meraihnya dan melihat si pemanggil di layarnya.
“Ibu Tantri?” gumamnya.
Lekas dia menggeser kode berwarna hijau untuk menjawab panggilan.
“Hallo, Reynard,” panggil suara dari seberang, terdengar setengah berbisik.
“Iya Bu Tantri?”
“Tadi saya dengar Bramanto dan tangan kanannya mengatakan baru saja berhasil menuntaskan satu pekerjaan penting.”
“Pekerjaan penting? Maksudnya apa, Bu?” tanya Reynard tak mengerti.
“Entahlah, saya dengar mereka menyebut-nyebut nama Ferdian Adiwijaya. Seingat saya Adiwijaya adalah orang yang dulu menjadi musuh besar Bramanto, tapi sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu. Apakah ada hubungannya dengan orang yang bernama Ferdian Adiwijaya ini?”
Sejenak Reynard menarik nafasnya yang terasa sangat berat sebelum menjawab. “Iya Bu, mereka adalah ayah dan anak. Ferdian Adiwijaya anak dari Ferry Adiwijaya yang tewas dibunuh oleh suami Ibu dan kini Ferdian tengah kritis karena kecelakaan tadi malam."
"Ya Tuhanku. Kamu kenal dengan Ferdian?" Suara Bu Tantri terdengar tersentak.
"Dia sahabat aku, Bu. Bahkan lebih dari sekedar sahabat. Sekarang saya dirumah sakit menjaganya. Dan saya sangat yakin suami ibu, Bramanto, ada di balik kecelakaan ini."
“Saya yakin juga begitu. Oiya, Rey. Kamu harus bergerak cepat. Kegiatan Bramanto makin tak terkendali. Setiap hari makin banyak saja perempuan-perempuan muda yang dia bawa ke rumah ini. Saya kasihan sekali melihat mereka.“
“Baik Bu, tolong tetap kabari saya. Dan hati-hati jaga diri Ibu, ya.”
“Baik, Reynard. Kamu juga hati-hati.” Bu Tantri mengakhiri sambungan teleponnya.
Reynard menarik nafasnya dalam dalam dan menghembuskannya kembali perlahan .
Benar-benar culas sekali permainanmu, Bramanto. Aku rasanya sudah tak tahan untuk segera mengakhiri semua ini. Aku jijik bekerja di perusahaanmu walaupun kau membayarku sangat besar. Kalo terjadi sesuatu yang buruk terhadap Ferdian, awas aja kau, Bramanto. Aku sendiri yang akan mencekik batang leher mu. Bathin Reynard menggeram penuh kemarahan.
PLEASE LIKE, LOVE, 5 RATE, VOTE, KOMENT DAN KRITIK.
AUTHOR LAGI SEDIH, Hiiiks....Hiiiikss...
__ADS_1
Apa yang terjadi dengan Ferdian dan Lusi selanjutnya ya? ikuti terus, oke.
Terima kasih atas saran dan masukan dari para reader yang baik hati.