
Tiiing... Tiingg....Tiiiingg.
Ponsel Lusi berbunyi nyaring. Ferdian yang sedang memasang dasinya di depan cermin besar di walk in closet sangat jelas mendengarnya. Dia menengok sebentar ke pintu kamar mandi. Dia yakin Lusi masih di dalam sana.
Dihampirinya ponsel Lusi yang tergeletak di atas ranjang yang masih berbunyi disertai getaran.
Foto Dio sedang tersenyum dan namanya sangat jelas terpampang di layar. Hati Ferdian seketika bergemuruh. Lalu diraihnya ponsel itu dengan gemas, kemudian digesernya lambang hijau untuk menerima panggilan.
“Jangan telpon-telpon istriku. Atau mau ku hajar lagi?” sambut Ferdian dengan nada geram.
“Oooh, Halo Boss. Bisa bicara sama Lusi?“ sahut suara Dio di ujung telepon.
“Tidak bisa!“ jawab Ferdian cepat lalu mematikan sambungan teleponnya.
Tiiing....Tiiing....Tiiing...
Kembali nama dan wajah Dio muncul di layar ponsel yang masih berada di genggamannya.
“Kau ini punya telinga atau gak sih!” bentak Ferdian lagi.
“Aku mau bicara sama Lusi. Sebentar aja. Aku kangen nih sama dia," jawab Dio dengan santainya.
“Hah? Kangen? Kau ini mau cari mati ya kangen sama istri orang!” hardik Ferdian setengah berteriak.
“Aku gak mau cari mati, aku mau cari Lusi. Mana dia? Aku mau bicara?” Masih dengan santai Dio menyahut. Kali ini disertai kekehan meledek. Hati Ferdian semakin panas membara mendengarnya.
“Kuat juga nyali kau ya? Kapan kita ketemu lagi, hah! Kau tentukan waktu dan tempatnya.” tantang Ferdian.
“Aku gak mau ketemu kamu, aku maunya ketemu Lusi. Kamu punya telinga gak sih?” Balas Dio enteng memancing rasa amarah di hati Ferdian.
“Oke, kalo gitu aku yang akan cari kau!" gertak Ferdian gemas. Lalu memutuskan sambungannya dan segera me-non aktifkan ponsel Lusi.
“Pagi-pagi bikin rusak mood orang aja, sial4n!” umpat Ferdian seraya melempar ponsel Lusi ke atas ranjang.
Lusi keluar dengan mengenakan piyama mandinya. Wajahnya yang polos tampak sangat fresh dengan rambut basah yang menjuntai di kiri kanan bahunya.
“Kamu gak usah kuliah dulu hari ini,” perintah Ferdian sambil membetulkan dasinya yang masih belum sempurna.
“Aku udah sehat kok, Mas.” Lusi menjawab dengan lembut seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
“Gak usah dulu!” Setengah membentak Ferdian menatap tajam pada Lusi sambil bertolak pinggang.
Lusi terkejut melihat sikap Ferdian yang berbeda pagi ini.
“Oke....” jawab Lusi malas. Lalu melanjutkan kembali kegiatannya mengeringkan rambut.
Tok...Tok...Tok...
Pintu diketuk dari luar. Ferdian menghampiri dan membukanya cepat.
Tampak Mbak Ira dengan wajah semringah berdiri di hadapannya membawa sebuah nampan besar berisi sarapan untuk para penghuni kamar itu.
“Bawa ke balkon aja Mbak,“ perintah Ferdian yang berdiri di samping pintu.
__ADS_1
“Baik, Boss.” Mbak Ira langsung menuju balkon kamar dan meletakkan bawaannya di atas meja.
“Aduuuh, Non Lusi seger banget deh abis mandi basah begitu," goda Mbak Ira pada Lusi yang duduk di tepi ranjang masih dengan piyama handuknya. Lusi hanya tersenyum manis menanggapinya.
“Udah, keluar cepetan. Cengengesan aja!" usir Ferdian membuka pintu lebar-lebar untuk Mbak Ira yang masih mesem-mesem memandangi Lusi.
Ferdian tampak semakin keren dengan kemeja putih dan dasi coklatnya. Rambutnya klimis seperti biasa. Harum khas woody yang sangat maskuline merebak dari tubuhnya dan melingkupi seantero ruangan kamar.
Dia menarik tangan Lusi menuju balkon untuk sarapan bersama. Lalu menghenyakkan diri di kursinya. Diikuti Lusi yang duduk berhadapan dengannya.
“Lusi, aku sudah melaporkan ibu tiri kamu ke polisi.”
Lusi yang tengah meneguk susu coklatnya tersentak dan menoleh pada Ferdian.
“Tapi dia sudah kabur, sekarang polisi lagi cari dia. Kamu jangan keluar rumah dulu sementara ini. Kalo pun keluar harus sama aku, oke.“
Lusi mengangguk cemas. Dia tahu ibu tirinya itu memang sanggup berbuat nekat. Terlebih pada dirinya. Dia ingat sewaktu masih tinggal bersama, ibu tirinya itu tak segan-segan memukul Lusi dengan benda-benda keras yang ada di sekitarnya. Dan bekasnya pun belum tentu hilang dalam hitungan hari.
“Dan satu lagi. Kamu harus blokir nama Dio di handphone kamu. Aku gak mau dia kontek kamu lagi.”
Lusi mengangkat alisnya bingung.
“Kenapa? Gak mau?“ tanya Ferdian sambil menatapnya tajam.
“Oke....” jawab Lusi pasrah. Lalu meneruskan meneguk susunya.
Ferdian melahap sarapannya cepat. Dan meneguk air putihnya beberapa saat. Dia sedang memburu waktu harus segera sampai ke kantornya karena hari ini banyak sekali pekerjaan yang harus dia selesaikan.
****
Bu Merry duduk di bangku sebuah warung makan yang masih tampak kosong. Wajahnya menunduk. Dia mengenakan kerudung merah maroon menutup kepalanya dan setengah wajahnya. Hanya kedua matanya yang masih tampak.
Dia makin ketakutan setelah membaca pesan masuk dari putrinya, Priska. "Ma, ada Polisi cari mama. Jangan pulang dulu."
Matanya celingak-celinguk di balik kerudungnya takut ada yang mengenalinya. Dia bingung, belum tahu pasti kemana lagi tujuannya untuk bersembunyi.
Johan.
Tiba-tiba dia teringat nama itu.
Ya. Johan pasti mau membantu aku. Apartementnya kan besar dan sangat privasi, pikirnya kemudian.
Segera dia meninggalkan tempat itu lalu mencari ojek motor online dari aplikasi di ponselnya.
Tak lama menunggu, ojek online yang dia pesan pun datang tepat di hadapannya.
“Cepat jalan, Pak,“ suruhnya setelah menempatkan duduknya di sisi belakang driver.
Motor itu pun melaju kencang sesuai yang diperintahkan Bu Merry. Sampai-sampai Bu Merry memeluk pinggang drivernya kuat-kuat.
Tak sampai setengah jam perjalanan Bu Merry tiba di depan gedung Apartement Candra Kirana Mansion. Apartement eksklusive yang pernah dia masuki untuk menemui Johan.
Dia memperhatikan sejenak gedung yang sangat tinggi di hadapannya itu. Lalu bergegas memasuki lobinya yang tampak sangat cantik dan elegant. Seorang Doorman membukakan pintu untuknya dan mengangguk hormat.
__ADS_1
“Permisi, saya mau ke lantai dua puluh lima. Mau bertemu dengan Johan Saputra,“ sapa Bu Merry pada resepsionis wanita yang berpenampilan sangat anggun berdiri dihadapannya.
“Sebentar saya cek ya, Bu. Mohon ditunggu sebentar," ucap Resepsionis cantik itu dengan santun. Lalu tangannya sibuk mencari nama Johan Saputra di daftar penghuni apartement di dalam komputernya.
Ibu Merry menunggu dengan sabar. Karena dia merasa yakin sebentar lagi dia akan bertemu Johan.
“Maaf, Ibu, tidak ada nama Bapak Johan Saputra yang menghuni apartement ini,” jawab Resepsionis cantik itu dengan sopan.
Bu Merry mengernyitkan dahinya yang memang sudah berkerut.
“Coba dicari sekali lagi, Mbak. Saya pernah ke sini beberapa minggu lalu. Ke lantai dua puluh lima.”
“Baik, sebentar saya cek kembali ya, Ibu.”
Bu Merry menunggu dengan harap-harap cemas. Beberapa kali dia membetulkan kerudungnya yang melorot.
“Mohon maaf, Ibu. Tidak ada yang namanya Johan Saputra. Mungkin Ibu salah apartement," beritahu Resepsionis itu lagi.
“Gak mungkin saya salah, Mba. Saya pernah ke sini. Dan diantar security ke lantai dua puluh lima. Itu kepunyaan famili saya, Mbak, namanya Johan Saputra.“ Bu Merry bersikeras dengan pendapatnya.
“Maaf Ibu, di lantai dua puluh lima itu cuma terdapat dua unit VVIP Penthouse. Dan dua-duanya bukan atas nama Johan Saputra.”
“Siapa nama mereka, Mbak?“
“Maaf Ibu, kami tidak bisa memberitahu karena data penghuni disini confidential (*rahasia). Yang pasti bukan atas nama Johan Saputra.”
“Hah? Jadi, Johan Saputra itu tidak tinggal disini?“ tanya Bu Merry dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Betul, Ibu.”
“Huuaaa....Huaaaaa....Huuuaaa....Johaaan!" Bu Merry meraung-raung berjongkok di lantai. Suara raungannya menggema di seantero ruangan yang megah dan tenang itu. Membuat orang-orang yang sedang bersantai di lobi spontan menoleh ke arahnya.
Dua orang security bergegas menghampiri dan menarik tangan Bu Merry keluar dari ruangan itu.
“Maaf, Bu. Silahkan pergi.” ucap salah satu security itu setelah membawa Bu Merry ke pelataran parkir.
Wanita setengah baya itu berjalan gontai menyusuri trotoar dengan keringat yang bercucuran membasahi pakaiannya.
Dia mengingat pertemuannya dengan Johan di apartemen mewah tadi. Bahkan mereka sempat bercumbu dan saling memadu janji untuk menjalankan investasi bersama dengan iming-iming keuntungan yang berlipat ganda.
Ya Tuhan, semua sertifikatku dia bawa. Bu Merry teringat pada surat-surat berharga dan bukti-bukti kepemilikan aset property milik Almarhum suaminya yang dia serahkan seluruhnya pada Johan. Dan sekarang Johan menghilang.
“Huuaaaa....Huaaaa....Penipu kau Johan...! Habis aku sekarang. Kurang ajar kau, Johan! Huaaaaaa...” Bu Merry kembali menangis meraung-raung terduduk di trotoar tepi Jalan.
Kedua kakinya dihentak-hentakan ke tanah. Orang-orang yang berlalu lalang disitu memperhatikannya dengan tatapan heran.
“Heh, orang gila! Pergi sana! Jangan disini, nanti dagangan saya gak laku. Mengganggu aja!” Seorang pedagang kelontong mengusirnya dengan kasar.
Bu Merry bangkit lalu berjalan kembali menyusuri trotoar. Dia bingung tak tahu lagi kemana harus bersembunyi. Kini dia hanya mengikuti langkah kakinya yang gontai.
Lusi, dia teringat pada anak tirinya itu. Di hatinya ada rasa penyesalan telah berbuat dzolim pada gadis itu selama ini. Mungkin inilah balasan yang harus dia terima karena perbuatannya.
Terima kasih untuk para Reader yang masih setia menunggu Up novel ini. Silahkan di like, vote, love untuk kasih semangat Author. Kritik/sarannya sangat di tunggu dikolom koment yah. Happy reading...
__ADS_1