ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
SIDE STORY/EXTRA PART 3


__ADS_3

Ferdian dengan setia berdiri menunggu Lusi yang sedang berada di dalam kamar mandi. Lama dia menunggu sampai beberapa kali mengetuk pintunya.


“Sayang, ...?” panggil Ferdian mengetuk pelan pintu kamar mandi.


Terdengar gagang pintu dibuka. Lusi keluar dangan wajah yang tak bersemangat memandang Ferdian.


“Gimana hasilnya?” tanya Ferdian tak sabar.


Lusi tak menjawab. Mulutnya terkatup rapat tak berani membuka suara karena takut Ferdian kecewa dengan hasil yang di tanyakannya.


Lusi perlahan menyerahkan batangan testpack nya ke tangan Ferdian.


Pria itu menerimanya dengan perasaan tak menentu. Di dekatkannya batangan testpack di tangannya lebih dekat ke hadapan wajahnya.


Yang tampak hanya satu garis merah.  Ferdian menghela nafasnya pelan. Terasa ada hembusan nafas kekecewaan di sana.


Dia menoleh pada Lusi yang berdiri bersandar pada dinding dengan wajah murung tertunduk. Lalu tersenyum kecil disudut bibirnya. Diraihnya jemari Lusi lalu diremasnya lembut.


Lusi mengangkat wajah nya mencoba memberanikan diri menatap wajah suaminya.


“Maaf Mas,..” ucap Lusi lirih.


Ferdian tersenyum manis lalu meraih bahu Lusi dan mendekapnya erat.


“Gak apa, Sayang. kita masih punya banyak waktu untuk terus berusaha lagi yah.” Kata-kata Ferdian begitu menenangkan hati Lusi.


Lusi tahu Ferdian menyimpan kecewa karena hasil testpack nya tidak sesuai dengan yang Ferdian harapkan. Ini Sudah memasuki bulan kedua sejak malam pertamanya, namun tak juga dirinya mendapatkan tanda-tanda kehamilan.


Ferdian begitu mendambakan Lusi untuk segera hamil. Sampai-sampai setiap kali akan melakukan hubungan intim Ferdian selalu mengawali nya dengan berdoa supaya dirinya bisa segera di kasih keturunan. Namun kembali Ferdian harus menelan kecewa dan harus bersabar lagi menunggu.


“Aku takut Mas marah sama aku karena belum hamil juga.” Lirih suara Lusi, masih di dalam dekapan Ferdian.


“Gak mungkin aku marah sama kamu cuma karena ini. Jangan punya pikiran begitu, Sayang. Nanti kamu malah stress.“ bantah Ferdian lembut seraya mengecup kening Lusi.


“Padahal semua gaya udah kita praktekan ya Mas, kurang apa lagi coba? “ tanya Lusi polos mendongak pada Ferdian dengan raut wajah heran namun menggemaskan.

__ADS_1


Ferdian tertawa renyah mendengar ucapan istrinya yang lugu itu.


“Kurang banyak.” Jawab Ferdian di sela tawanya, lalu mencubit ujung hidung Lusi dengan gemas.


“Ya udah kita main lagi yuk,Mas.” Ajak Lusi bersemangat.


“Siapa takut?”


Ferdian bergegas membopong tubuh Lusi ke ranjang. Kemudian membaringkannya perlahan. Dia naik ke atas tubuh Lusi lalu di kepitnya tubuh istrinya itu di antara kedua lututnya yang terlipat di atas ranjang.


Dengan Lembut di kecupnya bibir mungil Lusi dan dilum4tnya dengan penuh gairah. Lusi pun membalas ciuman Ferdian dengan begitu lihainya.


Tanpa rasa sabar, Ferdian membuka t-shirt nya lalu membuangnya ke lantai. Kemudian dengan cepat di kuak nya baju tidur Lusi sehingga menampilkan tubuh polos Lusi di bawah tubuhnya dengan gunungan yang tegak menantang sempurna.


Tok...Tok...Tok... Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar. Sangat mengganggu kegiatan mereka.


Ferdian tak menggubris ketukan itu dan masih lanjut mencumbu tubuh Lusi di bawah tubuhnya.


Tok...Tok...Tok... terdengar lagi ketukan di pintu. Kali ini lebih keras. Sepertinya si pengetuk itu sangat tak sabar.


“Hadeeeehh...menggangu aja. “ teriak Ferdian kesal.


“Aku, Bro. Rey.” Sahut suara dari balik pintu.


“Arrgghhh, Rey... !!” geram Ferdian, kemudian turun dari tubuh Lusi lalu memungut T-shirt nya di lantai dan lekas mengenakannya kembali.


Ferdian membuka pintu nya setengah dan mendapati Reynard berdiri di hadapannya dengan setelan jas lengkap dan tampang yang sudah fresh maksimal.


“Mau apa ? “ tanya Ferdian dengan rautnya yang tampak kesal.


Reynard hanya cengar-cengir saja menanggapi pertanyaan Ferdian. Dia paham dirinya datang di saat yang tak tepat. Tapi apa boleh buat, ada sesuatu yang urgent yang harus dia bahas bersama sahabatnya itu sebelum berangkat ke kantornya.


“Ada yang mau aku bahas sebentar. Boleh masuk?” tanya Reynard usil seraya mengintip ke dalam.


“Lusi, pake baju, cepat. Si pengganggu ini mau masuk.” perintah Ferdian setengah berteriak pada Lusi yang masih menggulung tubuh polosnya dengan selimut.

__ADS_1


“Iya, tunggu.” Masih dengan gulungan selimut di tubuhnya Lusi berlari menuju walk in closet dan bergegas mengenakan pakaiannya.


Ferdian melihat Lusi sudah keluar dari walk in closet dengan pakaian lengkap, lalu membuka pintu nya lebar-lebar untuk Reynard.


Babang tampan itu pun masuk dan menoleh ke atas ranjang yang sudah tak karuan lagi spreinya dan bantal bantal yang sudah berserakan di lantai. Lalu menggeleng-geleng sambil berdecak.


“Sepertinya ada gempa bumi lokal disini.” Ucap nya menggoda Ferdian dan Lusi.


“Ada apa pagi-pagi ganggu orang? Gak bisa nunggu sebentar ya?” omel Ferdian seraya menyeret kursi kerjanya yang menghadap ke balkon lalu menempatkan pantatnya di sana.


“Aku gak nyaman di kantor, keponakan Bramanto itu mengganggu kerja ku. Aku merasa dia sengaja ditempatkan di kantor itu untuk tujuan gak baik, Bro.” Tutur Reynard dengan raut kesal.


“Ya itu pasti, Rey. Aku udah paham dari awal. Bramanto pasti gak rela setelah tau setengah perusahaannya kita ambil. Makanya dia tempatkan orang nya untuk mengganggu kita.”


“Tapi caranya sangat terang-terangan, Bro. Dia selalu menikung apa yang aku kerjakan, beberapa kali aku dapati dia mengintervensi deal -deal aku dengan klien. Sepertinya dia sengaja ingin menghancurkan perusahaan itu, karena dia tau om nya sudah bukan pemilik sepenuhnya. Jika perusahaan itu hancur yang paling berdampak besar yaitu kau, pemegang saham mayoritas. Dan dia tau aku bagian dari itu.”


Ferdian mengangguk sangat setuju dengan penjelasan Reynard.


“Tak masalah kalo perusahaan itu hancur dan aku rugi di situ. Dari awal tujuan ku cuma untuk balas dendam, dan bukan untuk cari keuntungan di perusahaan milik pembunuh itu. Coba kau cari bukti-bukti tindakan pelanggaran dia, Rey. Nanti waktunya tiba kita ajukan proses pembatalan kerjasama kita karena pelanggaran yang dia lakukan sendiri. Dan akan aku tarik semua saham ku dari situ. Biar dia hancur sekalian.”  perintah Ferdian tegas.


Reynard mengangguk paham apa yang diperintahkan Ferdian.


“Oke, baiklah kalo begitu. Thanx suggest nya. Aku akan laksanakan. Lagipula aku juga tak terlalu bersemangat lagi menjalankan perusahaan itu.”


“Santai aja, Rey. Ingat. Tujuan kita sudah tercapai semua. “


Benar apa yang dikatakan Ferdian. Untuk apa dia terlalu resah dengan tindakan Veronika yang jelas-jelas mengganggu kerjanya. Toh, dia kembali bekerja di sana bukan untuk Bramanto lagi, tapi untuk menjaga hak-hak Ferdian sebagai pemilik saham terbesar di perusahaan itu.


Apa jangan-jangan tujuan Veronika mengganggunya hanya untuk menarik perhatiannya?


Ohh, aku kurang berselera dengan wanita yang terlalu dominan seperti dia. ucap bathin Reynard.


 


 

__ADS_1


** Please Like\, Love\, Vote\, Kritik dan sarannya. **


Happy Reading, gaess....


__ADS_2