
Friday, 21 August. Ferdian menengok kalender digital di sudut meja kerja. Tampak tulisan kecil di bawahnya 'My wife’s birthday' dengan gambar hati berwarna merah yang berkedip-kedip di sampingnya
“Hari ini ulang tahun Lusi,” gumamnya sendiri.
Ia tersenyum kecil melihat gambar hati itu berkedip-kedip lama. Childish sekali kesannya. Tapi ia suka. Sepertinya tengah menggambarkan rasa hatinya untuk Lusi.
Sekilas ia tersenyum tipis. Lalu menyandarkan kepala ke sandaran belakang kursi. Matanya terpejam membayangkan wajah Lusi yang menggemaskan dan selalu menampilkan senyuman.
“Dia mau hadiah apa ya?” ucapnya pelan.
Otaknya berputar memikirkan apa yang akan ia berikan untuk Lusi sebagai kado ulang tahun terbaik darinya. Ia ingin sesuatu yang paling berkesan untuk gadis itu karena ini adalah ulang tahun yang pertama kalinya bagi Lusi sejak hidup bersamanya.
“Permisi, Pak.”
Tiba-tiba Vika masuk membuyarkan bayangan wajah Lusi di benaknya. Spontan Ferdian membetulkan posisi duduknya lebih tegak.
“Ya, ada apa?”
“Ini ada beberapa dokumen yang harus ditanda tangani.” Vika meletakkan tumpukan map di meja kerja Ferdian.
“Nanti saya cek dulu ya,“ ucap Ferdian seraya menyeret tumpukan dokumen itu lebih mendekat ke hadapannya.
“Baik, Pak. Permisi.”
“Ehmm, Vika....“ panggil Ferdian menahan langkah Vika yang hendak berlalu.
“Iya, Pak?”
“Biasanya suami kamu suka kasih hadiah apa di hari ulang tahun kamu?" tanya Ferdian sedikit grogi dan rikuh.
Vika bingung dengan sikap Bossnya itu yang tak seperti biasanya, tegas, lugas dan penuh percaya diri.
Kali ini tampak seperti anak baru gede yang sedang meminta pendapatnya.
“Setiap saya ulang tahun, suami gak pernah kasih apa-apa, Pak,” ujar Vika jujur.
Ferdian geleng-geleng kepala, “Ya ampun, pelitnya.”
Vika tersenyum kecut mendengarnya.
“Emang ada apa ya, Pak? Apa Pak Ferdian mau kasih saya kado ulang tahun? Tapi ulang tahun saya masih lama, Pak. Tiga bulan lagi. Kalo mau kasih persekotnya dulu juga gak papa sih,” seloroh Vika menggoda.
Ferdian tertawa renyah menanggapi ocehan sekertarisnya.
'My God, itu senyumnya si Boss bikin hati meleleh, seandainya aku belom punya suami, aku sosor juga nih laki orang,' seru bathin Vika
“Istriku ulang tahun hari ini. Aku bingung mau kasih apa.”
Vika mengernyitkan kening.
Bingung?
Selevel Pak Ferdian bingung mau kasih apa untuk sang Istri?
Uang banyak, tampang keren, bahkan cuma kasih rayuan gombal pun sang Istri juga pasti langsung klepek-klepek.
__ADS_1
Vika bermonolog dalam hati.
“Yang pasti ajak kencan, Pak. Candle light dinner yang paling romantis. Kalo sudah diperlakukan begitu, dikasih apapun rasanya pasti spesial buat dia,” tutur Vika.
“Begitu ya?“ Ferdian manggut-manggut sambil tersenyum manis.
Di benaknya sudah terbayang-bayang bagaimana syahdunya suasana makan malam yang romantis berdua dengan Lusi.
Vika ikut mengulum senyum melihat Bossnya sedang dilanda kegalauan.
“Vika, sekarang juga kamu pergi ke butik yang paling bagus dan paling mahal di sini. Pilihkan baju, sepatu dan semua aksesories yang cocok untuk istri saya. Lalu lekas kirim ke rumah siang ini juga. Oke.” perintah Ferdian dengan antusias.
“Dan juga tolong reservasikan tempat untuk saya di Le Grand Fountaine untuk jam tujuh malam ini,” tambahnya lagi.
“Baik, Pak."
Vika bergegas berlalu keluar dari ruangan pimpinannya itu untuk melaksanakan semua perintah yang ia terima.
Senyum Ferdian mengembang kembali.
'Pokoknya malam ini harus menjadi malam yang paling romantis untukku dan Lusi. Malam ini aku akan katakan sejujurnya tentang perasaanku padanya. Bener-bener gak kuat aku pendam rasa ini lama-lama,' tekadnya dalam hati.
***
Lusi menatap barisan paper bag di atas ranjang dengan beraneka ukuran dan corak, beserta satu buah kotak besar berwarna merah dengan tampilan yang sangat mewah dan berkelas. Semuanya itu baru saja diantar oleh Vika, sekertaris Ferdian ke rumah.
Hatinya tergelitik melihat kotak besar merah itu, dengan lapisan kaca mika diatasnya dan pita warna kuning emas sebagai pengikatnya.
Dibukanya perlahan pita dan penutupnya. Sebuah Gaun. Diangkatnya gaun itu setinggi sejajar dengan tubuhnya.
Lusi meraba permukaan bahannya. Sangat halus dan lembut. Dihirupnya aroma yang menyeruak dari gaun itu. Harumnya sangat khas dan menenangkan.
Tiiiing....Tiiiing....Tiiiing.
Suara ponsel Lusi yang tergeletak di atas ranjang memanggil. Tampak gambar wajah Ferdian bersama dirinya terpampang di layar. Segera dia geser tanda hijau untuk menerima panggilan.
“Halo, Mas?" jawabnya cepat.
“Kamu sudah terima, kan barang-barang dari Vika?” Suara Ferdian terdengar ringan dari ujung sambungan.
“Sudah, Mas. Ada gaun, sepatu dan beberapa aksesories.”
“Dipakai ya semuanya itu. Malam ini aku mau ajak kamu makan malam di tempat special.”
“Makan malam?” tanya Lusi bingung.
“Sudah, jangan banyak tanya. Sebentar lagi aku pulang, kamu harus sudah rapi, ya.”
“Oke, Mas.“
Ferdian mengakhiri sambungan teleponnya.
'Makan malam special? Memangnya sespecial apa? Sampai-sampai Mas Ferdian harus mengirim barang-barang mewah seperti ini?' pikir Lusi tak mengerti.
Walaupun berbagai pertanyaan bergelayutan di benaknya, namun Lusi harus beranjak juga menuju kamar mandi untuk mempersiapkan diri seperti yang di perintahkan Ferdian padanya.
__ADS_1
****
Ferdian membuka pintu kamarnya cepat. Dia berburu waktu untuk segera mempersiapkan diri demi makan malam specialnya berdua dengan Lusi.
Bergegas ia melempar jas dan dasinya ke atas ranjang, lalu melangkah menuju ruang pakaian.
“Lusi, aku mandi dulu sebentar. Kamu sudah si ... ap?”
Seketika Ferdian tercengang, terpana, terbelalak, terpesona, mendapati Lusi berdiri di depan cermin besar mengenakan gaun pink sepanjang lutut dengan lengan terbuka dan berdada rendah berbentuk V-Neck.
Seuntai kalung mutiara melingkar cantik di leher jenjangnya. Rambutnya dibiarkan tergerai indah dengan riasan wajah yang tipis natural namun menambah kesan elegant di wajah lugunya.
“Cantik sekali....” puji Ferdian. Matanya tanpa kedip menatap Lusi yang dipandangannya kini bak ratu kerajaan di cerita-cerita dongeng.
Lusi tampak risih dan grogi ditatap sedemikian dalam oleh Ferdian. Seolah-olah suaminya itu sedang melihat dirinya adalah hidangan terlezat dan siap menelannya bulat-bulat.
“Udah, buruan mandi, Mas.”
“Oh, iya. Tunggu, ya.” Ferdian tergagap dan segera menuju kamar mandi dengan sesekali menoleh ke arah Lusi yang masih berdiri mematung di depan cermin.
Lusi terduduk di sofa menunggu sang suami yang baru saja selesai membersihkan diri dan bersiap-siap berpenampilan terbaik untuk menyeimbangkan penampilan dirinya.
Benar saja, Ferdian keluar dari walk in closet mengenakan kemeja putih celana warna khaki dipadukan dengan jas berwarna senada dengan celananya.
Walaupun tanpa dasi, dengan satu kancing atas kemejanya dibiarkan terbuka, tetap membuatnya terlihat gagah dan sangat menawan dipandang mata.
Wajahnya tampak sangat segar dengan bayangan halus bekas cukuran di sekitar dagu dan rahangnya.
“Kita jalan sekarang?” ajak Ferdian sambil menyodorkan lengannya ke hadapan Lusi seraya mengedipkan sebelah mata sekilas.
Gadis itu tersenyum manis lalu menggamit lengan Ferdian dengan manja.
Mereka keluar dari kamar dan menuruni anak tangga satu persatu dengan bergandengan mesra. Layaknya pangeran dan putri raja yang turun dari singgasana.
Cantika dan Amanda yang sedang bercengkrama di meja makan seketika terbelalak melihat Lusi yang tampak sangat anggun dan menawan dengan penampilannya yang jauh berbeda dari hari-hari biasanya.
Api cemburu langsung menjalar melingkupi hati Amanda. Terlebih melihat Ferdian yang tak berkedip menatap wajah Lusi di sampingnya.
Dalam hati ia mengakui, malam ini Lusi memang pantas membuat mata laki-laki pujaannya itu enggan berkedip.
“Kakak, mau kemana?” Cantika cepat mencegat langkah mereka.
“Romantic Dinner, dong!“ sahut Ferdian dengan tersenyum menggoda Cantika, tanpa menoleh sedikit pun pada Amanda yang membeku menatapnya.
“Dimana, kak?”
“Rahasialah! Bye bye,” ledeknya lagi pada sang adik yang mati penasaran.
Tanpa mempedulikan tatapan sinis dan penuh tanda tanya dari kedua wanita tersebut, Lusi menggamitkan tangannya kian mesra pada lengan Ferdian, hingga bahunya pun menempel erat pada lengan pria tampan itu.
Wajah Amanda tampak memerah menahan kesal dihati. Selama dua tahun berhubungan dengan Ferdian dia belum pernah sama sekali diperlakukan seromatis itu.
Tapi kini, Ferdian seakan bertekuk lutut dan hatinya pun meleleh jatuh pada seorang Lusi yang sama sekali tak punya pengalaman dalam menjalin cinta.
Visual Cast ILusiana (Lusi}
__ADS_1