ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 58


__ADS_3

Suasana di exhibition hall yang terletak di pusat kota itu mulai ramai dipadati pengunjung. Mereka sangat antusias menghadiri pameran property hunian yang setiap tahun di adakan di tempat itu.


Biasanya selama masa pameran yang berlangsung selama satu bulan itu developer-developer yang menjadi peserta tenant di bazzar itu menawarkan berbagai paket promosi dan diskon yang menarik untuk para calon pembeli unit hunian seperti rumah dan apartemen dengan berbagai type.


Dio masih berada di dalam mobilnya yang terparkir di pelataran gedung exhibiton tersebut. AC mobilnya dia setel di level yang terdingin. Bukan saja untuk menyejukan diri dari teriknya panas matahari di luar sana, tapi juga untuk mendinginkan suasana hatinya yang tengah panas membara setelah mendapatkan ‘semprotan’ pedas di ujung telepon dari suami Lusi, Ferdian.


“Susah sekali menghubungi kamu, Lusi. Apa sekarang akses kamu dibatasi oleh suami kamu yang galak itu?“ gumam Dio sebal.


“Padahal aku ingin sekali mengajak kamu ke tempat ini dan menunjukan hasil kerjaku padamu, Lusi,” ucapnya sendiri.


“Liat aja nanti, aku akan rebut kamu dari suamimu yang sok super itu. Enak aja itu orang, aku yang udah lama nunggu kamu, malah dia yang dapat kamu duluan.” Dio memicingkan matanya sambil menunjuk-nunjuk foto Lusi yang terpampang di layar ponselnya.


Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukan jam sembilan lewat sepuluh menit. Sejenak dia berkutat di kaca spion merapikan rambutnya dengan jari dan mengusap wajahnya yang sudah tampak fresh dan ganteng maksimal.


Dia semprotkan parfum kesukaannya yang beraroma khas maskuline ke leher dan tengkuknya. Kemudian dia kecup satu kali foto Lusi di layar ponselnya sebelum dia masukkan ke dalam saku celana. Lalu turun dari mobilnya.


Di rumah.


Cantika menunggu kedatangan Amanda di ruang makan sambil menikmati sarapannya.


Hari ini dia tampil manis sekali. Rambut panjangnya yang hitam legam sebatas punggung dibiarkan tergerai membingkai pipi chubby-nya yang lucu. Ditambah dengan polesan lipstik merah membuatnya terlihat lebih dewasa dan matang.


“Mau kemana, Non? Sudah cantik sekali pagi ini?” sapa Mbak Ira dengan wajah semringah seperti biasanya seraya meletakkan jus sirsak pesanan Cantika di atas meja.


“Aku mau ke pameran property, Mbak. Ini lagi nunggu Kak Amanda jemput, lama banget sih itu orang,” jawabnya dengan sedikit gelisah karena orang yang ditunggu-tunggu belum tampak juga batang hidungnya.


“Pameran Property? Mau ngapain, Non?”


Cantika tersenyum melirik Mbak Ira yang menatapnya bingung.


“Aku mau beli apartemen, Mbak,“ jawabnya kemudian.


“Apartemen? Terus Non Cantika mau tinggal di apartemen, ya?”


“Iya dong. Nanti kalo aku udah lulus kuliah, aku mau tinggal di apartemen. Aku mau mandiri. Nanti Mbak Ira ikut tinggal ama aku ya. Aku kan gak bisa masak,” ujar Cantika sambil tertawa renyah.


“Ooo, baik Non.”


'Ogah ah tinggal sama Non Cantika, cerewet. Lebih enak aku kerja disini sama Boss Ferdian. Orangnya baik, gajiku gede lagi.' ucap bathin Mbak Ira.


“Hai, Cantika.” Suara Amanda nyaring memanggil dari ruang tengah.


“Hai Kak, ngaret banget sih. Aku udah nunggu dari tadi.” Cantika merajuk sebal.


“Maaf Say, aku tadi ke butik dulu ada klienku fitting gaun pengantin.”


“Oke deh, yuk jalan sekarang aja. Udah siang.”


Keduanya melangkah keluar menuju mobil Amanda yang terparkir tepat di depan teras depan. Tak lama mobil sedan putih itupun melaju cepat membaur ke jalanan.


“Jadi rencananya kamu mau beli apartemen, Tika?” tanya Amanda dari balik kemudi.


“Ya begitulah. Aku mau mandiri, Kak.“


“Kenapa kamu gak pake apartemen kakak kamu aja yang di Sudirman itu.“

__ADS_1


“Gak mau ah, terlalu besar untuk aku. Lagipula itu cuma untuk di sewakan.”


Amanda mengangguk-angguk tanpa menoleh ke Cantika. Pandangannya tetap fokus pada jalan raya yang tampaknya tidak terlalu padat.


Tak lama, kedua wanita cantik itu tiba juga di exhibition hall tempat yang mereka tuju. Amanda memarkirkan mobilnya dengan rapi lalu keduanya turun dan masuk ke dalam gedung.


Pengunjung sudah terlihat padat di dalam gedung itu tapi suasana tetap sejuk dan teratur.


Cantika dan Amanda mendatangi Satu persatu stand booth dari berbagai developer ternama yang berdiri rapi berjajaran.


?Tampak Cantika bersemangat sekali mencari type apartemen yang cocok untuknya.


Keduanya memasuki sebuah booth stand yang penampilannya berbeda dari booth-booth yang lain. Lebih luas dan lebih exclusive. Sales-sales yang menyambutnya pun berpenampilan sangat elegant bak pramugari maskapai penerbangan.


“Selamat siang. Silahkan duduk, Kak.“ Sambut seorang sales wanita yang berdiri anggun di depan gapura booth.


Cantika dan Amanda pun menempati duduknya di sofa merah yang tersedia di tengahnya. Sales wanita itu membawakan minuman ringan dan buklet brosur untuk keduanya. Cantika menerima nya dengan sangat antusias.


“Yang ini bagus, Kak,” seru Cantika menunjukan brosurnya ke hadapan Amanda.


“Iya. Elegant sekali, cocok tuh untuk kamu,” timpal Amanda.


“Mbak, unit dengan type yang ini berapa harganya?” tanya Cantika pada sales wanita yang ikut duduk di hadapannya.


“Ini harganya satu koma sembilan milyar, Kak. Ini type exclusive cocok sekali untuk Kakak yang punya selera tinggi,” ucap sales wanita itu. Lalu dengan gamblang dia menjelaskan fasilitas-fasilitas apa saja yang akan didapatkan.


Cantika dan Amanda memperhatikan dengan seksama setiap detil penjelasannya.


“Wah, aku tertarik nih. Apa gak ada diskon, Mbak?” seru Cantika kemudian.


“Ooo, kebetulan ini sudah harga promo selama pameran berlangsung saja Kak,” jawab sales itu lagi dengan sopan.


“Atau dikasih bonus tambahan interior nya deh, Mba. Aku beli cash loh.” Cantika masih keukeuh menawar. Dasar wanita, selalu pakai prinsip ekonomi kalau membeli sesuatu.


“Kalo soal itu saya tidak bisa memutuskan. Coba kakak bicara langsung dengan owner apartemen ini ya. Kebetulan beliau sudah datang. Sebentar saya panggilkan.“


“Iya cepet panggilin, masa aku beli cash gak dapet bonus.” ujar Cantika menggerutu.


“Tika, aku terima telepon dulu ya di luar, disini bising banget, gak kedengeran.” Pamit Amanda seraya berdiri. Cantika hanya mengangguk sekilas.


Tak lama Cantika menunggu.


“Kak, ini ownernya. Kakak bisa bicara langsung yah. Silahkan,” ucap sales wanita itu.


Cantika mendongakkan wajahnya.


Degh!.....


Dio?


Cantika tersentak melihat pria muda pemilik wajah yang sedap di pandangan itu berdiri dihadapannya.


Tak berbeda dengan ekspresi Cantika, Dio juga terbelalak kaget mendapati Cantika yang duduk persis di hadapannya.


“Kamu Dio, kan?” tanya Cantika meyakinkan dirinya.

__ADS_1


“Iya, apa kabar, Cantika?” Dio menyorongkan tangannya ke hadapan Cantika. Gadis itu membalas menjabat tangannya.


“Kamu owner apartement ini?“ tanya Cantika dengan raut wajahnya yang sumringah.


“Kebetulan begitu. Ada yang bisa aku bantu?” ucap Dio sopan sambil tersenyum sangat manis pada Cantika kemudian menempatkan duduknya di hadapan gadis itu.


“Hmmm.... Aku tertarik dengan unit yang ini. Tadinya aku mau minta bonus tambahan tapi karena kamu ownernya aku gak jadi minta deh. Malu aku. Hehehe.” ujar cantika mesem-mesem tersipu malu.


Dio meraih brosur dari tangan Cantika. Lalu membacanya sesaat. Dia memberi kode kepada sales nya minta di ambilkan pena dan kertas.


Cantika memperhatikan wajah cool Dio yang tertunduk tengah menuliskan sesuatu.


“Ini bonus untuk kamu.” Dio menyerahkan kertas yang dia tulis tadi ke hadapan Cantika.


Cantika membacanya dengan serius. Bola matanya seketika terbelalak.


'Diskon 35% dari harga promo. Full interior,  full furnish, bonus liburan ke Bali untuk 2 orang selama 5 hari dengan fasilitas hotel bintang lima + tiket pesawat pp kelas bisnis.'


“Serius nih?” tanya Cantika pada Dio yang bersandar santai di sofanya.


“Serius lah. Kenapa? Kurang? Sini aku tambahin lagi,” ujar Dio lalu kembali meraih kertas dari tangan Cantika kemudian menuliskan sesuatu. Dan kembali menyerahkannya pada gadis itu.


“Dua gelas Cocktail Margarita?” Cantika membacanya lalu menoleh pada Dio yang menyungging senyum manis padanya.  Keduanyapun tergelak.


“Kebetulan type yg ini ada yang sudah ready stok di tower satu. Kamu bisa tempatin kapan aja.“ ucap Dio.


“Oke lah kalo begitu aku mau yang ini. Bagaimana transaksi selanjutnya?”


“Besok aja di kantorku, nanti aku kasih alamatnya. Sekalian besok aku ajak kamu liat unitnya yah. Berapa nomor telepon kamu?”


Cantika menyebutkan nomor nya dan Dio mengirimkan miss call nya beberapa kali pada nomor tersebut.


“Oke, kalo begitu sampe ketemu besok yah.“ Cantika beranjak dari duduknya diikuti Dio.


“Baik, hati-hati di jalan. Safe Drive,” ucap Dio sopan. Cantika mengangguk sambil melemparkan senyum manis padanya.


Cantika melangkah keluar gedung sambil celingak-celinguk mencari-cari sosok Amanda.


Tiiiingg....Handphonenya berbunyi. Pesan Watsapp dari Amanda. ‘Aku di mobil.’


Cantika melangkah cepat menuju mobil Amanda yang terparkir tak jauh dari pintu masuk.


“Gimana? Jadi ambil unit yang tadi?” tanya Amanda ketika Cantika sudah duduk di sampingnya.


“Jadi dong. Dan surprisenya, ternyata owner nya itu cowok ganteng yang pernah aku ceritain ke Kak Amanda itu, loh. Aku dikasih bonus banyak banget,“ seru Cantika girang.


“Wah, asik dong. Ngomong-ngomong kamu gak bilang dulu sama kakak kamu?”


“Ah gak usah, kak Ferdian pasti setuju kok,“


Ya iyalah kamu adik kesayangan dia , apa yang kamu minta pasti diturutin sama kakak kamu itu. Makanya aku baik-baikin kamu supaya kamu minta sama kakak kamu itu untuk balikan lagi sama aku, Anak manja. Kalo bukan karena kakak kamu ngapain aku cape-cape ngintilin kamu tiap hari. Kayak gak ada kerjaan aja. Keluh Amanda dalam hatinya.


Dia menoleh sekilas pada Cantika yang masih tersenyum-senyum sendirian membayangkan wajah tampan Dio yang menari-nari di benaknya.


Please Like, Vote, kritik dan sarannya di kolom komentar yah... Happy Reading.

__ADS_1


__ADS_2