ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 91


__ADS_3

Dengan sorot mata nanar, Ferdian menatap layar ponselnya yang berlatar wajah Lusi tengah menempel mesra pada wajahnya.


Ia meraba lemah layar gawai itu. Bibirnya terkatup rapat, matanya tertunduk sayu. Wajahnya tampak layu karena sejak tadi malam dia tak bisa memejamkan mata hingga detik ini.


Sejenak dia katupkan kelopak matanya mengingat kejadian malam tadi. Dia Berharap itu semua adalah mimpi buruk. Tapi tidak. Itu adalah kenyataan terpahit yang kini harus dia hadapi.


Reynard menepuk bahu Ferdian pelan. Di letakkannya secangkir kopi Latte kesukaan sahabatnya itu di atas meja.


“Minum dulu, supaya pikiran kau lebih tenang.”


Ferdian menurut, diraihnya secangkir kopi di hadapannya itu lalu diseruputnya sejenak.


“Aku antar Lusi pulang ke rumahnya karena dia bersikeras. Aku gak bisa mencegahnya," jawab Reynard tanpa ditanya.


Namun Reynard tahu tujuan Ferdian ke apartementnya pagi ini adalah ingin menemui Lusi yang ia bawa tadi malam.


“Aku harus bagaimana sekarang, Rey?” tanya Ferdian lemah.


Dibaringkan kepalanya pada sandaran belakang sofa dan menengadah seraya memejamkan mata.


“Aku juga bingung harus kasih saran apa sama kau.”


“Kau percaya, kan aku gak melakukan itu sama Amanda?” Ferdian mengangkat kembali kepalanya dan menoleh pada Reynard yang duduk di sampingnya.


“Aku percaya sama kau dan aku cukup tau siapa Amanda. Tapi dengan bukti-bukti yang dia punya, sulit rasanya untuk kau mengelak bahwa kau tidur dengan dia.”


“Aku dijebak, Rey. Aku yakin sekali. Entah kapan dia membuat aku tak sadarkan diri.”


Reynard menghela napasnya berat. Ia sangat memahami sulitnya posisi Ferdian saat ini.


“Lalu apa aku harus menunggu sekian bulan untuk membuktikan bahwa aku tidak berbuat sesuatu pada Amanda?” Pertanyaan yang sangat sulit dijawab.


Waktu selama itu bukanlah waktu yang sebentar. Bersama orang yang dibenci walaupun hanya sedetik baginya serasa waktu yang sangat panjang, apalagi harus bersamanya dalam waktu hitungan bulan.


“Aku harus bicara pada Lusi. Dia harus menungguku. Aku gak rela kehilangan dia lagi.“


Ferdian beranjak dari duduknya. Hatinya sudah tak sabar ingin segera menemui istri tersayangnya itu.


“Bro, nanti dulu, lah. Dia masih syok. Biarkan dia tenang dulu.”


“Gak bisa. Pokoknya Lusi harus menungguku sampai aku bisa membuktikan bahwa aku tak melakukan apa yang dituduhkan Amanda,” ujar Ferdian bersikeras seraya meraih kunci mobilnya dari atas meja.


“Tapi jika ternyata bayi yang dikandung Amanda adalah benar benih darimu, bagaimana? Malam itu kau pun juga tak sadar melakukannya atau tidak,” ucap Reynard menahan kepergian Ferdian yang sudah membalikkan badan bersiap untuk melangkah pergi.


Ferdian menghentikan geraknya. Lalu berbalik lagi menghadap Reynard.

__ADS_1


Hatinya mulai ragu karena pertanyaan Reynard itu.


Benar juga, jika ternyata malam itu aku melakukannya di bawah alam sadarku, berarti Amanda mengandung anakku. Apa yang harus aku lakukan? Pikirnya penuh gelisah.


“Aakkhhhh.... Amanda Sial4n!” Ferdian meremas rambutnya geram lalu menghempaskan kembali dirinya ke sofa.


“Sabarlah. Tenangkan hati dan pikiranmu dulu. Nanti kita pikirkan bagaimana jalan keluarnya," ucap Reynard seraya menepuk bahu Ferdian mencoba untuk menenangkan emosinya yang sedang bergejolak.


***


Ferdian memarkirkan mobilnya tepat dimuka teras rumah bercat putih itu. Sejenak dilayangkan pandangannya ke arah pintunya yang tampak terbuka. Ia matikan mesin mobilnya lalu keluar perlahan.


Dilangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah itu. Seluruh ruangannya tampak terang karena pencahayaan yang berasal dari jendela-jendela yang terbuka di setiap sudutnya.


Ia yakin ada Lusi di dalam sana. Tapi sama sekali tak tampak sosoknya.


Ia menuju kamar Lusi, lalu ia buka pintunya dan dikuaknya lebar-lebar. Tak juga tampak gadis itu dalam kamar sempitnya.


“Lusi...” panggil Ferdian kemudian. Namun tak ada jawaban dari gadis itu.


Tampak olehnya pintu menuju taman belakang terbuka lebar. Dengan rasa penasaran ia menuju kearah itu.


Benar saja, tampak dari belakang Lusi sedang duduk di ayunan kecil yang berayun-ayun pelan. Kepalanya tampak tertunduk dengan bersandar pada rantai besi di sisinya.


“Lusi...” panggil Ferdian ketika sudah berdiri di sampingnya. Tangannya memegang rantai besi untuk menghentikan laju ayunan itu.


Lusi mendongak menoleh pada Ferdian. Gadis itu cukup terkejut tapi tak bereaksi apapun. Hanya diam lalu kembali tertunduk.


Ferdian menyentuh tangan Lusi yang masih memegang rantai besi di sisinya. Lusi menepisnya, walaupun tak kasar, tapi jelas menunjukan kekecewaan yang mendalam pada Ferdian.


“Aku mau bicara, Lusi," ucap Ferdian pelan.


“Bicara apa lagi, Mas?” tanya Lusi malas tanpa sedikit pun menoleh pada Ferdian.


Ferdian menggeser bangku kayu kecil yang terdapat di pojok taman. Dan menempatkannya tepat di hadapan Lusi yang masih tertunduk di bangku ayunannya. Ia pun menduduki bangku itu berhadapan sangat dekat dengan Lusi hingga lutut mereka pun saling beradu.


Ditatapnya sejenak wajah Lusi yang menampilkan guratan kesedihan yang sangat mendalam.


“Kamu harus percaya sama aku, Lusi.” Ferdian mendongakkan wajah Lusi agar menatap wajahnya. Pandangan mereka pun bertemu.


Lusi hanya diam, bibirnya terkatup rapat. Matanya menatap dingin mata Ferdian.


“Aku yakin sekali aku gak melakukan apa yang dituduhkan perempuan itu. Tapi posisiku sekarang sulit untuk bisa membuktikannya. Aku butuh waktu untuk itu dan aku butuh kamu menunggu aku, Lusi."


Lusi menepis perlahan tangan Ferdian dari wajahnya. Lalu menggeleng lemah.

__ADS_1


“Mas, nikahi dia, aku ikhlas. Mungkin memang sebenarnya dia adalah jodoh kamu yang tertunda selama ini,“ ucap Lusi lembut, nada suaranya terdengar tegar namun bergetar menahan sedih di hatinya.


“Tidak, Lusi. Aku gak cinta sama dia. Aku cintanya sama kamu."


“Cinta bisa datang belakangan Mas. Memangnya awal kita nikah Mas cinta sama aku? Gak, kan?” ujar Lusi, kali ini ada senyum tipis yang mengembang di sudut bibirnya. Walaupun senyum yang dipaksakan hanya untuk menunjukan bahwa dirinya ikhlas dan baik-baik saja menghadapi kenyataan pahit ini.


“Aku sudah banyak mengalami ujian yang pahit, Mas. Dan buat aku masalah ini hanya sebagai pelengkap koleksi penderitaan aku aja. Aku sudah terbiasa.”


“Lusi...” Ferdian tertunduk. Ia malu menatap Lusi, karena ia merasakan bola matanya hangat karena air mata.


“Aku ingin kita pisah baik-baik, Mas. Aku ikhlas, kok,” pinta Lusi lirih.


Ferdian menggeleng masih dalam tunduknya. Tangan Lusi menggenggam jemari Ferdian yang ada di pangkuannya dan meremasnya lembut seperti biasa Ferdian melakukan itu padanya.


“Terima kasih selama ini Mas sudah menjaga aku, melindungi aku, bahkan menyelamatkan semua harta ayahku, termasuk rumah ini. Aku anggap ini sebagai kenang-kenangan terindah dari Mas. Aku gak akan pernah lupa," ucap Lusi lagi dengan perasaan yang tulus dari hati terdalam.


Ferdian memberanikan diri mengangkat wajahnya, ia tak tahan ingin menatap wajah manis Lusi yang selalu menggemaskan baginya.


Ada air mata yang bergulir dari sudut matanya. Ia merasa kata-kata Lusi adalah kata-kata perpisahan untuknya. Lusi melihat itu dan tersenyum manis.


“Aku minta segera diurus perceraian kita. Supaya aku dan Mas bisa menjalani hidup kita masing-masing dengan tenang tanpa terganjal masa lalu.”


Ferdian tak menjawab. Ia hanya menatap wajah Lusi yang di matanya kini tampak semakin cantik dan dewasa.


Diraihnya kedua punggung tangan Lusi kemudian mengecupnya lama. Lama sekali.


Lusi terpejam merasakan lembutnya bibir Ferdian menyentuh kulit tangannya. Jantungnya berdegub kencang merasakan detik-detik perpisahan dengan cinta pertamanya itu.


Ia tarik perlahan kedua tangannya dari genggaman Ferdian. Ia benar-benar tak ingin larut dalam ketidak-relaan.


“Sekarang Mas pulanglah. Aku mau istirahat.”


Ferdian mengangguk pelan. Lalu berdiri dari duduknya. Ditatapnya lekat wajah Lusi sebelum pergi. Lalu menyentuh dagu Lusi sekilas dengan ujung telunjuknya.


“Aku pergi dulu. Satu saat aku akan kembali padamu,” ucap Ferdian dengan suara bergetar, kemudian segera berlalu dari hadapan Lusi menuju mobilnya.


Lusi menunduk dan menitikkan air mata. Baginya itu air mata terakhir untuk Ferdian. Ia harus mengikhlaskan semuanya. Dan berusaha bangkit untuk memulai hidup barunya yang berawal dari rumah ini. Rumah yang menyimpan banyak kenangan bersama kedua orang tuanya.


Eheeemm... Si Mamas Ferdian. Bikin cenat cenut pala barbie.



PLEASE LIKE, LOVE, VOTE, 5RATE, KRITIK DAN SARAN TENTANG PENULISAN DAN TATA BAHASA SILAHKAN, AUTHOR HAPPY SEKALI TERIMA KRITIKAN  DAN SARAN YANG MEMBANGUN.


KALAU UP LAMA, MOHON MAAF ADA BANYAK FAKTOR YA SAY, SELAIN KESIBUKAN PEKERJAAN UTAMA AUTHOR DAN JUGA HARUS MENUNGGU REVIEW BAB DARI TIM NOVELTOON SEBELUM TAYANG.

__ADS_1


__ADS_2