ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 85


__ADS_3

Seulas senyum tersungging dari wajah Pak Hermansyah setelah keluar dari kantor Polisi Resort Jakarta. Senyum kecemasan sebenarnya yang tampak.


Betapa tidak, hari ini dia baru saja selesai mendampingi Very Very Important Client-nya, Ferdian Adiwijaya guna melaporkan beberapa kasus penting. Termasuk peristiwa kecelakaan yang terjadi atas dirinya dan sang istri beberapa waktu lalu.


Diduga kecelakaan itu berkaitan dengan nama seseorang yang cukup punya kuasa di negeri ini.


Ditambah lagi Ferdian juga telah menyerahkan laptop temuan mereka kemarin yang berisi bukti-bukti lengkap kegiatan bisnis ilegal yang dilakukan oleh seseorang tersebut.


Kali ini bukan pekerjaan yang mudah bagi seorang Hermansyah, dia harus menjaga Ferdian dari hal-hal yang bisa mengancam keselamatan bahkan nyawa, karena telah menyerahkan bukti-bukti tersebut.


Karena yang dihadapi ini bukanlah seseorang yang biasa. Bramanto, seorang yang cukup berpengaruh dalam dunia usaha pelayanan angkutan barang antar negara di tanah air.


Dengan segala harta dan kekuasaannya, ia mampu melakukan apapun untuk menghindar dari jeratan hukum. Tapi sepertinya tidak untuk kali ini.


Ferdian menjabat tangan Pak Hermansyah sebelum memasuki mobilnya.


“Tolong kabari saya begitu ada perkembangan apapun,” pinta Ferdian dengan nada suara datar.


“Baik, Pak Ferdian. Pasti.”


“Saya yakin kali ini Bramanto tak akan lolos dari jerat hukum.”


“Benar, Pak Ferdian. Bukti-bukti itu sudah sangat kuat untuk menjeratnya.”


“Baiklah, tolong di pantau terus, Pak.”  Ferdian membuka pintu mobilnya dan duduk di belakang kemudi.


“Baik, Pak Ferdian. Hati-hati di jalan.”


Ferdian hanya mengangguk menanggapi lalu melajukan mobilnya keluar dari pelataran parkir kantor polisi dan meluncur cepat membelah jalan raya.


****


Sepuluh unit mobil kepolisian memasuki halaman rumah mewah milik Bramanto.


Pengawal-pengawalnya di depan pintu gerbang pun bungkam begitu Polisi menunjukan tanda pengenal anggota kepolisian.


Mereka tak dapat berkutik sama sekali ketika beberapa aparat menghentikan langkah mereka saat hendak melarikan diri.


Seorang kepala satuan tugas dan beberapa anggota berseragam lengkap dengan langkah cepat masuk ke dalam rumah itu.


Keadaan di dalam seketika panik dan mencekam. Beberapa pengawal Bramanto yang tengah berjaga-jaga langsung sigap dan hendak melawan. Tapi dengan tangkas mampu dilumpuhkan oleh beberapa anggota kepolisian.


Mendengar keributan yang terjadi, Bu Tantri keluar dari kamarnya dengan wajah panik dan ketakutan.


Ia melihat begitu banyaknya anggota kepolisian dengan menggenggam senjata dan dua orang pengawal Bramanto yang tertelungkup di lantai dengan tangan di borgol di belakang.


“Selamat sore, Bu. Kami dari Satreskrim Polres Jakarta mencari Bapak Bramanto Raharjo.”


“Iya, Pak. Saya istrinya,” jawab Bu Tantri berusaha tenang.

__ADS_1


“Kami membawa surat perintah penangkapan Bapak Bramanto Raharjo yang diduga Bapak Bramanto ini melakukan tindakan transaksi ilegal human traficking. Ini surat perintah penangkapannya.”


Ada desiran angin sejuk menerpa hati Bu Tantri. Sesaat senyumannya pun mengembang di kedua sudut bibirnya.


“Bramanto ada di ruang bawah sana Pak. Ayo saya tunjukkan.” ucap Bu Tantri antusias.


Kepala Satuan itu memberi kode kepada beberapa anggotanya untuk mengikuti langkah Bu Tantri.


Dengan langkah hati-hati mereka menuruni anak tangga yang menuju ruang basement yang cukup luas namun terasa sangat pengap karena atapnya yang tak terlalu tinggi.


Tiba di depan sebuah ruangan dengan pintu besar di basement itu, semua anggota berjaga-jaga dengan senjatanya.


Kepala satuan menggedor pintu itu, namun tak juga tampak tanda-tanda akan di buka.


Kembali digedornya dengan sangat keras. Tapi tak juga ada respon dari dalam.


Tak ingin menunggu lebih lama, Kepala Satuan itu mendobrak pintu yang sangat kokoh itu berkali-kali, dibantu dengan beberapa anggotanya yang lain.


Dan pintu berhasil dibuka paksa. Tampak Bramanto berdiri di belakang dua pengawalnya yang berbadan besar yang tengah mengacungkan senjata api ke arah para anggota polisi.


Namun apalah daya dua pengawal itu dibanding belasan anggota polisi yang menodongkan senjata fokus tertuju pada mereka.


Dan keduanya pun perlahan meletakkan senjata api mereka ke lantai lalu mengangkat kedua tangan ke samping kepala.


Beberapa anggota membekuk keduanya dan menelungkupkan badan mereka ke lantai lalu dengan sigap memborgol kedua tangan mereka.


“Bapak Bramanto Raharjo. Kami dari Satreskrim Polres Jakarta Selatan membawa surat perintah penangkapan anda. Anda diduga melakukan ilegal bisnis human traficking atau perdagangan manusia,” ungkap Kepala Satuan itu dengan menunjukan selembar surat perintah di genggamannya.


“Baik, nanti pak. Sekarang anda ikut kami ke kantor,” tegas Bapak Kepala Satuan itu seraya menghampirinya. Dan langsung memborgol kedua tangannya. Bramanto menurut tanpa ada perlawanan.


Bu Tantri yang berdiri merapat di samping pintu tampak tersenyum lega menyaksikan Bramanto dan dua pengawalnya keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai dalam keadaan tangan di borgol.


“Pak, sini saya tunjukan ruangan lain.” Bu Tantri menarik lengan Bapak Kepala Satuan untuk mengikuti langkahnya. Pria gagah yang masih tampak muda itu pun mengikutinya menuju sebuah ruangan lain yang terletak dibelakang garasi basement.


Di depan sebuah pintu kayu tinggi Bu Tantri menghentikan langkahnya.


“Ruangan apa ini, Bu?” tanya Pak Kepala Satuan heran.


“Dobrak saja, Pak. Ruangan ini selalu terkunci.”


Pak Kepala Satuan itu langsung memerintahkan beberapa anggotanya untuk mendobrak pintu besar itu. Butuh waktu berkali-kali untuk mendobrak pintu itu.


Dan berhasil.


Tampak oleh mereka, tiga orang wanita terkulai lemah di atas ranjang dengan kaki dan tangan yang terikat. Wajah mereka sangat pucat dengan mata yang layu tanpa cahaya.


Salah satunya Priska, yang berbaring terlentang dengan mata layu dan kosong menatap langit-langit.


“Panggil ambulance. Cepat!” perintah Pak Kepala Satuan itu setengah berteriak pada anggotanya.

__ADS_1


Bu Tantri yang menyaksikan keadaan ketiga gadis malang itu, menitikkan air matanya. Ada rasa penyesalan karena tak mampu menyelamatkan mereka keluar dari rumah itu seperti yang berhasil dia lakukan pada Lusi.


Dengan perlahan dia membuka ikatan yang membebat tangan dan kaki Priska. Lalu merapikan rambutnya yang acak-acakan menutup setengah wajahnya.


“Maafkan Ibu, Nak. Ibu tak bisa menyelamatkan kamu.” Lirih suara Bu Tantri disamping tubuh Priska yang masih tergolek lemah.


Bola mata Priska bergerak menatap wajah Bu Tantri yang sudah basah dengan air mata.


“Bu...” panggilnya lemah. Bu Tantri membelai wajahnya lembut dan mencoba menyungging senyum.


“Setelah kamu sehat nanti kamu ikut Ibu ya, Nak.” ucap Bu Tantri pelan.


Priska merespon, air matanya tampak menetes dari sudut mata.


Terdengar sirine dari kejauhan. Sepertinya ambulance yang akan mengangkut ketiga gadis malang itu sudah datang.


***


Di ruang kunjungan tahanan. Bramanto yang sudah memakai  baju tahanan berwarna biru duduk terpaku dengan wajah menunduk.


Tak tampak sedikit pun raut penyesalan di wajahnya. Hanya kekesalan yang tak terbendung karena kali ini kegiatan ilegalnya tercium pihak kepolisian.


Berlan yang duduk di hadapannya ikut terdiam menunggu perintah dari Bossnya sekaligus kliennya itu.


“Bodoh kau! Kenapa masih ada barang bukti yang tercecer?!“ hardik Bramanto dengan suara tertahan.


“Saya sudah ke rumah Bu Merry beberapa hari lalu, dan sudah mencari ke semua tempat, tapi memang tidak ketemu barang bukti apapun lagi di sana,” jawab Berlan sambil menunduk tak berani mengangkat wajahnya.


“Bodoh...! Kau cari pake mata apa pake dengkul? Apa kau tidak geledah sudut-sudut lainnya?”


“Saya tak punya waktu lama disana Pak, karena ada beberapa warga datang dan mencurigai saya,” jawab Berlan dengan suara sedikit bergetar.


Bramanto menatap tajam pada wajah Berlan yang menunduk takut.


“Cepat keluarkan aku dari sini, Berlan.” perintah Bramanto dengan suara beratnya.


Sejenak Berlan menarik nafasnya dan menghelanya dengan berat


“Maaf Pak, kali ini saya tidak bisa. Polisi menolak jaminan penangguhan penahanan karena kasus yang dituduhkan kepada Anda termasuk kejahatan berat.“


Braakkk....!!!


Spontan Bramanto menggebrak meja membuat semua yang ada di ruangan itu tersentak dan menoleh ke arahnya.


“Pokoknya aku harus keluar dari tempat ini. Bagaimanapun caranya,” geram Bramanto menatap Berlan.


“Baik Pak. Saya usahakan,” ucap Berlan akhirnya.


Pria itu pun memberi harapan hanya sekedar untuk menenangkan emosi Bramanto, walaupun sebenarnya dia sendiri tak yakin sanggup memenuhi permintaan kliennya itu.

__ADS_1


Berlan sendiri pun sudah merasa kasus yang dihadapi Bramanto kali ini sulit untuk dia tangani karena barang bukti yang terang benderang mengarah pada Bramanto sangatlah kuat dan sulit terbantahkan lagi.


__ADS_2