
Di bandara.
Amanda mengedarkan pandangan jauh pada arah pintu yang bertuliskan kedatangan Internasional.
Dia mencari sosok Cantika tapi belum tampak juga. Beberapa kali dia melirik jam ditangannya. Sudah jam empat sore. Berarti sudah hampir setengah jam dia menunggu di tempat itu.
Apa mungkin pesawatnya telat? Pikirnya.
Lima menit kemudian, wajahnya berubah semringah. Senyumnya seketika mengembang lebar.
Tampak olehnya dari kejauhan sosok Cantika dengan mengenakan celana jeans dan kaos lengan panjang hitam tengah mendorong troli berisi koper-kopernya.
“Cantika.” Panggil Amanda melambai-lambaikan tangan.
Cantika menoleh ke asal suara dan balas melambai lalu bergegas menuju Amanda.
“Haiii...” keduanya saling berpelukan melepas rindu.
“Kamu makin cantik aja. Makin dewasa.” Puji Amanda memandang sosok Cantika dari ujung kaki sampai ujung kepala.
“Kak Amanda juga makin cantik.” Cantika balas memuji.
“Bisa aja kamu. Ayo kita pulang. Sini aku bawa koper kamu yang satu lagi.”
Mereka melangkah riang menuju pintu keluar dan memasuki mobil Amanda yang sudah menunggu di post penjemputan.
Tak lama mobil itu pun meluncur menembus jalan raya yang padat menuju kawasan komplek perumahan elite tempat kediaman Ferdian.
Mobil Amanda memasuki halaman rumah Ferdian. Tak sabar Cantika turun dari mobil itu disusul oleh Amanda lewat pintu di sisi lain.
Di edarkannya pandangan ke semua penjuru di halaman rumah yang luas itu. Rumah yang sudah hampir dua tahun dia tinggalkan untuk memburu pendidikan ke negeri Kangguru.
Pak Dirman yang telah menutup gerbang segera menghampiri mereka. Keningnya berkerut memperhatikan Cantika yang berdiri di tengah-tengah taman. Seketika wajahnya berubah. Matanya terbelalak dan tersenyum lebar.
“Non Cantika?“ panggilnya seraya menunjuk ke arah nona mudanya.
Gadis itu menoleh pada Pak Dirman dan tersenyum lebar. Lalu mengangguk.
“Ya ampun, Non Cantika apa kabar?. Senang liat Non pulang,” seru Pak Dirman antusias menyambut Cantika.
“Pak Dirman apa kabarnya?” balas Cantika ramah pada pegawai rumah tangga yang sudah lama mengabdi pada keluarganya itu.
“Kabar saya baik, Non.“
“Kok gak kasih kabar dulu kalo mau pulang, Non? Kan biar dijemput sama Boss, abangnya Non.”
“Mau kasih surprise untuk kakak, Pak.” ucap Cantika semangat.
Pak Dirman mengangguk paham.
__ADS_1
“Tolong bawa masuk koper-koper saya ya, Pak.” perintah Cantika kemudian.
Pak Dirman menurut dan mengambil semua barang-barang milik Cantika dari dalam mobil Amanda. Lalu mengikuti Cantika dan Amanda yang langsung masuk ke dalam rumah.
Cantika menghempaskan diri di atas sofa ruang keluarga. Rasa penat dan rindu pada rumah itu bercampur jadi satu.
“Maaf Non. Saya taro barang-barang Non di kamar tamu dulu ya untuk sementara. Saya mau suruh Mbak Ira untuk rapikan kamar tamunya dulu sebenta," ucap Pak Dirman hendak berlalu.
Cantika mengerutkan keningnya bingung. Alis matanya saling bertautan.
“Loh, kenapa gak langsung taro ke kamar aku, Pak?" tanya Cantika penasaran.
“Maaf, Non. Kamar Non selama ini dipake sama Non Lusi,” jawab Pak Dirman gugup.
“Lusi? Siapa dia?” Cantika bangkit mendekati Pak Dirman yang berdiri dengan salah tingkah.
“Anu, Non. Non Lusi itu ... istrinya Boss, kakak iparnya Non Cantika.”
Seketika mata Cantika melebar dan raut wajahnya berubah menegang.
'Ternyata benar apa yang dikatakan Amanda, kakak udah nikah, dan aku gak dikasih tau sama sekali. Sehebat apa sih perempuan yang dinikahi kakak sampe-sampe harus disembunyikan dari aku?' gerutu Cantika dalam hati dengan perasaan tak menentu.
“Sejak kapan mereka nikah, Pak?” Selidik Cantika dengan wajah penuh selidik. Amanda yang berdiri di sampingnya ikut menatap tajam Pak Dirman.
“Ehh, anu Non. Saya gak tau persisnya. Yang pasti sudah tiga bulan Non Lusi tinggal disini.”
“Tiga bulan? Dan Kak Ferdian merahasiakannya dari aku selama ini?” teriak Cantika meninggi.
“Tapi udah nikah kok masih pake kamar saya? Emang sebanyak apa sih barang-barangnya sampe harus ditaro di kamar saya juga?” hardik Cantika kesal.
“Ehhhmm, bukan untuk taro barang, Non. Tapi Non Lusi memang tidur di kamar Non Cantika.”
“Hah?” Cantika dan Amanda kompak terperangah.
'Aneh, mereka sudah nikah kenapa tidur terpisah, ada apa ini?' Begitulah pertanyaan yang terlintas di benak keduanya.
“Pak Dirman, telepon Kak Ferdian sekarang juga. Kasih tau, aku udah pulang,” perintah Cantika tegas sambil melotot pada Pak Dirman.
“I ... iya, Non.” Segera Pak Dirman mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi nama “Boss” di layarnya. Nada sambung pun terdengar beberapa kali.
“Halo Boss.” Sapa Pak Dirman ketika sudah mendengar suara Ferdian yang menyahut.
“Ada apa, Pak Dirman?” tanya Ferdian dengan nada suaranya yang datar.
“Anu, Boss. Ini ada ... anu....” Pak Dirman terbata-bata sesekali melirik Cantika dengan gugup.
“Anu ini anu ini, ngomong yang bener, Pak. Ada apa?” hardik Ferdian kesal.
“Ada Non Cantika di rumah. Sudah pulang.”
__ADS_1
“Hah? Cantika? Sudah pulang?” Ferdian setengah memekik kaget.
“Iya, Boss. Betul. “
“Ya udah aku pulang sekarang.”
Sambungan telepon berakhir. Pak Dirman masih berdiri gugup di bawah tatapan nona mudanya yang berdiri sambil berkacak pinggang.
Baru dua tahun tinggal di negeri orang Non Cantika udah berubah sekali, Dulu baiknya bukan main, bahasanya sangat sopan dan tak pernah teriak-teriak kalo ngomong. Sekarang kok jadi galak begini? Apa kebanyakan gaul sama kangguru kali yak? Pikir Pak Dirman dalam hati.
Tiga puluh menit berlalu. Seseorang yang ditunggu-tunggu Cantika akhirnya datang juga.
Ferdian mempercepat langkahnya memasuki rumah. Dia lepas jas hitam dan kacamatanya lalu di lemparkan ke sandaran kursi tamu.
“Cantika?” panggil Ferdian senang. Wajahnya begitu semringah.
Cantika dan Amanda yang tengah berbincang-bincang kompak menoleh.
Ferdian menyerbu adiknya itu, lalu memeluknya erat. Cantika pun membalas. Kerinduan tampak jelas di raut kedua adik kakak tersebut.
“Kamu kok gak bilang-bilang mau pulang hari ini?” tanya Ferdian menatap lekat wajah adiknya.
“Sengaja. Mau kasih surprise untuk Kakak,” jawab Cantika sambil tersenyum.
“Dasar, anak nakal. Aku kan udah janji akan jemput kalo kamu pulang,” ujar Ferdian menjepit hidung Cantika gemas. Cantika tertawa renyah.
“Aku gak mau ngerepotin Kakakku yang ganteng dan super sibuk ini. Makanya aku telepon Kak Amanda untuk jemput aku di bandara,” beritahu Cantika seraya menoleh pada Amanda yang berdiri di belakangnya.
Ferdian pun baru menyadari kehadiran Amanda di antara mereka. Dia menoleh sekilas pada wanita itu tanpa menggubrisnya. Padahal Amanda sudah pasang senyum termanis untuknya.
'Ngapain sih nih cewek pake jemput-jemput adikku segala?' gerutu Ferdian dalam hati. Dia merasa sangat tak nyaman dengan keberadaan Amanda.
Dulu Cantika memang sangat dekat dan akrab dengan Amanda karena Cantika merasa menemukan sosok kakak perempuan untuknya. Amanda pun sangat perhatian pada Cantika, bahkan menyayanginya. Di tengah kerinduan Cantika pada almarhumah ibunda, Amanda selalu hadir untuknya.
Namun setelah Ferdian memutuskan membatalkan pernikahannya dengan Amanda, saat itu juga Ferdian melarang Cantika berhubungan dengan Amanda lagi tanpa memberitahukan alasan yang jelas.
Akan tetapi, larangan itu sama sekali tak menghalangi hubungan Cantika dan Amanda. Keduanya masih terus berteman akrab. Hingga Cantika menetap di Australia pun Amanda masih terus menghubunginya.
“Hmm, kakak. Mana kakak iparku?“ Cantika melirik kanan kiri ke sekitar seolah-olah sedang mencari seseorang di belakang punggung Ferdian.
Ferdian tersentak dengan apa yang ditanyakan Cantika. Wajahnya berubah kikuk dan salah tingkah dibawah tatapan adiknya.
“Ehmm. Iya, sebentar lagi pulang kuliah,” jawab Ferdian gugup.
Pasti Amanda yang kasih tau soal pernikahan aku dengan Lusi, tebak Ferdian dalam hati.
Dia pun merasa bersalah tak memberitahukan hal itu pada Cantika, adiknya. Tapi dia benar-benar terpaksa, karena pernikahan yang sedang dia jalankan itu hanya untuk sementara dan ada tujuan tertentu dibaliknya.
Ferdian tak mau adiknya ikut terlibat di dalam misi rahasianya bersama Lusi dan Reynard. Karena ini menyangkut keselamatan jiwa yang sangat beresiko tinggi.
__ADS_1
PLEASE KASIH JEMPOL NYA YAH DEAR READERS... HAPPY READING