
Alunan musik klasik dari seorang violis mengiringi para pengunjung kafe menikmati santapan makan malam nya. Suasana menjadi sangat romantis terasa.
Cantika yang malam itu tampak sangat cantik dengan rambut tergerai lepas duduk sendirian di sofa paling sudut. Sesekali dia melirik jam tangannya. Sudah lima belas menit berlalu dari waktu yang sudah dijanjikan. Dia menyeruput jus strobery nya sesaat.
Tak lama, tampak Dio datang dari pintu masuk dan berbicara sebentar dengan resepsionis di meja depan. Cantika melambaikan tangan padanya. Dio pun tampak tersenyum melihat Cantika kemudian bergegas menghampirinya.
“Maaf terlambat, aku mampir ke kantor dulu ambil contoh design untuk kamu.” ucap Dio.
“Gak papa, Dio. Silahkan duduk. “
Cantika tersenyum manis melihat Dio yang tampak sangat keren malam ini dengan kemeja putih dan celana jeans nya. Membuatnya tampak lebih macho dan dewasa.
“Makan dulu ya, kamu udah pesen?” tanya Dio lembut.
“Belum, aku nunggu kamu. “ ucap Cantika tak kalah lembut.
Dio pun melambaikan tangan pada pelayan lalu memesan makanan untuk mereka berdua
“Kamu keren banget malam ini Dio. “ puji Cantika dengan mengulum senyum.
“Ya dong, khusus ketemu kamu,“ balas Dio ringan, namun cukup membuat Cantika serasa terbang melayang.
“Gombalannya sih kadaluarsa tapi lumayan lah bikin aku melting.” Ujar Cantika membuat Dio tertawa renyah.
“Namanya juga usaha,” balas Dio di sela tawa nya.
Cantika ikut tertawa renyah, dia suka sekali gaya nyeleneh Dio yang khas, Santai dan tak banyak ja'im.
“Udah punya pacar? “ tembak Cantika polos menatap wajah Dio yang masih menyisakan senyum di sudut bibirnya.
Dio yang tiba-tiba mendapat 'tembakan' mendadak begitu sedikit kikuk untuk menjawab.
“Pacar? Hmmm. Rahasia perusahaan shi sebenarnya. Kenapa nanya-nanya? Mau jadi pacar aku?” giliran Dio yang menembak dengan sangat polosnya.
Cantika kembali tertawa renyah, membuat gadis itu tampak makin manis dengan warna bibirnya yang merah merekah.
“Ntar kalo aku bilang iya kamunya bingung.” Jawab Cantika.
“Kalo bingung ya pegangan lah.” Gurau Dio membuat Cantika makin tersenyum lebar.
Pesanan makan malam mereka pun datang kemudian tersaji di hadapan masing-masing.
__ADS_1
“Kamu sendiri punya pacar? “ tanya Dio sambil menyantap steak sirloin nya.
“Kenapa? kamu mau jadi pacar aku? “ balas Cantika membuat Dio tersenyum manis.
“Fotokopi. Hehee..” ujar Dio melirik cantika.
“Padahal aku nanya serius loh. Makan malam dengan pacar orang itu ngeri-negri sedap soalnya.” Sambung Dio lagi.
“Tenang aja, Dio. Aku single kok. Kayak nya kamu trauma ya? apa pernah jalan sama pacar orang, gitu?” selidik Cantika melirik wajah Dio yang tertunduk serius dengan alat makannya.
“Bukan sama pacar orang, tapi sama istri orang.” Ucap Dio datar masih dengan wajah tertunduk. Bayangan wajah cantik Lusi tiba-tiba hinggap di benaknya.
“Waah itu sih cari mati namanya.” seru Cantika santai.
Cari mati? Perasaan suaminya Lusi pernah bilang gitu ke aku. Dan sekarang Cantika juga bilang begitu. Apa senekat itukah aku mendekati Lusi yang sudah menjadi istri orang lain? Tapi gimana dong, namanya juga cinta. Pikir Dio dalam hati.
“Kamu khan cakep Dio, masa ga bisa dapet yang single? “lanjut Cantika mendelik pada Dio. dalam hati Cantika terbersit rasa cemburu mendengar penuturan Dio.
“Yang single memang asik, tapi istri orang lebih menarik.” ucap Dio seenaknya. Cantika tertawa mendengarnya.
“Kamu sendiri? Kenapa belum punya pacar?” giliran Dio menginterogasi Cantika.
Gadis itu diam sejenak. Bayangan wajah Ferdian, kakaknya menggelayut di benaknya. Dia ingat apa yang selalu di wanti-wanti oleh kakak tersayangnya itu. Tak boleh punya pacar dulu sebelum lulus kuliah. Padahal banyak pria yang mencoba mendekatinya, baik cowok lokal maupun cowok Bule teman kampusnya di Australia. Tapi Cantika patuh pada apa yang dikatakan Ferdian.
“Yaaaa...padahal minat.“ gumam Dio menggoda sambil melirik Cantika.
“Kalo minat kamu harus berhadapan dulu dengan kakak ku.” Balas Cantika bercanda.
“Orang nya Galak ya?”
“Banget...hehehe...”
“Yaaaa, berarti datang ke rumah kamu gak cukup Cuma dengan bawa martabak ya?”
Cantika tergelak mendengarnya, hingga nyaris tersedak. Di teguknya sesaaat air mineralnya.
“Kuno banget sih, masa martabak.” Protes Cantika.
“Ya deeehh, ntar aku bawain berlian, sekalian ngelamar adiknya.” Seloroh Dio di sambut derai tawa Cantika yang makin menjadi.
“Ya ampun Dio. Kamu lucu banget. Sumpah, sakit perut aku ketawa mulu.” Seru Cantika seraya memegang perutnya.
__ADS_1
Dio memandang wajah Cantika yang menggemaskan ketika tertawa lebar. Ternyata Cantika seru juga, pikirnya dalam hati
“Mana sini design-design kamu, aku mau liat.” Pinta Cantika setelah menghentikan derai tawa nya.
Dio meraih tas hitam nya lalu mengeluarkan map besar berisi gambar–gambar interior design hasil rancangannya sendiri. Dan di serahkan ke hadapan Cantika.
Gadis itu meneliti satu persatu gambar di map besar itu. Bola matanya berbinar-binar sesekali tersenyum tipis di sudut bibirnya. Dio memperhatikan itu.
“Design kamu bagus semua, Dio. Aku bingung nih.” Ucap Cantika tanpa menoleh pada Dio.
“Sini aku bantu carikan yang tepat untuk selera kamu.”
Dio menggeser duduknya lebih merapat pada Cantika. Gadis itu melirik bahu Dio yang sesekali menempel pada bahu nya. Ada getaran halus di dadanya saat memperhatikan wajah Dio yang dekat sekali dengan wajahnya.
Pria ganteng itu serius memilih-milih gambar designnya untuk Cantika. Dia tak menyadari Cantika sedang menatapnya dengan senyum tipis di kedua sudut bibirnya.
“Kayaknya yang ini cocok untuk kamu, Coba kamu liat.” Dio menoleh pada Cantika. Seketika itu juga pandangan mereka bertemu. Keduanya saling menatap dalam dan lembut.
Wajah Cantika lebih mendekat. Dia melirik ke arah bibir Dio yang tipis menggoda. Begitupun wajah Dio yang juga perlahan mendekat pada Cantika. Gadis itu memejamkan mata. Jantung Dio makin berdebar kencang menatap bibir Cantika yang hanya beberapa senti di depan bibirnya.
Tiba-tiba seorang Violist cafe berdiri tepat di depan meja mereka dan terdengarlah alunan music lembut My heart will go on by Celine Dion. Cantika dan Dio sama sama terlonjak kaget. Seketika keduanya gugup dan salah tingkah. Dio tersenyum malu-malu melirik Cantika. Begitupun Cantika yang hanya menunduk pura-pura melihat gambar-gambar design di mejanya, sambil menyembunyikan kegugupannya.
“Terima kasih, silahkan lanjutkan makan malam nya. “ ucap Violist itu setelah menuntaskan satu lagunya, seraya menunduk hormat dan berlalu dari hadapan mereka.
Cantika dan Dio saling menatap sejenak, dan tawa mereka pun lepas.
“Ganggu aja tu orang. Gak bisa banget liat orang seneng.“ gerutu Dio disebelah Cantika yang masih tertawa renyah.
“Well, kita lanjutkan.” Ucap Cantika.
“Lanjutkan apa nya nih?” tanya Dio polos.
“Pilihin design untuk aku, Dio.” seru Cantika.
“Ooo, kirain lanjutin yang tadi di ganggu sama tukang biola. Udah siap-siap aku ni.” canda Dio lugu.
Spontan Cantika mencubit lengan Dio gemas. Keduanya pun tertawa kembali. Lalu mulai berkonsentrasi melanjutkan pembicaraaan mereka memilih dan mendiskusikan design yang tepat untuk apartement yang akan Cantika tempati nanti.
Visual Cast untuk Cantika.... imuutt nyaa...
__ADS_1