ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 26


__ADS_3

Nikita dan Ashanti melenggang santai menghampiri Lusi yang berdiri di muka lobby kampus tengah menunggu Ferdian datang menjemputnya.


“Lusi, nunggu abang kamu, yah?” tanya Ashanti menepuk pundak Lusi dari belakang.


Lusi mengangguk dan tersenyum pada mereka.


“Lusi, cowok yang kemarin itu, Dio. Mantan kamu ya?” tanya Nikita, ada nada cemburu dalam nada suaranya. Matanya mendelik menunggu jawaban Lusi.


“Bukan, Nik. Dio sahabat aku sejak SMA dulu.”


Senyum Nikita seketika mengembang lebar. Serasa ada terpaan angin segar dan sejumput harapan untuknya.


“Ganteng banget deh, Lusi. Boleh dong aku di comblangin ke dia?” Nikita merajuk sambil menggelayut manja pada bahu Lusi.


Lusi mengangguk mantap. “Boleh, aku usahakan, yah,” jawab Lusi dan mengacungkan ibu jarinya.


“Nah, kalo aku sama abang kamu aja, ya Lusi. Pliiiiss....” Giliran Ashanti memohon dengan mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada.


Lusi tertawa kecil melihat tingkah kedua teman cantiknya yang selalu ceria ini.


Tak lama, sedan mewah milik Ferdian pun datang. Terdengar suara klasonnya dari kejauhan.


“Jemputanku sudah datang. Aku duluan ya,” pamit Lusi langsung berlari meninggalkan Ashanti dan Nikita. Padahal kedua temannya itu ingin sekali berkenalan dengan Ferdian yang mereka sangka kakak kandung Lusi.


Lusi bergegas masuk ke dalam mobil, meminta punggung tangan Ferdian kemudian mengecupnya dengan takzim.


“Cape?” tanya Ferdian singkat. Pandangannya fokus pada jalan raya dihadapannya.


“Lumayan, tadi ada ujian harian. Agak susah sih,” jawab Lusi sambil membuka layar ponselnya.


“Kita ke mall ya sebentar, ada yang mau aku beli,“ ajak Ferdian kemudian.


Lusi mengangguk setuju. “Oke Mas.“


Ferdian mempercepat laju kendaraannya. Kebetulan suasana jalan raya tidak terlalu padat merayap.


Selang lima belas menit, kemudi mobil dia arahkan ke sebuah mall mewah di kawasan elite Ibukota.


Ferdian dan Lusi turun dari mobil lalu Ferdian menyerahkan kunci mobilnya pada petugas Valley Parking untuk dicarikan tempat parkir khusus untuk mobilnya.


Ferdian menggandeng Lusi dengan mesra menyusuri mall elite yang bernuansa western itu. Sesekali pria itu meremas punggung tangan Lusi dan memainkan ujung jarinya. 


Sebenarnya gadis itu agak risih, karena getaran asing itu selalu menyelinap di hati setiap saat Ferdian menyentuh kulitnya.


Tapi sepertinya tidak bagi Ferdian, terlihat jelas dia menyukai seakan menemukan kenikmatan sendiri saat menyentuh tangan Lusi.


Ferdian menarik tangan Lusi memasuki sebuah toko perhiasan dengan interiornya yang sangat mewah dan elegant.


“Selamat sore, Pak Ferdian. Apa kabar? Lama tak berkunjung ke mari,” sapa seorang pramuniaga laki-laki dengan pakaian serba hitam menyambut mereka di pintu depan.


Pramuniaga itu tampaknya sudah mengenal Ferdian yang menjadi langganan tetap di toko itu. Terlebih lagi ketika Ferdian masih berhubungan dengan Amanda. Wanita itu sering sekali dimanjakan dengan membeli perhiasan apapun yang dia suka.


“Iya, agak sibuk,” jawab Ferdian singkat.


Lalu menduduki sofa merah yang berada di tengah ruangan itu.


Lusi ikut menghenyakkan diri disampingnya. Pandangannya beredar ke seluruh ruangan toko perhiasan itu.


Ruangan itu terlihat indah dan berkilau terang. Lusi terpukau. Jangankan membeli perhiasan, memasuki toko semewah ini pun, baru kali ini dia mengalaminya.


Seorang pelayan wanita membawakan dua gelas bertangkai panjang berisi White Wine kemudian dihidangkan di depan meja dihadapan Ferdian.

__ADS_1


“Silahkan, Pak.” ucap pelayan itu mempersilahkan. Ferdian hanya mengangguk sekilas.


“Hallo, Mas Ferdian, apa kabar? Wah, saya senang sekali kedatangan tamu agung.” Tiba-tiba seorang laki-laki berjas hitam lengkap dengan dasi dan pin datang dari dalam sebuah ruangan dan bergegas menghampiri Ferdian dengan senyum semringah.


Dia mengulurkan tangannya pada Ferdian kemudian Ferdian membalas jabatan tangannya.


“Kabar baik, Pak Tirta.”


“Ada yang bisa saya bantu?“ Laki-laki yang bernama Pak Tirta itu menawarkan diri dengan sikap hormat.


“Carikan cincin berlian yang bagus untuk Istri saya ini,” perintah Ferdian, tangannya menarik bahu Lusi mendekat ke bahunya.


Pak Tirta mengalihkan perhatiannya pada Lusi. Tatapannya asing, seolah-olah tak percaya kalau Lusi adalah istri pelanggan tetapnya itu. Karena yang dia tahu wanita yang selalu dibawa Ferdian ke toko itu adalah wanita lain.


“Ooh, baik, Mas Ferdian. Akan saya bantu carikan. Mas Ferdian silahkan santai dulu disini sambil dinikmati minumannya,” ujar Pak Tirta dengan sangat sopan.


“Saya gak minum Wine, bisa ambilkan saya air mineral saja?” pinta Ferdian.


“Ooh, baik. Sebentar pelayan saya ambilkan,” jawab Pak Tirta. Kemudian memanggil pelayan wanita tadi dan menyuruh membawakan apa yang diminta Ferdian.


“Silahkan, Kak. Saya bantu carikan cincin berlian yang bagus untuk Kakak,” ucap Pak Tirta pada Lusi.


Lusi masih bingung dan menoleh pada Ferdian.


“Kamu gak bilang-bilang mau beliin aku perhiasan. Aku kan bingung, Mas. Aku gak ngerti perhiasan, apalagi berlian,” bisik Lusi di telinga Ferdian.


Ferdian tertawa kecil, jarinya mencubit pipi Lusi dengan gemas.


“Pilih aja yang kamu suka, Pak Tirta bisa bantu, kok. Ayo sana liat dulu, aku tunggu sini.” suruh Ferdian kemudian.


Lusi menurut dan mengikuti langkah Pak Tirta menuju barisan etalase yang terang benderang oleh lampu downlight yang menyala di sekelilingnya.


Beberapa koleksi cincin berlian yang dikeluarkan Pak Tirta dia coba satu persatu ke jari manisnya.


“Ini harganya berapa?” bisik Lusi menunjuk cincin mungil bertabur berlian yang bertengger di jari manisnya. Dia melirik Ferdian di sofa yang kini tengah sibuk dengan ponselnya.


“Yang ini seratus lima puluh juta saja,” sebut Pak Tirta sambil tersenyum lebar.


“Hah?! Mahal sekali!” tanpa sadar Lusi terpekik. Segera dia mendekap mulutnya sendiri. Bola matanya terbelalak lebar menatap Pak Tirta di hadapannya.


“Jangan kuatir soal harga kalo dengan Mas Ferdian. Dia banyak duitnya.” Pak Tirta berbisik sambil melirik Ferdian yang mulai melempar perhatian ke arahnya.


Ferdian melihat Lusi dan Pak Tirta berbincang-bincang sambil berbisik jadi penasaran dan ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Dia pun beranjak dari sofa lalu menghampiri tempat mereka.


Ferdian mengangkat jemari Lusi ketika sudah bergabung dan duduk di kursi samping gadisnya.


Diperhatikannya sebentar cincin berlian yang bertengger di jari manis gadis itu. Lalu, “Cantik,” puji Ferdian singkat.


“Harganya mahal sekali, Mas,” bisik Lusi di telinga Ferdian.


“Kamu suka?” Ferdian justru balik bertanya. Lusi mengangguk namun ragu karena telinganya masih terasa gatal saat mendengar harga yang begitu fantastis untuk benda sekecil ini.


“Ya sudah, Pak Tirta. Istri saya suka yang ini. Tolong di siapkan ya.” Ferdian mengeluarkan kartu platinum dari dalam dompet lalu menyerahkannya pada Pak Tirta.


Tak lama Pak tirta kembali dengan membawa kotak perhiasan yang cantik dikemas dalam tas kecil yang unik.


“Ini barangnya, ya Kak. Dan ini kartu Mas Ferdian,” ucap Pak Tirta menyerahkan kotak perhiasan itu pada Lusi dan menyerahkan kartu platinum pada Ferdian.


“Oke, Yuk, Sayang.” Ferdian menggamit lengan Lusi dengan mesra.


“Terima kasih atas kunjungannya, Mas Ferdian dan istri. Semoga sehat selalu, panjang umur, luas rejekinya, dan pernikahannya langgeng selamanya,“ ucap Pak Tirta bersama sederet doa.

__ADS_1


Ferdian dan Lusi membalasnya dengan tersenyum ramah lalu keluar dari toko perhiasan itu.


“Mas, Trima kasih ya," ucap Lusi menunjukan cincin di jari manisnya. Ferdian hanya mengangguk sambil tersenyum.


“Aku cuma pengen kasih hadiah kecil untuk kamu,” ujar Ferdian ringan.


“Iya barangnya kecil, harga nya luar biasa besar,” tutur Lusi seraya menarik bibir mungilnya.


"Yang penting kamu suka." Ferdian mencubit pipi Lusi gemas lalu tertawa renyah.


Dari kejauhan dua pasang mata tengah memperhatikan kemesraan mereka.


“Eh, Amanda, itu kayaknya Ferdian?” Tunjuk seorang gadis bernama Velly.


Amanda mengikuti arah mata Velly. Dan seketika wajahnya berubah tegang dengan sorot mata yang horor. Hatinya panas membara melihat Ferdian tengah merangkul bahu seorang gadis cantik dan muda begitu mesranya.


“Sialan itu perempuan!“ hardik Amanda, spontan berdiri dari duduknya. Namun seketika itu juga tangannya ditarik oleh Velly, sahabatnya.


“Jangan disini, Nda. Malu ntar jadi tontonan orang,” cegah Velly lekas.


Nafas Amanda naik turun. Dia mendengkus kesal melihat dari kejauhan tampak Ferdian tertawa-tawa bahagia bersama gadis muda disampingnya.


Amanda mengurungkan niatnya untuk menghampiri Ferdian dan gadisnya. Lalu duduk kembali tanpa melepaskan perhatiannya pada mantan calon suaminya itu.


“Aku bener-bener gak rela Ferdian direbut perempuan lain, Vel."


“Tenang dulu, Nda. Kamu harus sabar. Kalo kamu pengen balikan lagi dengan Ferdian, kamu rubah dong taktik kamu.” Saran Velly kemudian. Amanda beralih mode serius menanggapi omongannya.


“Maksud kamu, Vel?“


“Tipe cowok kayak Ferdian itu gak suka sama perempuan barbar. Jadi makin kamu marah dan emosian begini dia makin menjauh dari kamu. Percaya deh sama aku."


“Jadi aku harus gimana dong? Diam aja ngeliat Ferdian diambil perempuan lain, gitu?” protes Amanda mulai meninggikan suaranya.


“Gini loh, Nda. Coba kamu belajar menurunkan tensi kamu sedikit. Jangan nunjukin kemarahan dan kecemburuan kamu di depan dia. Jadi cewek tuh elegant sedikit kenapa sih,” tutur Velly menepuk punggung tangan Amanda pelan.


“Maksud kamu aku gak elegant, gitu? Kamu amnesia atau pikun? Aku ini designer gaun pengantin yang cukup ternama di kota ini. Kurang elegant apa aku, hah?” protes Amanda dengan emosional.


“Bukan begitu, Nda. Ini soal sikap dan bahasa tubuh, gitu loh.”


“Aku tau banget sosok Ferdian itu kayak apa, aku kenal dia juga cukup lama, kan. Dia tipe cowok stabil dan gak bisa di paksa. Untuk menarik hati Ferdian sebenernya susah susah gampang loh, Nda. Kalo dia merasa nyaman dan sudah sangat percaya dengan perempuan dia pasti mati-matian akan pertahankan. Kamu pasti sudah tau dong gimana dulu dia cinta banget sama kamu.”


Amanda mengangguk mengerti. Sekilas bayangan masa lalu mereka yang indah tergambar di benaknya. Begitu cintanya Ferdian pada dirinya kala itu.


Bagaimana cara Ferdian memanjakan dirinya dengan membelikan semua barang-barang mewah dan branded untuknya.


Bagaimana dulu Ferdian tanpa malu melamarnya di sebuah restoran mewah diiringi dua orang pemain biola.


Bagaimana dulu bahagianya mereka ketika sama-sama fitting baju pengantin di butik mamanya.


Tapi semua kebahagian mereka seketika musnah saat Ferdian memergoki dirinya


tengah bergumul panas dengan Ivan di atas ranjang di sebuah kamar hotel tepat sehari sebelum pernikahan mereka.


Amanda mengingat betapa geramnya Ferdian ketika itu. Pria yang dicintainya itu mengamuk dan menghajar Ivan yang masih dalam keadaan polos tanpa busana sehelai pun sampai babak belur.


Andai saja saat itu tak ada Reynard yang menahan, mungkin saja Ivan bisa mati di tangan Ferdian. Dan sejak saat itu Ferdian tak pernah lagi sudi bertemu dirinya hingga saat ini.


Saat ini, dia menyaksikan Ferdian sudah bersama wanita lain yang tampaknya jauh lebih muda dan lebih segar darinya. Hingga bathinnya bertanya, apakah dia masih sanggup merebut Ferdian kembali.


“Aku harus merebutnya kembali, Vel. Liat saja nanti. Ferdian pasti akan kembali padaku,” sumpah Amanda dengan hatinya yang masih terbakar api cemburu.

__ADS_1


Please Like, vote, rate5, kritik Dan saran Di kolom komentar yah say... Happy Reading


__ADS_2