
Malam hari yang sangat sejuk. Semilir angin dingin berhembus lembut menerpa wajah Lusi yang tengah duduk berselonjor di dalam bilik gazebo yang menghadap kolam renang.
Ditambah lagi dengan temaram lampu taman semakin membuat rasa kantuk melandanya.
Direbahkannya tubuhnya santai dengan bantuan bantal persegi panjang yang menopang kepala.
“Ehm,“ Suara seorang wanita mengagetkannya. Lusi bangkit dari rebahannya dan menoleh ke asal suara. Amanda tengah berdiri di hadapannya, melipat tangan di depan dada.
Lusi berdiri dan hendak berlalu pergi. Ia malas menghadapi Amanda yang menatapnya dengan pandangan arogan.
“Eh, mau kemana? Aku mau bicara sama kamu,” cegah Amanda berdiri menghalangi langkah Lusi.
“Maaf, aku lagi gak selera bicara sama siapapun. Permisi.“
“Eeh, kamu ... apa sebenernya tujuan kamu nikah sama Ferdian?” tembak Amanda langsung mendorong bahu Lusi kasar.
Lusi menatap Amanda tajam. Ia masih berusaha mengontrol emosinya. Bibirnya terkatup gemas.
“Karena uang, kan?” Lagi Amanda menyudutkannya dengan tersenyum sinis.
“Aku bisa kasih kamu uang yang banyak, asalkan kamu tinggalkan Ferdian,” ucap Amanda lagi berbisik pelan di telinga Lusi.
“Berani kasih aku berapa?“ tantang Lusi juga berbisik ke telinga Amanda.
Amanda menatap wajah Lusi dengan sorot mata menyalang.
“Aku akan kasih uang untuk biaya hidup kamu dan uang kuliah kamu sampai lulus, gimana?”
Lusi tersenyum menatap Amanda. Lalu tertawa renyah, membuat Amanda berpikir gadis itu tengah meledeknya.
“Kenapa ketawa? Kurang?" tanya Amanda geram.
“Kurang banyak. Mas Ferdian punya segalanya yang aku butuhkan, apapun yang aku minta pasti dia kasih. Jadi aku gak perlu uang siapapun. Memiliki Mas Ferdian ibarat mendapatkan harta karun yang terpendam di dasar lautan. Kamu juga tau itu, kan,” sindir Lusi tajam seraya tersenyum sinis.
"Kamu...." Amanda menatap Lusi geram seolah ingin menerkam gadis itu.
"Aku istrinya Mas Ferdian, terus kenapa? Masalah?" tangkis Lusi menantang, lalu mendorong bahu Amanda yang menghalangi jalannya dan bergegas berlalu pergi meninggalkan Amanda yang terpaku menatap geram punggung Lusi.
Apa yang dikatakan Lusi benar-benar menohok hati Amanda. Walaupun hatinya kesal dan perih mendengarnya tapi seketika senyum Amanda mengembang lebar.
Di keluarkannya ponsel dari kantong jaketnya, disentuhnya tombol recorder dan terdengarlah semua perkataan Lusi tadi.
“Got you, anak nakal. Kau pikir kau bisa ngalahin aku? Jangan mimpi bisa jadi nyonya besar di rumah ini. Liat saja nanti siapa yang pantas jadi Mrs Ferdian. Kau atau aku.” Amanda bergumam sendiri sambil terus mengulang-ulang mendengarkan rekaman suara Lusi.
Lusi membuka pintu kamar. Didapatnya Ferdian tengah berkutat dengan laptopnya. Wajahnya sangat serius
memperhatikan detil-detil angka dilayarnya. Sekilas ia menoleh pada Lusi yang menghempaskan diri di atas sofa. Wajah gadis itu tampak merengut kesal.
“Ada apa? Kok manyun?” tanya Ferdian.
“Kesel!” jawab Lusi singkat.
Ferdian membalikkan badannya menghadapi Lusi.
“Kesel kenapa?”
“Itu Mas, mantan pacar kamu itu hampir tiap hari datang ke rumah ini. Aku risih, Mas. Apalagi dia sering nyindir-nyindir aku,“ adu Lusi kesal. Suaranya meninggi.
Namun Ferdian malah tersenyum lebar menatap Lusi yang merajuk seperti anak kecil yang sedang jengkel.
“Iiihh, malah senyum-senyum. Kesenengan ya biar bisa deket lagi, gitu?” samber Lusi kesal.
__ADS_1
Ferdian bangkit dari duduknya dan menghampiri Lusi. Lalu menempatkan diri di samping gadis itu.
“Cemburu ya?” Ferdian malah menggoda Lusi.
“Enggak, cuma risih aja liatnya,” bantah Lusi masih menekuk bibirnya, sebal.
“Cemburu juga gak papa, aku malah seneng. Cemburu, kan tandanya cinta.” Ferdian makin suka melihat ekspresi Lusi yang menggemaskan itu.
“Enggak, aku gak cemburu. Biar aja kalo Mas mau balikan lagi sama dia. Aku gak perduli,” ucap Lusi semakin sewot yang menjadi. Ferdian pun tertawa renyah mendengarnya.
“Bener nih gak peduli? Ntar kalo aku diambil orang baru nyesel, loh,” goda Ferdian mencubit gemas pinggang Lusi.
“Iiihhh GR! Udah ah, mau tidur.” Lusi bangkit dari duduknya. Ferdian spontan menahan tangannya.
“Nanti dulu. Aku punya sesuatu untuk kamu,“ cegah Ferdian lekas, lalu menuju lemari baju dan mengambil sebuah tas besar berwarna hitam dari dalamnya. Kemudian menempatkan dirinya kembali di samping Lusi.
Ferdian menyerahkan tas itu ke pangkuan Lusi.
“Apa ini, Mas?“ tanya Lusi bingung memperhatikan tas itu.
“Buka aja.”
Lusi membuka tas itu perlahan. Tampak olehnya tumpukan map didalamnya. Diambilnya salah satu map berwarna hijau. Buku Sertifikat tertera disampulnya dengan nama Hamzah Suhendra, almarhum ayahnya.
“Ini punya ayah, Mas," seru Lusi. Matanya terbelalak lebar menatap Ferdian yang tersenyum padanya.
“Didalam tas itu berisi semua sertifikat dan bukti kepemilikan aset-aset almarhum ayah kamu dan sudah di cek oleh notaris soal keasliannya. Semuanya Clean and Clear masih sepenuhnya hak milik almarhum ayah kamu," tutur Ferdian lugas.
“Hah, serius, Mas?” serunya rasa tak percaya. Lusi membongkar isi tas hitam itu dengan cepat.
Satu persatu dokumen berharga itu dibacanya dengan seksama. Jari jemarinya bergetar tiap kali membaca nama almarhum ayahnya tertera di setiap dokumen.
Lusi menatap Ferdian dengan wajah semringah. Bersamaan dengan itu setitik air mata jatuh disudut matanya.
Ia sama sekali tak menyangka Ferdian benar-benar menepati janji untuk mengembalikan semua aset-aset almarhum ayahnya kepada dirinya. Karena sebelumnya ia pun ragu, mengingat Ibu tirinya menguasai semua harta almarhum ayahnya dari sejak awal menikah.
Ferdian pun balas menatap Lusi dengan tersenyum lembut. Saking senangnya, Lusi tiba-tiba menghambur ke tubuh Ferdian dan memeluknya dengan sangat erat. Dadanya bergetar hebat menahan isak tangis.
Ferdian merasakan hangat di bahunya karena linangan air mata Lusi. Ia mengelus rambut Lusi dengan penuh kasih sayang. Membiarkan gadis itu menumpahkan semua rasa senang dan sedihnya dengan air mata.
“Terima kasih, Mas. Terima kasih banyak," ucap Lusi lirih ditelinga Ferdian.
“Iya, sama-sama." Suara Ferdian lembut
“Mas baik banget sama aku....” Kembali Lusi terisak dan kian kencang suara tangisnya terdengar.
“Iya. Cup...cup...cup... Udah jangan nangis lagi.”
Pelukan Lusi yang semakin erat di lehernya membuat Ferdian sedikit sesak untuk bernapas.
“Lusi, silahkan nangis sepuasnya di dada aku, tapi pelukannya tolong dilonggarin dikit ya," pinta Ferdian dengan suara tercekat.
Lusi tersentak mendengarnya. Spontan ia melepaskan rengkuhannya dari leher Ferdian dan menatap wajah Ferdian yang tampak tersenyum dan bernapas lega.
“Ooh, maaf, Mas. Maaf ya.” Lusi mengelus-ngelus dada Ferdian.
“Iiihhh, geli! Jangan di elus-elus juga kali. Ntar aku nafsu bisa bahaya ini.” Ferdian meraih jemari Lusi cepat untuk menghentikan perlakuan Lusi.
Ia pun tertawa melihat ekspresi wajah Lusi yang kebingungan menatap dirinya.
“Gimana? Kamu senang?” tanya Ferdian lembut sembari memainkan ujung jemari Lusi.
__ADS_1
“Iya, Mas, seneng banget. Ini semua peninggalan almarhum ayah sama almarhumah ibuku," jawab Lusi sambil mengusap air matanya yang masih bersisa.
“Dijaga baik-baik ya. Besok aku akan temui pengacaraku dan notaris untuk mengurus ini. Oke?” ucap Ferdian seraya mengusap kepala Lusi dengan lembut.
Lusi tersenyum sangat manis menatap wajah Ferdian yang teduh di hadapannya. Gadis itu teringat kembali semua kebaikan yang ia terima dari pria itu selama ini. Seandainya tak bertemu Ferdian di malam naas itu, entah apalah nasibnya saat ini.
“Mas banyak menolong aku. Aku gak tau lagi gimana membalas hutang budi aku sama Mas," ucap Lusi lirih. Air hangat kembali tergenang di sudut matanya yang berkaca-kaca.
Ferdian meremas jemari Lusi lembut. Pikirannya berkecamuk tak menentu mendengar perkataan Lusi barusan.
Aku cuma ingin kamu mencintai aku dengan tulus, Lusi. Bukan karena hutang budi. Pinta Ferdian hanya didalam hati. Ia tak punya keberanian untuk mengungkapkan itu pada Lusi.
"Jangan dipikirin soal itu. Yang penting liat kamu bahagia, aku sudah senang," jawab Ferdian kemudian membuat Lusi kembali tersenyum sangat manis padanya.
Lusi mengecup pipi Ferdian sekilas, lalu kembali memeluknya. Merebahkan kepalanya ke bahu tegap Ferdian dan merasakan kenyamanan disana.
Sesaat kemudian Lusi melepaskan pelukannya. Dia tatap wajah Ferdian yang sangat dekat dengan wajahnya. Bibirnya mendekati bibir Ferdian dan memberanikan diri mengecup dan melum4tnya dengan lembut.
Ferdian pun membalasnya. Ia merasakan ciuman Lusi sangat berbeda, tidak seperti yang pernah ia rasakan sebelumnya. Kali ini sedikit lebih bernafsu dan tentu saja membuatnya semakin bergairah melayaninya.
Perlahan tangan Lusi membuka kancing piyama tidurnya satu persatu tanpa berhenti *****4* bibir Ferdian dengan lembut.
Dilemparnya atasan piyama itu ke lantai dan menyisakan bra hitam yang melingkar di dada. Gadis itu semakin merapatkan diri ke tubuh Ferdian.
Ferdian menyadari tubuh bagian atas Lusi yang sudah terbuka dan itu jelas sangat menantang nafsunya.
Namun perlahan-lahan dia menyudahi ciumannya di bibir Lusi, mengecup kedua pipi dan kening Lusi dengan sayang. Lalu memungut kembali baju piyama Lusi yang tergeletak di lantai dekat kakinya. Kemudian meletakkannya ke pangkuan Lusi.
Gadis itu bingung melihat perubahan sikap Ferdian yang tiba-tiba menolak dirinya.
“Kenapa, Mas?" tanya Lusi penasaran.
Ferdian menatap wajah Lusi yang kebingungan lalu tersenyum sekilas. Ia menggeleng pelan lalu menghela napasnya panjang berusaha menurunkan gairahnya yang tadi sempat memuncak ke kepala.
“Mas gak mau?” tanya Lusi lagi dengan nada polosnya.
“Gak usah ditanya. Mau banget, tau," jawab Ferdian sambil tersenyum lebar pada Lusi.
“Terus, kok berhenti?”
“Kalo aku lanjutkan nanti kamu gak kuat. Kasian kamu nanti,” seloroh Ferdian menggoda Lusi. Ia melirik sekilas bagian dada Lusi yang masih terbuka menantang hasratnya.
“Sudah, pake bajunya. Tidur sana, aku mau lanjutin kerjaanku,” perintah Ferdian, kemudian berdiri menuju meja kerja dan kembali berkutat serius dengan laptopnya.
Lusi memandangi Ferdian dengan penuh tanda tanya. Ia sama sekali tak menduga Ferdian akan menolaknya seperti ini di saat ia sudah siap menyerahkan mahkotanya pada pria itu sebagai tanda terima kasih.
Padahal itulah yang selama ini selalu dipinta oleh Ferdian. Ada sedikit rasa kecewa dan curiga bahwa Ferdian sudah tak menginginkan dia lagi.
Ferdian pura-pura berkonsentrasi menghadapi layar laptopnya. Jantungnya masih berdebar kencang, gairah kejantanannya pun belum sepenuhnya turun. Bibirnya masih terasa berdenyut karena ciuman tadi.
Ia tahu di sofa sana Lusi masih memandangnya dengan penuh tanda tanya dan prasangka pada dirinya.
'Aku bukan menolak kamu, Lusi. Aku ingin kita melakukannya karena rasa cinta. Aku tau kamu ingin menyerahkan tubuh kamu padaku cuma sebagai ungkapan terima kasih saja karena aku sudah membantu kamu. Maaf Lusi, aku bukan orang yang tega mengambil kesempatan dari penderitaan orang lain.' ucap Ferdian di dalam hati.
cast Ferdian Adiwijaya (Ferdian)
Cast Ilusiana (Lusi)
__ADS_1