ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 95


__ADS_3

Ferdian menggenggam mesra jemari Lusi menyusuri koridor hotel menuju kamar yang sudah di persiapkan untuk keduanya. Sesekali bola matanya melirik gadis itu seraya menyungging senyum termanisnya.


Begitu juga dengan Cantika, Dio dan Reynard melangkah ringan menuju kamar mereka masing-masing yang memang sengaja di tempatkan berseberangan dengan kamar Ferdian dan Lusi. Dengan maksud supaya mereka bertiga tidak bisa usil menganggu kegiatan Ferdian dan Lusi di kamar nanti.


“Mas. Aku, kan gak bawa pakaian ganti, aku belanja dulu ya,“ ucap Lusi sebelum Ferdian membuka pintu kamar mereka.


“Oke, Sayang," sahut Ferdian seraya mencubit lembut pipi Lusi sekilas.


“Cantika....” panggil Ferdian pada Cantika yang setengah badannya sudah masuk ke dalam kamarnya.


“Ya kak?” Cantika mundur keluar kembali.


“Abis beres-beres kamu antar Lusi belanja baju-bajunya dan semua keperluan yang Lusi butuhkan.”


“Ooh, baik, Kak. Bereslah itu!" seru Cantika mengangkat jempolnya. Lalu masuk lagi ke dalam kamarnya.


Ferdian dan Lusi pun masuk ke kamar mereka yang bertype penthouse suite room dengan balkon yang langsung menghadap ke pantai.


Belum habis kejutan untuk Lusi. Tampak di hadapannya ranjang putih berukuran besar dengan taburan kelopak bunga mawar merah berbentuk tulisan I love you, Lusi menyambut kedatangannya.


Lusi menoleh pada Ferdian yang berdiri merapatkan dada dipunggungnya, lalu senyumnya mengembang lebar.


“Suka?” tanya Ferdian lembut seraya mengecup mesra puncak kepala Lusi.


Lusi mengangguk senang. Senyumnya terus mengembang memandangi ruangan kamar yang sangat elegant itu. Terlebih ketika membuka pintu balkon, angin pantai langsung menyeruak menerpa kulit wajahnya.


Ferdian terus membuntutinya seakan tak rela jauh-jauh dari gadis itu.


Lalu Lusi membalikkan badan menghadap Ferdian yang dekat di belakangnya


“Mas, aku butuh penjelasan kenapa kamu tiba-tiba gak jadi nikah dengan.... ”


Kalimat Itu terpaksa terhenti ketika bibir Ferdian seketika menyergap bibir Lusi. Lalu melum4tnya lembut.


Lusi yang masih terbelalak kaget hanya menerima kejutan Ferdian itu dengan pasrah.


“Pasti akan aku jelaskan semua, Sayang. Tapi gak sekarang. Ini bulan madu kita. Aku gak mau suasana hatiku rusak karena mendengar nama perempuan itu,” ucap Ferdian lembut setelah menyudahi penyatuannya.


Kedua hidung tegak Itu saling bertemu, saling menggesek pelan dengan mata sama-sama terpejam.


Lusi membuka mata, lalu mendongakkan wajahnya menatap Ferdian yang juga membuka mata. Dan membiarkan pandangan mereka saling berbenturan.


“Kenapa liat-liat? Minta itu ya?” goda Ferdian sambil mengullum senyum.


“Iiihh, apaan sih, Mas?” Lusi tersipu seraya mencubit gemas pinggang Ferdian.


Ferdian meringis sambil tersenyum, lalu meraih pipi Lusi dan menangkupnya. Rona pink di kedua pipi Lusi yang sudah lama tak ia temukan kini terlihat kembali.


Sekali lagi, bibirnya menyambar bibir mungil Itu. Dan mellumatnya kembali. Kali ini lebih lama dan bergairah.


Lusi pun berusaha mengimbangi perlakuan Ferdian yang begitu lembut pada bibirnya.


Tangan Ferdian mulai beralih, merayap ke bagian dada gadisnya. Lalu meremasnya lembut dan perlahan. Membuat Lusi merasakan sensasi asing yang menenggelamkan dirinya dalam kenyamanan.


Ting...Tong...


Bell di pintu memanggil. Seketika Lusi menarik bibirnya, namun Ferdian tampak tak rela. Diraihnya kembali bibir Lusi dan dilumattnya lembut.


Ting...Tong...


Bell di pintu kembali memanggil dengan tak sabar.


Kali ini Ferdian terpaksa menyudahi perlakuan manisnya seraya berdecak sebal karena gairahnya yang mulai memuncak terpaksa harus tertunda.


Lalu ia menuju pintu dan membukanya dengan kesal. Dengan berkacak pinggang ia membiarkan Reynard masuk melewatinya seraya menepuk bahunya.


“Sorry ganggu. Mau ambil kamera. Tadi aku titip di tasmu." Reynard meliriknya sekilas lalu menuju lemari yang terletak di samping kamar Mandi.


Tanpa mengacuhkan tatapan geram Ferdian, Reynard mengeluarkan tas dari dalam lemari dan sibuk mencari kameranya.

__ADS_1


“Nah, ketemu!" serunya senang.


“Oke, Bro. Silakan lanjutkan. Jangan kasih kendor, oke,” goda Reynard seraya mengerlingkan sebelah mata pada Ferdian. Lalu dengan entengnya ia berlalu pergi.


Sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu, Ferdian lekas menutup pintu. Lalu menghampiri Lusi yang berdiri terdiam sambil memegang bibirnya.


Kembali ia menarik pinggang Lusi hingga merapat pada tubuhnya. Hendak melanjutkan kembali penyatuannya yang terjeda lantaran gangguan Reynard.


Ia menunduk perlahan, menggapai bibir merekah Itu, lalu mengecupnya lembut dan lama. Namun ia tak puas, kemudian kembali mellumatnya lebih dalam.


Ting...Toong...Tiiing...Tooong...


Lagi -lagi, bell di pintu berbunyi.


Lusi menarik bibirnya lekas. Ferdian pun mendengkus kesal. Walaupun suara bell itu sangat menggangu, tapi Ferdian terpaksa harus membukakan pintu itu.


“Lusi? Lusi? Ayo kita shopping.”


Tanpa menoleh sedikit pun pada Ferdian yang membukakan pintu untuknya, Cantika langsung melaju masuk menuju tempat Lusi berdiri.


“Ayo, kita beli baju-baju kamu, Lusi. Supir hotel udah nunggu di lobi,” ajak Cantika tak sabar seraya menggandeng tangan Lusi.


Lusi hanya mengangguk gugup lalu menoleh pada Ferdian yang masih berdiri di depan pintu.


Cantika menyorongkan telapak tangannya ke hadapan Ferdian. Mengerti maksudnya, lalu ia mengeluarkan dompet dan memberikan Platinum Card-nya pada Cantika.


“Lusi....” panggil Ferdian sembari menyambar tangan Lusi.


“Beli bajunya yang seksi-seksi, ya," bisik Ferdian di telinga Lusi.


Lusi pun tersenyum lebar menanggapi.


“I’m listening!" seru Cantika meledek Ferdian dan Lusi. Kemudian bergegas menarik tangan Lusi keluar dari kamar.


****


Malam hari, di atas balkon kamar dengan view yang langsung mengarah ke pantai. Ferdian mendekap tubuh Lusi dari belakang. Menghangatkannya didalam pelukan. Kecupannya mendarat di bahu Lusi berulang-ulang.


“Aku mau punya anak yang banyak,” lanjutnya lagi setelah mengecup puncak kepala Lusi.


“Berapa?”


“Lima.”


Lusi tertawa renyah. ”Ya ampun! Banyaknya!”


“Supaya kita gak kesepian, Sayang.”


“Akunya sanggup gak, yah?" Lusi melirik Ferdian dengan ekor mata. "Tiga aja ya, Mas.”


Ferdian tersenyum manis, lalu kembali mengecup puncak kepala Lusi.


“Kalo kita ngobrol terus, kapan bikin dedeknya?” bisik Ferdian lagi tepat di telinga Lusi.


Tanpa menunggu Lusi menjawab, ia menarik lengan Lusi untuk masuk ke dalam, lalu menutup pintu balkon kamar.


Ferdian meraih pinggang ramping Itu merapat ke tubuhnya. Menatap wajah jelita Itu begitu lekat. Wajah gadisnya yang kini tampak semakin cantik dan menggemaskan.


Kegugupan jelas terpancar di bola mata gadis itu. Ferdian pun menyadarinya.


Ia tahu, istrinya itu gugup karena malam ini adalah malam penyerahan mahkota sang dara untuk yang pertama kali, setelah sekian lama mereka mengikrarkan diri dengan janji pernikahan.


Dengan gerakan perlahan, Ferdian menarik tali dress babydoll yang tersangkut di kiri kanan bahu mulus itu.


Seketika, tanpa halangan dress babydoll berbahan satin itu pun meluncur bebas ke lantai, menampilkan pemandangan yang sangat menggairahkan untuk Ferdian.


Gelora di dalam dada semakin menggila ketika tubuh mulus Lusi yang hanya tertutupi dengan cd hipster berwarna merah terpampang di depan mata.


Ferdian pun melepaskan t-shirtnya dan membuangnya ke lantai begitu saja. Membiarkan Lusi memandangi perut rata dan dada bidangnya yang sempurna

__ADS_1


Dengan lembut, telapak tangan Ferdian menelusuri punggung halus gadisnya, merasakan getaran di tubuh hangat itu.


Meskipun Lusi tak mampu menyembunyikan rasa gugupnya, namun tampaknya Lusi sudah siap melakukannya malam ini.


Pria yang mulai menggelora Itu menangkup wajah Lusi lalu melummat bibirnya lembut dan dalam. Tak lupa tangannya menjamah dada Lusi yang menantang sempurna.


Lalu meraih kedua lengan Lusi dan dilingkarkan di lehernya, membuat Lusi merasa lebih nyaman mengimbangi penyatuannya.


Tak sabar lagi, Ferdian membopong tubuh gadisnya itu, lalu dibaringkan ke atas ranjang. Kemudian dengan cepat Ia menurunkan celana jeansnya dan membiarkannya teronggok di lantai berkarpet tebal Itu.


Ia lakukan semua itu tanpa membuang pandangan dari tubuh Lusi yang terbaring pasrah.


Jantungnya kian berdegup kencang manakala ia mengungkung tubuh Lusi dengan kedua tangan seraya mendaratkan ribuan kecupan di sekujur tubuh gadisnya Itu.


Satu tangannya menurun, meraba, menjelajah dan terus bergerilya ke setiap kelokan tubuh Lusi. Lalu berhenti tepat di pinggang gadis itu.


Perlahan dan sangat lembut ia menurunkan kain tipis berwarna merah itu hingga terlepas.


Begitupun dengan boxer yang menutupi 'milik'nya. Ia turunkan cepat dan melemparnya entah kemana.


Ferdian menjelajah bagian bawah gadisnya, lalu merenggangkan kedua kaki jenjang Itu agar lebih terbuka. Sehingga tersedia jalan masuk untuknya.


Masih bersama kecupann dan lumattannya di bibir Lusi, ia merapatkan diri pada tubuh polos itu.


Lalu seiring dengan sesuatu yang kian menegang di bawah sana, ia pacu geloranya. Membiarkan hasrat itu menggeliat liar. Memburu kenikmatan nafsu duniawi yang hakiki.


Namun jangan harap bisa semudah itu ia mendapatkannya. Karena ada selapis tirai yang menghalanginya masuk. Terasa begitu sulit untuk ditembus.


Tak kenal kata menyerah untuk sesuatu yang sekian lama ditunggu, ia semakin memacu gairah. Walaupun ia tahu di bawah tubuhnya Lusi tengah mengerang lirih menahan perih.


Untuk membantu mengalihkan rasa sakit itu, ia mengigit pelan bibir Lusi yang terasa hangat dan bergetar.


Sebenarnya, ia tak tega melihat gadis itu menahan rasa sakit yang luar biasa, namun ia tak mampu mengendalikan gairahnya yang semakin tak terbendung lagi.


“Mas, stop, Mas. Sakit...." Lusi mengerang. Tubuhnya semakin gemetaran. Ia tak tahan merasakan perih yang luar biasa saat Ferdian berhasil membobol benteng kegadisannya.


Namun Ferdian seakan menulikan telinga. Ia serasa enggan untuk berhenti. Justru gerakannya semakin menjadi-jadi.


“Maaf, Sayang. Maaf...."


"Aaarrgghh....”


Ferdian melenguh panjang ketika badai kenikmatan itu menerjang. Lalu menyemburkan air kehidupan.


Ia kini Ibarat gelombang besar yang menghantam batu karang. Lalu kembali tenang ketika gelombang itu perlahan menghampiri bibir pantai.


Lusi, sang mantan gadis itu, kini meneteskan air mata merasakan perih yang tak terhingga di bagian bawah. Sekujur tubuhnya masih bergetar hebat, walaupun sesuatu yang tadi menghantam sudah terlepas dari cengkraman.


Ferdian, si pejuang mahkota daranya, kini menghela napas lega. Lalu mengecup kening Lusi yang basah karena keringat. Kemudian ditatapnya wajah Lusi yang masih pucat, dan kembali dikecupnya pipi yang masih menghangat itu.


“Masih sakit?” tanya Ferdian lembut seraya menyeka air mata Lusi yang masih mengalir di pipi.


Lusi hanya mengangguk sambil menggigit bibirnya yang masih bergetar.


“Maaf, ya. Aku nggak ada maksud untuk nyakitin."


Kembali Lusi mengangguk, ia mengerti. Lalu membenamkan kepalanya di dada Ferdian dan mencari kenyamanan di sana.


Ferdian mendekap tubuh istrinya yang masih terbuka itu dengan penuh rasa sayang. Berkali-kali dia mengecup puncak kepala Lusi sambil membelai-belai punggungnya. Dan membiarkan Lusi terlelap di dalam pelukannya.


Ada setitik rasa bersalah karena membuat istrinya merasakan kesakitan yang dahsyat. Namun rasa bersalah itu tergantikan dengan senyum kemenangan saat pandangannya menangkap noda merah yang sangat kontras di atas sprei putih.


Noda merah itu justru membuatnya bangga. Karena Itu adalah bukti perjuangannya merenggut mahkota dara milik istrinya.


**MOHON MAAF TAK ADA VISUAL UNTUK EPISODE INI. BCOZ IT'S DANGER CHAPTER **


**PLEASE LIKE, VOTE, 5RATE, FAVORITE, KRITIK & SARAN **


HAPPY READING ...

__ADS_1


__ADS_2