
Sayang, maaf hari ini aku ga bisa jemput, nanti ada supir kantor namanya Soni jemput kamu pulang.
Demikian isi pesan singkat dari Ferdian di later ponsel yang ia terima. Lusi, gadis itu hanya mengangkat bahu. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru halaman kampus menunggu jemputannya datang.
“Mbak Lusi, ya?” sapa seorang laki-laki paruh baya dengan mengenakan safari hitam. Lusi menoleh dan memperhatikannya dengan seksama.
“Saya Pak Soni. Saya diperintah pak Ferdian untuk jemput Mbak Lusi pulang,” ucap laki-laki bernama Pak Sony itu.
“Ooo, oke,“ sahut Lusi. Lalu mengikuti Pak Soni menuju mobil dan masuk ke dalamnya.
Tak lama kendaraan SUV silver itu pun meluncur ke jalan raya yang mulai padat. Lusi duduk di kursi belakang supir sambil membaca novel di aplikasi novel online favoritnya.
Tiga puluh menit berselang, mobil yang mmembawanya sudah tiba di halaman rumah Ferdian. Ia pun turun.
Dengan santainya gadis itu masuk ke dalam rumah. Namun langkahnya terhenti sejenak saat melihat Ferdian bersama dua orang perempuan duduk di ruangan keluarga. Lalu dengan rasa penasaran ia mendekati.
“Assalammualaikum.” Lusi mengucapkan salam dengan suara tertahan.
Ferdian, Cantika dan Amanda serentak menoleh ke arah Lusi yang berdiri mematung sambil mendekap beberapa buku tebal di dadanya.
Cantika menatap Lusi dengan pandangan penuh tanda tanya di kepala. Siapa gadis cantik yang berkuncir kuda ini?
“Waalaikumsalam,” sahut Ferdian lembut. Lalu berdiri menghampiri Lusi.
Pria itu lantas menggenggam tangan Lusi di hadapan Cantika dan Amanda yang masih menatap dengan sorot mata sinis.
“Cantika, kenalkan ini Lusi, istri aku. Kakak ipar kamu.”
Spontan Cantika terbelalak dan menganga lebar mendengar perkataan Ferdian.
'Gadis lugu ini istri kakakku? Yang benar aja, Kak?' ejek Cantika dalam hati tertawa.
“Lusi, ini Cantika, adikku yang kuliah di Australia.”
Gantian Lusi yang terbelalak dan menganga. Tapi dengan bola mata yang berbinar-binar senang.
Cantika menghampiri Lusi dan mengulurkan tangan dihadapannya.
“Apa kabar kakak ipar?” Nada suara Cantika terdengar kurang bersahabat.
Tapi Lusi tak paham. Yang ia rasakan sekarang ia senang akhirnya bisa jumpa dengan adik iparnya itu. Karena selama ini yang ia dengar hanya lewat cerita dari Ferdian saja.
“Oh, kabar baik. Panggil aja aku Lusi,” jawab Lusi membalas uluran tangan Cantika.
“Ehmm, yang itu Amanda, mantan tunangan kakakku. Mungkin kalian sudah saling kenal.” Cantika menunjuk Amanda yang berdiri di belakangnya sambil melipat kedua tangan di depan dada.
Amanda memandang Lusi dengan sangat angkuh.
“Ooh, iya mantan calon istri yang tak jadi. Ya, kami sudah kenal kok,” sahut Lusi tersenyum lebar seraya melambai pada Amanda yang melotot geram padanya, seperti harimau yang hendak menerkam mangsanya.
Ferdian yang berdiri di samping Lusi sangat tidak nyaman mendengar nada suara Cantika. Ia tak paham atas sikap adiknya yang tiba-tiba sinis begitu. Seperti bukan Cantika yang ia kenal. Biasanya gadis itu sangat ramah dan sopan terhadap siapa saja.
“Cantika, kamu pasti cape, kan? Pak Dirman dan mbak Ira sudah siapkan kamar untuk kamu. Ayo istirahat dulu, nanti kita makan malam sama-sama.” Ferdian menikung pembicaraan mereka.
Cantika gantian menatap Ferdian dengan pandangan sinis.
“Aku maunya di kamar aku yang lama!" sahut Cantika melirik Lusi.
Ferdian tampak kebingungan dengan permintaan Cantika. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal, berusaha menetralkan suasana yang tak lagi nyaman untuk semua yang ada di ruangan itu.
Termasuk Lusi yang sudah mulai merasakan aura tak suka yang Cantika tunjukkan padanya.
“Hmm, Baiklah. Tunggu sebentar,” ucap Ferdian lemah. Lalu bergegas menarik tangan Lusi ke ruang kerjanya.
__ADS_1
Ferdian menutup pintu ruangan Itu supaya adiknya dan Amanda tak mendengar pembicaraan mereka. Ferdian menyentuh bibirnya sambil berjalan bolak-balik di hadapan Lusi.
“Lusi, gimana ini? Cantika maunya di kamar yang lama, di kamar yang kamu tempati.” Ferdian tak mampu lagi menyembunyikan kebingungannya.
“Gak pa-pa, Mas. Aku bisa tidur di kamar tamu, kok.” Lusi menjawab santai untuk menenangkan Ferdian.
“Bukan gitu maksud aku. Justru kalau kita tidur terpisah dia bisa curiga, Lusi. Pasti nanti dia mikir macam-macam. Suami istri tapi tidurnya beda kamar.”
“Terus? Aku tidur di kamar Mas juga gitu?” Nada suara Lusi meninggi membuat Ferdian buru-buru membekap mulutnya takut terdengar keluar.
Ferdian mengangguk menatap Lusi.
“Untuk sementara, Lusi. Begitu Cantika balik lagi ke Australia kamu bisa kembali tidur di kamarnya lagi.”
Lusi terdiam berpikir. Ada keraguan dalam dirinya jika harus tidur satu kamar dengan Ferdian. Walaupun pria itu adalah suaminya tapi ia takut terjadi sesuatu antara dirinya dan Ferdian yang melanggar kesepakatan.
“Please, untuk sementara aja. Ingat Lusi, kita sudah setengah jalan menuju tujuan kita. Kamu gak mau, kan apa yang kita rencanakan jadi sia-sia semua cuma gara-gara ini?” ucap Ferdian memohon.
Lusi menghela napasnya berat. Kemudian mengangguk lemah. Saat ini yang bisa ia lakukan pasrah saja pada keputusan Ferdian yang menurutnya terbaik.
Ferdian tersenyum lega. Lalu menarik tangan Lusi kembali keluar dari ruang kerjanya, dan menghampiri Cantika lagi.
“Oke, Cantika. Nanti pak Dirman yang bawa barang kamu ke kamar kamu. Tapi kasih waktu sebentar untuk Lusi pindahin beberapa barangnya, oke?” kata Ferdian dengan lembut pada adik tersayangnya itu.
Cantika mengangguk setuju walaupun rautnya masih terlihat kesal dan sinis.
Tanpa pamit, Lusi langsung menuju lantai Dua, ke kamarnya untuk membereskan barang-barang miliknya untuk dipindahkan ke kamar Ferdian yang berada tepat di depan kamarnya.
Tak butuh waktu lama untuk mengerjakannya karena barang-barang yang dimiliki Lusi pun tidak banyak.
Gadis itu hendak kembali turun ke bawah tapi langkahnya terhenti karena melihat Ferdian dan Amanda sedang berdiri berhadapan dengan jarak sangat dekat. Tampak Amanda mendekati Ferdian dan menyentuh lengan Ferdian dengan lembut tapi ia tak melihat penolakan dari pria itu.
Mata Lusi terbelalak ketika melihat Amanda tiba-tiba mencuri kecupan di pipi Ferdian. Dan juga tak tampak penolakan dari pria itu walaupun sedikit tersentak kaget dan buru-buru mengusap pipi dengan kasar.
Ada perasaan cemburu melintas di hati Lusi melihat adegan itu. Apalagi Ferdian seperti membiarkan saja Amanda menyentuh dan menciumnya dengan mesra.
“Eheemm....” Lusi berdeham kencang. Ferdian dan Amanda kompak menoleh ke arahnya yang melangkah menghampiri mereka.
Ferdian mundur menjauh dari Amanda. Namun senyum Amanda mengembang pada pria itu. Dalam hati ia senang Ferdian tak menolak kecupan darinya, walaupun ia dapatkan dengan cara spontan. Membuat harapannya kian terbuka lebar untuk mendapatkan Ferdian kembali.
“Aku permisi dulu, Beb. Kalo perlu sesuatu hubungin aku, ya. Nomor aku masih sama.” ucap Amanda manja pada Ferdian.
“Thanx, sudah jemput Cantika,” balas Ferdian ringan.
Amanda hanya mengerlingkan sebelah mata bermaksud menggoda Ferdian dan mengabaikan Lusi yang berdiri di sisi Ferdian dengan tatapan kesal. Kemudian wanita itu berlalu dari hadapan mereka.
“Gimana? Sudah beres semua?” tanya Ferdian pada Lusi yang masih tajam menatap Amanda yang berjalan berlenggak-lenggok menuju pintu keluar.
“Eh, Sayang? Ditanya malah bengong?” colek Ferdian di pinggang Lusi.
Lusi mendelik sebal pada Ferdian. Ia hanya mengangguk malas, lalu berjalan cepat menapaki anak tangga menuju kamar Ferdian yang sementara ini menjadi kamarnya juga.
Ferdian pun bergegas mengikutinya.
Pria Itu menatap Lusi yang masih pasang wajah datar dan tanpa rasa.
Gadis itu tengah sibuk menata buku-bukunya di atas meja kerja yang menghadap langsung ke jendela balkon tanpa mempedulikan kehadiran Ferdian yang berdiri di sampingnya.
Pria itu menghela napas berat melihat sikap Lusi yang mengabaikannya, lalu berlalu menuju kamar mandi.
Penat dan peningnya masih sangat terasa. Hari ini hari yang benar-benar melelahkan bagi Ferdian. Ditambah sikap Lusi yang tiba-tiba jadi begitu sinis padanya.
Sendirian Lusi duduk di kursi memandangi suasana di luar dari jendela balkon yang terbuka. Ia mengingat bagaimana pertemuannya dengan Cantika, adik iparnya beberapa saat lalu.
__ADS_1
Kesan awal yang dirasa kurang nyaman karena sikap Cantika yang tampak tak bersahabat padanya. Terlebih lagi kedatangan Amanda, mantan tunangan suaminya yang sangat mengganggu suasana hatinya.
Lamunannya buyar saat terdengar pintu kamar mandi terbuka. Ia menoleh dan melihat Ferdian keluar dengan handuk putih yang melilit dari pinggang sampai lututnya.
Tampak dadanya yang bidang dengan sedikit bulu di tengahnya dan perut ratanya sangat menggoda. Rambutnya yang basah menjuntai di sisi kanan kiri pelipisnya. Wajahnya terlihat segar dan merona. Pantas saja banyak wanita tergila-gila padanya.
“Kok melamun? Mandi dulu sana.” Ferdian menghampiri Lusi.
Gadis itu masih diam walaupun menyadari Ferdian sudah mendekat padanya. Perpaduan wangi pepermint dengan woody yang tersebar dari tubuh Ferdian menggelitik indera penciumannya.
“Kamu kenapa sih? Dari tadi diam aja?” Ferdian kesal juga akhirnya. Nada suaranya sedikit meninggi.
Lusi mendengkus kesal melirik ke arah Ferdian yang berdiri berkacak pinggang sedang menatap dirinya.
'Hmm, bodynya bagus juga, gantengnya maksimal ternyata. Huushh Lusi! Tahan iman. Kamu sedang kesal. Ingat yang tadi...ingat yang tadi! Jangan goyah liat mahluk ganteng depanmu ini,' bisik hati kecil Lusi berusaha menghilangkan pikiran liar dari benaknya karena melihat sosok Ferdian dalam keadaan yang menggairahkan seperti saat ini.
“Senangnya yang abis dicium mantan," sindir Lusi dengan mimik wajah kesal. Ia berdiri menghadap Ferdian.
“Dicium mantan?" Ferdian pura-pura tak ingat. Ia tahu yang dimaksud Lusi adalah ciuman Amanda tadi sebelum pulang.
“Pura-pura lupa. Iisshh...” Lusi semakin kesal dibuatnya.
“Ooo, yang itu? Cemburu?“ goda Ferdian tersenyum menampilkan deretan giginya yang bersih dan rapi. Harum aroma pepermint pun menguar bersama embusan napasnya.
“Gak tuh. Biasa aja!“ kilah Lusi, lalu membalikkan badan memunggungi Ferdian. Gadis itu tak mau Ferdian melihat kilatan cemburu di sinar matanya.
“Kalau mau minta cium, bilang." Serta merta Ferdian membalikkan tubuh Lusi menghadapnya kembali, lalu dirapatkan tubuhnya pada tubuh gadis itu. Bibirnya mendekat dan langsung mencuri kecupan di bibir mungil Lusi.
“Heh, Maaas!” Lusi menjerit kesal. Ia membekap mulut Ferdian agar menjauh dari bibirnya.
“Kenapa? Masa suami sendiri minta cium gak boleh?” protes Ferdian menahan tangan Lusi.
“Suami pura-pura!" sahut Lusi ketus. Raut wajah Ferdian pun berubah seketika.
“Kata siapa pura-pura? Pernikahan kita sah kok," ujar Ferdian meninggikan suara.
“Nikahnya sah, tapi tetep aja status suami istri kita cuma pura-pura.” Lusi tak mau kalah.
Ferdian makin gemas dibuatnya. Kembali ia berkacak pinggang mendekati Lusi.
“Kalo mau jadi suami istri beneran aku siap aja. Siapa takut?” tantang Ferdian menatap Lusi.
“Ooohh, ingat Mas, kita terikat perjanjian loh. Begitu masalah kita selesai, kita bye -bye!"
“Berarti kamu yang takut.” Ferdian menyentil hidung Lusi gemas.
Lusi menarik napas kesal. Ia menatap wajah Ferdian yang dekat di wajahnya. Sesekali bola matanya tertuju pada bibir Ferdian yang terbuka sedikit dan sangat menantang.
“Kenapa liat-liat bibir aku? Minta cium bilang, Boss! Jangan malu-malu meong, deh!" goda Ferdian sambil mengulum senyuman.
Lusi pun makin membelalakan mata lebar-lebar menatap kesal padanya.
“Aku mau mandi. Mana handuknya?“ tanya Lusi sewot.
“Gak ada! Nih pake handuk aku aja.” Tiba-tiba Ferdian membuka lilitan handuknya tepat di hadapan Lusi.
“Aaaakkkk....!” Lusi menjerit menutup matanya dan spontan berlari ke kamar mandi.
Ferdian tertawa geli melihat kelakuan gadis itu.
“Dasar cewek ABG! Dikiranya aku telanjang kali. Itu sih maunya dia,” gumam Ferdian seraya melepaskan balutan handuknya, menyisakan celana boxer yang sudah dikenakannya sedari tadi Di kamar mandi.
Diambilnya selembar handuk putih dari dalam lemari, lalu ia letakkan di kapstok depan kamar mandi.
__ADS_1
(Ferdian baru selesai mandi)