ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 90


__ADS_3

Dengan tangan yang saling bergandengan dan bola mata yang saling menatap manja, Ferdian dan Lusi melangkah masuk ke dalam rumah. Diikuti dengan Reynard dan Cantika yang melangkah persis dibelakang mereka.


“Pengantin baru, stok lama,” seloroh Reynard pada Cantika seraya menunjuk Ferdian dan Lusi di depannya. Cantika menutup mulutnya menahan tawa mendengarnya.


“Non Lusiiiii....!” panggil Mbak Ira yang tiba-tiba muncul dari balik pintu dapur. Dan langsung menghambur memeluk tubuh Lusi tanpa sungkan pada Bossnya, Ferdian.


“Huuu...huuuu, mbak kangen sama Non Lusi.” Mbak Ira menangis di pelukan Lusi.


“Iya Mbak, aku juga kangen sama Mbak Ira.”


“Tiap pagi mbak siapin susu coklat hangat untuk Non Lusi saking kangennya sama Non. Akhirnya mbak sendiri yang minum, abis sayang takut mubazir.” tutur Mbak Ira di sela sedu sedannya.


Membuat semuanya tersenyum kecut seraya geleng geleng kepala mendengarnya.


“Jangan pergi lagi ya, Non.“ pinta Mbak Ira dengan wajah memohon.


“Iya Mbak. Aku gak pergi lagi kok.“


“Udah acara nangisnya. Mbak Ira tolong bikinin kopi untuk aku sama Rey nanti bawa ke ruang kerja, ya.” perintah Ferdian pada Mbak Ira.


“Siap Boss.” ucap Mbak Ira seraya menempelkan sisi telapak tangan pada pelipisnya.


“Ayo semuanya kita ke ruang kerja. Ada yang mau aku sampaikan sama Lusi.”


Reynard, Lusi dan Cantika mengikuti langkah Ferdian menuju ruang kerjanya dan menduduki sofa di tengah ruangan.


Tampak Ferdian mengeluarkan tumpukan map dan serangkaian anak kunci dari lemari brankasnya. Lalu bergabung duduk bersama ketiganya, menghenyakkan diri di samping Lusi.


“Lusi, ini semua dokumen kepemilikan rumah beserta beberapa property lainnya milik Almarhum ayah kamu. Dan sekarang sudah sah menjadi milik kamu sepenuhnya. Dan ini kunci rumah kamu.” Ferdian menyodorkan tumpukan map itu dan serangkaian anak kunci pada Lusi.


Gadis itu menerimanya dengan rasa tak percaya. Di pandanginya serangkaian anak kunci di genggamannya dengan bola mata berkaca-kaca.


"Terima kasih, Mas dan Bang Rey. Sudah banyak menolong aku," ucapnya lirih menoleh bergantian pada Ferdian dan Reynard.


“Ibu dan adik tiriku, bagaimana mereka tinggal nanti?” tanya Lusi membayangkan kehidupan Ibu Merry dan Priska setelah ini.


Ferdian dan Reynard saling menatap sebelum salah satunya menjawab.


“Lusi, ibu tiri kamu sudah meninggal dunia karena kecelakaan,” ungkap Ferdian pelan seraya meremas jemari Lusi dengan lembut.


Lusi terperanjat mendengarnya. “Hah? Ibu meninggal? Ya Tuhan. Kapan, Mas?”


“Tepatnya aku juga gak tau, sekitar sebulan lalu kira-kira.”


“Lalu, Priska bagaimana, Mas? “


Ferdian sejenak menghela nafasnya, berat rasanya untuk menceritakan apa yang menimpa Priska pada Lusi. Namun tentu saja dia harus ungkapkan juga.


“Kata Ketua RT dilingkungan rumah kamu, Priska tak pulang-pulang dan belum ada kabarnya lagi. Rumah kamu itu sudah lama tak berpenghuni, dan kunci rumah ini aku dapat dari Pak RT.”


Lusi terdiam, wajahnya tertunduk bersamaan dengan buliran air mata yang tiba-tiba menetes di pipinya.


Benaknya kembali mengenang Bu Merry dan Priska. Bagaimanapun jahatnya perlakuan mereka berdua terhadap dirinya, namun Lusi merasa mereka adalah bagian dari keluarga yang pernah hidup bersamanya.


Ferdian mengelus-ngelus punggung Lusi dengan lembut berusaha menenangkan suasana hatinya.


“Lusi, ini surat perjanjian pra nikah kita.” Ferdian menyerahkan dua lembar berkas ke tangan Lusi.


Lusi menatap lembaran itu sekilas lalu bergantian menoleh pada Ferdian dan Reynard. Keduanya tersenyum pada Lusi. Begitupun Cantika yang tampak haru karena terbawa suasana.


“Aku mau kita robek ini. Karena sekarang gak ada lagi kontrak kesepakatan apapun di antara kita, Lusi. Kamu istri aku, aku suami kamu. Kita jalanin pernikahan kita sebaik-baiknya sampai maut memisahkan, oke.” ucap Ferdian lembut.

__ADS_1


Lusi pun mengangguk dan tersenyum dengan air mata yang masih mengalir.


Tanpa menunggu aba-aba, keduanya merobek berkas di tangan mereka masing-masing dengan perasaan bahagia.


Ferdian menatap wajah Lusi, menghapus air matanya, lalu meraih tubuhnya ke dalam pelukan hangatnya.


“I love you, my wife.” bisik Ferdian lembut di telinga Lusi.


Reynard dan Cantika yang menatap mereka penuh haru hanya tersenyum ikut merasakan kebahagiaan yang mereka rasakan.


Tiba-tiba pintu ruangan itu diketuk dari luar dan menjeda atmosfer kebahagiaan yang tengah mereka rasakan. Reynard langsung berdiri menghampiri dan membukanya.


Dan tampak Mbak Ira dengan wajah cemas berdiri di depan pintu.


“Ada apa, Mbak?” tanya Reynard melihat heran pada raut Mbak Ira.


“Ada yang cari Boss, itu diruang tamu.”


“Siapa?


“Aku...!” Tiba-tiba Amanda sudah berdiri di belakang Mbak Ira dengan wajah sinis dan dingin menatap Reynard.


Reynard tersentak dan memutar kepala menoleh pada Ferdian dan Lusi di dalam ruang kerja. Dia berdiri berusaha menghalangi pandangan mereka pada sosok Amanda.


“Siapa, Rey?“ panggil Ferdian pada Reynard yang tampak gugup dan gelisah.


Ferdian beranjak dari duduknya, lalu menghampiri Reynard di depan pintu.


Seketika wajah Ferdian memucat melihat Amanda berdiri di hadapannya dengan senyum sinis mengembang di sudut bibirnya.


“Mau apa kesini? Pergi!” usir Ferdian lekas.


Lusi dan Cantika spontan ikut menghambur keluar ruangan demi mendengar suara lantang Ferdian.


“Ooww, anak hilang sudah kembali rupanya!” seru Amanda melihat Lusi yang menggamit lengan Ferdian dengan raut wajah yang penuh tanda tanya.


Cantika ikut melampiaskan emosinya dengan mendorong bahu Amanda. “Pergi kamu! Jangan datang-datang lagi ke sini!”


Amanda menepis tangan Cantika dengan kasar. Lalu mengeluarkan sebuah amplop panjang dari tasnya. Dan menyodorkannya ke tangan Ferdian.


Ferdian menerimanya dengan perasaan sama sekali tak mengerti. Lalu membukanya dan membaca isi surat itu.


Surat keterangan dari rumah sakit.


“Positif?” sebut Ferdian pelan dengan mata terbelalak saat mengeja satu per satu kalimat yang tertera di dalam surat tersebut.


“Iya, aku positif hamil dan itu karena kamu!” tunjuk Amanda pada Ferdian.


Semuanya terperanjat mendengarnya.


“Gak mungkin. Kamu pasti salah orang,”  bantah Ferdian.


“Gak mungkin aku salah orang. Kamu lupa malam itu kita ngapain di kamar hotel, hah?! Apa perlu aku tunjukin bill hotel atas nama kamu dan foto-foto kita waktu kita melakukannya?” serang Amanda tak mau kalah.


Ferdian terbungkam mengingat peristiwa satu bulan yang lalu. Pagi itu, tiba-tiba dia mendapati tubuhnya tanpa busana diatas ranjang berdua dengan Amanda.


“Kamu menjebakku, Amanda!” geram Ferdian dengan mata menatap tajam penuh amarah pada Amanda.


“Gak, Ferdian. Jangan pura-pura lupa. Kita datang bersama ke hotel itu. Ini bill hotel nya, check in atas nama siapa?” Amanda menyodorkan selembar bill bukti check in room hotel ke tangan Ferdian. Tertera nama Mr. Ferdian Adiwijaya di situ.


"Dan ini foto-foto kita malam itu." Amanda menyorongkan layar ponselnya ke hadapan Ferdian dan semuanya. Terpampanglah gambar dirinya berdua dengan Ferdian di atas ranjang dalam keadaan yang tak sepantasnya.

__ADS_1


Semua terdiam. Suasana mencekam. Ferdian pun bungkam tak bisa berkata-kata. Hanya benaknya yang mencoba menerka-nerka bagaimana bisa dia tak sadarkan diri malam itu hingga berada di kamar hotel berdua dengan wanita yang sangat dibencinya.


Air mata Lusi mulai merebak turun, seakan tak percaya apa yang terjadi di hadapannya kini.


Kebahagiaan yang baru saja dia dapatkan kembali kini terpaksa luntur, melebur bersama air mata kecewa yang kembali dia teteskan di pipi.


“Sebagai laki-laki sejati kamu pasti tau apa yang harus kamu lakukan, Ferdian,” ujar Amanda lagi dengan nada suara yang datar dan tegas.


“Aku gak yakin itu hasil perbuatanku,” sergah Ferdian lekas.


“Terserah, tapi yang pasti aku melakukannya cuma sama kamu.”


“Aku minta tes DNA.”


“Oke, tapi setelah anak ini lahir. Dan ingat, aku gak mau perutku membesar tanpa pertanggungjawaban kamu. Atau kamu mau foto-foto ini tersebar ke media?" ancam Amanda dengan tersenyum sinis merasa kemenangan kini berpihak padanya.


Lusi sudah tak tahan lagi mendengar semuanya. Dia langsung berlari hingga menabrak bahu Ferdian dan keluar dari rumah itu.


“Lusi....” panggil Ferdian lalu bergegas mengejarnya.


“Lusi, kamu dengar dulu....” Ferdian menangkap lengan Lusi dan menahannya hingga Lusi memberontak geram.


“Udah, Mas. Aku udah dengar semua. Dan sangat jelas. Mas harus bertanggung jawab.”


“Gak mau, itu bukan hasil perbuatanku. Dia menjebakku, Lusi.”


“Apapun alasan Mas, tapi Mas mengakui kan nginap di hotel berdua dia?”


“Iya, tapi ... aku ga sadar....”


“Nah, itu mas ngaku sendiri.” tunjuk Lusi ke wajah Ferdian.


Ferdian terdiam dan sudah kehabisan kata-kata. Dia meremas rambutnya gemas karena menyadari kebodohan dan keteledorannya.


Dia berpikir bagaimana bisa dia begitu lalainya hingga dirinya bisa hilang kesadaran diri diperdaya oleh Amanda di malam terkutuk itu.


“Ya sudah. Pernikahan kita selesai sampai disini, Mas. Kita cerai!” putus Lusi tegas.


“Lusi, please....Jangan.” Ferdian berusaha menarik tubuh Lusi ke pelukannya, tapi Lusi menolak keras.


Dia mendorong tubuh Ferdian dengan sekuat tenaga bercampur emosi yang tak tertahankan lagi, lalu berlari keluar rumah.


Reynard yang sedari tadi berada di belakang mereka, seketika itu juga berlari mengejar Lusi yang tinggal beberapa langkah lagi menuju gerbang yang sudah terbuka. Dia sangat khawatir Lusi kabur dimalam yang selarut ini dalam suasana hatinya yang remuk redam.


“Lusi, jangan kabur lagi. Ayo ikut sama aku.” Reynard menarik lengan Lusi.


“Gak mau!” bantah Lusi menghempaskan genggaman Reynard dari lengannya.


“Ayo ikut! Bandel amat ini anak.“ Reynard menarik pergelangan tangan Lusi lebih kuat lagi.


“Gak mau!”


“Ehh, kamu ntar diculik lagi loh, mau?! Ayo ikut.”


Reynard menarik Lusi cepat menuju mobilnya yang terparkir dekat dengan gerbang utama. Lalu membuka pintu untuk Lusi dan bergegas menuju bagian duduknya di belakang kemudi.


Diiringi tatapan Ferdian, mobil Reynard melaju cepat keluar dari rumah itu.


Mengamankan Lusi adalah yang terpenting untuk situasi darurat ini. Menurut Reynard.


TERIMA KASIH READER ATAS MASUKAN DAN KRITIKNYA. 

__ADS_1


JANGAN LUPA YA, LIKE, LOVE, FAVE, 5RATE & VOTE,  


HAPPY READING....EMMUUUAHHH...


__ADS_2