
Sedikit ragu, Ferdian mengetik nama Reynard di gawainya. Kemudian menekan tombol calling untuk menghubungi. Dan terdengarlah nada tunggu beberapa kali.
Tak menunggu lama, suara Reynard menyapa. “Halo, Bro?”
“Ehhm, Rey. Aku udah pertimbangkan usulan kamu....” Ferdian menggantung kalimatnya ketika kebimbangan itu masih menggelayuti hati.
“So? Take it or leave it ?“ desak suara Reynard tak sabar menunggu jawaban Ferdian.
Sejenak Ferdian memejamkan matanya yang tiba-tiba saja mengering. Seraya menarik nafas berat dia mengucap doa di dalam hati untuk meneguhkan keputusannya yang sudah dipertimbangkannya dua hari ini.
“Oke, I’ll take it. Aku ikuti rencana kamu.” putus Ferdian akhirnya setelah ia membuka kelopak mata.
“Yess! Gitu dong....” sorak Reynard terdengar senang.
“Tapi kamu bantu aku bicara sama Lusi. Gimanapun juga rencana ini tergantung keputusan dia,” pinta Ferdian dengan suara sedikit bergetar.
“Oke, Brader. Nanti malam aku kerumah. Sekalian aku bikinkan draft kontraknya. kalian tinggal baca dan tanda tangan saja. Oke,” ucap Reynard bersemangat.
Tanpa menjawab lagi, Ferdian menyudahi sambungan telponnya dan menenggelamkan diri dalam kegundahannya.
Menunggu malam hari tiba itu sungguh menyiksa, ternyata. Apalagi akan ada satu keputusan besar yang akan dia hadapi malam ini.
Entah lusi akan menerima atau justru menolak rencana mereka.
****
Di malam harinya.
Cekatan, Lusi membereskan piring-piring bekas sisa makan malam mereka dari meja. Lalu membawanya ke dapur utama.
Setelah itu dia putuskan untuk mengambil sekotak susu coklat dan menuangkannya ke dalam gelas di genggamannya. Dia melangkah keluar dari dapur tujuannya ingin langsung ke kamar dan seperti biasa, menyendiri.
Sekilas bola mata Lusi tertambat pada jam di dinding yang baru menunjukan pukul delapan malam.
Melangkah ringan dia melewati ruang makan. Dan masih tampak di sana dua pria tampan, Ferdian dan Reynard yang beberapa kali bergantian melemparkan pandangan padanya dengan tatapan yang tak biasa.
Sejujurnya Lusi merasakan ada yang aneh pada tingkah mereka sejak awal makan malam tadi. Kedua pria itu sama sekali tak bicara sepatah kata pun. Itu sangat tidak normal di mata Lusi.
Gadis itu pun berhenti sejenak menatap keduanya bergantian dengan sorot mata bingung.
“Apa Upin Ipin ini lagi berantem ya? Kok diem-dieman aja dari tadi?” tebak Lusi dalam hati.
Tak ingin bertanya lebih lanjut akan kelakuan tak biasa mereka itu, Lusi melangkahkan kakinya ringan menjauhi tempat mereka.
“Lusi...” Panggilan dari Ferdian seketika menghentikan langkah Lusi. Lalu membalikkan tubuhnya menghadap si pemanggil namanya.
“Ada apa, Om?” tanyanya bingung.
“Ehhm ... kita bicara di ruang kerjaku, ayo,“ ajak Ferdian, kemudian beranjak dari duduknya dan mencolek bahu Reynard yang masih terpaku di kursinya.
Yang di colek spontan berdiri dan mengikuti langkah Ferdian.
Lusi yang masih tak mengerti cuma berdiri dengan seribu tanda tanya di hati saat menatap kedua pria itu berjalan melewati dirinya menuju ruang kerja Ferdian.
“Ayo Lusi, masuk,” titah Ferdian ketika dia tersadar Lusi masih saja bergeming dari tempatnya.
Gadis itu pun menurut dan ikut melangkah masuk bersama kedua pria muda itu.
Mbak Ira yang mengintip dari balik pintu dapur menggeleng-geleng kepala menyaksikan ketiga orang itu masuk ke dalam ruang kerja majikannya.
“Buseet, abis dah tuh anak dua lawan satu. Gak seimbang. Ajak aku dong, Bang,” gumam Mbak Ira dengan pikiran mesum yang menari-nari liar di benaknya. Yang kini dia mampu hanya bisa mengullum senyum genitnya.
“Hadeehhh, punya Boss ganteng emang harus kuat Iman, bisa khilaf,” lanjutnya seraya mengusap wajah guna membuang pikiran mesumnya.
Mbak Ira bergedik bahu dan menghela nafas panjang lalu menutup pintu dapur dan menuju kamarnya yang terletak di samping taman belakang.
Di dalam ruang kerja Ferdian.
Lusi ikut duduk di sofa berhadapan dengan Ferdian dan Reynard yang duduk diseberang nya.
“Lusi, begini, ada sesuatu yang harus aku bicarakan sama kamu. Serius.” Ferdian membuka omongan dengan suara di pelankan.
“Ada apa, Om? Kok aku jadi takut ya? Apa aku ada kesalahan di rumah ini?” Tanya Lusi penasaran dengan sikap Ferdian dan Reynard yang menatap nya tajam dan serius.
__ADS_1
“Ooh gak kok, kamu gak ada kesalahan di rumah ini, tenang aja. Yang mau aku bicarakan ini tentang kejadian yang menimpa kamu minggu lalu, tentang hidup kamu dan keselamatan kamu.”
Lusi makin tak mengerti di buat nya. Bola matanya bergerak gerak bergantian menatap Reynard dan Ferdian. Reynard menghela nafasnya kesal mendengar Ferdian hanya berbasa-basi.
“Biar aku yang bicara, kau memang payah sekali kalo bicara sama perempuan,” sambut Reynard kemudian menepuk bahu Ferdian di sampingnya kemudian membetulkan posisi duduknya.
“Lusi, terus terang beberapa hari ini kami berdua berusaha mencaritahu tentang kehidupan kamu, tentang peristiwa buruk yang kamu alami karena Bramanto dan hubungan kamu dengan ibu tiri kamu,” ucap Reynard pelan. Lusi mengangguk lemah. Sorot matanya redup seketika mendengar nama Bramanto dan ibu tirinya.
“Dan kamu harus tau, bahwa kami kenal siapa Bramanto dan sangat tau kebejatannya karena kami pun punya urusan yang sangat serius dengan orang itu," tutur Reynard kembali.
Lusi menautkan kedua alisnya. "Om berdua punya urusan serius dengan Orang itu?"
Reynard Dan Ferdian mengangguk berbarengan.
"Urusan yang sangat sangat sangat serius. Untuk saat ini aku cuma bisa bilang ke kamu bahwa orang itu sangat sadis dan jahat," Lanjut Reynard menatap tajam pada Lusi.
"Kaburnya kamu dari rumahnya membuat dia dendam dan terus mencari kamu sampe detik ini. Begitu juga ibu tiri kamu yang telah menerima uang yang sangat banyak dari hasil menjual kamu pada Bramanto.
Mereka itu gak akan berhenti mencari kamu sampe ketemu. Dan kalo kamu sampai tertangkap oleh mereka kamu tau apa yang akan terjadi? Kheeekkkkh....!” Reynard pura-pura mencekik lehernya sendiri dan melototkan bola matanya seram.
Lusi makin bergidik ketakutan. Tangan dan kaki nya mulai gemetar dan hatinya benar-benar tak tenang mendengar ucapan Reynard. Dia menelan ludahnya yang terasa getir.
“Jadi aku harus gimana, Om? Aku takut hikk...hikk..hiik.” Air mata Lusi mulai menetes satu persatu.
“Tenang. Kamu jangan takut. Ada Bang Rey dan Om Ferdian yang selalu menjaga kamu." Reynard menenangkan Lusi sambil berseloroh, membuat Ferdian melotot keki mendengar ucapan Reynard.
“Lusi, apa kamu tau soal rumah mu yang di gadaikan ke bank oleh almarhum ayahmu?” tanya Reynard kemudian.
“Iya, aku tau, Om. Ayah sempat cerita soal itu. Tapi karena sekarang ayah udah gak ada mungkin rumah itu akan disita bank karena gak sanggup lagi kami membayar,” jawab Lusi di sela tangisnya.
“Dari informasi yang kami terima dari sumber yang terpercaya, hutang ayahmu di bank sudah dilunasi oleh ibu tirimu dan sekarang semua aset ayah kamu dikuasai olehnya termasuk rumah dan beberapa gudang. Tapi itu semua adalah hak kamu, Lusi. Kamu harus mengambilnya kembali.” Lanjut Reynard sudah mulai bersemangat.
“Gimana caranya, Om? Aku gak ngerti apa-apa soal itu? Dan sejujurnya aku juga gak pernah persoalkan soal harta atau aset-aset almarhum ayah. Aku cuma pengen hidup tenang, gak mau punya musuh dan bisa bebas pergi kemanapun tanpa ketakutan seperti sekarang,” ucap Lusi lagi. Tangisnya mulai mereda, di usap nya sisa air mata di sudut mata.
Reynard dan Ferdian saling menoleh. Inilah saat nya berterus terang tentang rencana mereka, pikir mereka dalam hati
“Ehmm, Lusi. Kami punya rencana untuk kamu. Dan aku rasa ini adalah rencana yang terbaik. Demi keselamatan kamu. Kamu harus punya seseorang untuk melindungi dan menjaga kamu setiap saat. Dan kamu harus terikat dengan dia secara hukum supaya pelindung kamu itu tidak bermasalah dengan tuntutan hukum nantinya.” Pelan-pelan Reynard menjelaskan lagi menuju point pembicaraan.
“Aku gak ngerti sama sekali, Om. Bingung aku tuh,” ujar Lusi, menautkan kedua alis nya.
“Kamu harus menikah dengan seseorang yang selalu siap menjaga kamu dan menjamin keselamatan jiwa kamu,”
jawab Reynard langsung tanpa basa basi lagi.
“HAH ??? Menikah???“ Lusi terperanjat dan hampir terjatuh dari sofanya.
Reynard dan Ferdian justru yang lebih kaget melihat ekspresi Lusi yang spontan itu. Mereka mengangguk kompak meng-iya-kan pertanyaan Lusi.
“Kok harus menikah, Om? Apa gak ada cara lain? Misalnya kasih aku senjata untuk melawan atau modalin aku operasi plastik jadi mirip Bunga Citra Lestari, gitu?“ Lusi protes dengan mimik wajah polosnya.
Reynard dan Ferdian geleng-geleng kepala mendengarnya.
“Dengar baik-baik ya, Anak manis. Karena dengan menikah, kamu punya status di mata hukum. Jadi gak ada yang berani mengganggu kamu, termasuk Bramanto dan ibu tiri kamu. Kalo mereka macam-macam suami kamu yang akan menuntut mereka, mereka bisa di penjarakan. Dan pernikahan ini ada perjanjian pra-nikah nya supaya kamu benar-benar merasa aman dan terlindungi secara sah sampai urusan kamu selesai dan apa yang menjadi hak kamu kembali lagi padamu.” Tutur Reynard gamblang Dan jelas.
“Ya Tuhan....” Lusi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dan siku tangannya menopang pada lutut.
Reynard dan Ferdian saling berpandangan. Keduanya lama terdiam. Ada rasa kasihan pada gadis di hadapannya itu.
Ferdian menarik nafas nya berat dan menghelanya lagi pelan.
“Lusi, kalo kamu gak bersedia, ga apa-apa, kok. Aku benar-benar kuatir sama keselamatan jiwa kamu, tapi terus
terang yang bisa aku lakukan sejauh ini ya cuma menyembunyikan kamu di rumah ini, lebih dari itu aku gak bisa membantu, karena aku juga gak mau ada yang menuntutku karena telah menyembunyikan kamu selama ini. Kamu ngerti, kan?” Giliran Ferdian yang menjelaskan pelan-pelan.
Lusi mengangkat wajahnya. Pandangan mereka saling bertemu. Lama mereka saling menatap dengan pikiran yang berkecamuk di benak masing-masing.
“Lalu, aku harus menikah sama siapa?“ Tanya Lusi kemudian. Nada suaranya sudah menunjukan pikirannya sudah mulai tenang.
Ferdian dan Reynard saling menoleh. Lusi mengerutkan dahinya melihat tingkah mereka berdua.
“Jangan bilang aku harus menikahi Om berdua, ya. Gak bakalan kuat aku tuh,” ucap Lusi polos sambil menunjuk mereka bergantian.
“Hahahaha....” Ferdian dan Reynard tertawa geli lalu tiba-tiba tawa mereka berhenti melihat Lusi dengan ekspresi wajah yang sangat datar, tidak bergeming sedikitpun. Justru gadis itu bingung apa yang mereka tertawakan.
__ADS_1
“Om ini yang akan menikahi kamu.” Reynard menunjuk Ferdian cepat.
“Om Ferdian? Ya Tuhan.” Lusi menepuk jidatnya.
Ferdian mengangguk mantap.
“Gimana, kamu mau kan nikah sama aku? Demi kebaikan kita semua.” Pinta Ferdian akhirnya dengan suara memelas.
Lusi mendongak dan mendapati tatapan mata Ferdian yang syahdu padanya. Lama gadis itu menatapnya. Pikirannya terus berkecamuk mempertimbangkan usulan kedua laki-laki di hadapannya Itu.
Dia coba menghilangkan rasa bimbang dan takut di hatinya. Berusaha meyakinkan dirinya bahwa itu adalah jalan yang terbaik untuk melindungi keselamatan jiwanya. Sebentar dia menghela nafas dan mengatur tarikan nafasnya yang sedikit sesak.
Dan akhirnya Lusi pun mengangguk setuju, dengan senyum yang di paksakan di sudut bibir mungilnya.
“Ahhh Lega...Akhirnya..!” Seru Reynard girang menepuk bahu Ferdian dengan rasa puas karena Lusi menyetujui sarannya.
“Eeetapi...Cuma sementara kan, Om?“ Tanya Lusi cepat meminta kepastian.
“Iya, pernikahan ini cuma sementara aja kok, tenang aja," jawab Ferdian menegaskan.
“Lusi, kebetulan sebelum kesini aku sudah membuatkan kontrak perjanjian yang harus kalian berdua tanda tangani.“ Reynard mengeluarkan beberapa lembar berkas dari tas kerjanya.
“Silahkan dibaca dulu baik-baik. Itu semua isi perjanjian pra-nikah yang harus disepakati terlebih dulu. Kalo ada yang tidak kamu setuju, kamu coret saja, nanti aku perbaiki.” Reynard menyodorkan beberapa lembar berkas itu ke tangan Lusi dan beberapa lembar lagi ke tangan Ferdian. Keduanya membaca dengan sangat serius.
“Aku setuju semua. Dimana aku tanda tangani?” Ucap Ferdian seraya meminta pena pada Reynard.
“Eeehh, ntar dulu, Om. Poin 10 aku gak setuju.“ cegah Lusi cepat.
Keduanya, Reynard dan Ferdian langsung membaca tulisan di point yang di tunjuk Lusi.
Disitu tertera : Kedua belah pihak diperbolehkan menjalani hubungan pernikahan sebagaimana mestinya pasangan yang sah dimata hukum dan agama.
“Maksudnya apa itu? Aku gak ngerti.” Tanya Lusi polos.
Reynard dan Ferdian saling menatap. Lalu keduanya tertawa ringan. Lusi makin bingung melihat kedua orang ini seakan-akan sedang mentertawai kebodohannya.
“Begini Adek manis, setelah menikah nanti, kalian yaaa hidup selayaknya pasangan suami istri lah. Makan bareng, jalan bareng, tidur bareng,....” Ucap Reynard enteng.
“Hah? Tidur bareng? Satu kamar gitu?” Tanya Lusi dengan suara meninggi.
Reynard dan Ferdian mengangguk spontan dengan senyum yang dikulum.
“Aku gak setuju. Aku maunya tidur terpisah di kamar sendiri. Aku takut di apa-apain,” ucap Lusi galak. Mimiknya merengut dan tampak menggemaskan.
“Baiklah, kita tidur di kamar masing-masing, Oke. Deal?” Jawab Ferdian tegas seraya mengulurkan telapak tangannya ke hadapan Lusi.
“Deal.” Lusi pun menyambut menjabat tangan Ferdian dengan mantap.
Lalu kedua nya menandatangi berkas mereka masing-masing dan menyerahkannya pada Reynard. Reynard tersenyum senang menerimanya. Dengan cepat dia masukkan ke dalam tas kerjanya.
“Okelah kalo begitu, kita tentukan hari pernikahan kalian. Gimana kalo hari senin depan? Di KUA terdekat saja. Besok aku segera urus semua kelengkapannya,“ ucap Reynard antusias.
“Baiklah, Senin depan aku siap,” jawab Ferdian mantap.
Bertiga saling membuang pandangannya ke berbagai arah berusaha menyembunyikan apa yang ada didalam benak masing-masing.
Reynard tersenyum senang karena rencana nya disambut baik oleh kedua insan itu.
Ferdian mesem-mesem tanpa arti karena sejujurnya masih ada keraguan dalam hatinya, namun tetap berharap rencana ini akan berhasil dengan baik untuknya dan juga untuk Lusi
Lusi dengan wajah datar dan tersenyum kecut menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Dia masih tak percaya nasib membawanya bertemu dengan Ferdian, pelanggan setia toko bunga tempatnya bekerja. Dan sebentar lagi dirinya akan menjadi nyonya Ferdian.
Cast Ferdian
Cast Ilusiana { Lusi }
Cast Reynard
__ADS_1