ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 38


__ADS_3

Dua wanita cantik beda usia itu memasuki kamar lift beriringan. Setelah sampai di lantai tujuan, keduanya pun berjalan anggun menapaki lantai berkarpet tebal itu menuju ruangan pimpinan.


Namun langkah mereka yang penuh percaya diri itu terjeda saat sang resepsionis menyambut ramah dari balik meja.


“Selamat siang, ada yang bisa dibantu?”


Cantika, yang seketika memasang wajah datar hanya menjawab singkat. “Mau ke ruang kak Ferdian,“


“Pak Ferdian? Apa sudah ada janji?“


Bola mata Cantika menyorot tajam pada Dewi. “Aku ini adiknya boss kamu. Ngapain harus janjian dulu," ketusnya sengit. Membuat raut wajah Dewi seketika berubah luluh.


“Maaf. Ya sudah. Silakan, Mbak. Dari sini lurus terus, belok kanan, lalu kanan lagi, ruangannya di sebelah kiri," beritahu Dewi dengan detil.


Cantika mendekat ke arah Dewi, lalu mendengkus kesal. ”Udah tau!" ucapnya dengan sangat ketus.


Kemudian langsung menarik lengan Amanda menuju ruangan Ferdian sesuai arahan Dewi.


“Huh, sombong bener! Beda banget sama abangnya,” sewot Dewi menatap sebal ke arah Cantika dan Amanda yang sudah menjauh.


“Iya ya. Ketus banget. Aku gak yakin sih kalo dia sedarah dengan Pak Ferdian,” timpal Intan yang ikut melirik kesal pada punggung dua wanita Itu.


“Pak Ferdian darah biru, yang ini mungkin darah kotor,” cibir Dewi mengerucutkan bibir.


Intan tergelak geli mendengarnya. Ia menepuk-nepuk bahu Dewi. “Yang sabar, ya,” ucapnya kemudian masih menyisakan tawa.


Pintu ruangan Ferdian dibuka. Tampak Ferdian dan Vika, sekertarisnya, tengah berbincang-bincang dengan serius.


Mereka menoleh pada Amanda dan Cantika yang sudah masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


'Ngapain sih Cantika bawa-bawa Amanda ke kantor?' gerutu Ferdian dalam hati.


“Kak, sibuk ya?” panggil Cantika di depan meja Ferdian.


“Oiya, Vika. Ini adikku Cantika.” Ferdian memperkenalkan Cantika pada Vika yang mengangguk hormat pada gadis itu.


“Halo, apa kabar? Saya Vika, sekertaris Pak Ferdian.“ Vika mengulurkan tangannya dan disambut oleh Cantika tanpa tersenyum.


“Kak, temenin makan siang, dong,“ pinta Cantika manja tanpa menggubris Vika yang menunggu basa basi Cantika.


Ferdian melirik jam di tangannya. Sudah jam dua. Waktunya menjemput Lusi di kampusnya.


“Kamu makan berdua aja, ya. Aku gak bisa. Aku harus jemput Lusi.“ Ferdian menolak permintaan itu dengan halus.


Cantika menoleh pada Amanda yang mendengkus sebal mendengar alasan Ferdian.


“Iihhh, Kakak. Emangnya dia gak bisa pulang sendiri? Pake dijemput segala. Manja amat.” Cantika merajuk.


Ia menghempaskan diri dengan kesal di kursi di hadapan kakaknya.


Ferdian menghela napasnya berat. Ia khawatir kalau Lusi pulang sendirian. Apalagi semua supir kantor sepertinya tidak berada ditempat.


“Ferdian, kamu gak kasian sama Cantika? Masa sekedar temenin makan siang aja gak bisa?” Amanda buka suara membela Cantika.


Tentu saja ia juga sangat ingin Ferdian menemani mereka makan siang kali ini agar bisa membuka kembali komunikasi dengan pria idamannya itu.


“Ayolah, Kak. Aku kangen masakan tradisonal. Kata kak Amanda, Kakak tau restoran yang paling enak disekitar sini.” Cantika mendesak.


Sepertinya tak ada celah lagi bagi Ferdian untuk menolak permintaan adiknya. Diambilnya gawai di atas meja. Lalu mengetikkan sesuatu.


Lusi, kamu pulang sendiri dengan taksi online ya. Aku ada urusan mendadak. Isi pesan di aplikasi yang dikirimkan Ferdian untuk Lusi.


“Okelah," jawab Ferdian akhirnya meluluskan permintaan Cantika.


Cantika tersenyum senang. Begitu pun Amanda mengulum senyum penuh harap.


“Vika, kamu lanjutin cek berkas-berkas ini ya. Laporannya kirim ke email aku,” perintah Ferdian pada Vika yang berdiri di sampingnya.


“Baik, Pak," ucap Vika sambil mengangguk.


Ferdian menyambar jas hitam yang tergantung di kapstok belakang kursi, lalu melangkah keluar ruangan, diikuti Cantika dan Amanda yang tampak semringah senang.


Dikampus.


Lusi menutup layar ponselnya setelah membaca pesan aplikasi hijau dari Ferdian.


“Hai, Lusi.” Dio mencolek bahu Lusi dari belakang. Lusi hanya menoleh sekilas.


“Tunggu jemputan?” tanya Dio.

__ADS_1


“Hari ini aku gak dijemput. Aku naik taksi online aja.”


“Biar aku aja yang antar kamu pulang.” Dio menawarkan diri dengan antusias.


Lusi tersenyum sekilas. Dia ingat terakhir diantar Dio pulang, Ferdian marah besar.


“Gak usah, Dio. Aku pulang pake taksi online aja.“ Lusi menolak dengan halus.


“Please, jangan menolak, Lusi. Aku khawatir sama kamu kalau pulang sendirian.”


Tanpa menunggu persetujuan Lusi, Dio langsung menarik tangan Lusi menuju mobilnya. Lusi pun pasrah juga akhirnya dan ikut masuk ke dalam mobil Dio.


Jalan raya sudah mulai padat merayap. Dio mengendarai mobilnya dengan tenang. Sesekali diliriknya Lusi yang  duduk di sampingnya tengah sibuk dengan ponselnya.


Triinggg...Triiingg...Trriiingg....


Ponsel Dio berbunyi nyaring. Dilihatnya nama panggilan masuk di layar. Mama.


“Halo, Ma?” sambut Dio lekas.


“Dio, kamu udah pulang kuliah?”


“Sudah Ma, ini lagi dijalan menuju pulang.”


“Kamu bisa kan mampir sebentar di Restoran Abdi yang di Jalan Siak itu, loh. Belikan nasi Liwet dua paket ya untuk papa.“


“Baik, Ma. Kebetulan dekat dari lokasi aku sekarang. “


“Oke, Dio. Hati-hati dijalan.”


Sambungan telepon terputus. Dio kembali menoleh pada Lusi .


“Lusi, kita mampir dulu ke restoran yang depan sana ya. Sebentar aja, gak lama kok.”


“Oke.”


Didepan sana tampak sebuah gapura besar bertuliskan nama rumah makan yang hendak Dio tuju. Segera dia arahkan mobilnya memasuki parkiran restoran itu.


“Kamu mau tunggu di mobil atau ikut turun?” tanya Dio setelah merapikan posisi parkir mobilnya.


“Aku tunggu di mobil aja.“


Lusi masih sibuk dengan ponsel di genggaman. Ia menggeliatkan badan sejenak untuk meluruskan punggung yang terasa penat.


Tiba-tiba ia terbelalak melihat pemandangan di hadapannya. Tiga orang yang sangat ia kenal keluar dari restorant.


Tampak olehnya Amanda melingkarkan tangan dengan mesra di lengan Ferdian. Sementara Cantika berjalan di depan keduanya menuju parkiran.


Hati Lusi serasa membara melihat Amanda yang menempel rapat pada Ferdian dan tampaknya tak ada penolakan dari prianya itu.


Ia menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya pelan untuk menenangkan hatinya yang kini gundah.


“Jangan cemburu, Lusi. Jangan cemburu,” gumamnya sendiri.


Bersamaan dengan itu, Dio pun kembali ke mobil dengan menenteng dua bungkus plastik putih. Lalu diletakkannya di bangku bagian belakang.


Tak sengaja Dio melihat kilatan di kedua bola mata Lusi yang bening. Dan ia menerka pasti ada sesuatu yang tak nyaman untuk gadis itu.


“Kamu kenapa, Lusi?” tanya Dio curiga.


“Eh, hmm? Kenapa? Gak apa-apa kok. Emang aku kenapa?” Lusi gugup mencoba menyembunyikan kegusaran hatinya.


Tiba-tiba Dio mengalihkan matanya ke arah depan. Tampak olehnya Ferdian dan Amanda yang masih berdiri di depan pintu mobil sambil berbincang-bincang.


Sesekali Amanda tampak menyentuh bahu Ferdian mesra. Dio menoleh lagi pada Lusi yang juga memandangi mereka dengan tatapan dingin.


“Itu, kan suami kamu?” tanya Dio hati-hati takut menyinggung perasaan Lusi.


Lusi mengangguk. “Suami kontrak,” ucap Lusi ketus. Wajah Dio berubah prihatin menatap Lusi.


Dio menyentuh punggung tangan Lusi dan mengusapnya perlahan.


“Sabar ya, Lusi," ucap Dio lirih. Ia tahu Lusi tengah menahan emosi melihat suaminya bersama dengan perempuan lain.


Dio menyalakan mesin mobilnya lalu meluncur pelan keluar dari restoran itu dan bergabung ke jalan raya yang sudah mulai padat merayap.


Setelah satu jam perjalanan, Lusi keluar dari mobil yang Dio parkirkan sedikit menjauh dari pintu gerbang rumah Ferdian.


Ketika memasuki halamannya, tampak mobil Ferdian sudah terparkir rapi di dalam garasi.

__ADS_1


“Mas Ferdian baru datang, Pak?” tanya Lusi pada Pak Dirman yang melangkah di sampingnya.


“Iya Non, baru saja. Dengan Non Cantika dan Non....” ucapan Pak Dirman terhenti, dia gugup melirik Lusi karena merasa tak enak hati melanjutkan kalimatnya.


“Amanda. Mantan tunangannya Mas Ferdian.” Lusi yang melanjutkan dengan suara pelan. Pak Dirman hanya mengangguk samar.


Lusi tersenyum sekilas pada Pak Dirman seolah-olah menunjukan bahwa ia baik-baik saja dan tak terpengaruh sama sekali dengan kehadiran sosok Amanda di rumah itu.


Dilangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Dan tampak Amanda bersama Cantika tengah berbincang-bincang di ruang keluarga. Seru sekali sepertinya. Sesekali mereka melepas tawa. Tapi tak tampak Ferdian disana.


“Hai, Lusi. Kamu sudah pulang?” Sapa Cantika seketika melihat Lusi masuk dan mendekat.


“Iya, baru saja,“ jawab Lusi sopan dan ramah. Dia melirik Amanda yang menatap sinis padanya, seakan-akan hendak menerkam dirinya.


“Oiya, Lusi. Boleh tanya sesuatu?” tanya Cantika mendekati Lusi.


“Iya? Ada apa?”


“Kamu tiap hari pulang kuliah di jemput Kak Ferdian?”


“Iya, karena kantor Mas Ferdian dekat kampus jadi berangkat dan pulang sama-sama,” jawab Lusi jujur.


“Hmm, gitu ya. Tak ada supir kantor yang khusus antar jemput kamu?”


Lusi mengernyitkan kening tak mengerti maksud Cantika. Lusi hanya menggeleng singkat.


“Kasian sekali kakakku harus antar jemput kamu tiap hari. Waktu kerjanya jadi gak efektif, Lusi. Bagaimana dia bisa konsentrasi dengan pekerjaannya kalo tiap jam dua siang harus berburu waktu jemput kamu.” Ucapan Cantika sangat tak nyaman didengar. Membuat telinga Lusi terasa menebal dan memanas.


“Memangnya kamu gak bisa pulang sendiri? Pake taksi online atau angkutan umum misalnya?” lanjut Cantika dengan memasang wajah sinisnya.


“Bisa," jawab Lusi singkat dan datar.  Emosinya nyaris tak tertahankan.


“Permisi, aku ke kamar dulu.” Lusi bergegas meninggalkan Cantika yang tampaknya masih ingin meluncurkan kata-kata pedas untuknya.


Lusi membuka pintu kamar. Didapatinya Ferdian tengah duduk di kursi kerjanya berhadapan dengan Laptopnya.


“Kamu telat, Lusi.” Ferdian membalikkan badan menghadap Lusi di belakangnya yang tengah duduk di tepi tempat tidur.


“Macet,” jawab Lusi singkat.


Ferdian merasa ada yang janggal dengan sikap Lusi yang tiba-tiba sinis dan ketus padanya. Dia mendekati Lusi dan ikut menghenyakkan diri di sampingnya.


“Kamu kenapa? Kok judes gitu?” tanya Ferdian mengamati wajah Lusi dalam-dalam.


“Mulai besok aku gak mau dijemput, Mas. Aku lebih nyaman pulang sendiri dengan taksi online,” putus Lusi serius.


“Loh? Kok gitu? Aku gak setuju. Kamu ingat orang-orang Bramanto dan ibu tiri kamu masih mencari-cari kamu.“ Ferdian beranjak, lalu melipat lengan di depan dada menghadapi Lusi.


“Ya, tapi aku gak mau pekerjaan Mas jadi terganggu cuma gara-gara jemput aku.”


“Siapa yang terganggu? Sama sekali nggak tuh.”


“Pokoknya mulai besok aku gak mau dijemput lagi.“ Nada suara Lusi mulai meninggi.


“Gak boleh. Jangan keras kepala,“ balas Ferdian dengan nada suara tak kalah meninggi.


“Mas...” Lusi hendak protes.


“Ooohh, apa jangan-jangan supaya kamu bisa pulang bareng temen cowok kamu yang pernah antar kamu pulang malam-malam ya?” Ferdian menatap Lusi penuh curiga.


“Iiishh, apaan sih Mas?” Lusi bangkit hendak pergi. Spontan Ferdian mencengkram tangannya.


“Ayo ngaku deh, jangan menghindar gitu,” desak Ferdian menatap tajam padanya, menuntut sebuah jawaban jujur dari gadisnya.


“Enggak!“ pekik Lusi berusaha melepaskan cengkraman tangan Ferdian di lengannya.


“Kamu mau coba-coba selingkuh ya?”


Lusi menatap tajam mata Ferdian.


Maling teriak maling ini namanya. Siapa tadi yang pegang-pegangan tangan dengan mantan tunangan? Gandengan mesra sambil ketawa-ketawa manja diparkiran restorant?


Ingin dia rapalkan semua kalimat itu. Tapi dia merasa itu tak perlu. Karena dia pun tak ingin menunjukan rasa cemburu yang tadi sempat memburu.


“Udah ah, mau mandi. Permisi.” Lusi mendorong dada Ferdian menjauh begitu cengkraman Ferdian melonggar.


Segera dia berlari masuk ke kamar mandi meninggalkan Ferdian yang masih menatap kesal padanya.


 PLEASE LIKE AND COMMENT YAH PARA READER YANG BAIK. AUTHOR AKAN TETEP CEMUNGUD UP SAMPAI TAMAT.

__ADS_1


__ADS_2