
Dengan lingerie three pieces-nya Amanda tampak sangat menggiurkan. Tanpa sungkan dia mempertontonkan kemolekan tubuh sintalnya. Kakinya yang jenjang semampai dengan sembulan di dada yang sangat proporional membuat Ivan tak berkutik menahan godaan nafsu liarnya.
Tak ada satu pria pun yang memungkiri pesona Amanda yang sangat sensual dan menggairahkan. Banyak laki-laki yang ingin memiliki dirinya hanya karena modal yang dimilikinya itu.
Amanda menghenyakkan bokong indahnya di sofa persis di sisi Ivan yang hanya mengenakan celana jeans dan bertelanjang dada.
Dia tak akan melewatkan sedetikpun aksi Ivan yang tengah meracik kristal putih menggunakan alat berbentuk botol kaca dengan dua pipa kecil di atasnya.
Tampak Ivan sangat menikmati menghisapnya. Amanda pun tak mau ketinggalan. Dia meraih botol kaca itu dan ikut menikmati aktivitas terlarang itu.
Amanda menjatuhkan kepalanya di dada bidang Ivan. Matanya terpejam merasakan nafsu birahi yang semakin meninggi. Dia menggeliat-geliatkan tubuhnya ke tubuh Ivan dengan gerakan sensual.
Begitu juga Ivan yang menengadahkan wajahnya ke atas dengan mata terpejam. Dia menikmati gelenyar indah di setiap lekukan tubuh Amanda yang menggilas tubuhnya. Nafsu liarnya pun semakin tak tertahankan.
Ditariknya kepala Amanda dengan lembut lalu dia bawa mendekat ke wajahnya. Di lum4tnya bibir penuh Amanda dengan sangat bernafsu. Sesekali dia menggigit kecil bibir kenyal itu untuk merangsang gairah Amanda yang kian membuncah.
Tanpa sabar lagi, dia membopong tubuh Amanda ke dalam kamar. Lalu dia hempaskan ke atas ranjang yang beralas sprei berwarna kuning.
Amanda terlentang dengan posisi menantang. Kedua kaki jenjangnya terbuka lebar. Siap untuk diterjang.
Gairah Ivan sudah hampir meledak. Dia turunkan celana jeansnya, menyisakan boxer hitam yang menutupi ‘sesuatu’nya yang telah berdiri tegang.
Amanda tanpa sungkan melepaskan outer transparantnya. Hanya bra dan g-string yang menutupi ‘property’ berharganya. Tatapannya penuh nafsu tertuju pada Ivan. Seolah mengemis pada laki-laki itu untuk menjajah tubuhnya sepuas-puasnya.
Tak mau membuang waktu lagi, Ivan menindih tubuh Amanda. Mendaratkan kecupan bertubi-tubi ke leher dan telinga Amanda. Jilatannya di leher dan dada membuat Amanda mengerang lembut. Diremasnya rambut Ivan dengan sangat gemas karena nafsunya kian menggila.
Ivan dengan menggunakan ‘senjata’ pamungkasnya menelusup masuk ke liang Amanda yang sudah terbuka lebar. Dengan sepenuh gairah Ivan mendorong-dorong tubuh Amanda yang terjepit di bawahnya. Lenguhan dan erangan lirih Amanda membuatnya makin tak kuasa menahan sesuatu yang akan keluar dari dalam ‘senjatanya’ itu.
Begitu juga Amanda yang tak kuasa lagi membendung klimaksnya yang sebentar lagi akan meledak.
Benar saja. Ivan semakin kencang memacu gerakan. Dan mereka pun mencapai titik kenikmatan secara bersamaan.
Ivan melambatkan gerakannya, lalu berhenti ketika semua isi ‘senjatanya’ sudah berpindah ke dalam liang Amanda.
__ADS_1
Amanda mendorong tubuh Ivan yang mulai terasa berat menindihnya. Ivan pun menjatuhkan tubuhnya tepat di samping Amanda. Keduanya tersenyum sangat puas. Tangan mereka saling menggenggam.
“Kamu emang luar biasa, Amanda. Aku puas sekali.” Puji Ivan menoleh pada Amanda.
Amanda tersenyum lebar pada Ivan. Lalu bangkit dan meraih outer lingerienya kemudian dia kenakan kembali menutup tubuhnya.
“Rasanya aku rugi melayani kamu terus, Van,“ ucap Amanda seraya duduk di hadapan Ivan yang masih berbaring terlentang.
“Maksud kamu?” tanya Ivan dengan suara lemah.
“Ya, aku gak dapet duit dari kamu. Cuma bubuk doang. Untuk apa? Harusnya tubuhku ini mahal, loh,” ucap Amanda datar dan malas.
Ivan bangkit dari rebahannya. Lalu memasang kembali boxer dan celana jeansnya.
“Kan kamu tau sendiri, bisnis aku cuma itu. Yah, cuma itulah yang kamu dapat dari aku. Kalau kamu mau dapat uang ya jual diri dong? Mau? Bisa aku bantu,” ujar Ivan seeenaknya.
“Harusnya aku bisa memiliki Ferdian atau boss-boss tajir lainnya. Kurang apa sih aku, Van?”
'Kamu itu terlalu murahan, Amanda. Orang-orang berkelas seperti Ferdian pasti memilih wanita mahal,' ejek Ivan dalam hati saja.
“Aku kesal dengan adiknya Ferdian yang terlalu manja itu,” gerutu Amanda mengingat semua omongan ketus Cantika di telepon beberapa hari lalu dengannya.
“Dia sudah tau penyebab batalnya pernikahan aku dengan kakaknya dua tahun lalu. Dan dia sekarang benci sama aku, Van.”
Ivan hanya menggaruk-garuk kepala, malas mendengar ocehannya.
“Yaaa, namanya bangkai gak akan mungkin selamanya bisa ditutupi, Non,” balas Ivan santai. Lalu membakar rokok putihnya dan menghirupnya dalam.
“Tapi sekarang aku jadi gak punya akses lagi untuk mendekati Ferdian. Apalagi sebenarnya inilah kesempatanku untuk dekat lagi dengannya karena istri kecilnya itu sudah kabur dari rumah.”
Ivan mengembuskan asap rokoknya kembali hingga membuat ruangan kamar itu menjadi sangat pengap dengan kepulan asap.
“Ya berarti sekarang kamu harus usaha sendiri, Amanda. Dan Ferdian bukan orang yang gampang didekati loh. Apalagi sama kamu yang sudah jelas-jelas berkhianat dari dia.”
__ADS_1
Amanda menatap Ivan lama. Dia sebenarnya tak suka dengan omongan Ivan itu, tapi dia mengakui memang sulit mendekati Ferdian, bahkan melalui permintaan adiknya pun pria itu tak menggubris dirinya.
“Gimana lagi caranya ya, Van? Aku benar-benar pengen Ferdian kembali padaku. Apalagi disaat ini kondisi keuanganku sangat memprihatinkan. Aku butuh pria yang royal seperti dia untuk mensupport keuanganku.”
“Begitu, ya? Seorang Amanda kini dengan kondisi keuangan yang menyedihkan? Aku kira itu hanya gosip murahan aja di sekitar teman-teman kita. Ternyata benar,” ledek Ivan sambil tergelak sesaat.
“Bisnis wedding keluargaku sekarang sedang mengalami kebangkrutan, Van. Sepertinya kalah bersaing dengan butik-butik gaun pengantin yang sudah berskala Internasional. Kalo begini terus aku bisa miskin,” lirih suara Amanda.
“Makanya aku sekarang jarang ke butik. Aku malas dengar ocehan-ocehan mama yang bikin sakit telinga. Dia terus
merongrong aku untuk menikah dengan salah satu koleganya, duda dengan anak tiga walaupun sudah tua, tapi kaya raya. Bisa mati gabut aku dengan laki-laki tua, Van. Apa enaknya bercinta sama laki-laki loyo bau tanah begitu.”
Ivan tertawa ngakak mendengar penuturan Amanda. Dia menggeleng-geleng kepala, sama sekali tak menyangka separah itu kondisi ekonomi Amanda saat ini.
Seorang Amanda yang terkenal dengan kehidupan sosialita dari kalangan level atas sekarang mengadu terpuruk dengan kondisi keuangan yang sangat memprihatinkan.
“Jadi, kamu maunya harus dengan Ferdian, ya?“
Amanda mengangguk, “Harus, Van. Aku tahu dia punya uang banyak. Dan juga sifatnya gak pelit sama perempuan. Aku yakin dengan dia aku bisa hidup enak, sejahtera dan akan tetap terpandang di kehidupan sosialitaku.”
Ivan termenung seperti sedang memikirkan sesuatu sambil menghabiskan sisa batang rokok yang sudah terbakar setengahnya.
Kemudian bangkit dari duduknya, dan meraih T-shirt hitamnya yang tergeletak di lantai. Dengan santai dia memakainya.
Dia menoleh ke arah Amanda dan mencium bibirnya sesaat.
“Mau kemana, van?” Amanda terheran dengan Ivan yang tiba-tiba hendak keluar dari kamarnya.
“Ada urusan sebentar. Besok aku datang lagi, oke.“ Ivan mengulurkan tangannya pada Amanda dan menyelipkan sesuatu ke dalam genggaman amanda.
Amanda menerimanya dengan tatapan penuh harap pada laki-laki itu. Ivan mengedipkan mata sesaaat lalu bergegas keluar meninggalkan Amanda yang terpekur memandang pemberian Ivan yang kini teronggok di telapak tangan.
Senyuman pun kian terkembang lebar ketika dia meyakini bungkusan itu adalah sesuatu yang sangat berharga untuknya dan bisa menjadi jalan untuk mewujudkan keinginannya.
__ADS_1