ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 22


__ADS_3

Pagi di hari Minggu yang cerah. Mbak Ira tengah sibuk dengan kegiatannya di dapur. Tangannya dengan gesit memotong-motong sayuran ditemani dengan radio kecil yang memutar lagu dangdut kesukaannya. Sesekali pinggul besarnya bergoyang dan kepalanya mengangguk-angguk.


Ferdian masuk dapur dan membuka kulkas besar berpintu dua. Diambilnya sekotak susu dingin lalu dibawanya ke tengah meja kitchen set yang berlapis batu marmer hitam.


“Ehem....” Ferdian berdehem di samping Mbak Ira. Spontan asisten rumah tangga itu menoleh dan seketika mengecilkan suara radionya.


“Ehh, ada Boss. Hehehe.... Tumben ke dapur,” sapa mbak Ira tersipu malu karena tertangkap basah sedang asik berjoget sendirian.


“Lusi sudah bangun, Mbak?” tanya Ferdian kemudian meneguk susu putihnya.


“Saya gak tau Boss. Soalnya belum turun-turun sih, masih di kamarnya,” jawab Mbak Ira masih menyisakan senyum malunya.


“Bikinin roti lapis sama susu coklat,“ perintah Ferdian sembari duduk di bangku mini bar.


“Sekarang, Boss?”


“Nanti lebaran tahun depan....Ya sekarang dong, gimana sih?” omel Ferdian pada asistennya yang rada-rada itu. Mbak Ira terkekeh kecil lalu dengan cekatan menyiapkan apa yang diperintah Bossnya.


“Yang enak bikinnya,” perintah Ferdian lagi.


“Siap, Boss.“


Tak lama dua tangkup roti lapis dan segelas susu coklat hangat terhidang di atas nampan.


Ferdian mengambil nampan itu lalu membawanya menuju lantai dua, ke kamar Lusi.


Mbak Ira memperhatikan gerak-gerik Bossnya. Dia curiga dengan sikap majikannya itu yang akhir-akhir ini tampak jauh berubah. Terlebih sejak ada Lusi di rumah ini. Boss nya yang tampan itu lebih sering menghabiskan waktu liburnya di rumah.


Dulu majikannya itu hampir setiap hari selalu pulang larut malam. Berkumpul dengan para kolega dan rekan kerjanya di sebuah lounge hotel mewah walaupun hanya sekedar bertukar pikiran ataupun melepas penat setelah seharian menguras daya pikirnya.


Di hari libur pun Ferdian sering menghabiskan waktu di luar rumah bergaul dengan teman-temannya di lapangan tennis ataupun di lapangan golf. Tapi sekarang, sejak kehadiran gadis belia yang kini menjadi istrinya, pria itu jadi lebih betah berada di rumah.


“Apa jangan-jangan si Boss punya hubungan spesial nih sama Non Lusi?” duga Mbak Ira dalam hati penuh curiga.


'Dan keliatannya sayang bener sama Non Lusi. Tiap hari tanyain Non Lusi mulu. Iiihh, jadi cemburu. Beruntung banget deh perempuan yang bisa dapetin si Boss, udah ganteng, kaya raya, baik hati, cerdas lagi. Seandainya aku masih muda dan cantik pasti aku sosor tuh si Boss.'


Mbak Ira menepuk jidatnya membuyarkan khayalan di benak nya. Lalu kembali dengan aktifitasnya di dapur.


Tok...Tok...Tok... Ferdian mengetuk pintu kamar Lusi. Tak ada jawaban. Di tekannya gagang pintu, ternyata tak dikunci. Ferdian masuk perlahan. Tampak Lusi masih terbaring di tempat tidurnya.


Ferdian meletakkan nampan nya di meja rias lalu duduk di tepi ranjang di samping tubuh Lusi yang telentang tanpa selimut. Di tatap nya sosok Lusi yang hanya mengenakan celana pendek sebatas paha dan t-shirt tanpa lengan warna abu-abu. Terpampanglah kaki jenjang Lusi yang putih mulus di hadapannya.


Mata Ferdian tiba-tiba tertuju pada sembulan bulat bagian dada Lusi yang tampak 'mengintip' sedikit dari balik kerah tanktop nya. Dia menelan ludahnya menatap pemandangan yang menggiurkan itu.

__ADS_1


“Waduh, godaan berat ini. Imanku mungkin kuat, tapi 'Imron' ku dibawah sana rasanya tak kuat lama-lama melihat ini." gumam nya dalam hati.


“Di pegang takut dia marah, gak di pegang tapi mubazir,” pikiran liarnya mulai mengusik.


Bola mata Ferdian masih tertuju pada silluet gunungan di dada Lusi yang tampak bulat dan indah. Gairahnya pun mulai merasuki otaknya. Nafsunya seketika meninggi. Jemarinya perlahan terangkat hendak menyentuh tubuh Lusi.


Namun Tiba-tiba muncul rasa ragu dan takut kalau-kalau gadis itu tersinggung dengan apa yang akan dia lakukan. Bergegas dihapusnya niat nakalnya untuk menyentuh kulit mulus dihadapannya itu


Pandangan nya beralih pada wajah imut Lusi yang masih terpejam dan bibirnya yang terkatup rapat. Tampak cantik sekali gadis itu di saat tidur. Wajahnya sangat polos dan menggemaskan.


Ferdian mendekatkan wajah nya ke wajah Lusi. Bibirnya makin mendekat. Lalu mengecup bibir Lusi sekilas, namun hangatnya membuat Lusi terjaga.


Gadis itu menggeliat sesaat. Kelopak matanya mengerjap-ngerjap lucu memperjelas penglihatannya. Dia mengusap kedua matanya. Tampak jelas oleh nya Ferdian duduk di samping nya tengah tersenyum manis memandanginya.


“Selamat pagi, Tuan putri,” sapa Ferdian lembut. Lusi bangun dan duduk menyandarkan punggungnya ke sandaran belakang.


“Maaf aku telat bangun, Mas. Tadi malam belajar sampe tengah malam,” ucap Lusi dengan suara serak khas bangun tidur.


“Gak apa-apa. Ini aku bawain sarapan buat kamu,” Ferdian mengambil nampan yang berisi roti lapis dan susu coklat lalu di letakkan di meja nakas samping tempat tidur.


“Kok repot-repot mas?“ Lusi tersenyum manis memandang wajah Ferdian yang tampak fresh walaupun tidak klimis seperti hari-hari biasa.


“Gak repot kok. Santai aja,” jawab Ferdian lalu mengambilkan susu coklat dan di berikan pada Lusi. Gadis itu meneguknya sedikit. Lalu meletakkan nya kembali ke nampan di meja.


Mereka saling menatap lembut. Tanpa sungkan Ferdian menyelipkan rambut Lusi kebelakang telinganya.


“Kira-kira dua bulan, Mas. Kenapa?” Lusi balik bertanya.


“Gak papa, Cuma nanya aja.”


Dalam hati Ferdian menggerutu, “udah dua bulan nikah tapi belum diapa apain. Nasib...nasib jadi suami sementara."


“Mas, apa adik mas tau kita menikah?” giliran Lusi bertanya.


“Belum, tapi pasti akan aku kasih tau dia nanti,” jawab Ferdian seraya mangambil setangkup roti lapis dan menyantapnya lalu bergantian menyodorkan nya ke hadapan mulut Lusi. Gadis itu pun mengunyahnya perlahan.


“Atau sebaiknya gak usah dikasih tau, Mas. Takutnya dia kaget dan gak suka. Saatnya dia pulang nanti mungkin kita sudah pisah sesuai jatuh tempo perjanjian kita,” ucap Lusi lirih.


Ferdian menangkap kesedihan di nada suara Lusi. Ditatapnya wajah Lusi dengan tatapan syahdu.


“Kok punya pikiran gitu? Emang kamu mau kita cepet-cepet pisah?“ tanya Ferdian mendelik curiga.


“Mas sendiri gimana? mau cepet-cepet urusan kita selesai kan? Supaya kita bisa cepetan pisah."

__ADS_1


Ferdian menggeleng sambil tersenyum getir mendengar pertanyaan Lusi. Dia tertunduk sesaat.


Diapun masih belum yakin dengan perasaannya terhadap gadis itu. Yang pasti ada perasaan sangat nyaman ketika berada dekat dengannya dan ingin selalu melindunginya.


“Aku dengar obrolan Mas dengan Bang Rey tempo hari di ruang kerja,” ucap Lusi serius.


Ferdian mengernyitkan dahinya mencoba mengingat-ingat.


“Apa yang kamu dengar?” tanya Ferdian kemudian.


“Mas bilang setelah urusan kita berdua selesai kita akan segera pisah dan jalanin hidup masing-masing karena hubungan kita cuma sementara. Dan Mas bilang gak punya rasa apa apa sama aku, cuma mau melindungi aku aja,” Lusi menirukan semua ucapan Ferdian yang dia dengar waktu itu.


Ferdian terperangah mendengarnya, tak menduga jika Lusi mendengar semua tentang perasaannya. Ferdian menghela nafas nya berat. Dia merasa bersalah telah mengatakan itu. Di raihnya jemari Lusi lalu di remasnya lembut. Lusi membiarkannya.


“Maafkan aku ya, kamu seharusnya gak mendengar itu. Karena aku juga belum yakin apa yang aku katakan saat itu,” lirih suara Ferdian seraya menatap kedua manik Lusi.


“Ga papa kok Mas, aku kan jadi sadar posisi aku cuma sebagai istri sementara,”


Ferdian sangat tak suka mendengar Lusi mengatakan itu.


“Yang pasti aku suka dekat dengan kamu, Lusi. Kamu baik, cantik dan patuh sama aku. Itu yang bikin aku nyaman sama kamu,” sekali lagi Ferdian membelai punggung tangan Lusi dengan lembut.


“Kamu suka gak sama aku?” giliran Ferdian bertanya balik karena selama ini pun Lusi masih belum terbuka menunjukan perasaan nya terhadap Ferdian.


Lusi hanya mengangguk sambil tersenyum manis. Ferdian pun tersenyum senang.


“Kita jalani aja dulu hubungan ini apa adanya ya, biar nanti waktu yang akan memastikan perasaan kita berdua ke depannya seperti apa. Kita gak boleh memaksakan diri, Oke"


Lusi pun mengangguk setuju. Senyum manis nya kembali mengembang.


“Boleh peluk gak?” Ferdian merentangkan kedua tangannya, Lusi pun mendekat dan tenggelam di dalam rengkuhan tubuh hangat Ferdian.


Kedua nya berpelukan erat. Ferdian mengecup puncak kepala Lusi dengan lembut.


Ada desiran angin sejuk merasuki relung hati sepasang suami istri sementara itu. Dan merekapun sangat menikmatinya.


Dalam hati Lusi hanya berucap, “Terima kasih sudah mau menjadi pelindungku, Mas. Aku takut untuk berharap lebih. Aku tidak pantas dan cukup tau diri untuk itu. Dengan perlakuan baikmu saja aku sudah sangat bahagia. Bisa tinggal di rumah ini pun aku serasa menemukan surga. Seandainya aku gak ketemu kamu malam itu, apa lah jadinya aku sekarang. Apa mungkin Tuhan mengirimkan malaikat pelindungnya untukku melalui kamu, Mas? Semoga kamu sehat dan bahagia selalu, Mas Ferdian."


Dalam hatipun Ferdian berucap, "Terima kasih kamu sudah membuat hari-hariku menjadi lebih menarik, Lusi. Maaf aku belum bisa


sepenuhnya jatuh cinta sama kamu. Yang aku yakin pada perasaanku saat ini adalah aku ingin selalu ada kamu di dekat aku. karena kamu memberi gairah baru dalam hidupku. Aku suka dan ingin selalu melindungi kamu, Lusi”


UUWUUHH... AUTHOR NYA JADI BAPER....

__ADS_1


PLEASE LIKE, VOTE, KOMEN UNTUK KRITIK DAN SARANNYA YANG MEMBANGUN.


HAPPY READING YA...


__ADS_2