
Sebuah mobil Jeep Rubicon berwarna hitam memasuki pekarangan rumah mewah itu.
Tak lama setelah deru mesinnya padam tampak sesosok pemuda berparas tampan dengan porsi tubuh yang cukup tinggi dan tegap berkacamata hitam mengenakan setelan jas hitam keluar dari mobil itu.
“Pak Dirman,” sapanya ramah pada asisten rumah tangga pria yang berdiri menyambutnya.
“Selamat pagi, Mas Reynard. Lama gak ke sini ya?” sambut Pak Dirman dengan senyum jenakanya.
“Sibuk, Pak. Maklumlah orang keren banyak panggilan,” seloroh pria yang di panggil Reynard itu.
Pak Dirman terkekeh ringan menanggapinya.
“Si Boss dimana? Di ruang kerja atau di kamar?“ tanya Reynard lagi,
“Tadi saya lihat Boss ada di pendopo kolam renang. Silahkan langsung ke sana aja, Mas.” Pak Dirman mempersilahkan dengan sopan.
Sesaat Reynard mengacungkan jempolnya pada Pak Dirman lalu melangkah ringan memasuki rumah mewah itu dan tanpa sungkan mengarahkan dirinya langsung ke tempat yang dia tuju.
“Hai. Good morning, Bro?” sapa Reynard begitu tiba di hadapan Ferdian yang masih berdiri menghadap ke kolam sambil menari-narikan jemarinya pada layar ponselnya.
Mendengar suara orang yang ditunggu sudah tiba, Ferdian pun menoleh lekas. “Duduk, Rey. Kau sudah sarapan?“ tanya Ferdian kemudian.
Reynard menggeleng seraya melepaskan kaca mata hitamnya yang sedari tadi bertengger di hidung tegaknya.
“Aku lagi diet,“ jawabnya singkat.
Pandangannya seketika tertuju pada Lusi yang tengah menunduk memainkan ujung jari-jari kakinya.
“Oiya, Rey. Kenalin, ini Lusi. Lusi, kenalkan ini Reynard sahabat aku.” Ferdian memperkenalkan keduanya ketika menyadari tatapan Reynard pada gadis yang duduk di kursi sampingnya.
Lusi mengangkat wajahnya dengan senyum kecil di sudut bibir dan hanya melambai sekilas pada Reynard.
Reynardpun mengangguk sekilas padanya sambil menyunggingkan senyumnya.
“Tumben pagi-pagi nyuruh aku kesini. Ada apa, Bro?” Reynard membuka suaranya.
Di raihnya gelas milik Ferdian yang berisi orange juice lalu diteguknya sampai tandas.
“Ada sesuatu, Rey,” jawab Ferdian singkat. Membuat Reynard menautkan alisnya tanda tak mengerti.
“Kita bicara di ruangan kerjaku,” ajak Ferdian kemudian.
“Lusi, aku tinggal dulu ya,“ kata Ferdian pada Lusi dan gadis itu hanya mengangguk. Kemudian menatap punggung kedua pria tampan itu yang berlalu meninggalkan dirinya masuk ke dalam rumah.
Reynard menghenyakkan dirinya di sofa di hadapan Ferdian yang sudah menempati kursi kerjanya.
“Siapa gadis tadi? Cantik juga.”
“Nginap ya dia semalam?”
“Hemmm, mulai nakal boss kita satu ini.”
Reynard mencecar dengan pertanyaan nakal sambil menyunggingkan senyum penuh arti, menggoda pria yang duduk tegak di seberangnya.
“Iya dia nginap. Tadi malam aku ketemu dia di jalanan, terus aku bawa pulang.“ jawab Ferdian membuat fantasi liar Reynard seketika beterbangan di dalam pikirannya.
__ADS_1
“Waaah, turun derajat kau sekarang. Masa pengen ninu-ninu aja mesti ngajak cewek dari jalan, kau balik lagi aja sama Amanda, dia pasti mau. Atau panggil cewek yang berkelas atas lah, Bro,” kelakar Reynard seraya tertawa lepas.
Ferdian berdecak dan ada rasa tak nyaman terselip di hatinya saat Reynard yang menyebut-nyebut nama mantan kekasihnya. Ferdian tahu apa yang ada dalam otak sahabatnya itu, pasti tak jauh-jauh dari sekitar bagian bawah pusar.
Dasar otak mesum, pikirnya.
“Ah gila kau, dia gadis baik-baik, Rey. Aku sudah kenal dia sebelumnya. Dia itu karyawan kios bunga dekat kantorku, aku sering belanja ke kiosnya. Dan please, jangan pake bawa-bawa Amanda deh, udah jadi masa lalu,” jawab Ferdian kemudian.
“Yang aku mau omongin sama kau ini soal Bramanto,” lanjut Ferdian lagi.
Mendengar satu nama itu di sebut, Reynard membetulkan posisi duduknya sejenak dan meletakkan kacamata hitamnya ke atas meja.
“Tenang, Bro. Dia sudah di genggaman aku sekarang. Tinggal tunggu waktu yang tepat untuk kita cincang perusahaannya.”
Jawaban yang cukup menenangkan bagi Ferdian, namun tetap saja tak juga merubah sorot matanya yang begitu tajam menatap lurus kedepan dengan raut wajahnya yang menggeram, hingga ingatannya pun terpaksa harus terlempar kembali pada peristiwa yang dia alami tujuh tahun silam.
Ruang Persidangan
Semua yang hadir di ruangan sidang itu terdiam, hening dan menyimak dengan seksama bacaan keputusan dari Hakim Ketua. Ferdian muda tampak duduk dengan sikap tubuh gelisah dan raut wajah menegang seraya menggenggam jemari adik perempuannya yang juga tampak tak tenang.
“Dengan ini Terdakwa atas nama Bramanto Raharjo dinyatakan tidak bersalah dan bebas dari segala tuntutan hukum.”
Tok...tok...tok....
Tiga kali ketukan palu hakim di meja membuat gempar seisi ruangan disana.
Ada yang bersorak dan tertawa senang. Ada yang saling berjabat tangan dan ada yang saling menepuk bahu dengan rasa penuh kepuasan.
Tapi tidak dengan Ferdian dan adik perempuannya yang duduk di baris kedua bangku kayu di ruangan itu.
Ferdian spontan memejamkan kelopak matanya dramatis demi menahan gelombang amarahnya yang dia rasakan akan segera menghantam dirinya.
Tak tahan dengan hatinya yang terbakar geram, Ferdian beranjak cepat lalu berlari menuju ke tengah ruangan menuju tempat laki-laki yang sibuk merayakan euforianya itu. Bahkan kuasa hukum Ferdian yang sedari tadi bersiap siaga di sampingnya tak berhasil mencegah amarahnya yang siap dia tumpahkan saat itu juga.
“Bajing4n! Bangs4t kau, Bramanto!” hardik Ferdian pada laki-laki setengah baya itu.
Tinju kanannya sudah berada di atas kepalanya dan siap mendarat telak di wajah Bramanto. Tapi kepalan tangannya itu tak sampai menyentuh wajah menyebalkan itu lantaran beberapa pria yang berada di sekitarnya berhasil mencegahnya.
Ferdian mengamuk menjadi-jadi, menandang dan melempar meja dan kursi. Hingga Suasana ruangan itu semakin riuh dan tak terkendali. Beberapa petugas keamanan yang berjaga didalam ruangan itu ikut turun tangan berusaha menghentikan amukan pria muda itu.
Laki-laki setengah baya itu, Bramanto, mundur beberapa langkah dari tempatnya, dan berlindung di balik tubuh para pengawal dan pengacaranya demi menghindari serangan Ferdian atas dirinya.
“Pembunuh! Bajing4n, Kau!” hardik Ferdian lagi mencoba berontak melepaskan diri dari orang-orang yang menahan tubuhnya.
Bramanto tersenyum licik dan itu berhasil membuat darah Ferdian semakin mendidih dan menyulut amarahnya semakin membuncah hingga ke ubun-ubun kepala.
“Kau dengar sendiri, Boy. Aku tak terbukti bersalah,” seru Bramanto dari balik punggung pengawalnya dengan nada suara mengejek.
“Kau yang bunuh orang tuaku. Ingat, aku gak akan biarkan kau bebas. Kau harus tanggung jawab!” balas Ferdian geram menunjuk kasar ke arah Bramanto yang masih menyeringai penuh kemenangan.
“Kematian orang tuamu itu takdir.”
“Jangan bicara takdir. Kau bajingan! Aku tau kau yang suruh anak buahmu untuk mensabotase mobil orang tuaku, kan!” hardik Ferdian membabi buta.
Bramanto menggeleng-geleng kepala seraya menyungging senyum meledek pria muda itu.
__ADS_1
“Mengkhayal kau!” tampik Bramanto dan kini disertai kekehan liciknya.
“Orangmu yang bernama Agus itu sudah mengaku padaku. Kau bayar dia untuk membunuh orang tuaku!”
“Aahhh Sudahlah. Terima saja takdirmu, Boy,” ucap Bramanto seraya membalikkan badan dan melangkah keluar ruangan dalam pengawalan ketat oleh para pengawal dan pengacaranya.
“Heh Bajing4n! Aku gak akan biarkan kamu bebas!” pekik Ferdian dengan deru nafas memburu.
Cantika, adik perempuannya yang sedari tadi berdiri di belakang punggungnya, seketika berhambur memeluk pinggangnya kuat-kuat. Syok dan takut terlihat jelas di wajah imutnya saat melihat kakak tersayangnya mengamuk menumpahkan segenap amarahnya.
Menyadari adik kecilnya merapatkan tubuhnya, Ferdian balas merangkulnya, membenamkan kepalanya ke dada Ferdian yang turun naik menahan gejolak angkara murkanya.
“Kakak.... “panggil Cantika lirih ditengah isaknya.
“Kita pulang, Kak,“ ajaknya lagi. Ferdian tak menjawab, dia hanya menatap wajah basah adiknya lalu mengecup kepala sang adik penuh kasih sayang.
Keduanya saling berpelukan dalam tangis yang tak mampu tertahankan. Susah payah Ferdian meredakan gemuruh emosi di dalam dada dan dengan lembut dia membelai puncak kepala adik tersayangnya. Hingga tumpah sudah segenap rasa pilu bersama air mata.
Haru dan perih membelenggu hati sepasang kakak beradik itu. Keduanya terisak lirih demi mengingat kematian kedua orang tua mereka dengan cara yang sangat tragis.
Mobil yang di tumpangi kedua orang tua mereka di kabarkan menabrak separator jalan tol dan terbakar di tempat. Didapat info dari penyelidik swasta yang di sewa keluarga Ferdian, bahwa kecelakaan yang di alami kedua orang tuanya itu bukanlah murni kecelakaan tunggal. Tapi diduga ada tindakan sabotase pada mesin mobilnya.
Dan seseorang bernama Agus sudah mengaku bahwa dirinyalah yang memutus tali rem mobil mewah ayahnya itu hingga sistem penghentiannya pun rusak tak berfungsi.
Agus mengaku dibayar dengan jumlah yang cukup besar oleh Bramanto untuk melakukan kejahatan itu. Di ketahui dari pengakuan Agus juga bahwa Bramanto sakit hati pada orang tua Ferdian karena selalu kalah dalam persaingan usaha.
Tapi karena tidak cukupnya bukti yang mengarah tuduhan itu pada Bramanto, akhirnya dakwaan terhadapnya pun gugur, dan dia pun bebas melenggang meninggalkan tanggung jawabnya.
Dan sepeninggalan orang tuanya, Ferdian di usianya yang masih sangat muda, 23 tahun, terpaksa pulang dari London dan meninggalkan bangku kuliah program magisternya di sana demi meneruskan perusahaan orang tuanya yang bergerak di bidang industri telekomunikasi.
Dia pun juga terpaksa harus berperan ganda sebagai papa dan mama untuk Cantika, melindungi dan bertanggung jawab terhadap masa depan adik satu-satunya yang masih duduk di kelas tiga sekolah menengah pertama.
Hingga akhirnya, Ferdian hidup dengan menyimpan dendam pada Bramanto atas kematian kedua orang tuanya. Dia sangat tidak terima kenyataan bahwa Bramanto bisa melenggang bebas lepas dari jerat hukum karena perbuatannya.
Berbagai cara pun dia tempuh untuk menjatuhkan sosok Bramanto. Termasuk memasang Reynard, sahabatnya, masuk ke dalam manajemen perusahaan Bramanto.
Reynard menggunakan kepiawaiannya dalam berbisnis untuk membantu sahabatnya itu menuntaskan dendamnya.
Karena itu, sejak dua tahun yang lalu dia menjalankan perannya menjadi pegawai terbaik di level atas pada perusahaan milik Bramanto.
Bahkan hingga kini Reynard menjadi salah satu orang kepercayaan Bramanto untuk mengelola perusahaannya.
Reynard pun sangat paham dimana titik rapuh dan titik kekuatan perusahaan Bramanto, yang sewaktu-waktu bisa dia pergunakan untuk menjatuhkan Bramanto beserta semua bisnisnya.
Ferdian sangat bersyukur Reynard dengan sukarela mau membantunya. Apalagi rencana memasukkan Reynard ke dalam management perusahaan Bramanto adalah resiko yang sangat besar. Bahkan menyangkut nyawa yang menjadi taruhannya.
Namun begitu, Reynard ikhlas membantu Ferdian yang sejak duduk di bangku sekolah sudah menjadi sahabatnya itu. Saking eratnya ikatan persahabatan diantara keduanya hingga Ferdian pun sudah menganggap Reynard adalah saudaranya, begitupun sebaliknya.
Karena tak Reynard pungkiri dia merasa banyak berhutang budi pada kedua orang tua Ferdian yang telah menyokong seluruh biaya sekolahnya, bahkan biaya kuliahnya ke London hingga dia bisa menyandang gelar sarjana dari universitas yang sama dengan Ferdian.
Tanpa keluarga Ferdian, mungkin dirinya tak akan pernah bisa merasakan duduk di bangku kuliah dan menjadi manager yang cukup berpengaruh seperti saat ini. Karena sedari kecil Reynard dan keluarganya hidup dalam keterbatasan ekonomi.
Jangankan untuk kuliah, untuk makan sehari-hari saja Reynard kecil terpaksa harus membantu kedua orangtuanya berdagang sayur mayur di pasar.
Dan kini, apapun yang Ferdian dan keluarganya butuhkan, Reynard akan selalu hadir dan siap sedia membantu dengan sepenuh hati dan segenap jiwa raganya.
__ADS_1
Cast Reynard