ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
Episode 96


__ADS_3

Hari H yang ditunggu akhirnya datang juga. Hari pernikahannya dengan Ferdian, pria yang dia dambakan menjadi penopang hidupnya.


Amanda dengan balutan kebaya cantik berwarna putih tulang, dan kain batik coklat tua bermotif minimalis, tampak anggun dan menawan.


Di tambah lagi dengan sanggul yang tak terlalu besar dihiasi sasakan sedikit di bagian depan, menjadikan wanita dua puluh sembilan tahun ini tampil bak putri kerajaan.


Velly sang sahabat yang berdiri di sampingnya memandang kagum padanya. Betapa tidak, bagi Velly Amanda memang paling pintar menyempurnakan dirinya dengan riasan make up yang serasi pada wajahnya.


“Gimana? Udah perfect belum?” tanya Amanda pada sahabatnya itu seraya mematut diri di cermin besar dengan bola lampu menyala terang di sekelilingnya.


“Perfect, Nda. Cantik.” jawab Velly sambil menyatukan jari telunjuk dan jempolnya membentuk lingkaran.


Amanda serasa terbang melayang di puji oleh sahabatnya itu.


“Aku akan bikin Ferdian terpesona hari ini," tekadnya sambil mengkhayalkan sosok Ferdian berdiri terpana melihat kecantikannya nanti.


“Pasti, Nda. Dia akan tergila-gila sama kamu. Cowok mana sih yang bisa nolak kamu? Udah cantik, sexy, pintar lagi,” puji Velly lagi dengan berlebihan. Membuat kepercayaan diri Amanda makin menjulang tinggi.


Tok...Tok...Tok...


Pintu kamar di ketuk dari luar. Tanpa ijin seorang wanita paruh baya juga dengan memakai kebaya putih dan bersanggul masuk menghampiri Amanda.


“Sudah selesai dandannya, Nda?” tanya wanita itu memeriksa riasan Amanda.


“Sudah, Ma.”


“Bagus, semua sudah rapi. Tamu-tamu sudah datang, pak penghulu juga sudah datang. Tinggal menunggu mempelai laki-lakinya,“ ucap Wanita yang dipanggil Mama oleh Amanda.


Sekilas Amanda melirik jam yang menempel di dinding kamar. Sudah jam sembilan, seharusnya Ferdian sudah datang tiga puluh menit yang lalu. Karena jadwal acara pengucapan ijab kabul adalah jam sembilan tepat.


Ada kilatan gusar di hatinya menanti calon mempelainya belum juga hadir.


Amanda teringat dua minggu yang lalu ketika dirinya mendesak Ferdian untuk bertanggung jawab menikahinya. Pria itu mengatakan semua terserah pada dirinya dan silahkan atur saja kapan waktunya.


Dan ketika Amanda memilih hari ini untuk acara ijab kabulnya, pria itu pun mengatakan ‘Baiklah’. Bagi Amanda, artinya dia setuju dengan acara hari ini yang telah diatur Amanda dan mamanya.


Seorang pria kemayu masuk tergesa-gesa ke dalam kamarnya dengan wajah sumringah.


“Mbak! Mbak Amanda.... Aduuhh!" serunya begitu antusias.


“Ada apa, Jae?” tanya mamanya Amanda.


“Sudah datang....” serunya lagi menunjuk ke arah luar.


“Mempelai prianya sudah datang?” tanya mamanya Amanda dengan mata terbelalak senang. Diikuti dengan Amanda dan Velly yang ikutan berdiri untuk bersiap-siap keluar ruangan.


“Bukan, Tante. Itu karangan bunga dari kolega-kolega tante sudah datang banyak sekali. Jae jadi bingung harus disusun dimana. Aduuhh....” Jawaban pria kemayu itu membuat raut wajah ketiga wanita itu spontan berubah.


“Huh! Nyebelin! Aku kira mempelai prianya yang datang. Taro aja dimana kek, di depan rumahmu juga boleh. Hal yang begitu aja dibikin ribet," omel Mamanya Amanda melotot pada si Jae kemayu.


Amanda mulai menampakkan raut paniknya saay melihat jam di dinding menunjukan pukul sembilan lewat lima belas menit. Begitu juga Velly dan mamanya yang berdiri gelisah.


“Mama temuin tamu-tamu dulu, deh. Aduh, nyangkut dimana sih itu mempelai prianya?" gerutu Mamanya Amanda seraya berlalu keluar dari ruangan.


“Nda, Ferdian udah janji, kan? Dia akan menikahi kamu hari ini?” tanya Velly pelan. Ada rasa khawatir di nada suaranya karena dia sudah tahu apa yang sudah dilakukan Amanda untuk menggiring Ferdian untuk menikahinya.


Amanda mengangguk ragu dengan hatinya yang mulai resah dan gelisah.


“Coba kita tunggu beberapa menit lagi mungkin terjebak macet,” ucap Amanda mencoba menenangkan diri sendiri. Lalu kembali duduk di depan cermin. Mematut diri kembali memeriksa adakah riasannya yang mulai retak akibat garis-garis kecemasan yang tampil di wajahnya kini.


Detik demi detik berlalu. Menit demi menit pun berjalan. Hingga jam sepuluh lewat lima menit, tak ada juga terdengar sahutan 'mempelai pria sudah datang!'.


Mamanya Amanda masuk lagi ke ruangan itu dengan raut wajah kesal.


“Penghulu sudah mau pulang, dia ada acara lagi di tempat lain. Coba kamu telpon Ferdian, Nda,” perintah mamanya lekas.


Amanda meraih ponselnya di atas meja, lalu mencari kontak Ferdian, kemudian menghubunginya.


Tak ada nada atau pemberitahuan apapun terdengar di saluran telepon itu. Begitu juga di aplikasi percakapannya sudah tak tampak lagi foto wajah Ferdian bersama Lusi di foto profil kontaknya.


“Gak aktif,” ucap Amanda lesu.


Velly dan Mamanya menganga bingung. Sementara Amanda tertunduk lesu. Dengan raut penuh amarah sang mama meninggalkan Amanda dan Velly yang sama-sama tertunduk lesu.

__ADS_1


Setitik air mata jatuh dari sudut matanya. Dia merasa sangat dipermalukan dan dihinakan oleh Ferdian tepat di hari yang seharusnya paling membahagiakan.


Velly mengusap-usap bahu Amanda mencoba menenangkan hatinya. Dia tahu Amanda tipe wanita yang meledak-ledak jika emosinya sudah tak terkendali.


“Aku dipermalukan, Vell. Di depan orang banyak, kerabatku dan kolega-kolega mama,” ucap Amanda di sela isaknya yang sudah merebak.


Velly masih mengusap-usap bahu Amanda dengan lembut, mencoba menyelami perasaan sakit hati dan luka bathin yang kini dialami Amanda.


“Nda. Mungkin itu juga yang dirasakan Ferdian dua tahun lalu, ketika kamu mengkhianatinya tepat sehari sebelum pernikahan kalian.”


Amanda mengangkat wajahnya menatap Velly dengan bola matanya yang basah.


“Velly? Maksud kamu Ferdian balas dendam gitu? Ini, kan berbeda, Vel. Sekarang aku sedang hamil.” Nada suara Amanda meninggi.


“Iya betul kamu hamil, tapi bukan dari benihnya. Kamu gak adil memperlakukan Ferdian seperti ini, memaksanya bertanggung jawab atas apa yang tak pernah dia lakukan,” tutur Velly juga dengan nada suara meninggi.


“Tapi cuma dengan cara itu aku bisa mendapatkan dia kembali, Vel,” sergah Amanda lagi.


Velly menggeleg-geleng kepala menatap Amanda. “Caramu salah dan sangat murahan, Nda. Aku sudah bilang berkali-kali sama kamu, rebut hati Ferdian, bukan tubuhnya ataupun hartanya. Jika kamu sudah mendapatkan hatinya semua miliknya pasti akan dia berikan untuk kamu.”


Amanda menatap wajah Velly sekilas, lalu tertunduk membiarkan air matanya jatuh membasahi kain kebayanya.


“Lalu gimana dengan kehamilanku ini, Vel?" bisiknya lirih sambil mengusap perutnya yang masih rata.


Velly menarik nafasnya dalam-dalam, lalu mengembuskannya lagi dengan panjang.


“Terserah kamu, Nda. Yang pasti yang ada di kandunganmu itu anakmu. Kamu yang harusnya memutuskan, bukan aku atau siapapun.”


Velly beranjak dari duduknya. Menepuk bahu Amanda dengan lembut kemudian berlalu keluar dari kamar itu meninggalkan Amanda yang terisak menjadi-jadi, menyesali nasibnya.


***


Pak dirman membukakan pintu untuk mobil sedan putih yang mengklakson sedari tadi. Mobil itu melaju masuk lalu berhenti tepat di muka teras rumah mewah itu.


Pak Dirman berlari menghampiri. Tampak Amanda bergegas keluar dari mobilnya masih dengan kebaya dan kain batik lengkap dengan sanggulnya, namun dengan riasan yang nyaris luntur di semua bagian wajahnya.


Amanda bergegas masuk ke rumah itu dengan langkahnya yang membawa amarah.


Mbak Ira yang sedang membersihkan ruang keluarga tersentak kaget mendapati Amanda masuk dan bergegas hendak menapaki anak tangga menuju lantai dua.


Pak Dirman yang sudah berdiri di samping Mbak Ira pun ikut menghalangi Amanda.


“Ke kamar Ferdian. Awas minggir!” Amanda menggeser tangan besar Mbak Ira yang masih kokoh menghadangnya.


“Boss gak ada. Boss lagi bulan madu. Honeymoon, you know?” beritahu Mbak Ira dengan mulut dimonyong-monyongkan ke hadapan Amanda.


Amanda tak mengerti dengan omongan Mbak Ira. “Bulan madu, sama siapa?”


“Ya, sama istrinya lah, masa sama istri orang,"  jawab Mbak Ira meledek.


“Sama Lusi?”


“Ya iyalah, masa ya iya dong.“ Mbak Ira masih mencibirnya.


“Bohong kamu! Dasar pembantu sial4an!” hardik Amanda masih mencoba menerobos tangan Mbak Ira yang masih terbentang.


“Yeee, terserah kalo gak percaya. Dan ada hadiah dari Boss, special buat kamu,” ucap mbak Ira kemudian.


Pak Dirman yang berdiri di samping Mbak Ira bergegas mengambil sesuatu ke kamar kerja Ferdian. Tak lama dia kembali membawa sebuah amplop coklat berukuran besar. Dan menyerahkannya ke tangan Amanda.


Amanda segera membuka amplop itu, penasaran dengan isinya.


Sebuah ponsel dengan layar bertuliskan 'play the video', beserta selembar foto mesra dirinya bersama Ivan dan surat kecil yang menempel di bagian atas foto itu.


Amanda mencari file video yang hanya satu-satunya di dalam ponsel itu. Lalu memutarnya.


Dan begitu syoknya dia melihat tayangan dirinya tengah bersama Ivan di ruang tamu apartementnya lengkap dengan segala pengakuan dari dirinya yang sangat terang dan jelas terdengar.


Mbak Ira dan Pak Dirman yang ikut mengintip nonton dari belakang punggung Amanda pun spontan berekspresi jijik melihat adegan-adegan Amanda dan segala yang dia ucapkan dalam video itu.


“Kurang ajar, Ivaaan!!!” teriaknya kencang seraya membanting ponsel itu ke lantai hingga hancur berantakan.


Dipandanginya foto dirinya tengah dalam pelukan Ivan di lobi sebuah diskotik. Lalu mencabut surat kecil yang menempel di atasnya. Dibukanya perlahan surat itu. Terteralah tulisan tangan Ferdian di sana.

__ADS_1


‘Jangan pernah kau ganggu aku atau keluargaku lagi. Dan jangan coba-coba menampakan dirimu dihadapanku atau keluargaku. Lebih baik kau pergi menjauh karena aku sudah melaporkanmu ke pihak berwajib atas kasus penyalahgunaan obat bius yang kau lakukan padaku. Terima kasih atas semua pengakuan jujurmu di apartementmu. Itu sangat membantu aku. Kamu tentu tidak mau itu tersebar di media, kan?


Dan Selamat atas pernikahanmu. Semoga berbahagia.’


Amanda terduduk lemas di lantai dengan air mata yang merebak. Dia mengacak-ngacak rambutnya dan membanting sanggulnya yang dia lepaskan dengan paksa. Lalu bangkit dan berlari kencang menuju mobilnya untuk secepatnya meninggalkan rumah itu.


“Bye Bye!” ledek Mbak Ira dan Pak Dirman bersamaan sambil tertawa-tawa cekikikan.


****


Dengan diiringi desiran angin malam dan sayup-sayup lantunan suara musik tradisional, Ferdian dan keluarga menikmati hidangan makan malam di ruangan terbuka yang menghadap langsung ke pantai.


Suara deburan ombak terdengar dari kejauhan menambah romantisnya suasana malam ini.


Jari -Jemari Ferdian dan Lusi tak pernah lepas saling mengait mesra. Sesekali kecupan-kecupan kecil dari bibir Ferdian mendarat di kening dan pipi Lusi yang terasa dingin karena terpaan angin malam.


Begitupun Lusi yang sudah mulai nampak lebih agresif dengan sesekali meletakkan kepalanya di bahu Ferdian dan menggigit-gigit kecil punggung tangan suaminya.


Ferdian suka sekali ketika Lusi melakukan itu, membuatnya tak sabar ingin segera membopongnya lagi ke dalam kamar.


“I Love you,” bisik Ferdian di telinga Lusi seraya mengecup daun telinganya. Membuat Lusi cekikikan merasa kegelian.


“Heh, pengantin baru stok lama. Jangan bikin iri dong!" Protes Reynard sambil menimpuk potongan tissue yang dibentuk bola ke arah Ferdian.


“Jomblo istiqomah,” sebut Ferdian pelan pada Lusi menunjuk ke arah Reynard. Tapi cantika, Dio dan Reynard juga mendengarnya. Semuanya tertawa kecuali Reynard.


“Hmm, ntar liat gebetan baruku. Cantik, seksii. Baru kenalan tadi siang di pantai, dia hampir terbawa ombak dan aku selamatkan dia," tutur Reynard bangga.


“Macam aktor film baywatch aja,” timpal Dio, disambut tawa yang lain.


“Nanti aku kenalin, jangan pada kaget ya, cantiknya kebangetan. Dan Dio, kau jangan coba-coba ikutan nyosor. Awas!” ancam Reynard.


Cantika yang duduk di sebelah Reynard menepuk bahu Reynard karena tak suka dia membawa -bawa Dio dalam urusan perempuannya.


“Kak Rey, awas ya bawa-bawa Dio!” omel Cantika melotot gemas pada Reynard.


“Baik, Ibu Cantika. Tenang aja,” ucap Reynard menangkupkan kedua telapak tangannya ke arah Cantika.


Ferdian geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka yang terkadang absurb tapi menggelikan.


Dan Lusi pun tertawa renyah mendengar celotehan keluarga barunya itu. Dia benar-benar merasakan bahagia saat ini.


Ada kilat kebahagiaan di bola mata Lusi. Senyum manisnya terus mengambang di bibirnya.


Kini dia memiliki keluarga yang seutuhnya.


Ada Ferdian, suaminya yang sangat mencintainya.


Ada Dio, sang sahabat sejati yang selalu hadir di saat suka maupun duka.


Ada Cantika adik ipar nya yang sangat perhatian padanya.


Dan ada Reynard yang selalu melindunginya.


Sebuah keluarga, tempat dimana dia akan selalu berpulang, tempatnya mencari kenyamanan dan tempatnya merasakan kebahagiaan.


Ferdian menoleh pada Lusi di sisinya. Di kecupnya punggung tangan Lusi dengan lembut. Lalu menariknya untuk beranjak dari tempat duduk. Dan Lusi pun menurut.


“Hei Bro. Mau kemana? Makan malam belum selesai nih," tegur Reynard menahan langkah Ferdian dan Lusi.


“Urusan pasutri,” jawab Ferdian singkat, lalu menggandeng tangan Lusi berlalu dari hadapan mereka.


Begitu pun Dio yang bangkit berdiri meraih jemari Cantika. Gadis itu pun menurut, bangkit dan menggandeng tangan Dio hendak meninggalkan Reynard yang terheran-heran sendirian.


“Ehh, pada mau kemana?” tahan Reynard.


“Jalan-jalan,” jawab Dio singkat lalu menarik tangan Cantika.


Tinggallah Reynard yang menikmati makan malamnya sendirian dengan wajah kesal karena ditinggal oleh dua pasangan itu.


Ya biarlah mereka menikmati masa-masa indah bercinta mereka. Satu saat nanti masa-masa indah itu akan datang padaku. Bathin Reynard.


Jangan Sediihhhh...Masih Ada lanjutannya.

__ADS_1


Geser Ke side story/ extra part yah... 👇👇👇


__ADS_2