
Dua orang security PT Emerald Adiyaksa Technology menyambut Boss nya yang tampak bergegas menuju lift. “Selamat kembali bekerja, Pak,” ucap salah satunya.
“Terima kasih,” balas Ferdian tersenyum ramah. Lalu melangkah masuk kamar lift yang sudah disediakan khusus untuknya.
Sejenak Ferdian mematut dirinya pada dinding lift yang berupa cermin di sekelilingnya sembari membetulkan letak dasi dan merapikan jas hitamnya.
Dengan rambut klimis gaya mid fade membuatnya hari ini tampil lebih menawan dan sangat segar.
Hari ini adalah hari pertama ia memulai aktivitasnya kembali ke kantor, setelah keadaannya kembali pulih pasca kecelakaan yang dialaminya.
Kakinya melangkah ringan menapaki lantai dua puluh. Tempatnya sehari-hari mencurahkan segenap pikiran untuk mengelola dan mengembangkan bisnis yang membawahi ribuan pegawai itu.
Tiba- tiba matanya memicing melihat meja resepsionis tampak tak berpenghuni. Biasanya duo sabun colek Intan dan Dewi yang selalu menyambutnya sopan dan hormat, namun kali ini tak tampak keduanya.
Ia melirik arloji di pergelangan tangan. Hampir jam sembilan. Artinya jam masuk kantor sudah lewat hampir satu jam yang lalu.
Kembali ia melangkah masuk ke ruang pegawai dengan deretan kubikel yang berjajar rapi.
Sangat aneh. Tak ada satu pun pegawai yang menunjukan batang hidungnya. Termasuk Vika sang sekertaris yang biasanya lebih dulu datang di banding pegawai lainnya.
Dalam hati rasa penasarannya makin menggerogoti. Ferdian melangkah santai menuju ruangannya. Dan lekas membuka pintunya.“
“Welcome back, Pak Ferdiaaaannnn!!!”
Tiba-tiba para pegawai menyambutnya di dalam ruangan kerjanya dengan penuh suka cita.
Suasana sangat riuh rendah. Suara terompet kecil saling bersahutan. Semuanya bersorak ceria.
Ferdian tersenyum lebar melihat keadaan ruang kerjanya yang seperti acara pesta ulang tahun anak-anak. Spanduk kecil berwarna biru bertuliskan ‘Welcome Back My Boss' terbentang di atas meja kerjanya.
Vika dengan wajah yang ceria mengantarkan seikat bunga mawar pada Bossnya itu. Ferdian menerimanya dengan mengangkat alisnya sesaat.
“Aku gak suka bunga ini. Sukanya bunga deposito," seloroh Ferdian disambut tawa Vika.
Ferdian pun tersenyum bahagia saat para pegawai menghampirinya dan mengucapkan selamat bekerja kembali padanya.
“Terima kasih semuanya. Saya senang sekali, selama saya tak ke kantor semua pekerjaan kalian beres, bagus, dan target-target kerja kita tercapai semua. Nanti saya kasih bonus untuk semua. Oke?" ucap Ferdian disambut tepuk tangan bergemuruh dari para pegawainya itu.
“Outing dong, Pak! Outing! Outing...Outing...!” seru mereka kembali bergemuruh.
__ADS_1
“Ya...Ya... Oke. Baiklah.”
Kembali mereka bersorak seperti sekumpulan bocah yang kegirangan mendapat mainan baru.
“Oke semuanya, balik kerja lagi. Ayo. Hushh..Hushhh...Hushh...” Vika mengakhiri keseruan pagi ini. para pegawai pun beriringan keluar dari ruang kerja Ferdian dengan wajah-wajah ceria mereka.
Ferdian hanya geleng-geleng kepala sembari tersenyum lebar menyaksikan para pegawai tercintanya keluar dari ruang kerjanya.
“Sebentar saya suruh office boy bereskan ini ya, Pak,” ucap Vika kemudian pada Ferdian yang sudah duduk di kursinya dan membuka laptopnya.
“Tak apa. Biar saja. Ini jadi awal penyemangat saya. Besok saja dibereskan.”
“Baik, pak. Kalo begitu saya permisi dulu.”
Vika berlalu pergi keluar ruangan itu, meninggalkan Ferdian yang mulai sibuk berkutat menekuri layar laptopnya.
Tiba-tiba matanya tertuju pada layar ponselnya dengan gambar wajah Lusi bersama dirinya.
Kesedihan kembali melanda hati. Rasa rindunya pada gadis itu dirasa tak tertahankan lagi.
“Dimana kamu, Sayang?” lirihnya seraya menunduk dan menghela napasnya berat.
Ferdian tersenyum sesaat membayangkan wajah Lusi yang menggemaskan, lalu kembali berkonsentrasi pada pekerjaan di layar laptopnya.
***
Tepat jam empat sore. Waktunya berkemas. Ferdian menutup layar laptopnya setelah semuanya ter-shut down sempurna.
Diraihnya kunci mobil dan ponselnya dari atas meja, berikut jas hitamnya yang tergantung di kapstok di belakang kursinya.
Hari ini tujuannya adalah kios bunga Bu Dahlia. Berharap ia menemukan Lusi di sana. Bergegas dia masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai lobi. Laju lift itu terasa lambat baginya. Tak sabar tapi sampai juga akhirnya. Ferdian mempercepat langkahnya menuju mobilnya yang terparkir khusus di pelataran parkir yang tak jauh dari pintu lobi.
Menekan tombol hijau pada kuncinya untuk membuka pintu mobil. Lalu lekas dia masuk ke belakang kemudi. Bergegas dia menstarter mobilnya kemudian melaju keluar dari pelataran parkir gedung kantornya dan menekan pedal gasnya lebih dalam untuk segera sampai tujuan.
Tak lewat dari setengah jam, Ferdian tiba di muka kios bunga bu Dahlia yang tampak kosong. Sejenak dia menautkan kedua alis tebalnya melihat kios itu hanya tinggal kerangka dan tak terisi lagi.
Di parkirnya mobil nya tepat di depan kios kosong itu, lalu perlahan keluar mobil dengan pandangan yang tak lepas dari puing-puing kios dihadapannya.
Dia masuk ke dalam kios itu, yang tampak hanya tumpukan kerangka kayu bekas rangkaian bunga dan sampah-sampah yang berserakan.
__ADS_1
Masih dengan kebingungan yang menaungi hatinya, Ferdian menghampiri kios kelontong yang berada tepat di sebelah nya.
“Permisi, Pak. Ini kios Bu Dahlia kenapa kosong ya? apa sudah pindah?” tanya Ferdian pada bapak penjaga kios kelontong itu.
“Ohh, Bu Dahlia sudah gak jualan lagi, Om. Dia sudah pulang kampung.”
Ferdian tersentak kaget dan kecewa mendengar penuturan bapak itu.
“Sejak kapan beliau gak jualan lagi, Pak?”
“Sudah lama juga Om, kira-kira sudah satu bulan.”
“Ooh begitu, oke lah, terima kasih.“
Kembali Ferdian menelan pil pahit kekecewaan karena tak bisa menemukan Lusi. Harapannya bisa menemukan gadis itu bersama Bu Dahlia pupus sudah. Ferdian melangkah gontai menuju mobilnya. Lalu duduk di belakang kemudi dengan wajah yang tertekuk murung.
“Lusi...Lusi... Kemana lagi aku harus cari kamu?” lirihnya sendiri.
Dia melajukan mobil nya perlahan. Sambil matanya mencari-cari berharap menemukan sosok Lusi di jalan. Pikirannya benar-benar sudah buntu. Yang dia punya hanya tekad dan harapan bisa menemukan gadis kesayangannya itu.
Dia arahkan mobilnya menuju taman kota yang tak jauh dari situ, tempat Lusi biasa melamun dan melepas khayal. Lagi-lagi Dia berharap menemukan Lusi di sana.
Tiba di kawasan taman kota, tempat itu sangat ramai oleh anak-anak dan pemuda pemudi dengan kegiatannya masing-masing. Dia berjalan pelan melemparkan pandangannya. Satu persatu sudut taman di jelajahinya. Namun tak di temukan juga sosok Lusi disana.
Dia duduki bangku kayu yang langsung menghadap kolam kecil, posisi favorit Lusi ketika berada di taman itu. Lama dia duduk bersandar dengan pandangan menatap lurus ke depan, sambil mengenang masa-masa manis nya bersama Lusi. Membayangkan wajah imut Lusi ketika tersenyum, ketika tertawa, ketika merajuk, ketika menangis. Dia rasa masa-masa itu indah semuanya.
“Aaakhh, kenapa kamu tak mencari ku, Lusi? Atau kamu memang sudah tak peduli lagi? Kamu bikin aku jadi pening, Lusi,” ucapnya pada diri sendiri dengan suara tertahan.
Dengan malas, Ferdian bangkit dari duduknya dan menuju mobil nya yang terparkir diseberang taman. Lalu masuk ke belakang kemudi.
Sejenak di pejamkan matanya. Berjuta rasa Kecewa dan kesal dihatinya, karena sampai hari ini pun dia tak berhasil menemukan Lusi. Stresspun melanda dirinya. Ada rasa malas untuk kembali pulang ke rumah lebih cepat.
Di pacunya mobil nya menuju ke sebuah tempat yang sudah lama tak dikunjunginya. Dia Ingin menenangkan diri sejenak dan melepaskan beban pikiran yang menggelayut di benaknya.
Dari belakang, sebuah mobil sedan putih dengan setia mengikutinya sejak dia keluar dari gedung kantornya tadi, dan hingga kini melaju persis beberapa meter membuntutinya.
Sorry dorry the morry, Author baru update lagi...
**Yuk ah ngarep banget nih Like, Vote, Fave, Love, Kritik dan Sarannnya **
__ADS_1
**Thanks yang udah setia ngikutin Novel ini. I lop u pull... **