ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 81


__ADS_3

Bunyi ketukan sepatu jenis wedges terdengar berirama memasuki rumah mewah yang sangat elegant dan rapi milik Ferdian. Si pemakainya tampak ceria bersenandung lagu-lagu cinta. Senyumnya sumringah dengan sangat manisnya.


Cantika yang melenggang manja tampak sangat cantik dengan rambut panjangnya yang tergerai indah. Bunga-bunga cinta sedang tumbuh bermekaran di dalam hatinya. Karena acara makan siangnya yang sangat romantis dengan gebetan baru, Dio Aprilio tak disia-siakannya.


Di muka ruang makan, Mbak Ira yang sedang membawa baskom berisi air hangat melangkah tergesa-gesa dan nyaris menabrak dirinya.


“Aduuh, Mbak. Ngapain sih lari-lari? Untung gak kesiram air nih baju aku,” umpat Cantika melotot pada Mbak Ira.


“Boss ... Boss udah pulang ...” ucap Mbak Ira terburu-buru. Lalu meninggalkan Cantika yang terbelalak mendengar pemberitahuan Mbak Ira barusan.


“Kakak udah pulang? Kakaaaakkk!” seru Cantika langsung menghambur menaiki anak tangga satu persatu menuju kamar Ferdian.


Lekas dikuaknya pintu kamar kakaknya itu. Tampak olehnya Ferdian yang tengah terbaring di ranjang didampingi Reynard yang tengah berdiri di sampingnya.


“Kakak?“ panggilnya lirih. Lalu bergegas menghampiri.


Dipeluknya tubuh Ferdian yang masih lemah, lalu menumpahkan air matanya di dada Ferdian.


“Kakak udah sehat?“ tanyanya lembut seraya mengecup pipi kakaknya dengan penuh rasa sayang.


Ferdian hanya mengangguk. Tersenyum sekilas, lalu berusaha bangkit bersandar pada tumpukan bantal di belakangnya.


“Kamu dari mana?” tanya Ferdian lemah, menatap wajah adik tersayangnya.


“Aku.... Aku dari makan siang bareng teman, Kak.”


Ferdian menggenggam tangan Cantika dan meletakkannya di pangkuannya. Sebelah tangannya lagi mengusap air mata Cantika yang masih bergulir di pipi.


“Boleh aku tanya sesuatu sama kamu?”


Cantika mengangguk pelan.


“Lusi mana?” tanya Ferdian singkat dengan wajah datar dan pandangan yang masih layu.


Cantika terkejut mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu dari kakaknya. Dia kebingungan harus menjawab apa dan bagaimana menjelaskannya. Bola matanya bergerak-gerak menyembunyikan kegugupannya.


Ferdian masih memandangi wajah adiknya. Dia tahu Cantika sedang mencari-cari jawaban untuk pertanyaannya. Dia sudah tahu apa yang terjadi sebenarnya karena baru saja Reynard memberitahukan semua.


Dia sama sekali tidak marah pada pada adiknya itu. Cantika membenci Lusi karena dia belum tahu apa yang terjadi sesungguhnya. Ferdian sangat paham siapa Cantika, anak yang baik tapi sangat mudah terhasut oleh orang lain yang punya tujuan dan maksud tertentu.


“Lusi pergi,” jawab Cantika ketus dengan air mata yang merebak.


“Kenapa dia pergi?”


“Aku suruh dia pergi. Kak. Aku gak suka sama dia. Dia yang bikin kakak jadi begini.”


“Justru dia yang menyelamatkan aku, Cantika.“


Cantika makin terisak. Ferdian meremas jemari Cantika lembut.


“Aku rasa sudah waktunya kamu harus tau semuanya.”

__ADS_1


“Tahu apa, Kak?”


Sejenak Ferdian mengambil oksigen sebanyak yang dia bisa sebelum menjelaskan rahasia yang dia sembunyikan dari sang adik.


“Selama ini kamu sering bertanya-tanya sama aku atau sama Rey. Apa sebenernya yang kami sembunyikan. Terutama tentang pernikahanku dengan Lusi yang kamu anggap diam-diam, ya kan?”


Cantika mengangguk. Menatap wajah Ferdian dengan serius. Karena memang hal itulah yang selama ini dia tunggu-tunggu jawabannya.


“Lusi itu anak yatim piatu, Cantika. Sama seperti kita. Tapi hidupnya sangat menderita, beda dengan kita yang serba mudah. Sampai-sampai ibu tirinya menjual dia pada laki-laki tua dan akan di jadikan pekerja malam ke tempat-tempat maksiat. Tapi untungnya dia berhasil kabur dan ketemu dengan aku di jalanan pada tengah malam.”


“Ya Tuhan...” Cantika membelalak dan menutup mulutnya yang menganga karena kaget yang seolah menampar dirinya.


“Kamu tau siapa laki-laki tua yang menculik Lusi itu?”


Cantika menggeleng di tengah keterkejutannya.


“Bramanto, orang yang membunuh mama papa kita.”


Kali ini, rasa kaget itu bukan lagi seolah menamparnya, tapi menusuk ulu hatinya ketika mendengar nama laki-laki itu di sebut kakaknya.


“Hah?! Astaga.“ Cantika tersentak mendengar nama itu. Tentu saja dia ingat benar siapa itu Bramanto. Air matanya kembali merebak mengingat kembali kematian orang tuanya yang tragis.


“Aku pikir aku butuh kasus Lusi untuk menyeret Bramanto ke penjara karena dendamku padanya yang telah membunuh mama papa. Dan Lusi pun butuh aku untuk melindungi dia, jadi kami sepakat untuk hidup bersama. Menikah.”


“Jadi kakak dan Lusi menikah tanpa cinta? Cuma sekedar pura-pura begitu?” tanya Cantika penasaran.


Ferdian menoleh pada Reynard yang tengah duduk di kursi kerjanya sambil melipat tangan di depan dada.


“Ini, baca baik-baik,” suruh Reynard seraya membuka map itu ke hadapan Cantika.


Cantika membacanya perlahan dan dengan sangat teliti. Bola matanya bergerak-gerak dengan raut wajah yang sangat serius. Satu persatu kalimat di berkas itu dia cerna baik-baik. Tak ada satu katapun yang dia lewatkan hingga pada akhir halaman dan tanda tangan keduanya, Ferdian dan Lusiana.


Dia menoleh pada Ferdian dan Reynard bergantian.


“Kak, apa termasuk pengambil-alihan harta warisan ayahnya Lusi?” tanya Cantika membutuhkan jawaban segera.


“Iya, Cantika. Kami bantu dia untuk ambil alih harta warisan ayahnya yang dikuasai ibu tirinya. Itulah kenapa Pengacara dan Notaris datang ke rumah ini,” jawab Reynard tegas.


Jantung Cantika serasa merosot dari tempatnya saat itu juga. “Ya Tuhan, aku sudah menfitnah Lusi. Aku kira kak Ferdian panggil pengacara untuk mengalihkan sebagian harta kakak untuk dia,” ujar Cantika merasa tak enak hati karena telah berburuk sangka pada Lusi.


“Lusi gak pernah punya pikiran seperti itu, Cantika. Dia terlalu lugu untuk itu," ucap Ferdian sembari tersenyum kecil.


“Kita cari Lusi ya, Kak. Aku mau minta maaf. Aku salah selama ini. Aku terlalu percaya dengan omongan Kak Amanda.”


“Dan satu lagi yang harus kamu tau, kenapa aku gak jadi nikah dengan Amanda. Karena aku tangkap basah dia sedang making love dengan laki-laki lain, tepat sehari sebelum kami akan melangsungkan ijab kabul.”


Kelopak mata Cantika semakin lebar terbuka saat mendengar apa yang diungkap Ferdian. “Ya Tuhan. Kenapa Kakak gak pernah cerita sama aku, Kak?” Cantika menggenggam jemari Ferdian. Dia ikut merasakan sakit hati yang dirasakan kakaknya itu pada Amanda.


“Aku gak pernah mau umbar aib orang, Tika. Aku cuma ingin hidup tenang tanpa dibayang-bayangi masa lalu yang menyakitkan.”


“Berarti dia memanfaatkan aku selama ini supaya dia bisa dekat lagi dengan Kakak. Dasar perempuan jahat!” geram Cantika mengingat semua perkataan Amanda yang telah membuatnya terhasut dan menanam kebencian pada Lusi.

__ADS_1


Ferdian menghela nafasnya sejenak, kepalanya masih terasa pusing dan berat.


“Ya sudah, yang penting kamu sudah tau semua. Dan segera kita cari Lusi, oke.”


Cantika mengangguk. Lalu menghambur ke dalam pelukan Ferdian. Dia tersenyum senang, semua kesalahpahaman selama ini akhirnya terpecahkan.


Kini yang tersisa di dirinya hanya rasa bersalah dan penyesalan. Keinginan terbesarnya saat ini adalah segera menemukan Lusi dan memohon maaf padanya.


***


Cantika termenung di kamar, melipat kaki nya di atas ranjang sambil menelungkupkan kepala di antara kedua lututnya.


Dia benar-benar malu terhadap kakaknya dan Lusi. Yang kini ingin dia lakukan adalah segera mencari Lusi dan membawanya kembali ke rumah ini.


Tiiingg...Tiiingg....Tiiiingg...


Bunyi deringan dari telepon genggamnya memanggil. Dengan malas Cantika mengambilnya dari atas meja belajar.


Tampak nama kontak Amanda di layarnya. Darahnya seketika berdesir kencang menahan kesal.


“Halo !” jawabnya kasar.


“Hey Cantika? Kamu kenapa?” tanya Amanda dari seberang.


“Heh, Amanda. Kamu jangan hubungi aku lagi. Aku gak mau lihat muka kamu yang munafik itu,” serang Cantika penuh emosi.


“Loh? Maksudnya apa ini?”


“Jangan pura-pura gak tau deh, selama ini kamu cuma manfaatkan aku 'kan supaya kamu bisa balikan lagi dengan kakakku. Gak semudah itu, Fulgoso!”


“Kamu salah paham, Cantika. Aku tulus kok ingin dekat dengan kamu seperti dulu.”


“Aahhh, munafik! Inget yah, percuma kamu deketin aku, karena kakakku udah alergi sama kamu. Wanita macam apa yang sempat-sempatnya bercinta dengan laki-laki lain sehari sebelum menikah dengan kakakku.”


“Hah? Siapa yang bilang begitu, Cantika?”


“Kakakku sendiri. Dia sudah sembuh dan sudah pulang ke rumah. Dia cerita semua kenapa kalian gak jadi nikah dua tahun lalu.”


“Terus kamu percaya dengan Ferdian yang baru sembuh? Apa jangan-jangan otaknya bergeser, jadi omongannya ngelantur begitu."


“Heh, Kurang ajar! Kakakku sehat wal afiat dan Aku lebih percaya kakakku dari pada kamu.“


“Cantika, kamu juga harus dengerin aku dong….”


“Gak perlu, sudah ya. Ini terakhir kita bicara. Aku gak mau ketemu kamu lagi.”


Cantika lekas memutuskan sambungan teleponnya. Dan memblokir nomor kontak Amanda.


Satu keputusan terbaik telah di ambil Cantika. Menutup akses dari Amanda. Hatinya sakit dan geram karena merasa bodoh telah dimanfaatkan oleh wanita itu dan menjadikan dirinya dzolim terhadap Lusi yang sama sekali tak bersalah.


**Please, Like, Love, Fave, Vote, 5 Rate, silahkan Kritik dan sarannya yah.  **

__ADS_1


__ADS_2