ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 92


__ADS_3

Ivan membakar batangan rokok putihnya sesaat. Ditariknya dalam-dalam lalu dihembuskan asapnya dengan sangat panjang. Membuat ruangan apartement Amanda itu mengebul macam kebakaran hutan.


Di angkat kedua kakinya di atas meja lalu disilangkan saling bertumpuk, membuat dirinya merasa nyaman bersandar pada sandaran sofa di belakang punggungnya.


Amanda yang baru keluar dari kamarnya, beberapa kali terbatuk- batuk menghirup asap hasil pembakaran rokok Ivan. Dikibas- kibaskan sesaat telapak tangannya di depan hidungnya untuk mengusir bau asap rokok yang masih mengepung ruangan. Kemudian dia tempatkan duduknya dengan santai persis di samping Ivan.


Ivan mematikan rokoknya ke dalam asbak, lalu beralih pada Amanda disampingnya yang hanya mengenakan kemeja putih tanpa bawahan. Wanita itu sengaja menampilkan kaki jenjang dan mulusnya. Dan dengan rambutnya yang di cepol tinggi menampilkan kulit lehernya yang tampak mulus dan sensual.


Gairah liar Ivan tiba- tiba meninggi. Dia tak mampu menahan tangannya dan mulai menggerayangi paha mulus Amanda yang melipat saling bertopangan.


Perlahan dia dekatkan wajahnya pada leher Amanda, kemudian menjilat bagian belakang telinganya seraya mengecup daun telinga itu dengan lembut.


Amanda bereaksi tapi tak seperti biasanya dia merespon setiap sentuhan Ivan. Dia hanya menolak tipis-tipis dengan gaya sensualnya. Membuat Ivan semakin penasaran lantaran menerima cara penolakan seperti itu.


Rasa tak sabar membendung nafsunya, tangannya mulai merambah naik menyelusup ke dalam liang-liang antara kancing kemeja putih Amanda, lalu meloloskan beberapa kancing bagian atas kemeja itu. Kemudian menyentuh benda kenyal dibaliknya dan diremasnya perlahan hingga sesekali terdengar desahannya sendiri.


Karena merasa tak nyaman disentuh seperti itu, Amanda menolaknya secara terang- terangan dengan menepis tangan Ivan dari dadanya. Lalu membetulkan letak kemejanya yang sudah terbuka di bagian atas dan menampakan sembulan bulat yang sangat menantang dari baliknya.


Ivan menghentikan aksinya dengan kecewa dan disertai tanda tanya besar di benaknya. Tak habis pikir dengan penolakan Amanda terhadap aksi manjanya barusan. Dia sangat tahu, biasanya di titik itulah yang membuat Amanda mudah terbakar gairah.


“Hei, tumben? Kenapa?” tanya Ivan penuh keheranan, terlebih melihat Amanda tampak tak berselera menanggapi setiap sentuhannya.


“Lagi gak pengen,” jawab Amanda singkat sekenanya.


Ivan mulai tampak kesal karena semudah itu Amanda menghindar dan menolak keinginannya. Dia benar- benar kesal karena gairah liarnya yang mulai menanjak naik tiba-tiba harus segera dilengserkan dengan terpaksa.


Dia tarik pinggang Amanda dengan sentakan hingga menempel erat pada tubuhnya.


Seketika itu juga Amanda merasakan mual yang sangat. Dia merasa seperti ada sesuatu di dalam perutnya yang tengah bergumul hebat dan meronta-ronta minta dikeluarkan dengan segera.


Wajahnya pucat seketika. Tak dapat dia tahan lagi, dia langsung melesat cepat ke kamar mandi lalu menumpahkan isi perutnya.

__ADS_1


Ivan yang mendengar suara Amanda dari balik pintu kamar mandi yang tak tertutup ikut masuk ke dalamnya dan melihat Amanda tengah berjongkok dengan kepala menghadap lubang toilet dan berjuang menguras isi perutnya melalui mulutnya.


“Kamu kenapa, Amanda?” tanya Ivan khawatir melihat Amanda yang pucat pasi seperti tak ada darah yang mengalir ke seluruh pembuluh di wajahnya.


Mualnya yang masih terasa membuatnya enggan untuk menjawab pertanyaan Ivan. Amanda masuk ke dalam kamar dan kembali lagi membawa sebuah amplop putih panjang berlambang logo sebuah rumah sakit, lalu dilemparkan ke atas meja persis di hadapan Ivan.


Masih dengan kebingungan yang menggelayuti benaknya, Ivan meraih amplop putih itu lalu membaca isinya perlahan.


“Positif?” gumamnya pelan.


“Kamu hamil, Amanda?” tanya Ivan dengan kening yang mengerut menatap Amanda yang terduduk lemas di sofa.


Amanda hanya menjawab dengan anggukan lemah karena mual yang masih terasa di dalam perutnya.


Ivan menghampiri Amanda dan duduk persis di hadapannya. Wajahnya mulai mendekat pada wajah Amanda. Dan menatapnya tajam. Dia mengangkat dagu Amanda untuk menghadapi wajahnya.


“Benih siapa itu?” tunjuk Ivan pada perut Amanda.


“Benih kau, Sial4n!” jawab Amanda ketus seraya menepis kasar tangan Ivan dari wajahnya.


“Yakin itu benih aku?” tanyanya rasa tak percaya dengan memicingkan matanya pada Amanda. Curiga.


“Terus benih siapa lagi? Apa benih kuda?” seru Amanda geram mendongakkan wajah menantang Ivan.


“Hei, Amanda, Aku tau kamu itu tidur bukan cuma dengan aku saja. Bahkan ada beberapa laki-laki yang aku kenal juga tidur denganmu. Ya kan? Apa perlu aku panggilkan mereka sekarang juga ke hadapanmu?” tantang Ivan seraya mengangkat handphonenya ke udara.


Mendapat tantangan itu, Amanda meneguk saliva. Namun dia berusaha tetap tenang.


“Aaaahh, gak penting ini benih siapa, yang penting aku sekarang hamil. Dan inilah yang kuharapkan menjadi senjataku untuk mengikat Ferdian dan segera menikahi aku.” Amanda tersenyum sinis pada Ivan sambil mengelus-ngelus perutnya yang masih rata.


Ivan terperangah mendengar jawaban Amanda yang tampak tak merasa berdosa. Dia menggeleng-geleng kepala lalu terdiam sesaat menatap tajam Amanda.

__ADS_1


“Apakah ada benih Ferdian juga di situ? Sewaktu kau jebak dia di kamar hotel malam itu?” lanjut Ivan bertanya dengan suara tegas.


Amanda malah tertawa geli mendapat pertanyaan itu, membuat Ivan berpikir apa jangan-jangan sudah gila akut wanita ini.


“Aduh, Ivan. Boro-boro dia kasih benihnya untuk aku, Van. Menyentuh tubuh aku barang sedetik pun tidak. Sepanjang malam sampai pagi dia cuma tidur seperti orang mati,” tutur Amanda di sela kekehan gelinya.


“Tapi tak apalah, yang penting aku udah berhasil membuat dia percaya bahwa aku hamil karena dia. Toh saat itu dia juga tak sadar melakukannya atau tidak,“ lanjutnya lagi tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.


“Bener- bener luar biasa kamu, Amanda. Akting kamu hebat.” puji Ivan sambil menepuk tangan memberi applause pelan dan tersenyum kecut melihat Amanda yang tampak begitu senang karena berhasil menjebak Ferdian.


“Dan kau tau, Van. Dua minggu lagi dia akan menikahi aku. Dan aku sedang mempersiapkan untuk itu.”


“Aku yakin dia pasti akan meminta tes DNA anak itu, Nda,” tunjuk Ivan ke perut Amanda.


“Dan begitu dia tau hasilnya bahwa itu sama sekali bukan anak dia, kau pasti akan langsung diceraikannya,” lanjut Ivan dengan tatapan serius.


“Itu urusan nanti, Van. Dan itu masalah kecil. Yang penting sekarang aku bisa nikah dulu sama dia. Yaaah, walaupun cuma sederhana yang penting sah.”


“Dan sebentar lagi aku resmi menjadi Nyonya Ferdian Adiwijaya. The one and only,“ ucap Amanda seraya mengangkat dagunya dengan penuh kebanggaan.


Ya tentu saja, bagaimana tidak bangga menjadi istri dari seorang yang kaya raya dan royal. Itulah yang Amanda kejar dari Ferdian selama ini.


Terlebih lagi mengingat kondisi keuangannya kini yang sedang mengalami keterpurukan. Dan dia yakin sosok Ferdianlah yang benar-benar dia butuhkan untuk menyelamatkan keuangannya yang tengah sekarat ini.


Untuk urusan cinta baginya itu nomor dua. Dia sangat tau, Ferdian sama sekali tak menyukainya apalagi mencintainya, namun hal itu bukan masalah baginya. Yang penting tujuan utamanya berhasil sesuai yang dia harapkan.


Dan Ivan pun menyungging senyum puas penuh arti seraya menatap Amanda yang tengah melambungkan khayalannya.


Semoga berhasil, Amanda!


TERIMA KASIH UNTUK LIKE, LOVE, FAVORITE, 5 RATE ,VOTE, KRITIK DAN SARANNYA.

__ADS_1


SEMUANYA SANGAT MEMBANTU SEMANGAT AUTHOR UNTUK UP DATE TERUS SETIAP HARI 


SALAM SEHAT SELALU...


__ADS_2