
Nadia, sekertaris Reynard yang cantik dan molek menurut standarisasi Reynard, melangkah anggun memasuki ruangan kerja Reynard. Langkah gemulai nya bak peragawati yang sedang beraksi di panggung cat walk. Berniat menarik perhatian Boss nya dengan menurunkan sedikit kerah blazernya.
“Mas, ini berkas-berkas yang Mas minta tadi. Semuanya udah aku cek. Lengkap," ucap Nadia dengan suara yang lembut seraya menyerahkan beberapa map biru di hadapan Reynard.
Reynard yang tengah serius memperhatikan deretan angka-angka di layar laptopnya tak menggubrisnya. Hanya menoleh pada tumpukan berkas di atas mejanya.
Penasaran, Nadia mendekati kursi Reynard. Lalu menyandarkan ‘bamper’ montoknya pada tepi meja hingga dirinya berhadapan dekat dengan Bossnya yang tampan tak berujung itu.
“Mas..?” panggilnya lembut. Jemari lentiknya mulai menyentuh punggung tangan Reynard. Menggelitik pelan dengan kuku-kuku panjangnya yang ber-kutek merah maroon. Memberikan sensasi geli-geli nikmat di kulit Reynard.
Namun Reynard masih bertahan pada pekerjaannya yang saat ini benar-benar membutuhkan konsentrasi full, karena menyangkut angka-angka yang hasilnya harus di pertanggung jawabkan pada tim audit.
“Mas...?” Kembali Nadia memanggil lirih, dan menggeser lagi ‘bamper’ indahnya lebih dekat lagi. Kali ini sengaja dia menutup pandangan Reynard pada layar laptopnya.
“Maaf yah, Nad. Aku lagi kerja. Tolong jangan ganggu,” mohon Reynard datar. Lalu menggeser kembali laptopnya lebih dekat ke hadapannya.
Nadia yang merasa tak dipedulikan mendengus kesal.
“Pasti udah ada yang lain ya, Mas?” tuduh Nadia merajuk dengan raut kesal.
Reynard sama sekali tak menjawab. Dia tetap setia pada konsentrasinya.
Nadia kesal melihat Reynard benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat padanya. Biasanya Reynard yang menggodanya, kini menoleh sedikitpun tidak.
“Huh...Itu berkas-berkasnya.” Nada suara Nadia mulai meninggi dan kesal.
“Iya, terima kasih. Dan tolong panggil aku Pak atau Bapak ya. Jangan panggil Mas kalo di kantor. Harus Profesional, oke,” ucap Reynard sebelum Nadia melangkah meninggalkan ruangan itu dengan kekecewaan yang mendalam karena Boss nya itu tampaknya tak bernafsu lagi padanya.
Reynard memeriksa satu persatu tumpukan berkas di mejanya. Lembar demi lembar di baca nya dengan teliti. Dan ada salah satu berkas yang bukan untuk dirinya tapi ditujukan untuk Veronika.
Reynard meraih gagang teleponnya dan memencet angka tiga untuk koneksi langsung ke sekertarisnya. Namun sama sekali tak ada jawaban. Di ulangi beberapa kali tetap tak ada jawaban dari sekertarisnya yang cantik itu.
Dengan malas dia bangkit dari duduknya dan meninggalkan pekerjaannya sejenak, keluar dari ruangannya menuju meja sekertarisnya. Di tengoknya meja Nadia, tak ada dia di sana. Reynard melirik jam tangannya. Sudah hampir jam lima sore. Mungkin Nadia sudah pulang, pikirnya.
Bergegas di langkahkan kakinya menuju meja sekertaris pribadi Veronika. Begitu juga dengan Diana, sudah tak ada lagi penampakannya di sana. Diedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu. Tampaknya para pegawai juga sudah pulang semua. Hanya seorang office boy yang sibuk mondar mandir membereskan ruangan itu.
Dia putuskan untuk kembali ke ruangannya. Dan menyelesaikan pekerjaan pentingnya yang sempat tertunda.
Jarum jam menunjukan pukul tujuh, namun pekerjaan nya belum juga rampung. Badan nya mulai terasa penat dan otaknya pun mulai berdenyut minta segera diistirahatkan. Sejenak dia mengangkat kedua tangannya meluruskan pinggang dan punggung nya yang terasa pegal dan tegang. Lalu mulai berkemas-kemas untuk pulang dan memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya di apartementnya.
****
Masih dengan piyama mandi nya yang membalut tubuh seksii nya dan handuk kecil yang tergantung di lehernya untuk menahan tetesan air dari rambutnya yang basah, Reynard mulai mengeluarkan berkas-berkas pekerjaannya ke atas meja kerjanya.
Matanya tertuju pada satu map yang bertuliskan nama Veronika di atasnya. Di rabanya nama VERONIKA di map itu seraya membayangkan wajah cantik dan senyum manisnya. Seketika jantungnya berdegub tak normal. Kali ini terasa lebih kencang.
“My God, kayaknya aku jatuh cinta sama dia,” gumamnya sendiri seraya memejamkan mata dan menyentuh dada sebelah kirinya.
Diliriknya map biru di tangannya, seketika senyumnya mengembang lebar.
“Hai, Mommy nya Reyhan, I’m coming,” ucap nya seraya bergegas menuju lemari pakaiannya. Dan memilih celana jeans beserta t-shirt merah untuk segera dikenakannya.
Sejenak mematut dirinya di cermin besar di samping ranjangnya. Dan tersenyum sendiri demi melihat bayangan nya yang di rasa sudah ganteng maksimal untuk berhadapan dengan Veronika.
Dengan menggenggam map biru, sebagai modusnya untuk menemui Veronika, Reynard bergegas keluar dari apartementnya dan menuju kamar lift dengan tujuan lantai lima belas.
Tak sampai dua menit, pintu Lift terbuka. Reynard melangkah penuh percaya diri menuju unit apartement Veronika.
Di tekannya bell di samping pintu beberapa kali. Sejenak dia merapikan rambutnya dengan jemarinya sambil menunggu si empunya apartement membukakan pintu untuknya.
Pintu pun terbuka, tampak wanita setengah baya, baby sitter nya Reyhan muncul dari balik pintu.
“Ooh...Temannya Reyhan.” Sambut wanita itu ramah karena sudah mengenal wajah Reynard.
“Iya, Bu. Mau main sama Reyhan, dia belum tidur, kan?”
“Belum, silahkan masuk,” ucap wanita itu seraya melebarkan pintu untuk Reynard.
Reynard perlahan melangkah masuk dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan apartement yang lumayan besar itu, walaupun tak seluas unit pribadinya. Tapi tampak sangat nyaman dengan interior nya yang elegant dan serba antik.
Matanya mencari-cari sosok Veronika tapi tak tampak. Ingin rasanya menanyakan pada babysitter Reyhan ini kemana si Mommy nya Reyhan berada, tapi lidahnya kelu.
__ADS_1
“Langsung ke kamar nya aja, Pak.” Wanita itu menuju kamar Reyhan dan membuka pintunya.
Tampak bocah kecil yang menggemaskan itu sedang duduk di meja belajarnya tengah menunduk serius dengan buku gambar dan pensil warnanya.
“Selamat malam, Reyhan,” sapa Reynard pelan seraya menghampiri nya.
Reyhan menoleh dan seketika wajahnya sumringah mendapati Reynard berdiri di sampingnya.
“Om Rey....” Spontan bocah itu melingkarkan kedua tangan kecilnya ke pinggang Reynard dan menempelkan kepalanya di sana. Reynard yang mendapat perlakuan manis itu mengulum senyum merasa terharu. Lalu di usap nya kepala Reyhan dengan lembut.
“Lagi bikin apa, Rey?” Perlahan Reynard melepaskan tangan kecil Reyhan dari pinggangnya dan mengalihkan perhatian Reyhan pada buku gambarnya yang penuh dengan coretan warna.
Di perhatikannya sejenak gambar yang baru di buat Reyhan. Dua orang dewasa mengapit satu anak laki-laki. Reynard tersenyum kecil.
“Ini pasti Mommy, Daddy dan ini Reyhan.” Tunjuk Reynard pada gambar itu.
Reyhan menggeleng, ”Ini Mommy, ini Daddy, dan ini aku,” sebut Reyhan dengan suaranya yang terdengar lucu sambil menunjuk gambarnya.
“Ya sama aja kali,” seru Reynard sambil tersenyum lebar.
Kembali Reyhan menggeleng, “Ini Mommy Vero, ini Daddy Rey, ini aku,” ucapnya polos.
Reynard menatap wajah imut Reyhan yang kembali sumringah menatap Reynard. Ucapan polos anak itu serasa semilir angin yang menyegarkan di hatinya.
“Emang kamu mau Om Rey jadi Daddy kamu?” tanya Reynard pelan mencubit gemas pipi gembil Reyhan.
Spontan Reyhan mengangguk mantap. ”Mau,” ucap nya kemudian.
“Toss dulu dong.” Reynard mengangkat telapak tangannya ke hadapan Reyhan lalu anak itu menepuknya dengan keras.
“Mommy kamu mana?” tanya Reynard lagi, tak sabar ingin segera melihat wajah cantik Veronika.
“Mommy pergi sama Daddy,” jawab Reyhan polos.
“Hah? Sama Daddy? Katanya Daddy kamu Om Rey, gimana sih?”
“Kata Mommy, Mommy pergi dulu sama Daddy,” jelas Reyhan dengan mimik wajah menggemaskan.
Reynard menggeleng-geleng kepala tak mengerti apa yang di bicarakan Reyhan. Lalu bangkit berdiri dan mengacak-ngacak rambut halus Reyhan.
“Reyhan sudah tidur, Mbak?” Terdengar suara Veronika
Pendengaran Reynard menangkap suara merdu itu. Tak sabar, Reynard pun keluar dari kamar Reyhan.
Reynard terkejut melihat Veronika berdiri di depan pintu bersama seorang pria yang merangkul pinggangnya dengan mesra. Rasanya bagai mendapat tamparan keras di kedua pipinya,
Begitupun Veronika yang tak kalah kagetnya mendapati Reynard berdiri di samping pintu kamar Reyhan tengah menatap tajam ke arah nya.
“Rey?” panggil Veronika gugup. Lalu menghampiri tempat Reynard berdiri.
“Vero,” balas Reynard mencoba santai mengusir kegundahan hatinya.
“Sudah lama?” tanya Veronika lagi.
“Ah, baru kok. Oiya, Maaf malam-malam kesini. Aku cuma mau antar berkas kamu yang terbawa sama aku. Ini," ucap Reynard seraya menyodorkan map biru yang awalnya menjadi modusnya ternyata gagal total karena pemandangan mesra Veronika bersama seorang laki-laki.
“Oh, terima kasih. Aku memang cari-cari ini dari tadi,“ ujar Veronika setelah membaca catatan perihal di berkasnya.
Reynard dan Veronika tampak grogi dan salah tingkah. Berbagai pikiran berkecamuk di benak keduanya. Reynard yang sedikit merasakan patah hati mencoba tersenyum kecil dan membendung perasaan kecewanya agar tak tampak di raut wajahnya.
“Vero?” Panggilan laki-laki yang bersama Veronika tadi memecahkan kegugupan diantara keduanya.
“Ooh, Iya. Kenalin Rey, ini Ridza, Daddy nya Reyhan. Baru datang dari Kuala Lumpur tadi siang.”
Laki-laki itu menyodorkan telapak tangannya pada Reynard. “Ridza.”
“Reynard.” Sebut Reynard seraya membalas jabatan tangannya.
“Ooh ini Reynard yang kamu ceritakan tadi, Vero?” tanya Ridza seraya menatap Reynard dengan tatapan kurang bersahabat.
Reynard menoleh bingung pada Veronika yang berdiri dekat di sampingnya.
__ADS_1
“Cerita apa?” bisiknya.
Veronika mencubit pinggang belakang Reynard membuat si babang tampan meringis pelan.
“Iya, ini Reynard. Calon suami aku,” ucap Veronika tiba-tiba.
“What???” Kembali Reynard tersentak kaget.
Cubitan Veronika kembali mendarat di pinggang Reynard, kali ini sangat kencang. Membuat Reynard mendelik kesal padanya.
“Tapi tampaknya Reynard tak tau kalau akan dijadikan suami Vero, ya?” tanya Ridza curiga melihat tingkah mereka berdua yang begitu kaku dan gugup.
“Justru Reynard yang meminta aku untuk jadi istrinya, tapi ya memang belum secara resmi sih. Ya kan, Sayang?” tutur Veronika berdusta sambil menatap mesra pada Reynard, namun cubitannya sudah bersiap-siap mendarat kembali di pinggang belakang Reynard.
“Aaa, iya. Betul betul betul. Bentar lagi kita nikah ya sayang, Muuahh...” Seru Reynard berusaha memainkan aktingnya secara sempurna dengan merangkul bahu Veronika dan mengecup kepalanya. Membuat Veronika terbelalak membuang pandangannya.
“Baiklah, silahkan kalian menikah, tapi aku mau bawa Reyhan ke KL, dia anak ku juga. Jadi aku juga berhak,” ujar Ridza datar menatap keduanya.
“Oo, No. Kalo tujuanmu cuma untuk memanfaatkan Reyhan aku gak akan kasih ijin,” sergah Veronika cepat. Reynard yang berdiri di sampingnya hanya menyimak bingung percakapan keduanya.
“Reyhan...Reyhan Sayang....” Panggil Ridza melangkah menuju kamar Reyhan.
Bocah kecil yang sedari tadi berdiri di belakang pintu mendengar pembicaraan kedua orang tuanya hanya menatap wajah laki-laki itu tanpa ekspresi apapun.
“Reyhan ikut Daddy ya ke KL, nanti Reyhan ketemu datuk dan nenek di sana. Rumah nya luas nanti Reyhan bisa puas main di sana, Oke, Nak?” Rayu Ridza pada Reyhan.
Bocah kecil itu menggeleng lalu menghampiri Reynard dan Veronika, menyelip diantara keduanya.
“Reyhan mau apa saja, nanti Daddy belikan, oke?”
Kembali Reyhan menggeleng. “Om...“ panggil Reyhan mendongak pada Reynard lalu menyandarkan kepala kecilnya pada pinggang Reynard.
“Sudahlah, Reyhan tak mau ikut. Percuma kamu bujuk dia dengan apapun. Lebih baik kamu kembali ke KL dan carilah istri baru yang bisa kasih kamu keturunan,” ucap Veronika tegas.
Ridza menghela nafasnya berat. Lalu mengangguk lemah.
“Baiklah aku pulang, tapi tolong jangan halang-halangi aku lagi jika ingin bertemu anakku.” Pinta Ridza seraya menoleh pada Reyhan yang menyembunyikan wajahnya di pinggang Reynard, enggan menatap Daddy kandungnya.
“Dan Reynard, setelah kalian nikah tolong jaga Reyhan baik-baik ya, anggap dia anak kamu sendiri.” Ridza menepuk bahu Reynard.
“Ohh, sudah pasti itu, Tenang saja. Don’t worry, Man. Aku akan menganggap Reyhan sebagai anakku sendiri dan Veronika sebagai istri ku sendiri,“ seru Reynard seraya membalas menepuk bahu Ridza.
Ridza menautkan kedua alisnya mendengar ucapan Reynard. Kemudian beralih menatap Veronika yang tanpa sadar mengaitkan tangannya pada lengan Reynard.
“Baiklah, aku pamit. Selamat malam,” pamit Ridza seraya membalikkan badan dan melangkah keluar dari apartement itu.
“Puuufffhh....” Veronika menghembuskan nafasnya lega. Lalu memeluk anaknya yang sedari tadi menggamit pinggang Reynard.
“Terus, kapan kita nikahnya?” tanya Reynard kemudian menoleh pada Veronika dengan tatapan serius.
“Reeeyyy....Itu tadi akting, akting. Gak ngerti amat sih,” omel Veronika melotot gemas pada Reynard.
“Yaaa, Kirain betulan. Ngarep.com.“ Nada suara Reynard terdengar kecewa.
“Daddy nya Reyhan mau bawa Reyhan ke Kuala Lumpur, cuma untuk memanfaatkan Reyhan aja. Karena kakek nya akan menurunkan warisannya lebih besar untuk putra-putranya yang mempunyai keturunan. Sementara istri baru nya tak bisa memberikan keturunan untuk dia,” tutur Veronika lugas untuk menjawab kebingungan Reynard yang sedari tadi dia tunjukan.
“Oo, begitu. Kasihan Reyhan,” ucap Reynard seraya mengusap lembut kepala Reyhan.
“Makanya sewaktu makan malam tadi, aku bilang sama dia kalo aku akan nikah sama kamu, dan kamu gak akan biarkan Reyhan di bawa ke KL.” Lanjut Veronika.
Reynard mendelik pada Veronika. “Kenapa pake namaku? Kenapa gak nama Joni kek, Parto kek atau nama laki-laki yang lain gitu?“
Seketika Veronika tersipu mendapat pertanyaan yang sulit untuk dia jawab.
“Ya, tiba-tiba aja ingat nama kamu,” jawab Veronika ditengah senyum malunya.
“Alaaahh, bilang aja kamu emang mikirin aku. Pake ngeles. Dasar wanita,” seru Reynard menggoda, membuat kedua pipi Veronika makin merona.
Reynard tertawa melihat Veronika yang tampak grogi dan salah tingkah di hadapannya. Namun cukup membuat Reynard makin yakin bahwa Veronika juga merasakan perasaan yang sama padanya. Falling in Love.
UHUUUYY...HAJAR TERUS, BAAANG...AKU PADAMU BANG REY...
__ADS_1
**JANGAN LUPA LIKE, VOTE, FAVORITE, 5 RATE KRITIK DAN SARAN YA. **
HAPPY READING, GAESSS.....BIKIN YANG ASIK ASIK AJA LAH