ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
SIDE STORY / EXTRA PART 7


__ADS_3

Ferdian berkacak pinggang menatap heran pada Reynard yang tengah membongkar isi kotak kardus yang dia bawa dari Apartementnya.


“Sintya, good bye...”


“Elizabeth, good bye...”


“Jenny, good bye...”


“Sanchai, annyeong ..”


Satu persatu foto dirinya beserta para wanita yang pernah singgah di kehidupannya dia lempar ke dalam plastik sampah.


Begitu juga dengan barang-barang pemberian dari para wanita itu, ikut bergabung bersama foto-fotonya.


“Aku rasa kau ini gila, Rey. Perempuan sebanyak itu kau buat koleksi. Parah kau,” ucap Ferdian sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan Reynard.


“Makanya sekarang aku mau insyaf, Bro. Kau dukung aku dong,” sahut Reynard dengan nada suara lirih dan pelan seraya menyingkirkan kotak kardus dari atas meja kerja Ferdian lalu diturunkan ke lantai.


“Ada apa, Rey?“


Reynard menegakkan duduknya dan serius menatap wajah Ferdian. Dia berpikir sejenak untuk mengatur kata-kata yang akan dia kemukakan pada sahabatnya itu. Ferdian memicingkan sebelah mata menunggu jawaban Reynard.


“I’m in love, Bro,“ ucap Reynard pelan menatap sendu pada Ferdian.


“Hahahahahaa.....” Tanpa diduga Ferdian tergelak ngakak mendengar kalimat itu. Terlebih melihat ekspresi wajah Reynard yang begitu memprihatinkan menurutnya.


Reynard tampak kesal melihat sikap Ferdian yang seolah tak percaya dengan kata-katanya yang memang keluar dari lubuk hati yang terdalam.


“Aku gak berhak fall in love, ya? Aku kan juga pengen menikah, kayak kau,“ tanya Reynard lirih seraya melemparkan pandangannya ke arah lain.


Ferdian menghentikan gelaknya seketika karena melihat Reynard tampak serius dengan ucapannya.


“Ehem....Oke, jadi siapa wanita yang ‘beruntung’ itu?” tanya Ferdian menekankan kata ‘beruntung’ dalam nada suaranya.


Reynard kembali menatap Ferdian. Dia agak ragu menjawab pertanyaan itu karena dia takut Ferdian akan sangat kecewa padanya begitu tahu siapa wanita pilihan hatinya.


“Siapa, Rey?” ulang Ferdian makin penasaran dengan diamnya Reynard.


“Veronika,” sebutnya pelan. Sorot matanya meredup, tak kuasa menatap wajah Ferdian.


Ferdian tersentak kaget mendengar nama wanita yang disebut Reynard.


“Maksud kamu Veronika keponakan Bramanto?” tanya Ferdian lagi meyakinkan pendengarannya.


Reynard hanya mengangguk tak berani mengangkat wajahnya. Hatinya galau setelah menyebut nama Veronika pada Ferdian.


Dia takut jika nanti terpaksa dihadapkan pada pilihan antara sahabat sejati yang paling berjasa atas kehidupan dan masa depannya atau wanita yang telah menyentuh hatinya dan membuatnya pertama kali merasakan sebenar-benarnya jatuh cinta.


Ferdian terdiam menatap lamat wajah Reynard. Sebenarnya dia berharap bukan Veronika itu yang di maksud Reynard. Bagaimanapun juga, dalam diri Veronika mengalir darah Bramanto, orang yang telah membunuh kedua orang tuanya dan orang yang telah berbuat dzolim pada istrinya, Lusi.


Namun melihat Reynard tampaknya telah terlalu dalam memendam rasa pada wanita itu, hingga sikapnya yang kini berubah total lantaran jatuh cinta, membuat Ferdian pun merasa tak adil jika harus mengorbankan perasaan Reynard demi sakit hatinya pada Bramanto, terlebih lagi dendamnya pun sudah terbayar tunai.


“Maaf, aku membuat kau kecewa, Bro. Tapi percayalah, aku akan berusaha membuang jauh-jauh perasaan cintaku pada Veronika. Dan akan mencari wanita lain yang aku cintai dan mencintai aku. Aku yakin bisa,“ ucap Reynard akhirnya, pasrah.


Dia lebih memilih membunuh rasa cintanya pada Veronika di banding membuat Ferdian kecewa.


Baginya keluarga adalah yang paling utama. Dan Ferdian adalah satu-satunya keluarga yang selalu hadir untuknya di saat suka maupun duka.


Ferdian menghela nafasnya berat. “Memang benar aku kecewa, Rey. Tapi apalah arti rasa kecewaku ini di banding perasaan yang kau alami sekarang. Terlebih lagi sekarang sikapmu jauh lebih baik, lebih menghargai perempuan. Aku senang melihat perubahan kau sekarang. Jadi....”


Reynard mengangkat wajahnya, harap-harap cemas menunggu kelanjutan kalimat Ferdian yang sengaja digantungnya.


“Jadi...?” Tak sabar Reynard meminta kalimat Ferdian selanjutnya.


Senyum Ferdian perlahan mengembang di kedua sudut bibirnya dan melirik Reynard yang tampak begitu gelisah menunggu akhir kalimatnya.


“Lanjutkan hubunganmu dengan Veronika, Rey. Aku merestui.” Akhirnya terjawab juga rasa penasaran Reynard pada ucapan Ferdian.


“Ahhh, Thanx God! I Love you, Brother,” ucap Reynard penuh rasa syukur.

__ADS_1


Kemudian berhambur menyergap tubuh Ferdian, memeluknya erat seraya menempatkan kepalanya di bahu Ferdian.


“Dasar Budak Cinta....” ucap Ferdian, kemudian membalas merengkuh bahu Reynard dengan erat.


“Ohh, iya, tapi statusnya janda dengan satu anak, Bro.” Reynard melepaskan pelukannya dari tubuh Ferdian.


“So what? Berarti kau beruntung bisa dapat paket lengkap. Buy one get one.”


Senyum Reynard semakin mengembang mendengar jawaban Ferdian yang begitu ringan dan santai menerima status wanita tercintanya.


Kembali dia merengkuh bahu Ferdian dan mengelus-ngelus punggung Ferdian dengan gerakan nakal.


“Iish, menjijikan!” Spontan Ferdian menjauhkan tubuh Reynard darinya. Reynard pun tergelak melihat ekspresi Ferdian yang begitu kesal menatapnya.


“Boss! Boss! Non Lusi, Boss! Cepat....” Tiba-tiba Mbak Ira nyelonong masuk ke ruang kerjanya, menyentakkan dirinya dan Reynard. Raut Mbak Ira tampak panik dan ketakutan.


Spontan Ferdian dan Reynard menghampiri wanita tambun itu.


“Lusi kenapa, Mbak?” tanya Ferdian ikutan panik.


“Gak tau, Non Lusi muntah – muntah di kamar. Buruan, Boss.“


Tanpa banyak tanya lagi, Ferdian dan Reynard bergegas menuju kamarnya di lantai dua.


Dia buka pintu dengan cepat. Lalu menuju kamar mandi di mana terdengar Lusi sedang berjuang menguras isi perutnya melalui mulut .


Tampak Lusi sedang berdiri lemas seraya menundukkan kepala ke lubang wastafel. Wajahnya sangat pucat dan buliran keringat dingin mengucur deras di sekujur tubuhnya.


“Lusi? kamu sakit?” Ferdian memeluk bahu Lusi dari belakang dan memijat-mijat tengkuknya.


Lusi hanya menggeleng, lalu mulai merasakan isi perutnya bergumul kembali. Dia hadapkan lagi wajahnya ke lubang wastafel untuk mengeluarkan isi perutnya, tapi tak ada. Hanya perasaan mual saja yang menyiksa perutnya.


“Kita ke dokter sekarang,“ ajak Ferdian panik seraya merangkul bahu Lusi keluar dari kamar mandi.


“Rey, ikut aku. Kau yang nyetir!” perintah Ferdian kemudian.


“Oke,"


****


“Selamat ya, Pak Ferdian. Istri anda sekarang tengah mengandung.”


“Hah? Lusi hamil, Dok?”


Dokter Ratna. Spog mengangguk seraya tersenyum.


“Benar, Pak. Usia kandungannya sekarang sudah memasuki minggu ketiga.“


“Alhamdulillah....Yess...Yess!” sorak Ferdian spontan mengepalkan kedua tangannya kegirangan.


“Lusi, kamu hamil, Sayang. Muuuaahhh....” Ferdian merengkuh bahu Lusi lalu mengecup keningnya dengan penuh rasa sayang.


Lusi hanya tersenyum kecil menanggapi karena masih merasakan lemas dan mual yang sangat menyiksanya.


“Tolong diperhatikan makanan dan istirahatnya ya, Pak. Dan juga dijaga mood-nya. Harus tetap tenang dan jangan stress. Dan tiap bulan harus rutin cek perkembangan kehamilannya. Jangan lupa,” tutur bu dokter Ratna dengan sangat gamblang.


“Baik, Dokter. Ehmm ... ngomong-ngomong, bayi saya laki-laki atau perempuan dok?” tanya Ferdian lagi dengan wajah yang full sumringah.


“Di usia kandungan tiga minggu ini jenis kelaminnya belum terbentuk, Pak. Sabar, yah. Nanti dibulan kelima baru tampak,” jelas Bu dokter Ratna.


“Tak apalah, mau laki-laki atau perempuan yang penting aku punya anak.”


Dokter Ratna tersenyum melihat Ferdian yang begitu bahagianya mengetahui dirinya akan jadi seorang bapak. Hal yang sudah lama dia idam-idamkan sejak menikah dengan Lusi. Being a hot daddy.


“Gimana Lusi, Bro?” tanya Reynard penasaran ketika Ferdian keluar dari ruang dokter Ratna dengan merangkul bahu Lusi.


“Sebentar lagi ada yang manggil aku papa, Rey," jawab Ferdian bersemangat.


“Hah? Lusi hamil?” Reynard meminta jawaban yang lebih pasti.

__ADS_1


Ferdian mengangguk girang. "Udah 3 minggu, Rey. Nih hasil USG-nya. Ini nih bayiku, tuh yang titik kecil,” sahutnya bangga seraya menunjukan lembaran hasil USG pada Reynard.


“Mana? Kok gak keliatan?“ Reynard mendekatkan lembaran foto USG itu tepat di depan matanya.


“Tuuuhh, masa gak keliatan sih? Itu Ferdian junior,” tunjuk Ferdian lagi tepat di titik kecil yang dimaksud.


“Maaasss! Buruan pulang. Hadeeehh, mau muntah nih, buruan!” teriak Lusi kesal melihat kedua bapak-bapak ini masih sibuk saja membahas hasil USG-nya.


“Ehh, iya sayangku, cantikku, manisku.... Ayo kita pulang ya. Mau makan apa, Sayang? Ntar papa beliin.” Ferdian spontan merangkul bahu Lusi seraya mengelus-ngelus perut Lusi yang masih tampak rata.


Reynard yang berjalan di belakang mereka masih penasaran dengan gambar foto USG di tangannya.


Dia sama sekali tidak mengerti bagaimana Ferdian tahu titik kecil itu adalah bayinya. Padahal foto itu hanya berupa garis-garis buram berwarna hitam dan abu-abu saja.


Akhirnya foto USG itu hanya dilihat, diraba, diterawang saja olehnya.


****


“Mas....Mas, bangun,” panggil Lusi menguncang-guncang bahu Ferdian yang tengah terlelap memeluk tubuhnya.


“Ehmm...." Hanya itu sahutan Ferdian.


“Lapar, beliin nasi padang....” pinta Lusi setengah merengek.


“Hmm? Lapar? Iya...Iya....” Ferdian berusaha bangkit dengan kelopak matanya yang masih terasa sangat berat. Lalu duduk di tepi ranjang.


“Beliin nasi padang, Mas,” pinta Lusi lagi.


Ferdian menoleh pada jam digital di samping ranjang. Matanya seketika terbelalak lebar melihat jam menunjukan pukul dua dini hari.


“Hah? Minta nasi padang jam segini? Mana ada yang jualan, Sayang,” ucap Ferdian masih dengan suara serak menahan kantuknya.


“Tapi aku lapar, Mas. Nanti dedeknya ngiler, loh.”


“Ya udah pake aplikasi online aja ya. Siapa tau ada yang bisa,” usul Ferdian seraya meraih telepon genggamnya dari atas meja.


“Gak mau, aku maunya Mas yang beliin. Sekarang juga!” Lusi mulai merajuk. Dia bangkit dari tidurnya lalu melangkah menuju sofa untuk menjauhi Ferdian.


Ferdian menguap sesaat, mengusap wajahnya untuk membuang kantuknya, lalu menghampiri Lusi yang duduk cemberut bersandar di sofa sambil mengangkat satu kakinya.


“Iya, aku cariin. Jangan ngambek. Muuuaah....” ucap Ferdian mengecup kepala Lusi dengan sayang. Lalu menuju kamar mandi dan segera mengambil jaketnya dari dalam lemari.


Hampir satu jam Ferdian berkeliling sekitar komplek perumahan yang sangat luas itu hanya untuk mencari warung nasi Padang yang masih buka pada pagi buta begini.


Hingga dia bertanya-tanya pada beberapa pemilik warung rokok pinggir jalan dan beberapa tukang sapu jalanan.


Lima belas menit kemudian usahanya membuahkan hasil. Ada satu warung Padang yang buka dua puluh empat jam untuk melayani para penumpang bus-bus malam antar kota antar propinsi.


Dibelinya dua bungkus nasi padang dengan lauk yang berbeda. Lalu lekas dia bawa pulang untuk memenuhi hasrat ngidam istri tersayang.


Tiba di rumah, dengan tubuh yang penat dan kantuk yang kembali menyergap, Ferdian menuju dapur dan mengambil dua buah piring dan sendok kemudian segera dia bawa ke kamar.


“Lusi, Sayang. Ini nasi Padangnya,” panggil Ferdian pelan, lalu meletakkan bawaannya di atas meja kerja.


“Sayang?” panggilnya lembut di telinga Lusi sambil mencubit-cubit pelan pipi istrinya yang mulai menggembil.


“Hmmm? Aku ngantuk,” jawab Lusi tanpa membuka kelopak matanya.


“Makan dulu yuk, katanya lapar.“


“Ngantuk, Mas. Besok aja ya makannya.”


“Ya ampun Lusi, aku udah keliling-keliling nyariin nasi padang untuk kamu, kok malah ditinggal tidur?” protes Ferdian pelan sambil geleng-geleng kepala melihat Lusi yang tampak sudah terbuai dalam mimpi.


Begini ya ternyata pengorbanan seorang suami yang punya istri lagi ngidam. Makanya Bu Ibu, dengarlah suara hati suamimu. Jangan dikit-dikit diomelin, dikit-dikit direwelin, ntar kawin lagi baru tau rasa. Hihihihi...


HAPPY READING, GAESSS...


JANGAN LUPA, LIKE, LOVE, VOTE, RATE 5, KRITIK DAN SARANNYA YA.

__ADS_1


THANK YOU....


BIKIN YANG ASIK ASIK AJA LAHHH....


__ADS_2