
“Oiya, sebenernya aku juga mau cerita ke kau soal gadis itu, Lusi” ucap Ferdian pada Reynard.
Reynard mengernyitkan keningnya dan setia menanti kelanjutan kalimat Ferdian.
“Gadis itu ada hubungannya dengan Bramanto, Rey.”
Reynard tersentak, namun sama sekali belum mengerti apa yang dibicarakan Ferdian.
“Maksudmu?”
Ferdian menghela nafasnya sejenak. “Aku gak sengaja ketemu dia di jalan. Saat itu dia dikejar beberapa orang laki-laki. Aku merasa dia dalam bahaya, makanya aku suruh dia masuk ke mobilku,” cerita Ferdian serius dengan nada suaranya yang mulai menegang.
“Lalu?“ Reynard tak sabar. Dia pun kian penasaran dengan cerita Ferdian mengenai gadis itu.
“Aku mau antar pulang tapi dia gak mau, karena takut sama ibu tirinya. Jadi aku bawa pulang ke rumah ini. Pagi ini dia cerita bahwa dirinya telah di jual oleh ibu tirinya pada seseorang. Dia sempat disekap dan mengalami kekerasan fisik yang cukup berat. Apa kau lihat tadi di wajahnya banyak memar dan luka?”
Reynard mengangguk, “Iya aku liat. Keterlaluan sekali.“ sahut Reynard ikutan menegang.
“Dan kau tau, siapa orang yang telah menyekap dan menyiksa gadis itu?“ Ferdian menggantung kalimatnya dan Reynard pun angkat bahu tanda tak tahu.
“BRAMANTO,” jawab Ferdian tegas menatap dalam-dalam wajah sahabatnya itu.
Reynard terkejut bukan kepalang mendengar nama Bramanto kembali di sebut Ferdian namun dengan satu masalah yang berbeda.
“Serius kau, Bro? Bramanto?“ Reynard meminta kepastian lagi untuk meyakinkan dirinya.
“Begitu menurut pengakuan Lusi. Bramanto Raharjo nama orang itu,“ jawab Ferdian mantap.
Reynard menggelengkan kepala, miris mendengar apa yang Ferdian ungkapkan padanya baru saja.
“Memang kelewatan jahat manusia satu itu. Sebenarnya memang sudah bukan rahasia lagi dia itu penyuka gadis-gadis muda. Aku juga sering dengar bahwa dia rela membayar mahal untuk keperawanan seorang gadis. Bener- bener Sakit jiwa tu orang” geram Reynard membayangkan wajah Bramanto, yang tak lain adalah pimpinannya sendiri.
Ferdian mengangguk menatap sahabatnya.
“Jadi, apa langkah kita selanjutnya terhadap orang itu?” tanya Reynard lagi.
Ferdian menautkan kedua alisnya untuk berpikir sejenak.
“Untuk sementara biar Lusi tinggal disini dulu, karena aku yakin orang-orang Bramanto pasti mencari dia. Dan untuk urusan dendamku atas kematian mama papa, kita tetap jalankan sesuai rencana awal, oke,” ucap Ferdian kemudian. Reynard pun mengangguk setuju.
“Dan satu lagi, Rey. Aku minta tolong carikan info juga tentang Lusi dan keluarganya. Secepatnya. Karena aku harus tau lebih pasti siapa gadis yang aku bawa ini,”
“Baiklah, itu soal kecil,” jawab Reynard seraya menjentikan jari kelingkingnya.
__ADS_1
“Okelah kalo begitu, aku ngantor dulu. Ada meeting penting pagi ini.” Reynard bangkit dari duduknya kemudian mengaitkan kancing jasnya dan merapikannya sekilas.
“Baiklah, jangan lupa, Rey, aku minta diupdate terus situasi perusahaan Bramanto dan semua cabangnya,” perintah
Ferdian sambil melangkah menuju keluar ruangannya dan diikuti Reynard di belakang punggungnya.
“Siap, Bro, “ sahut Reynard lekas.
“Ehemm, Bro. Selama gadis itu di rumah ini, jaga sikapmu ya. Terutama tanganmu itu, jangan gentayangan,” canda Reynard menunjuk-nunjuk tangan Ferdian dengan mimik lucu.
Ferdian berdecak sebal. “Sembarangan, emangnya aku cowok gatel macam kau,” balas Ferdian sambil menepuk bahu Reynard. Keduanya pun terkekeh geli.
Ada sepasang bola mata bening memperhatikan kedua pria tampan itu berbagi canda. Ferdian dan Reynard spontan menghentikan kekehannya saat mendapati sosok Lusi yang berdiri mematung di samping meja makan tengah memandang ke arahnya dan Reynard.
“Lusi, Abang berangkat kerja dulu, yah,” goda Reynard pada Lusi yang berdiri kikuk dihadapannya.
“Iya, Om...ehhh....Abang....” jawab Lusi gugup. Membuat Reynard menaikan sebelah alisnya.
“Om? Waduh, aku udah keliatan tua ya, Bro? Masih Abege gini kok di panggil Om,“ kelakar Reynard menepuk bahu Ferdian yang berdiri di sampingnya. Senyum Ferdian pun mengembang lebar mendengar ucapan absurb sahabatnya itu.
“Makanya punya muka tuh jangan boros,” sahut Ferdian dan jawabannya itu berhasil membuat Reynard menyeringai keki.
“Hmm Lusi, kamu tenang-tenang di sini ya, jangan kemana-mana. Disini aman kok, yang punya rumah ini orangnya baik banget. Cuma tangannya aja kadang suka iseng keliaran cari cemilan. Hahaha....” goda reynard lagi terkekeh geli dan melirik Ferdian yang kini tampak tersipu. Mengundang senyum manis Lusi terkembang di kedua sudut bibir kecilnya.
‘Cantik juga,’ puji Ferdian tapi dalam hati. Kali ini dia tatap gadis itu lebih lama lagi.
“Tuh kan, udah main mata aja kalian. Inget, Bro. Masih dibawah umur tuh, jangan di apa-apain. Kasian, dia gak akan sanggup lawan kau,” seru Reynard makin gencar mengoda keduanya.
“Apaan sih? Udah pergi sana, katanya ada meeting pagi,” Ferdian semakin grogi saat bola matanya terarah pada Lusi. Reynard pun terkekeh geli melihat raut Ferdian yang seketika berubah tersipu malu.
“Okelah, aku cabut dulu. Bye, everybody.” Kemudian Reynard melangkah mengangkat satu telapak tangannya sambil berlalu menuju keluar pintu.
Meninggalkan Ferdian dan Lusi yang masih tegak berdiri saling berhadapan dan masih menyisakan senyum di kedua sudut bibir mereka.
“Ehmmm, Lusi, untuk sementara ini kamu tinggal disini, anggap aja rumah sendiri. Jangan sungkan, oke. Semua
baju-baju Cantika yang kamu anggap cocok silahkan kamu pakai,” tutur Ferdian membuyarkan kegugupan yang terjadi diantara mereka. Lusipun mengangguk mengerti.
“Tapi, Om... Aku pengen deh ke kios bu Dahlia, tempat kerja aku. Bu Dahlia pasti kebingungan cari aku,” pinta Lusi setengah memelas.
“Jangan dulu, Lusi. Yang Pasti situasi saat ini belum aman untuk kamu. Orang-orang jahat itu pasti cari kamu ke tempat kerja kamu juga. Percaya deh sama aku,” cegah Ferdian. Lusi pun bergidik mendengarnya.
“Bu Dahlia pasti lindungin aku dari orang-orang itu, Om.“
__ADS_1
Keinginan Lusi yang bersikeras memaksa Ferdian berkacak pinggang seraya menatap wajah Lusi dengan sorot matanya yang tajam.
‘Bandel juga nih anak,’ pikirnya.
Ferdian menghela nafasnya malas, “Terserah kamu, deh. Kalo kamu diculik lagi, tanggung risiko sendiri ya,” ancam Ferdian sambil mengangkat kedua tangannya, menyerah.
Dan rasa takutpun kembali tergambar di raut wajah Lusi yang polos dan memucat pasi
“Terus aku seharian disini ngapain, Om. Iseng,” cicitnya pelan.
“Ya ngapain kek, kamu bisa bantu Mba Ira masak, nyuciin baju aku, bersihin kolam renang, atau temenin Pak Dirman sambil jaga pos depan, oke,” jawab Ferdian sekenanya.
Lusi mengerucutkan bibirnya sesaat, dan dia putuskan untuk tak menjawab.
“Baiklah, aku siap-siap dulu mau ke kantor. Ingat pesan aku, jangan Keluar, oke!” titah Ferdian kembali
terlontar sebelum pria itu melangkah pergi menuju kamarnya di lantai dua. Meninggalkan Lusi yang terduduk di kursi makan sambil berdecak kesal.
Dan kini, rasa itu datang kembali, rasa yang sama yang selalu dia rasakan setiap pagi. Rindu pada Bu Dahlia. Rindu pada kios kecil yang asri tempat dia menghabiskan hari-harinya dan rindu pada bunga-bunga yang tiap saat disentuhnya.
Ibu tirinya?
Tiba-tiba wajah ibu tirinya terbayang di benaknya.
“Apakah dia sudah tahu aku kabur?" gumamnya pada diri sendiri.
‘Kalo dia sudah tahu, pasti dia mencari aku ke kios Bu Dahlia. Kasihan Bu Dahlia jadi ikut terseret dalam urusan aku,’
‘Benar kata Om Ferdian, sebaiknya aku jangan keluar dulu,’
Lusi teringat kembali bagaimana peristiwa yang di alaminya kemarin. Seketika bulu romanya berdiri. Dia bergidik ngeri membayangkan apa yang akan terjadi jika malam itu tidak bertemu Ferdian yang melintas di jalan itu.
‘Ya Tuhan, terima kasih sudah mengirim aku malaikatmu lewat Om Ferdian, kalo gak ada dia bisa jadi aku sudah mati sekarang,’
‘Terima Kasih, Om,’ ucapnya dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri.
Jangan Lupa jejak bacanya, gaes..
LIKE, VOTE, 5 RATE, KRITIK DAN SARAN NYA YAH
__ADS_1