ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 61


__ADS_3

Udara pagi yang dingin dan lembab menyeruak masuk ke dalam kamar.


Lusi yang sudah terbangun dari lelap cantiknya serasa enggan bangkit dari ranjang. Ia hanya menyandarkan kepala dengan malas pada tumpukan bantal di sandaran belakang.


Matanya yang masih menahan kantuk dipaksanya terbuka. Ia mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya sesaat, membuat bulu matanya yang lentik melambai-lambai menggemaskan.


Di hadapannya berdiri sosok tampan suaminya yang tengah serius berkutat dengan ponsel di tangan.


Tampak Ferdian sudah rapi dengan mengenakan kemeja biru muda dipadu dengan dasi hitam dan celana juga hitam. Rambut klimisnya tertata rapi membingkai wajahnya yang segar.


Memandang penampilan sang suami yang tampan mempesona itu membuat Lusi serasa mendapat asupan energi untuk membuka matanya lebar-lebar.


Pria itu menyadari Lusi sudah terbangun dan tengah memandang ke arahnya dengan tatapan hangat dan memuja.


Ia menoleh sebentar pada gadis itu, lalu kembali berkonsentrasi pada layar ponselnya.


“Good morning,“ sapa Lusi akhirnya, karena tak tahan diabaikan.


“Hemmm....” Hanya itu jawaban Ferdian tanpa menoleh padanya. Membuatnya kesal dan mengerucutkan bibir mungilnya.


“Sombong amat,“ gumam Lusi pelan.


Ferdian menoleh ke arahnya karena mendengar gumamannya. Ia tersenyum sekilas, lalu menghampiri istrinya yang masih berselonjor malas di atas ranjang.


“Good morning,” balas Ferdian akhirnya, seraya mengecup kepala Lusi dan menepuknya pelan. Lalu melangkah ke meja kerjanya.


“Masih pagi sudah rapi, Mas? Kenapa gak bangunin aku?“ tanya Lusi dengan suara serak khas bangun tidur.


Ferdian menoleh sebentar, lalu kembali sibuk dengan berkas-berkas di atas meja.


“Aku harus ke kantor polisi pagi ini, Lusi. Polisi sudah menangkap ibu tirimu tadi malam,“ jawab Ferdian datar menoleh pada Lusi.


“Hah? Terus, sekarang ibu dimasukan ke penjara ya, Mas?” Lusi sontak bangkit dari rebahan dan duduk bersila menghadap Ferdian.


“Ya iyalah, masa di bawa ke hotel,“ jawab Ferdian enteng.


“Aku ikut ya, Mas.“ Lusi bergegas turun dari ranjang.


“Jangan hari ini, Lusi. Nanti saja kalau polisi minta keterangan dari kamu, baru kamu datang," cegah Ferdian cepat.


“Oke, Mas. Tapi temenin,” ucap Lusi manja dan ada rasa takut di nada suaranya.


“Pastilah, ke kamar mandi aja aku mau kok temenin kamu, apalagi ke kantor polisi. Lebih menegangkan temenin kamu ke kamar mandi dari pada ke kantor polisi.” Lagi-lagi Ferdian nyeletuk enteng tanpa menoleh pada Lusi.


“Iiiih, Mas ada-ada aja!“


“Nanti pengacaraku juga akan dampingi kamu. Tenang aja.”


Lusi mengangguk paham.


“Kamu gak usah kuliah dulu, ya. Besok saja. Hari ini stand by di rumah.”


“Bosen. BeTe!" gerutu Lusi, seraya menggelung rambut panjangnya ke atas.


“Bosen karena yang diliat aku-aku terus, ya?” sindir Ferdian tersenyum tipis.


“Eh, gak Mas. Idiih, sensi amat,” bantah Lusi cepat.


“Masa bosen liat orang ganteng? Please deh ah...." desis Lusi pelan seraya menolehkan wajah ke arah lain.


Ferdian tersenyum lebar saat mendengar apa yang diucapkan Lusi, walaupun dengan suara yang pelan.


“Aku berangkat, ya. Baik-baik di rumah. Nanti aku telpon," pamit Ferdian kemudian.


Lusi mengangguk dan menyorongkan punggung tangannya ke hadapan Ferdian.


“Terbalik!" ucap Ferdian seraya menepuk gemas punggung tangan Lusi. Lalu gantian, ia menyorongkan punggung tangan dan Lusi mengecupnya dengan hormat.


Ferdian bergegas menuruni anak tangga satu per satu. Semua berkas dan perlengkapan kerjanya sudah berada di genggaman.


Ia menghampiri meja makan, lalu meneguk kopi yang sudah disiapkan Mbak Ira khusus untuknya.


Cantika yang sedari tadi sudah menunggunya di meja makan segera beranjak dari duduknya dan menghampiri sang kakak tercinta.

__ADS_1


“Kak, nanti tranfer ke rekening aku ya untuk DP apartement aku.“


‘Iya, cerewet. Nanti sekertarisku yang urus. Hari ini aku sibuk banget.”


“Baik, Kak. Silakan bersibuk-sibuk ria, yang penting tranferannya jangan lupa.”


Ferdian mendelik sebal pada Cantika. Lalu bergegas keluar menuju mobilnya yang sudah dibersihkan Pak Dirman.


Di kantor Developer milik Dio


Cantika keluar dari mobil dan membuka kacamata hitamnya. Lalu memandangi bangunan lima lantai di hadapannya.


Sejenak ia melirik ke kartu nama yang ada ditangan untuk meyakinkan alamat yang dia tuju sudah benar.


“Selamat pagi, Mbak. Silakan masuk,”  sambut seorang security sambil membukakan pintu untuknya. Cantika mengangguk sekilas lalu menuju meja resepsionis.


“Selamat pagi. Ada yang bisa dibantu?” sapa seorang Resepsionis yang berseragam ungu itu dengan sopan.


“Saya mau ketemu dengan Dio. Sudah ada janji pagi ini.” jawab Cantika.


“Oo, ini Mbak Cantika, betul?” tanya Resepsionis itu dengan tersenyum ramah.


“Iya betul. Kok tau, Mbak?”


“Mbak Cantika sudah ditunggu di ruangan Mas Dio. Mari saya antar.”


Cantika mengikuti langkah resepsionis didepannya memasuki lift dan menunggu lift itu membawa mereka ke lantai yang dituju.


Suasana lantai lima tampak sangat sibuk. Para pegawainya tengah berkutat dengan pekerjaan di kubikel masing-masing. Suara riuh deringan telepon terdengar bersahut-sahutan di seantero ruangan.


Cantika berjalan mengikuti langkah resepsionis itu. Lalu berhenti tepat di depan pintu sebuah ruangan yang di kelilingi dengan kaca.


Tak perlu mengetuk pintu terlebih dulu, resepsionis itu langsung melangkah masuk ke dalamnya. Cantika pun mengikuti.


Di meja kaca yang berada di tengah ruangan tampak Dio tengah fokus membaca berkas-berkas di tangan.


“Permisi, Mas Dio. Ini Mbak Cantika sudah datang,” sapa resepsionis itu dengan sopan.


Pria Itu mendongak dan mendapati Cantika yang tampak sangat anggun berdiri beberapa meter di hadapannya.


Dio pun beranjak dari duduknya, lalu menghampiri Cantika.


“Hai, apa kabar?“ Dio mengulurkan tangan ke hadapan Cantika. Gadis itu pun membalas menjabat tangannya dengan ramah.


“Baik, Dio. Maaf telat. Aku tadi ada urusan sebentar ke bank,” jawab Cantika sambil tersenyum manis.


“Gak apa-apa, Cantika. Oiya, mau minum apa?”


“Coffee, please. Dengan creamer kalo ada. Gulanya sedikit aja,” jawab Cantika cepat.


Dio tertawa kecil mendengarnya.


'Dia kira ini coffee shop, kali,' gumam Dio dalam hati.


“Oke. Jen, tolong bawain ya apa yang diminta kakak ini,” perintah Dio pada resepsionisnya.


“Baik, Mas Dio.”


Dio mempersilakan Cantika duduk, kemudian ia menempati diri di kursi kerjanya tepat di hadapan Cantika.


Cantika mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang berdesign kontemporer minimalis itu.


Beberapa gambar seni arsitektur berjajar di dindingnya. Sangat sesuai dengan kepribadian Dio yang tenang dan cerdas.


“Lucu juga ruangan ini. Kamu yang design?” tanya Cantika membuka obrolan.


“Ya, begitulah kira-kira.“


“Aku suka. Nanti aku mau kamu yang design apartemen aku, oke?”


“Siap, Kakak!" sahut Dio sambil menempelkan sisi telapak tangan di pelipisnya.


Pintu diketuk beberapa kali. Seorang office boy masuk dan meletakkan secangkir kopi di hadapan Cantika. Kemudian keluar lagi setelah mengangguk hormat pada keduanya.

__ADS_1


“Silakan.“ Dio mempersilakan. Cantika pun meneguk kopinya beberapa saat.


“Hari ini aku kasih DP dulu ya, Dio. Untuk pelunasannya aku usahakan segera.”


“Iya, gampang soal itu. Yang penting kamu liat dulu unit yang kamu minati. Kalo sudah oke, baru kita lanjut ke hubungan yang lebih serius lagi.”


“What?” Cantika terbelalak dan menganga bingung mendengar perkataan Dio.


“Oh, sorry. Maksudku ke urusan selanjutnya.” Dio meralat sambil menyeringai.


Cantika pun tertawa kecil.


“Kita jalan sekarang, yuk. Gak sabar mau liat unit itu,” ajak Cantika cepat.


“Oke. Ayo, deh. Pake mobil aku aja. Lokasinya gak jauh kok dari sini.”


Keduanya keluar dari gedung menuju parkiran, lalu masuk ke dalam mobil sedan Dio.


****


Cantika tampak antusias memasuki setiap ruangan yang ada di apartement yang masih kosong itu.


Dan Dio mengikutinya dari belakang. Pria Itu memperhatikan raut wajah Cantika yang semringah seperti anak kecil yang baru saja di belikan mainan baru.


Ruangan yang cukup besar yang berada di lantai tujuh belas, dengan type convertible berukuran empat puluh lima meter persegi, dirasa cukup untuk Cantika tempati nanti.


Terdapat dua buah kamar yang cukup besar dengan balkon yang menampilkan pemandangan gedung-gedung bertingkat di sekelilingnya.


Cantika membayangkan, di kala malam hari pasti begitu cantiknya pemandangan yang tampak disana.


“Oke, aku suka yang ini, Dio,” seru Cantika senang.


“Baik. Untuk selanjutnya kamu silakan pilh design dan furniture yang kamu suka. Kamu bisa diskusi sama aku kapan aja.“


“Hmm ... mungkin diskusi kita akan panjang, Dio. Karena aku cerewet dan perfeksionis. Jadi sebelumnya aku kasih tau dulu sama kamu. Supaya kamu siap mental ngadepin klien yang ngeselin kayak aku gini.”


“No problem. Aku suka cewek perfeksionis. Tantangan buat aku.“


“Mungkin biar enak kita sambil makan malam kali ya. Sekalian aku mau bayar hutang sama kamu,” usul Cantika kemudian. Dia mendekat ke arah Dio yang berdiri bersandar di samping jendela.


“Hutang apa?” Dio mengerutkan dahinya bingung.


“Waktu di kafe tempo hari, kamu bayarin minum aku dan betulin mobilku.”


Dio menyungging senyum termanisnya ketika mengingat malam Itu. Malam pertama kalinya mereka bertemu.


“Jangan dianggap utang. Aku senang kok melakukannya untuk kamu,” ucapnya lembut.


“Okelah. Nanti aku kabarin waktunya dan aku yang tentuin tempatnya.”


Dio mengangguk mantap. “Boleh. Untuk kamu, kapan pun aku siap. Kabarin aja.”


Keduanya saling bertatapan dan melempar senyuman.


Cantika suka sekali melihat gaya Dio yang tenang namun mampu membuat jantungnya berdebar kencang. Tanpa perlu menjaga kesan yang berlebihan, namun tetap berlaku sopan.


Begitu pun Dio melihat sosok Cantika yang terkesan manja, namun tetap elegant apa adanya. Ia pun suka.


“Author nulis part ini sambil cooling down yah gaess, Nanti author Gass lagi dengan


konflik-konflik yang dihadapi Lusi – Ferdian yang  bakal lebih seru lagi.


Jangan lupa Siapkan cemilannya.


Terima kasih untuk  Reader yang udah  setia ngikutin cerita ini.


**Please Like, Vote, Favorite dan kritik/sarannya di kolom komen.  ****


Untuk mengingatkan lagi para reader yang setia mengikuti cerita ini, Author tampilkan lagi Visual Cast untuk Ferdian yang bikin kepala author cenat cenut. Boleh yah... tahhh eta tahh



**Dan ini Visual Cast untuk Lusi yang bikin hati meleleh ngeliatnya. **

__ADS_1



__ADS_2