ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 93


__ADS_3

Sambil menyandarkan diri di sisi mobil, sejenak dia tatap gedung bertingkat di hadapannya dari bawah sampai puncak teratas.


Ia tampak ragu dan takut untuk memasukinya. Karena yang akan ia hadapi nanti adalah orang yang punya kekuasaan untuk melakukan sesuatu terhadapnya.


Terlebih seseorang ini memiliki satu hal yang teramat penting untuk menghancurkan hidupnya kapan saja.


Sesaat ia memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam. Berusaha membuang rasa takut dan ragu, lalu memantapkan langkah memasuki gedung megah yang bernuansa biru itu.


“Selamat siang, Pak. Mau ke lantai berapa?” tanya security dengan ramah dan hormat padanya ketika dirinya sudah berada dalam kamar lift.


“Lantai dua puluh,” sebutnya datar. Lalu berdiri tegak sambil menunggu lift itu mengantarkan tujuannya.


Tak lama, kamar lift berhenti di lantai tujuan. “Silahkan, pak. Lantai dua puluh,” ucap Security itu kembali, lalu membukakan pintu lift untuknya.


Ia melangkah menuju meja resepsionis yang terletak tak jauh berhadapan dengan pintu lift.


“Selamat siang, Bu. Saya mau ketemu dengan Ferdian. Ehhm ... maksud saya Pak Ferdian,” ucapnya gugup.


“Selamat siang, Pak. Apa sudah ada janji?” tanya Dewi sang resepsionis dengan ramah.


“Iya sudah.” Ia mengangguk.


“Atas nama siapa, Pak? Biar saya cek dulu di daftar janji temu.”


“Ivan,” jawabnya singkat.


Lalu Dewi memeriksa namanya di layar komputer. Dan ternyata memang ada nama itu di daftar janji temu pada jam dua siang dengan pimpinannya, Ferdian.


“Baik, mari saya antar ke ruangan beliau.”


Dewi keluar dari meja resepsionis, lalu melangkah menuju ruangan pimpinan di ikuti oleh Ivan di belakang punggungnya.


“Permisi, Pak. Pak Ivan sudah datang,” panggil Dewi ketika sudah berada di dalam ruangan Ferdian.


“Suruh masuk,” jawab Ferdian datar tanpa mengalihkan mata dari layar laptopnya.


Ivan melangkah masuk dengan perasaan takut yang menghinggapi hatinya. Terlebih melihat Ferdian yang tampak sangat dingin menoleh padanya.


“Duduk.” Ferdian mempersilahkan Ivan duduk tepat di hadapannya.


Ferdian menggeser laptopnya perlahan, lalu beralih menatap wajah Ivan dengan tajam.


Ferdian menyorongkan telapak tangan ke hadapan Ivan tanpa bicara. Ivan pun mengerti apa yang Ferdian minta. Lalu ia mengeluarkan gantungan kunci mobilnya dari saku kemeja kemudian ia letakkan ke telapak tangan Ferdian yang tersorong di hadapannya.


Tatapan mata Ferdian masih lekat tertuju padanya, lalu beralih menoleh pada gantungan kunci di tangan.


Dengan cekatan Ferdian mengeluarkan sebuah kartu Micro Sd yang tedapat di dalam cangkang gantungan kunci tersebut. Kemudian kartu berukuran kecil itu ia selipkan ke dalam lubang pipih di sisi laptopnya.


Di detik kemudian, terpampanglah video bergambar Amanda dengan semua isi percakapannya yang sangat jelas, dengan durasi yang cukup lama.


Senyum kecil tersungging di sudut bibir Ferdian. Dalam hati dia mengakui kehebatan kerja Ivan yang berhasil merekam semua ini di unit apartement Amanda kemarin.


Lalu menoleh kembali pada Ivan yang masih duduk menegang di kursinya.


“Bagus. Jelas semuanya,” ucap Ferdian membuka suara.


“Ferdian....” Panggil Ivan tampak ragu. Sejenak ia menunduk memainkan jemari untuk menutupi kegugupannya.


“Tentang janjiku padamu? Tenang aja. Aku orang yang selalu tepat janji.”


“Bukan itu.... Aku mau minta maaf sama kamu. Tentang semuanya. Tentang perbuatanku dua tahun yang lalu dan tentang kelakuanku belakangan ini. Aku ini benar-benar manusia bejad. Aku selalu menyakiti kamu yang tak pernah sekali pun berbuat salah padaku,” ucap Ivan lirih penuh penyesalan sambil menunduk tak berani menatap wajah Ferdian.


“Urusan dua tahun lalu sudah lama aku lupakan. Tapi untuk yang sekarang aku belum bisa memaafkan, karena urusan ini belum tuntas,” jawab Ferdian masih dengan nada suara datar dan dingin tanpa ekspresi.


“Tapi tugasku sudah selesai, kan? Sesuai apa yang kamu perintahkan,” tanya Ivan mulai memberanikan diri mengangkat wajah dan menatap Ferdian di hadapannya.


Ferdian tak menjawab. Ia mengeluarkan sebuah buku cek dari dalam laci meja kerjanya. Lalu menuliskan sejumlah nominal pada lembaran paling atas.


“Ini bayaranmu, sesuai janjiku.” Ferdian menyodorkan lembaran cek yang barusan dia tulis ke hadapan Ivan.


Ivan menerimanya dan membacanya sejenak. Seketika itu juga ia tertegun dan meneguk air salivanya demi melihat nominal yang tertulis di lembaran cek itu. Delapan angka nol di belakang angka dua.


'Banyak sekali. Pekerjaan semudah itu dengan bayaran segini banyak. Pantas saja Amanda tergila-gila pada laki laki ini,' sorak bathin Ivan.

__ADS_1


“Oiya, bagaimana rekaman diriku yang kamu tunjukan di rumah waktu itu? Apa aku bisa memilikinya sekarang?” tanya Ivan kemudian.


Ia ingat akan sesuatu hal yang sangat penting yang ia anggap bisa menghancurkan hidupnya.


“Ooo, rekaman itu. Belum bisa aku kasih sekarang. Urusan ini belum tuntas. Nanti setelah semuanya selesai pasti aku kirim ke alamatmu,” jawab Ferdian tegas.


“Begitu ya? Aku harap permasalahanmu cepat selesai, Ferdian.”


“Aku harap juga begitu. Dan aku ingatkan padamu, kamu harus tinggalkan pekerjaanmu yang sekarang. Carilah pekerjaan yang lain. Aku rasa uang bayaranmu itu cukup untuk memulai usaha baru yang halal untuk menafkahi anak istrimu nanti.”


Ivan mengangguk patuh. “Aku berencana akan memulai hidup baru di luar kota. Istriku ingin mencari suasana yang baru.”


“Bagus kalo begitu. Jadi aku tak akan melihat wajahmu lagi di Jakarta ini.”


Ivan tersenyum kecil mendengar sindiran Ferdian.


“Dan bagaimana rencanamu selanjutnya pada Amanda. Aku dengar dari dia pernikahan kalian tak lama lagi.“ Nada suara Ivan terdengar mulai sedikit rileks tanpa beban.


“Itu urusanku. Kau tak perlu tau,” jawab Ferdian dengan menyungging senyum tipis.


Merasa suasana hati Ferdian yang tampak telah mencair, Ivan pun ikut tersenyum.


“Baiklah, kalo begitu aku permisi dulu. sekalian aku pamit padamu. Semoga kamu terus sukses dan bahagia dengan keluargamu.”


Ivan bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangan pada Ferdian.


Sejenak Ferdian melirik uluran tangan Ivan, lalu ia pun ikut bangkit dan membalas jabatan tangan Ivan yang tampaknya memang tulus.


Ivan keluar dari ruangan Ferdian dengan perasaan tenang karena sudah terlepas dari semua beban bathin dan ketakutan. Dengan membawa serta cek bernominal sangat besar untuk memulai hidup dan usaha baru di luar kota.


Flashback 3 hari yang lalu. Di apartement Reynard


Ferdian memperhatikan lembar demi lembar foto di yang diberikan Reynard, hasil temuan orang suruhannya mengikuti Amanda beberapa hari ini.


Tampak gambar-gambar Amanda berpose sangat mesra bersama laki-laki yang wajahnya sangat ia kenali.


“Ivan....” gumam Ferdian.


“Ivan ini adalah salah satu pengedar in3x di diskotik Extreme. Dan hampir tiap malam weekend dia berada di sana,” tutur Reynard.


“Dan ini video yang berhasil diambil sewaktu orangku berpura-pura sebagai sebagai pelanggannya, membeli barang dari dia.“ Reynard memutar sebuah rekaman video dari laptopnya. Tampak jelas wajah Ivan sedang bertransakasi dengan orang suruhan Reynard.


“Dan ini alamat Ivan, ketika dia pulang orangku mengikutinya.” Reynard menyerahkan selembar kertas putih tertulis alamat lengkap Ivan.


Ferdian memperhatikan semua temuan itu. Lalu sejenak otaknya berpikir keras. Kemudian cepat dia menyalin seluruh isi rekaman video dari laptop Reynard ke dalam ponselnya.


“Aku akan datangi dia, Rey. Aku yakin bius yang Amanda berikan ke aku malam itu berasal dari dia,” ucap Ferdian seraya beranjak dari duduknya.


“Aku ikut. Ayo.” Reynard pun meraih jaket nya yang tergeletak di atas sofa.


Keduanya pun bergegas keluar dari unit Apartement Reynard.


***


Ferdian dan Reynard memperhatikan rumah sederhana bercat kuning di depannya. Tampak mobil Ivan terparkir di halaman. Keduanya pun segera turun dan menghampiri rumah itu dan langsung memasuki pekarangan.


Tok...Tok...Tok...


Ferdian mengetuk pintu rumah itu dengan keras. “Permisi!” panggilnya lantang sambil melongokkan kepala ke kaca melihat situasi di dalamnya.


Tampak seorang wanita menghampiri pintu, dan membukanya.


“Iya, mau cari siapa?” sapa wanita itu dengan tatapan penuh tanya melihat Ferdian dan Reynard yang berdiri tegak  tepat di hadapannya sambil mengelus-ngelus perut buncitnya yang tampaknya tengah hamil besar.


“Saya cari Ivan. Dia ada, kan?” tanya Ferdian tegas dengan wajah dingin dan datar.


Wanita itu melongok sekilas ke dalam rumah lalu mengangguk ragu.


“Siapa yang datang, Bun?” Terdengar suara laki-laki berasal dari dalam sebuah kamar.


Tiba-tiba Ivan muncul dari dalam kamar itu dan tersentak kaget melihat Ferdian yang berdiri tepat di depan pintu rumahnya.


Kepanikan yang luar biasa terpampang jelas di wajah Ivan. Ia kikuk dan salah tingkah. Ingin kabur, tapi satu-satunya pintu keluar adalah dihadapannya, di mana Ferdian dan Reynard berdiri tegak di sana.

__ADS_1


Tanpa permisi, Ferdian dan Reynard masuk dan menghampiri Ivan yang masih berdiri gugup di depan kamarnya.


“Duduk!” perintah Ferdian pada Ivan dengan mendorong bahu Ivan pada sofa kecil di ruang tamunya yang sempit.


Ferdian tampak geram memandang Ivan yang duduk dengan perasaan takut. Begitu juga dengan wanita yang tengah hamil besar itu tampak kebingungan melihat perlakuan Ferdian terhadap Ivan.


“Kau masih berhubungan dengan Amanda, kan?” tanya Ferdian yang masih berdiri tegak menghadap Ivan dengan pandangan kaku dan tajam.


Ivan tampak ragu untuk menjawab. Ia melirik wanita itu sekilas lalu mendongak ke arah Ferdian.


“Jawab!” desak Ferdian lagi. Kali ini suaranya lebih meninggi.


Kembali Ivan menatap wanita yang masih berdiri di depan pintu dengan tatapan cemas.


Tak sabar menunggu jawaban Ivan, Ferdian melempar lembaran foto ke arahnya. Dan foto itu terjatuh tepat di kakinya. Tampak foto mesranya bersama Amanda.


Wanita yang sedari tadi memandang Ivan dengan cemas spontan memungut foto itu dan memperhatikannya dengan serius.


“Ayah masih berhubungan dengan perempuan ini?” Giliran wanita itu menginterogasi Ivan dengan tatapan penuh emosi.


“Kamu ini istrinya Ivan?” tanya Ferdian menoleh pada wanita itu.


“Iya, saya istrinya," jawabnya seraya mengelus-ngelus lagi perut buncitnya.


“Sorry, Fer. Aku ... aku....” Ivan terbata-bata. Lalu menghentikan kalimatnya.


“Kau gak bisa ngeles lagi, Van. Kau yang kasih Amanda obat bius untuk menjebak aku!” tuding Ferdian menunjuk wajah Ivan yang tampak semakin ketakutan.


“Ayah, ada apa ini? Ya Tuhan.” Istri Ivan semakin panik mendengar kata-kata Ferdian, lalu dia menghampiri suaminya dan menatap marah pada Ivan.


“Sorry, Fer... Aku benar-benar minta maaf. Amanda minta bantuan aku,” ucap Ivan masih dengan ketakutan yang hebat.


“Kurang ajar kau!“ Tinju Ferdian nyaris mendarat ke wajah Ivan. Untung saja Reynard yang berdiri di samping Ferdian sigap menahannya. “Tahan, Bro....” cegah Reynard.


“Tapi yang aku kasih itu cuma obat tidur kok, Fer. Obat untuk insomnia akut. Bukan obat perangsang atau obat bius. Sumpah.” Ivan mengangkat dua jarinya ke arah Ferdian dengan keringat dingin yang membasahi kening dan sekujur tubuh.


Ferdian menoleh pada Reynard yang masih menahan tangannya.


“Selamat, kau aman,” ucap Reynard lega seraya menepuk bahu Ferdian.


Ferdian menarik bangku dan duduk di hadapan Ivan.


“Sekarang, kau harus lakukan sesuatu untukku sebagai hukuman untuk kau.”


Ivan menatap Ferdian bingung lalu bergantian menatap Istrinya.


“Apa, Fer?” tanyanya lemah.


“Kau harus buat Amanda mengakui bahwa aku gak pernah melakukan apapun malam itu pada dia, terserah bagaimanapun caramu. Dan rekaman itu harus kau serahkan padaku dalam waktu paling lama dua hari ini.”


Ivan tampak meragu, beberapa kali ia menoleh pada istrinya yang duduk di sampingnya dengan wajah cemas.


“Kalau kau gak mau....” Ferdian menggantung kalimatnya. Lalu mengeluarkan ponsel dari saku belakang celananya, mencari cari sesuatu di layarnya sebentar, lalu menyodorkannya ke depan wajah Ivan.


Ivan dan istrinya menyaksikan rekaman video yang ditunjukkan Ferdian. Spontan raut wajah mereka berubah penuh ketakutan. Keringat dingin kembali mengucur deras di kening dan leher Ivan.


“Kalau kau gak bersedia melakukan perintahku, video ini akan aku berikan ke kepolisian," ancam Ferdian dengan tatapan dingin dan geram pada Ivan.


“Jangan Fer, please.... " Sontak Ivan memohon.


"Oke, oke. Aku akan melakukan apa yang kamu perintahkan.” Akhirnya ia pun menurut tanpa pertimbangan.


Ia tahu Ferdian sanggup melakukan sesuatu yang bisa menghancurkan hidupnya.


Apalagi dengan uang dan kekuasaan yang dia miliki, dengan mudahnya pria Itu menjatuhkan Ivan yang hanya seorang pengedar kelas teri yang menafkahi keluarga dengan menjual barang haram.


“Oke, aku tunggu dalam dua hari kau serahkan rekaman itu ke kantorku. Dan.... Tenang saja, aku akan kasih uang juga untuk biaya persalinan istri kau ini," ucap Ferdian menunjuk Istri Ivan yang masih menunjukkan raut ketakutan.


Ferdian bangkit dari duduknya. Lalu menoleh sekilas pada Ivan yang mengangguk padanya.


Tanpa permisi, Ferdian diikuti Reynard keluar dari rumah itu meninggalkan pasangan Ivan dan istrinya yang terdengar mulai ribut beradu mulut.


Flashback off

__ADS_1


__ADS_2