ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 88


__ADS_3

Ruang kunjung tahanan saat ini tampak tak terlalu ramai seperti hari-hari biasa. Hanya beberapa meja saja yang terisi tamu atau kerabat yang berkunjung membesuk tahanan.


Bu Tantri datang dengan penampilan terbaiknya. Dress panjang warna merah tua dipadu dengan blazer warna khakhi dan ditambah lagi wajahnya yang dipoles lebih terang dari penampilan sehari-hari. Membuat Bu Tantri tampak lebih cantik dan elegant.


Wanita anggun setengah baya itu duduk setia menunggu sang suami yang sedang dijemput petugas dari ruang tahanannya.


Jemari kurusnya sejenak membelai rantang makanan kecil yang bersusun tiga di hadapannya.


Sekilas dia tersenyum. ‘Pasti dia suka gulai daging sapi buatanku ini. Sudah lama sekali dia tak makan masakanku’ pikirnya dalam hati.


Tak lama, Bramanto dengan mengenakan baju tahanan berwarna biru tua diapit oleh dua orang petugas kepolisian muncul dari pintu.


Dia melangkah gontai menghampiri Bu Tantri yang berdiri seraya tersenyum manis menyambutnya.


Raut wajahnya jelas sekali menyiratkan ketidaksukaan melihat Bu Tantri kini hadir di hadapan.


Dia merasa senyum manis yang Bu Tantri tunjukan adalah cibiran untuknya. Dia tahu benar Bu Tantri sangat senang melihat penderitaannya yang kini menjalani hari-hari di dalam bui. Karena itulah yang diharapkan istrinya sejak dulu.


Bramanto duduk tepat di hadapan Bu Tantri. Hanya meja kayu persegi yang membatasi. Bramanto menatap wajah Bu Tantri tajam. Kesombongannnya masih juga dia tampakkan walaupun dalam keadaannya yang memprihatinkan seperti saat ini.


“Mau apa ke sini?” tanyanya dingin dan datar.


Bu Tantri masih dengan senyum manisnya justru balik bertanya, ”Apa kabar kamu, Mas?” Dengan suara lembut.


“Tak usah kau banyak basa-basi, Tantri. Kau senang, kan aku dipenjara?” geram Bramanto dengan nada yang sangat ketus.


“Aku bukannya senang, Mas. Justru aku prihatin. Tapi aku anggap apa yang kamu rasakan sekarang ini sebagai teguran keras untuk kamu.”


Bramanto masih menatap wajah Bu Tantri dengan tatapan sinis. Dalam hati sebenarnya dia sangat geram pada istrinya itu. Jika bukan di tempat ini bisa jadi tangan dan kakinya sudah melayang ke tubuh kurus itu, seperti biasanya jika dia tak sependapat dengan istrinya itu.


“Kau itu memang selalu melawan padaku, Tantri. Kau itu istriku, seharusnya kau mendukung aku,” kesal Bramanto dengan menurunkan tensi suaranya.


“Mendukung kegiatanmu yang dzolim terhadap anak-anak gadis orang? Tidak akan, Bramanto!" protes Bu Tantri.


“Dulu sewaktu kau fokus menjalani perusahaan peti kemas, aku memang benar-benar mendukungmu. Dengan tulus aku ingin selalu menemanimu di saat kamu jatuh terpuruk dan kembali bangkit. Saat itu aku merasa menjadi istri yang berharga, Mas.” Suara Bu Tantri lirih, air bening di sudut mata bergulir jatuh ke pipinya.


“Tapi ketika kau tergiur menjalankan bisnis yang sangat menjijikan ini, aku sangat terpukul. Aku merasa kehilangan kamu. Kehilangan suamiku yang dulu aku banggakan. Bahkan aku merasa jijik pada diriku sendiri. Terlebih menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri bagaimana perlakuanmu terhadap gadis-gadis yang masih polos itu,” lanjut Bu Tantri dengan air mata yang sudah merebak tak terbendung lagi.


Sejenak diusapnya kedua pipi yang basah dengan jemari.


“Tapi kau pun menikmati hasilnya juga, Tantri. Tak usahlah kau munafik begitu," ucap Bramanto dengan sinis.


“Tidak, Bramanto. Kau salah. Sepeser pun aku tak sudi menikmati hasil usahamu yang menjijikan itu. Aku juga punya saham di perusahaan peti kemas itu. Dari hasil penjualan semua aset keluargaku untuk menopangmu ketika kau nyaris bangkrut. Kau Lupa?”


“Alaaah! Itu, kan gak seberapa, Tantri. Sahammu di perusahaanku tak lebih dari lima persen,” seru Bramanto seraya tersenyum mengejek.


“Tapi lantaran sahamku yang sekian persen itu, perusahaan kau bangkit kembali, kan? Walaupun bagi hasil yang aku terima tak seberapa tapi aku jauh lebih menikmati itu dibanding makan uang haram darimu.”


“Kau istri durhaka, Tantri! Aku benar-benar kecewa padamu,” ucap Bramanto dengan sorot mata yang menghujam menatap lurus wajah Bu Tantri.


Namun Bu Tantri hanya tersenyum, Dia sudah tak merasa aneh lagi dengan segala ucapan kasar Bramanto itu. Karena biasanya hanya hardikan dan cacian yang menyakitkan yang selalu dia terima dari mulut suaminya itu.

__ADS_1


“Sekali lagi aku minta maaf tidak bisa menjadi istri yang kau harapkan. Ijinkan aku berbakti padamu untuk yang terakhir kali, Mas.”


Bu Tantri menyodorkan rantang kecilnya ke hadapan Bramanto.


“Aku memasak makanan kesukaanmu. Gulai daging sapi. Aku ingat betul kau sangat lahap ketika makan masakanku yang satu ini. Tanpa sadar kau memujinya, Mas,” ucap Bu Tantri mencoba tersenyum manis pada Bramanto.


Bramanto menoleh pada rantang kecil di hadapannya, lalu bergantian kembali menatap wajah Bu Tantri.


“Baiklah, aku akui masakanmu memang enak. Tapi itu saja belum cukup menjadi istri yang baik untukku. Dimataku kau tetap istri yang durhaka. Melawan pada suami. Dan senang melihat suamimu menderita begini,” tutur Bramanto masih dengan nada ketusnya.


Bu Tantri terdiam sesaat. Lalu tersenyum kembali. Air matanya sudah surut, hanya tersisa pinggiran matanya yang sembab.


“Baiklah kalo begitu. Aku pamit pulang. Sekali lagi aku minta maaf karena membuatmu kecewa. Jaga dirimu baik-baik, Mas. Dan Jaga kesehatanmu, ya,“ ucap Bu Tantri lembut seraya menyentuh punggung tangan Bramanto.


Lalu bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Bramanto yang masih menatap punggungnya.


***


Sepeninggalan Bu Tantri, Bramanto duduk bersila dan bersandar pada dinding bui yang terasa dingin dan lembab di punggungnya.


Di benaknya terngiang-ngiang kembali semua perkataan istrinya. Dalam hati sebenarnya dia mengakui apa yang disampaikan istrinya itu benar. Namun keegoisan dan arogansi yang membuatnya mengingkari itu.


Dia tak ingin dicap lemah oleh istrinya. Istri yang sudah puluhan tahun mendampinginya. Saat sedih maupun senang Bu Tantri setia hidup bersamanya, walaupun tak dikaruniai buah hati.


Ditatapnya rantang kecil yang dia terima dari sang istri. Lalu menggesernya dekat ke hadapannya. Dia buka satu persatu tumpukan rantang itu. Tampak masakan daging berkuah kuning dengan harum yang begitu menggugah selera.


Dia cicipi sedikit kuah gulai itu dengan sendok, terasa sangat nikmat di lidahnya. Lalu tanpa sungkan lagi, dia melahapnya bersama nasi putih yang masih mengepulkan asap halus.


Dia bersandar kembali pada dinding karena merasa perutnya sudah terisi makanan lezat yang tak pernah dia rasakan selama berada di bui ini.


“Bramanto, ada tamu.” Tiba-tiba seorang petugas memanggilnya dan membukakan pintu jeruji besi itu untuknya.


Bramanto bangkit dari duduknya dengan malas. Lalu melangkah keluar diapit oleh dua petugas yang sama.


Di ruang kunjungan, tampak Berlan duduk tegak menunggu Bramanto yang sudah muncul dari balik pintu.


“Selamat siang, Pak,” ucap Berlan sopan pada Bramanto yang sudah duduk di hadapannya.


Bramanto hanya mengangguk menanggapi ucapan salamnya.


“Informasi apa yang kau bawa? Aku harap kabar baik untukku," tanya Bramanto datar.


Berlan membetulkan posisi duduknya sebelum menjawab pertanyaaan kliennya itu.


Lalu dia menyodorkan sejumlah berkas ke hadapan Bramanto.


Bramanto menatap Berlan dengan tanda tanya di kepalanya. Lalu membaca berkas dihadapannya itu lembar demi lembar.


Wajahnya berubah seketika, kedua rahangnya menegang dan matanya membelalak penuh angkara.


“Reynard?” tanyanya serasa tak percaya.

__ADS_1


“Ya pak. Saya sudah menyelidiki dibalik ini semua ada campur tangan Reynard, Direktur Utama di perusahaan induk Anda, Pak. Orang yang memegang peranan strategis di perusahaan Bapak.”


“Kurang ajar!” hardik Bramanto geram membayangkan wajah Reynard.


“Dan saya baru temukan, perusahaan yang telah mengakuisisi perusahaan bapak dan sekarang menjadi pemegang saham mayoritas adalah perusahaan bayangan bentukan dari PT Emerald Adiyaksa Technology, Perusahaan milik Ferdian Adiwijaya,” tutur Berlan lugas.


“HAH?!! Apa?? Yang benar kau, Berlan?” Bramanto sontak terkejut.


Berlan membuka lembaran yang berada di belakang tumpukan berkas di atas meja. Dan menyerahkannya pada Bramanto.


Bramanto membaca isi berkas itu. Matanya terbelalak membaca data-data yang sangat lengkap mengenai perusahaan yang telah mengambil alih saham mayoritas di perusahaannya.


“Yang merekomendasikan perusahaan bayangan itu memang Reynard. Dia yang mengatur dan meyakinkan aku sejak awal proses akuisisi ini. Lalu apa hubungannya Reynard dengan Ferdian Adiwijaya?” tanya Bramanto lagi penuh tanda tanya.


Kembali Berlan mengeluarkan dua lembar berkas dan menyerahkannya pada Bramanto.


“Ini copy Ijazah program magister mereka, Pak. Ternyata Reynard dan Ferdian Adiwijaya pernah menempuh kuliah di Universitas yang sama dan angkatan yang sama di London. Jadi patut diduga mereka ini bekerjasama untuk menghancurkan Bapak. Reynard sengaja masuk di perusahaan anda selama ini untuk membantu Ferdian.”


“KURANG AJAR KAU, REYNARD!!!” teriak Bramanto geram. Membuat para pengunjung di ruangan itu menoleh padanya.


Bramanto memegang dada sebelah kirinya yang terasa berdenyut sangat cepat. Dia pejamkan matanya sesaat, mencoba menetralisir rasa sakitnya


“Jadi sekarang lima puluh lima persen perusahaanku adalah milik Ferdian Adiwijaya?” tanya Bramanto dengan suara yang melemah karena menahan sakit di dada.


Berlan mengangguk, “Benar, Pak,” jawabnya kemudian.


Bramanto lemas seketika mendengarnya. Raut wajahnya turun dengan kening yang berkerut.


Terbayang olehnya apa yang akan di lakukan oleh Ferdian dengan posisi yang dimiliki sekarang. Pria muda itu bisa saja menumbangkan perusahaan yang telah dia bangun dengan susah payah hanya dengan menjentikan jari.


“Ferry Adiwijaya, sudah mati pun kau masih bisa menghancurkan aku lewat putramu,” ucap Bramanto geram dengan suara tertahan.


“Sekarang aku benar-benar hancur, Berlan," ucap Bramanto lagi seraya mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Berlan hanya terdiam dan ikut merasakan kekecewaan yang mendalam dari klien sekaligus bossnya itu.


“Berlan, tolong kau atur bagaimana menyelamatkan sahamku yang tersisa. Jangan sampai semua diambil alih oleh Ferdian,” perintah Bramanto kemudian.


Berlan mengangguk, “Baik, Pak. Segera saya laksanakan.”


“Sekarang kau pulanglah. Aku mau istirahat. Kepalaku benar-benar sakit sekali hari ini.”


Bramanto bangkit dan melangkah gontai meninggalkan Berlan yang masih duduk terpaku menatap tajam foto Reynard tepat di hadapannya.


Dalam hatinya dia mengakui kecerdasan dan kelihaian dua orang ini. Reynard dan Ferdian. Begitu halusnya permainan mereka untuk menghancurkan Bramanto.


Permainan mereka benar-benar berani dan berisiko tinggi. Berlan sampai geleng-geleng kepala memikirkan hal itu.


Yuk ah LIke, Love, Fave, 5rate, kritik dan sarannya.


Thank you para reader yang sudah setia mengikuti update novel ini tiap hari.

__ADS_1


Di tunggu ya up up selanjutnya .. Author nafas dulu bentar, oke ...hehehe


__ADS_2