
Amanda memarkirkan sedan putihnya di depan sebuah kafe dan melangkah terburu-buru memasukinya.
Ia melihat Ivan melambaikan tangan padanya dari meja di sudut ruangan. Ia pun bergegas menghampirinya.
Ia buka kacamata hitamnya dan meletakannya di atas meja bersama tas tangannya. Lalu menempatkan diri di kursi yang tepat berhadapan dengan Ivan.
“Maaf telat, tadi ada fitting baju pengantin langganan aku,” ucapnya dengan napas yang tak beraturan.
“Gak apa, aku baru nunggu sekitar satu jam kok,” sahut Ivan melirik jam tangannya sekilas.
“Ada apa kamu mau ketemu aku disini?” Amanda melengos sebal disindir begitu oleh Ivan.
“Ada berita bagus,” jawab Ivan setelah menyeruput kopi latte-nya.
“Berita bagus apa?” tanya Amanda lagi semakin penasaran.
Ivan melirik nakal menuju belahan dada Amanda yang terbuka lebar. Amanda yang menyadari arah bola mata Ivan pun spontan menutup dada dengan tas tangannya. Pria Itu hanya tersenyum penuh makna melihat tingkah Amanda.
“Cepat bicara! Kamu jangan buang-buang waktu aku, Van.” Amanda tampak mulai kesal.
“Ini tentang Ferdian,” jawab Ivan cepat.
Mendengar nama pria Itu disebut, Amanda terbelalak lebar. Tentu saja Semua yang berhubungan dengan Ferdian adalah berita bagus untuknya. Kemudian ia menggeser kursinya untuk lebih mendekat pada Ivan.
“Ada berita apa tentang Ferdian?” tanya Amanda begitu antusias.
“Eeee tapi ... ada upahnya, dong.” Ivan menggodanya nakal. Wanita Itu pun melotot geram padanya.
“Upah apa? Jangan main-main kamu, Van. Cepat bilang, ada apa dengan Ferdian?”
Ivan malah tersenyum genit padanya. Lalu menyentuh lembut punggung tangan Amanda dan menggelitiknya pelan.
“Kamu mau bayar upah untuk ku dengan uang atau.... Hmm, kamu tau lah yang ku maksud,” ucap Ivan menggoda. Dia semakin liar menjalarkan jemarinya pada bahu Amanda.
“Ciiih! Dasar buaya kau! Yang pasti berita bagus, kan? Awas kalo berita buruk, Ku hajar kau nanti!” hardik Amanda kesal.
Lalu ia keluarkan beberapa lembaran ratusan ribu dari dalam tasnya dan menyerahkannya dengan kasar ke hadapan Ivan.
Pria itu menerimanya dengan senyum menyeringai dan lekas ia masukkan ke dalam kantong celana jeansnya.
“Ayo cepat bilang, berita bagus apa tentang Ferdian?” desak Amanda tak sabar.
“Aku gak sengaja ketemu Ferdian kemarin sore di restoran seafood. Aku sempat bicara lama sama dia.” Ivan memulai ceritanya perlahan.
“Lalu? Kalian pasti ngomongin aku, kan? Apa katanya? Apa dia bilang masih cinta sama aku dan mau balikan lagi?” Amanda membredelnya dengan pertanyaan.
Ivan hanya tersenyum sekilas menanggapi rasa penasaran Amanda.
“Iya ngomongin kamu. Aku minta maaf sama dia soal peristiwa dua tahun lalu. Awalnya dia marah, gak mau bicara sama aku. Tapi aku terus berusaha minta maaf. Dia cuma bilang udah melupakan kelakuan kita dulu dan gak mau di ungkit-ungkit lagi,” cerita Ivan mulai lancar.
__ADS_1
“Terus, apa dia udah maafin kita, Van?”
Ivan mengangkat kedua bahunya dan menghela nafas panjang.
“Kayaknya belum, dia cuma bilang sudah lupa, gitu aja sih,” jawab Ivan sekenanya membuat Amanda kesal dan melotot padanya.
“Terus berita bagusnya itu yang mana, Ivan?” Nada suara Amanda mulai meninggi membuat beberapa pengunjung kafe yang duduk di sekitar mereka pun menoleh padanya.
“Berita bagusnya, ternyata Ferdian sudah menikah dan saat itu istrinya bersama dia. Istrinya cantik dan masih muda,” jawab Ivan ringan tanpa beban.
Mendengar berita itu rasanya bagai tersambar petir sekaligus tertimpa tangga bagi Amanda. Remuk sudah hatinya. Matanya terbelalak tak percaya akan apa yang baru saja didengarnya.
“Kamu jangan bohong, Van!” teriak Amanda membuat para pengunjung kafe itu kembali menoleh kesal padanya. Tapi Amanda tak peduli dengan tatapan mereka.
“Tenang. Kamu jangan histeris gitu, dong,” bujuk Ivan mengecilkan volume suara sambil menoleh ke arah kiri kanannya.
“Kamu bohong, kan? Kamu cuma becanda, kan, Van?” teriak Amanda lagi.
Air matanya mulai merebak, satu persatu bergulir di pipinya. Ia mencengkram lengan baju Ivan dengan gemas.
“Aku gak bohong, Amanda. Dia bilang sendiri dia sudah menikah dan aku juga liat sendiri mereka memakai cincin pernikahan,” kata Ivan lagi menegaskan ceritanya.
Amanda menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Ia benar-benar tak tahan lagi mendengar cerita Ivan.
Plaakkk...!
“Bajing4n kamu, Van! Pembohong! Kata kamu tadi berita bagus? Itu namanya berita buruk, sialan!” hardik Amanda dengan air mata yang berderai.
Wanita yang di cengkram amarah Itu lantas meraih kunci mobil dan tasnya dengan kasar, lalu berlari pergi meninggalkan Ivan yang masih terdiam kesal sambil mengelus pipinya yang berasa panas dan tampak memerah bekas tamparan.
“Loh kok dia marah? Itu kan emang berita bagus tapi untuk Ferdian dan istrinya. Kan dia juga gak tanya berita bagus untuk siapa, terus salah aku dimana?“ gumam Ivan pada diri sendiri.
Ia terpaksa menahan malu ketika menyadari bahwa orang-orang di sekitar menyaksikan Amanda menampar pipinya dengan sangat keras.
Beberapa ada yang tertawa cekikikan, ada yang menatapnya iba dan ada juga yang tak acuh saja tanpa peduli bagaimana panasnya bekas tamparan Amanda.
“Mau diumpetin dimana nih muka limited edition-ku ini? Dasar cewek gila!” Ivan menggerutu di tengah rasa malunya.
Ia menyeruput sisa kopinya lalu bangkit dari kursi dan berlalu meninggalkan kafe itu diiringi tatapan berbagai rasa dari orang-orang sekitarnya.
Parkiran Kantor Ferdian.
Amanda menghisap dalam- dalam rokok putihnya. Bersandar di badan mobilnya dengan perasaan tegang dan marah. Matanya terus mengawasi orang-orang yang keluar masuk gedung di hadapannya.
Ia melirik jam di tangan. Sudah hampir jam empat petang. Sudah waktunya para pegawai di kantor itu pulang.
Kembali ia terpaku dan menghisap rokoknya lebih dalam lagi.
Seketika wajahnya berubah semringah kala melihat sosok yang ditunggunya keluar dari pintu lobi utama.
__ADS_1
Ferdian dengan memakai kacamata hitam melangkah menuju tempat kendaraannya terparkir. Lekas Amanda membuang rokoknya dan berlari menuju ke arah pria itu.
“Bebi....“ panggil Amanda di belakang punggung Ferdian yang sudah siap membuka pintu mobilnya.
Ferdian membalikkan badan, didapatinya Amanda berdiri di hadapannya dengan rambut yang acak-acakan dan riasan wajah yang luntur karena air mata.
“Bebi, aku ingin bicara,” mohon Amanda memelas. Ia makin mendekat ke tubuh Ferdian namun pria itu justru bergeser menjauh.
“Sudahlah, urusan kita sudah selesai,” ucap Ferdian dingin, lalu membuang pandangan ke arah lain.
“Bebi, apa benar kamu sudah nikah?” tanya Amanda langsung. Ferdian tak menjawab, ia hanya mengatup bibirnya rapat.
'Darimana wanita ini tau?' tanya Ferdian dalam hati.
“Please, Beb. Tolong bilang kalau berita itu tidak benar, kan? Ya, kan?” desak Amanda lagi.
“Benar atau tidak, apa urusannya sama kamu?” Ferdian balik tanya masih dengan nada suaranya yang dingin.
“Aku ingin kita kembali, Beb. Aku cinta sama kamu,” mohon Amanda dan mulai menitikan air mata.
Ferdian menghela napas berat. Lalu ia lepas kaca mata hitamnya dan menatap tajam wajah Amanda.
“Gak bisa, aku udah gak punya rasa apapun sama kamu,”
“Bohong! Kamu pasti masih cinta sama aku, kan.” Amanda mendesak setengah berteriak. Suaranya sudah mulai meninggi.
Beberapa orang yang lewat di depan mereka spontan menoleh ke arahnya. Ferdian merasa malu pada orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya karena hampir semuanya mengenal dirinya.
“Kamu cari pria lain saja, aku memang sudah nikah," ucap Ferdian kemudian.
“Nooooo!!!!” Amanda menumpahkan tangisnya. Air matanya merebak deras tak terbendung lagi.
“Aku cinta kamu, Beb. Aku gak rela perempuan lain merebut kamu,” Amanda semakin histeris.
Ferdian hanya menggeleng-geleng kepala melihat tingkah Amanda yang seperti perempuan tak punya etika.
Ferdian membuka pintu mobilnya untuk segera pergi dari tempat itu. Tentu saja ia malu karena orang-orang sudah banyak yang berhenti hanya untuk menyaksikan Amanda yang menangis terisak-isak.
“Bebi! Bebi! Buka pintunya. Aku mohon, Beb.” Amanda mengetuk-ngetuk kaca mobil, tapi Ferdian sama sekali tak menggubrisnya.
Mobil hitam itu seketika meluncur cepat meninggalkan dirinya yang terduduk di pelataran parkir sambil tersedu-sedu.
Sama sekali tak ia pedulikan lagi banyak pasang mata yang kini tertuju pada dirinya dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Aku akan cari tahu siapa perempuan yang berani mengambil Ferdian dariku. Aku akan habisi dia!” ancam Amanda geram.
Cast Amanda
__ADS_1