ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 7


__ADS_3

Dengan anggunnya Mercedes hitam metalic itu memasuki pekarangan sebuah rumah yang cukup luas ketika pintu gerbangnya yang tinggi berbahan kayu tebal terbuka lebar.


Walaupun lelah sudah menyergapnya, namun dengan sigap Ferdian keluar dari balik kemudi lalu melangkah memutari muka mobilnya dan membukakan pintu untuk Lusi. Kemudian mempersilahkan gadis itu untuk turun.


Perlahan gadis itu menapakkan kakinya pada pelataran lalu menatap wajah Ferdian sekilas kemudian mengalihkan pandangannya pada halaman berrumput hijau yang terhampar luas di depan matanya.


“Ayo masuk. Ini rumah aku. Jangan takut, disini kamu aman,” ajak Ferdian pada Lusi yang masih terpaku di tepi mobilnya.


Mendengar ajakan Ferdian itu Lusi pun mengangguk kemudian mengikuti langkah Ferdian memasuki hunian mewah itu.


Sesampainya di ruang tamu, Lusi mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Kesan teduh dan nyaman begitu kentara dia dapatkan dari ruangan itu.


Lampu kristal yang bergantung di tengah langit-langitnya dengan rangkaian sinar yang terpancar dari sana membuat ruangan itu begitu benderang namun tidak menyilaukan.


Di tambah lagi dengan seluruh dindingnya yang terlapisi dengan wallpaper bermotif vertikal dengan warna coklat muda, membuat ruangan itu tampak begitu cantik dan sangat elegant.


Dan Di beberapa bagian dindingnya bertengger beberapa lukisan abstrak dan hiasan kaligrafi yang terkesan mewah namun tetap sederhana.


Langkah Lusi terhenti karena ada sesuatu yang tiba-tiba saja mengganjal di dalam benaknya. Pandangan gadis itu pun terpaku pada pungung tegap Ferdian yang berdiri membelakanginya dan tengah menggulung lengan kemejanya asal saja.


“Kenapa? Kamu takut ?” tanya Ferdian saat dia menoleh ke belakang dan mendapati Lusi yang hanya bergeming di


tempatnya.


Dengan cepat Lusi mengangguk. Jelas dia takut dan seketika itu juga hatinya terbersit prasangka buruk terhadap Ferdian.


Wajar saja, karena dirinya baru saja terlepas dari terkaman harimau buas, jangan-jangan saat ini dia akan masuk ke dalam mulut buaya lapar.


Pria di hadapannya itu tersenyum. Lalu melangkah mendekat ke arah Lusi. “Jangan takut, disini kamu aman. Saya


bukan orang jahat, kok. Kamu tenang aja,” jelas Ferdian berusaha menenangkan pikiran Lusi. Karena dia mengerti rasa takut yang kini tengah menguasai diri gadis itu.


“Mana keluarga, Om? Kok sepi?” tanya Lusi dengan sorot mata curiga menatap wajah Ferdian.


“Keluarga?” Ferdian justru balik bertanya. Kedua alisnya bertautan demi melihat gelagat Lusi yang tampak jelas menaruh curiga padanya.


“Iya, ibu dan ayahnya Om mana? Atau Istri dan anak Om?” cecar Lusi menyelidik.


Alih-alih menjawab, Ferdian justru terkekeh pelan. Lalu dia langkahkan lagi kakinya mendekat pada Lusi saat Lusi perlahan mundur beberapa langkah untuk menjauhi dirinya. Dan terhenti karena dia tak ingin membuat gadis itu makin takut padanya.


“Orang tuaku sudah gak ada. Meninggal dunia sekitar tujuh tahun lalu,“ jawab Ferdian kemudian.


“Istri dan anak? Pasti ada dong? Mana mereka?“


“Aku belum nikah. Masih single. Sudah keliatan tua ya?” jawab Ferdian diselingi tawa untuk mencairkan suasana walaupun tampaknya belum berhasil menghapus kecurigaan yang masih mengganjal di dalam benak Lusi.


“Di rumah ini aku tinggal bersama Mbak Ira asisten rumah tangga dan Pak Dirman yang tadi buka pintu gerbang.“ lanjut Ferdian lagi.  Namun Lusi hanya bergeming dan masih menatapnya curiga.


“Sudahlah, aku jamin kamu aman di sini. Kalo kamu takut, aku bisa antar kamu pulang sekarang juga,” ucap Ferdian lembut seraya melemparkan senyumnya pada Lusi.


“Jangan. Jangan pulang ke rumah. Aku takut, Om. Ibu tiriku jahat, aku gak mau pulang ke sana,” Lusi memohon dengan mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada. Suaranya bergetar karena rasa panik dan takut lantaran membayangkan nasib buruk yang akan menimpanya jika bertemu dengan Ibu tirinya nanti.


“Ya sudah kalo gitu. Kamu istirahat dulu di sini. Kamu bisa pake kamar adikku. Kebetulan kamarnya kosong.


Ayo, aku antar,“ ajak Ferdian, lalu membalikkan badan kemudian melaju pergi menapaki anak tangga menuju lantai dua. Dengan melangkah bimbang Lusi pun mengikutinya dari belakang.


“Ini kamarnya,” Ferdian membuka pintu sebuah kamar ketika sudah berada di lantai dua kemudian melangkah memasukinya.


“Kamu bisa pake baju adikku di lemari. Keliatannya kamu seukuran dengan adikku.” Lanjutnya sopan.


Lusi mengangguk sekilas. Wajahnya yang semula menegang kini tampak mulai tenang dan senyum kecilnya pun perlahan mulai mengembang.


“Baiklah, aku tinggal dulu ya. Aku mau istirahat juga,” ucap Ferdian, kemudian memutar badannya hendak


meninggalkan kamar itu.


“Oiya, kalo kamu butuh sesuatu, kamu boleh ketuk pintu kamarku di sebelah kamar ini. Atau kamu bisa panggil


Mbak Ira lewat telepon. Tekan angka satu dan itu langsung nyambung ke kamar Mba Ira.” jelasnya kembali ketika ada sesuatu yang harus dia sampaikan pada Lusi.


Lusi mengangguk samar, lalu memberanikan diri mendekat pada Ferdian yang kini sudah berdiri di depan pintu kamar


“Om, terima kasih sudah menolong aku. Kalo gak ketemu Om mungkin sekarang aku cuma tinggal nama aja,” ucap Lusi lirih seraya menatap wajah Ferdian dengan sorot mata sendu.


Ferdian balas menatap bola mata Lusi, lalu berkata, “Sebenernya aku pengen tau juga kenapa orang-orang tadi ngejar kamu, tapi besok ajalah ceritanya. Kamu istirahat dulu ya, tenangkan pikiran kamu.”


Lusi mengangguk lemah dan berusaha menyunggingkan senyum di kedua sudut bibirnya untuk membalas senyuman Ferdian yang tampak terukir di wajah tampannya.


Sejurus kemudian, Ferdian membalikkan badan dan keluar dari kamar bernuansa putih itu meninggalkan Lusi yang langsung menutup pintu.


Melangkah gontai dengan tubuhnya yang terasa lunglai, Lusi memasuki kamar mandi yang terdapat di sudut kamar itu. Sejenak ditatapnya bayangan dirinya yang terpantul di permukaan cermin yang bertengger di atas wastafel.


Masih terlihat jelas luka memar di bawah matanya dan goresan bekas cakaran di samping lehernya. Dan luka-luka


itu terasa mengiris ketika dia membasuh wajahnya dengan air dingin yang mengucur dari keran.


Namun dia tak menggubris rasa perih itu, yang terpenting baginya kini rasa takut akan bayangan kenistaan dirinya yang sejak siang tadi di pikulnya kini serasa melebur luruh bersama tetesan air yang jatuh dari wajahnya.


Sekian menit membersihkan diri, Lusi keluar menuju walk in closet yang terletak disebelah kamar mandi. Di tatapnya deretan baju-baju cantik yang bergantungan sangat teratur ketika dia menguak salah satu pintu lemari dari beberapa lemari yang berjajar rapi.

__ADS_1


Kemudian di raihnya T-Shirt abu-abu berlengan pendek dan celana tidur panjang bermotif Teddy Bear dari satu


lemari yang dia perkirakan adalah tempat baju-baju yang khusus digunakan untuk keseharian. Lalu dia kenakan segera dan melangkah menuju ranjang kemudian membaringkan dirinya perlahan.


Dia tarik selimut yang masih terlipat rapi di ujung ranjang, kemudian melingkupi sekujur tubuhnya yang kini mulai tertusuk hawa dingin yang berasal dari penyejuk ruangan. Beban di kelopak matanya pun tak sanggup lagi dia tahan, hingga penat yang masih dia rasakan di pukul dua pagi ini memaksanya untuk memejamkan sepasang matanya untuk memasuki alam tidurnya.


Pagi hari.


Gadis manis itu mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya yang masih terasa berat saat rungunya menangkap suara ketukan yang berasal dari pintu kamar. Hingga sekali lagi ketukan di pintu itu terdengar dan memaksa dirinya untuk mengumpulkan nyawanya yang belum sepenuhnya menyatu.


Disibaknya selimut tebalnya dengan malas, lalu beranjak dari tempat tidurnya walaupun kantuk masih melanda dirinya.


Seorang wanita berusia di angka 40-an tersenyum ramah di hadapannya ketika Lusi membuka pintu kamarnya. Dia Mbak Ira, asisten rumah tangga yang bekerja di rumah ini.


“Maaf, saya membangunkan Non,” ucapnya sopan disertai beberapa anggukan.


“Gak papa, Bu,” jawab Lusi juga sopan walaupun kelopak matanya masih setengah terbuka akibat kantuk yang masih melanda. Satu kali gadis itu membuka mulutnya menganga lebar, menguap untuk menyerap oksigen ke dalam otaknya.


“Non mau sarapan di kamar atau di bawah sama bapak?” tanya Mbak Ira lagi.


“Saya ke bawah aja deh, bu,” jawab Lusi kemudian.


“Baik, Non. Saya siapkan.” Mbak Ira menunduk hormat lalu melaju menuruni anak tangga menuju dapur di lantai bawah.


Sementara itu, Ferdian duduk santai di kursi malasnya yang berhadapan langsung ke kolam renang di belakang


rumah. Bola matanya fokus berkutat menatap layar laptop di atas pangkuannya. Bersama konsentrasinya ketika otaknya harus bekerja meneliti berkas pekerjaannya yang dikirimkan melalui surat elektronik oleh sekretarisnya.


“Selamat pagi, Om,” sebuah sapaan sopan di belakangnya membuat Ferdian mendongak lalu menoleh ke pemilik suara.


Didapatinya Lusi melangkah dengan menundukkan kepala menuju ke tempatnya. Wajahnya mulai tampak segar berseri, tak pucat pasi lagi seperti malam tadi. Rambut panjangnya yang di kuncir kuda, membuat memar dan bekas cakaran makin tampak jelas di leher putihnya.


“Selamat pagi,” balas Ferdian seraya melemparkan senyum manisnya.


“Silahkan duduk, bawa sarapan kamu ke sini,” suruhnya lagi.


Lusi menuruti lalu menuju meja minibar yang tak jauh dari tempatnya berdiri dan dia tuangkan segelas susu lalu


mengoleskan selembar roti dengan selai coklat, kemudian perlahan dia kembali lagi ke hadapan Ferdian dan dia henyakkan dirinya persis di kursi seberang Ferdian yang hanya dibatasi dengan meja bulat diantaranya.


Ferdian menutup laptopnya dan membetulkan posisi duduknya lalu menatap gadis manis yang tengah mengunyah roti dengan lahap di hadapannya.


Pandangan pria itu tertuju pada bekas luka-luka dan memar di wajah dan leher gadis malang itu. Hingga begitu banyaknya pertanyaan yang tiba-tiba datang menghinggapi benaknya kini.


Lusi yang ditatap sedemikian intens tentu saja merasa sedikit risih. Tapi karena rasa lapar yang menggerogoti lambungnya sejak siang kemarin membuatnya bersikap masa bodo demi menikmati santapan paginya yang sayang untuk dia lewatkan.


Lusi memberi jawabannya hanya dengan mengangguk seraya menyuap potongan roti terakhir ke dalam mulutnya. Ferdianpun kembali menyungging senyum.


“Kalo boleh tau, apa luka-luka di wajahmu itu ada hubungannya dengan orang-orang yang kejar kamu semalam?” tanya Ferdian lagi, menginterogasi.


Lusi mengangguk lagi lalu balas menatap wajah Ferdian. Sepertinya masih ada rasa takut yang begitu dalam di bola mata bening itu karena rekaman peristiwa yang menimpanya kemarin berputar lagi di dalam benaknya.


“Siapa mereka?“ selidik Ferdian penasaran.


Sesaat Lusi menarik nafasnya, mengumpulkan kekuatan untuk mengatakan apa yang dia alami pada pria di


hadapannya. “Mereka pengawal-pengawal seorang pengusaha besar, Om” jawab Lusi namun masih menggantung.


“Pengusaha besar? Maksudnya?” Ferdian memicingkan kelopak matanya tajam menunggu kelanjutan jawaban yang akan dilontarkan Lusi padanya.


Lusi tertunduk sejenak merasakan perih hatinya yang masih terluka mengingat betapa teganya sang Ibu tiri yang telah menjual dirinya pada seorang pria tua.


Kemudian dia mengangkat kepalanya lagi namun kedua bola matanya tak kuasa menatap lawan bicaranya. “Pengusaha besar ini kerja sama dengan ibu tiriku untuk menipu aku, Om. Awalnya dia datang ke rumah dengan alasan untuk mengucapkan bela sungkawa atas kematian ayah yang dia akui sebagai teman lamanya. Aku percaya. Apalagi dia cukup tau tentang perusahaan ayah. Jadi aku makin percaya.” Lirih Lusi mengawali ceritanya.


“Dan tiba-tiba dia bilang akan mengadakan pesta di rumahnya dan dia butuh rangkaian bunga yang cukup banyak


untuk dekorasi rumahnya. Lalu dia meminta aku untuk datang ke rumahnya dan bicara dengan istrinya. Lagi-lagi aku percaya. Dia bicara sangat meyakinkan dan sangat sopan. Ibu pun ikut meyakinkan aku dengan bersedia menemani aku ke rumahnya,”


 “Lalu?“ tanya Ferdian kian penasaran. Sejenak Lusi menjeda untuk membasahi kerongkongannya dengan meneguk susu yang ada ditangannya.


“Ternyata sampai di sana aku ditinggal begitu saja oleh ibu tiri aku. Dia pura-pura telepon diluar rumah


itu, tapi setelahnya gak muncul lagi. Dan aku di kurung di dalam rumah itu sampe malam.“


Mendengar ungkapan Lusi yang begitu miris di telinganya, bibir Ferdian setengah menganga membayangkan apa


yang selanjutnya menimpa nasib gadis dihadapannya ini. “Ya Tuhan, lalu apa terjadi sesuatu sama kamu? Kekerasan atau perko...” Ferdian menggantung kalimatnya.


“Nyaris, Om. Aku nyaris diperkosa. Syukurnya tak sampai terjadi.”


“Malam itu aku dikurung di kamarnya dan dipaksa untuk melayani orang itu, Tapi aku berontak sekuat tenaga," lanjut Lusi kembali.


 “Apa?!” Ferdian terbelalak. Dia tersentak mendengar kalimat Lusi.


Lusi mengangguk lemah lalu melanjutkan kisah pilunya.


“Dia tampar aku, mencakar, bahkan memukul wajahku. Ini.” Telunjuk Lusi menempel di pelipis dan dibawah matanya.


Terjawab sudah apa penyebab luka baret dan memar di beberapa bagian tubuh Lusi. Ferdian mengeleng gelengkan kepala, miris.

__ADS_1


‘Kejam sekali orang itu,’ pikirnya. ‘Bagaimana mungkin ada orang yang tak berperasaan sampai tega menghajar gadis polos seperti Lusi.’


“Tapi untung saja ada malaikat penolong, Om. Kalo gak ada dia mungkin aku udah mati sekarang.”


“Oya? Siapa?“


“Istrinya laki-laki tua itu. Beliau yang menolong aku keluar dari rumah itu. Dia kasih obat tidur dosis tinggi ke


suaminya, yang membuat suaminya yang jahat itu tertidur seperti orang mati. Saat itulah aku di bantu keluar lewat pintu belakang dan lari sekencang-kencangnya. Pengawal-pengawalnya mengejar aku, sampai akhirnya aku ketemu Om di jalan.”


Lusi menundukan pandangannya, membawa ingatannya kembali pada Ibu Tantri, wanita baik yang telah berhasil menyelamatkan dirinya.


Bagaimana  nasibnya sekarang?


‘Lindungi beliau ya Tuhan.’ mohon Lusi dalam hati.


“Hmmm, tega sekali laki-laki itu. Siapa sih dia?” tanya Ferdian makin penasaran.


Sejenak Lusi berpikir berusaha mengingat nama pria tua yang beberapa kali di sebut oleh ibu tirinya.


“Seingatku namanya Bramanto. Bramanto....Raharjo. Ya, itu, Om,” jawab Lusi kemudian ketika sebuah nama muncul dalam memory otaknya.


Degh....


Degub jantung Ferdian serasa berhenti saat mendengar nama itu. Tiba-tiba saja wajah menawan itu tampak


menegang dan bola matanya menatap Lusi dalam-dalam demi memastikan sebuah nama yang baru saja didengarnya.


“Bramanto Raharjo?“ gumamnya dengan suara bergetar.


“Kamu yakin itu namanya?”


Lusi mengangguk. “Yakin, Om. Aku gak salah dengar. Aku ingat nama itu yang dia dan Ibu tiriku sebut waktu dia memperkenalkan diri padaku.”


“Bagaimana rupanya? Kamu ingat ciri-cirinya? Atau kamu dengar informasi lain soal laki-laki itu?” cecar Ferdian lebih serius menatap wajah Lusi.


Kembali Lusi menautkan kedua alisnya untuk memutar kembali rekaman di memory otaknya, untuk mengingat apa saja percakapannya bersama pria berhati busuk yang datang ke rumahnya kemarin.


“Badannya tinggi, besar dan cukup berwibawa seperti kebanyakan para pengusaha. Usianya aku tebak mungkin sekitar lima puluh tahunan. Suaranya sangat berat tapi kata- katanya ramah dan sopan. Dan seingat aku, dia bilang perusahaannya bergerak di bidang yang sama dengan almarhum ayah, ekspedisi. Tapi dia jauh lebih besar karena melibatkan antar negara. Apa ya namanya?”


Menelisik setiap kata yang diungkapkan Lusi, membuat jantung Ferdian kian bergemuruh kencang. Tak sabar dia menunggu gadis itu yang tengah berusaha mengingat sesuatu.


“Apa pekerjaan dia, Lusi?” desaknya memburu.


“Bisnis Saya ekspedisi juga tapi dalam skala internasional dan quantiti yang sangat besar dengan alat angkut berupa peti kemas di pelabuhan,”


Terngiang kembali dibenak Lusi semua yang dikatakan pria bernama Bramanto Raharjo itu padanya kemarin.


“Dia bilang, bisnisnya itu berskala internasional dan sangat besar. Dia menyebut sesuatu yang berhubungan dengan peti kemas di pelabuhan,” sebut Lusi akhirnya.


Degh....


Kali ini jantung Ferdian sepertinya mati sesaat, demi mendengar informasi tersebut. Desiran darahnya yang memanas seketika mengalir cepat menanjak ke saraf-saraf di otaknya, membuat kepalanya berdenyut hebat hingga menampilkan rona kemerahan yang menyemburat di seluruh permukaan kulit wajahnya.


‘Tak salah lagi. Itu dia!’ bathin Ferdian dengan wajahnya yang menggeram dan garis rahangnya yang menegang kencang.


‘Bangs4t!’ hardiknya dalam hati.


Tangannya lekas meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja lalu menekan beberapa angka yang sepertinya sudah sangat dia hapal.


Tuuutsss... Tuuuutss....


Nada sambung terdengar begitu dia tempelkan lempengan pipih itu ke telinganya lalu menunggu jawaban dari si


penerima di seberang saluran teleponnya.


“Halo, Bro....” sambut suara seorang laki –laki dari seberang.


“Bisa kau mampir ke rumah sebentar, ada sesuatu yang mau aku bicarakan,” pinta Ferdian.


“Oke, tunggu ya, aku mandi dulu....” sahut suara itu lagi.


Ferdian langsung saja menyudahi pembicaraan di teleponnya, lalu beranjak dari duduknya dan menatap lamat lamat wajah gadis manis yang yang tengah menenggak segelas susu di hadapannya itu dengan segudang rasa penasaran dan tanda tanya yang menggenang di benaknya.


 


 


 


 


 


 


PLEASE LIKE, VOTE, BINTANG 5, KRITIK DAN SARAN DI KOLOM KOMENTAR YAH, SAY.


HAPPY READING...

__ADS_1


__ADS_2