ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 70


__ADS_3

Serangkaian bunga kamboja bergoyang-goyang lemah di terpa angin senja yang semilir. Beberapa lembar daunnya terjatuh lunglai ke tanah. Komplek pemakaman yang Hening, hanya sesekali terdengar desiran angin yang berhembus lembut.


Di samping kiri kanan pusara yang batu nisannya bertuliskan Hamzah Suhendra, duduk bersimpuh Bu Merry dan Priska sambil menaburkan bunga-bunga dan sebotol air di atasnya.


Wanita setengah baya itu menekuri batu nisan yang terbuat dari marmer warna hitam itu. Sesekali tangannya mengelus-elus nya lemah. Bulir perbulir air matanya jatuh menetes di pipi, tanpa bisa di tahannya.


“Bang Hamzah, aku mohon maaf padamu, Bang. Ampuni aku. Selama ini aku sangat dzolim terhadap mu, terlebih terhadap Lusi anak mu. Aku tak bisa menjadi ibu sambung yang baik untuknya. Hiikks...Hikkss...Hiikss...”  ucap Bu Merry memohon dengan terisak.


“Seandainya waktu bisa diputar mundur kembali, aku ingin sekali menjadi istri yang baik untuk mendampingimu, dan menjadi ibu yang tulus menyayangi Lusi seperti anak kandung ku sendiri, Bang.”


Bu Merry tak kuasa lagi membendung deraian air mata nya yang terus mengalir dari pelupuk mata. Kerudung nya yang melorot dia gunakan untuk menyeka pipinya yang basah.


“Bang, Aku benar-benar menyesal. Menyesal sekali. Kamu begitu baik padaku, menyelamatkanku dan anakku dari kemiskinan, tapi apa balasan ku padamu, Bang. hanya penderitaan yang aku berikan untuk kamu dan anakmu. Ya Tuhan. Ampuni aku. Manusia macam apa aku ini yang tak tahu berterima kasih? “


Priska di hadapannya hanya menunduk dan berlinang air mata mendengar permohonan ampun darinya. Di elusnya punggung tangan mamanya dengan lembut.


“Mama,...” panggilnya lirih, matanya yang basah dan sembab menatap wajah mamanya.


“Sayang, mama akan mencari Lusi, mama akan minta maaf pada nya. Kita berdua sudah berbuat dzolim pada Lusi, Nak. “ ucap Bu Merry menoleh pada Priska. Nada suaranya lemah dan penuh penyesalan.


Priska mengangguk di sela isaknya. “Iya, Ma. Aku juga mau minta maaf pada Lusi. Aku selalu jahat padanya tapi dia tak pernah sekalipun membalas. Aku benar-benar nyesal, Ma.”


“Bang Hamzah, kamu tidurlah dengan tenang di alam kuburmu. Putrimu Lusiana sekarang sudah menikah dengan laki-laki yang sayang padanya dan akan selalu menjaganya dengan baik. Aku tau itu, Bang.”  Lirih Bu Merry lagi


sambil mengusap-usap batu nisan almarhum suaminya itu.


“Ma, ayo kita pulang. Sudah hampir Maghrib.” Ajak Priska kemudian.


Bu Merry mengangguk lemah. Sejenak di tatapnya kembali batu nisan hitam itu dengan sinar mata yang sendu. Lalu mengusapnya sekali lagi sebelum bangkit dari simpuhnya.


Keduanya melangkah menjauh dari pusara Almarhum Hamzah. Priska merangkul bahu mamanya yang melangkah gontai dan masih sibuk mengusap sisa-sisa air mata di pipinya.


Langkah Bu Merry terhenti melihat kantor petugas TPU yang berada di sisi pintu masuk pemakaman.


“Kamu duluan, sayang. Mama mau kasih uang dulu untuk penjaga makam, supaya dia membersihkan makam almarhum papa tirimu itu setiap hari.”


“Oke Ma, aku tunggu di mobil ya.” ucap Priska lalu meninggalkan mamanya.

__ADS_1


Bu Merry masuk ke dalam kantor petugas TPU. Sebentar dia berbincang-bincang dengan salah seorang petugas dan menyerahkan amplop berisi uang. Tak lama kembali keluar dan melangkah cepat menuju mobil nya yang terparkir di seberang lokasi pemakaman.


Tiba-tiba, dari arah samping kiri sebuah mobil suv hitam menuju ke arahnya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Bu Merry belum menyadarinya. Dia terus melangkah menyeberang jalan tanpa menoleh kiri kanannya.


Dan....Braaakkk....!!!! Tubuh Bu Merry tertabrak muka mobil itu dan terpental sejauh lima meter. Namun mobil itu tak berhenti, justru melaju makin kencang melindas tubuh bu Merry.


“Mamaaaaa....!!!!” Priska yang melihat langsung kejadian spontan berlari menuju tubuh mamanya yang tertelungkup di aspal dengan kepala yang bersimbah darah segar.


Warga yang ada di sekitarnya berlari menghampiri tempat kejadian tabrak lari itu. Mereka bersama-sama menggotong tubuh Bu Merry yang lunglai ke bahu jalan.


“Masih hidup. Ayo cepat, bawa ke rumah sakit.” Ucap salah satu warga yang melihat Bu Merry masih mengeluarkan suara mengerang lemah.


Bergegas Priska membuka pintu samping mobilnya. Dua orang warga ikut masuk ke dalam mobil untuk mengantarkan Bu Merry me rumah sakit terdekat.


Priska melajukan mobilnya kencang. Pandangannya sesekali menoleh ke belakang untuk melihat kondisi mamanya yang tidak sadarkan diri. Bibirnya terus memanggil-manggil mamanya.


Tak lama, mobil Priska masuk ke pelataran rumah sakit dan berhenti tepat di depan pintu ruang gawat darurat. Dua warga yang ikut langsung membopong tubuh Bu Merry dan diletakan ke atas brangkar.


“Mamaaa...!” panggil Priska di sisi tubuh Bu Merry yang diboyong masuk ruang intensif.


“Maaf, Mbak tunggu sini dulu.” Seorang perawat mencegah Priska masuk.


Waktu bergulir terasa begitu lama di rasa Priska. Tak ada satu orang pun perawat yang keluar untuk memberitahu keadaan mamanya.


Tiba-tiba Pintu ruang intensif terbuka. Tampak seorang dokter pria keluar dari ruangan itu dengan wajah lesu. Seketika itu juga Priska menghampirinya.


“Gimana keadaan mama saya, Dokter?” tanya Priska panik.


Dokter itu sejenak menatap wajah Priska. Pandangan matanya layu. Kemudian menggeleng lemah.


“Bagaimana Dokter?” tanya Priska lagi tak mengerti arti gelengan dokter itu.


“Maaf mbak. Kami sudah berusaha, tapi nyawa Ibu anda tak tertolong lagi.”  ucap Dokter itu lirih.


“Hah? Mama meninggal, Dok?”


Dokter itu menjawab hanya dengan anggukan lemah. Priska tersentak. Dia merasakan seolah-olah dunia runtuh di hadapannya.

__ADS_1


“Huuaaaa.....Mamaaaaa...”  Spontan Priska berhambur ke dalam ruang perawatan intensif dan menubruk tubuh Bu Merry yang terbaring sudah tak bernyawa lagi.


“Mamaaa, bangun, Maaa...”  Priska mengguncang-guncangkan tubuh Bu Merry yang bersimbah darah.


“Maaf, Mbak. Yang sabar. Ikhlas kan ya.” seorang perawat mengelus bahu Priska.


“Mamaaa...bangun, Maaa... Jangan tinggalin aku, Ma.”  Lirih dan sangat pilu suara tangisan Priska terdengar.


Gadis itu memeluk jasad mamanya erat-erat dan tak ingin melepasnya sedetikpun. Di ciuminya berkali-kali wajah dan kening mamanya yang masih tampak tertututp darah yang mengering.


***


Triiiiing..... Triiiing... Telepon Berlan berdering kencang. Segera dia rogoh dari dalam saku celananya. Lalu menerima panggilan untuknya itu.


“ Bagaimana?” tanyanya dengan nada datar.


“Beres, Boss. “ sahut suara laki-laki dari ujung telepon.


“Yakin?” tanya Berlan lagi.


“Seratus persen, Boss.”


Berlan segera memutuskan sambungan teleponnya. Lalu menatap Bramanto yang duduk bersandar pada kursi kerjanya dengan tatapan dinginnya.


“Bu Merry tamat, Pak.” Ucapnya datar dan tanpa ekspresi.


Dan seketika itu juga senyum kepuasan tergambar di dua sudut bibir Bramanto.


“Bagus... segera bawa anaknya ke sini. Biar kita yang pelihara. Hahaha....”  Tawa Bramanto berderai keras. Lagi-lagi dia sudah membayangkan sebuah keuntungan besar yang menanti di depan matanya dengan membawa anak gadis Bu Merry untuk di jadikan ‘anak asuh’nya.


“Baik Pak, segera laksanakan.” Ucap Berlan tegas seraya bangkit dari duduknya.


“Hei Berlan, ingat Ferdian Adiwijaya dan Istrinya. Aku ingin mereka berdua segera menyusul Merry.”  Seru Bramanto menahan Berlan yang hendak bergerak keluar dari ruangan kerjanya.


“Baik, Pak. Segera saya laksanakan.”  Berlan menunduk hormat sebelum meninggalkan Bramanto yang masih tertawa kecil seraya menyandarkan punggung di kursi nya.


“Ferdian Adiwijaya, tunggu saja waktu mu, sebentar lagi kau akan menyusul ayah mu. Berurusan dengan aku cuma dua pilihannya, Hidup atau mati. Hehehe...” ucap Bramanto pada diri sendiri seraya tertawa dengan nada sinis dan penuh kebencian.

__ADS_1


Tangannya kanannya mengelus-ngelus dada sebelah kirinya yang mulai terasa sakit menusuk-nusuk jantungnya. Kelopak matanya terpejam. Ditariknya nafas dalam-dalam lalu dihembuskannya kembali pelan untuk menghilangkan rasa sakit yang sangat menyiksa dari dalam dadanya. Begitu seterusnya hingga rasa sakitnya mulai dirasa mereda.


__ADS_2