
Air mata Lusi tak henti-henti menetes dan bergulir di pipi. Tanpa sedetik pun ia melepas pandangan dari wajah pucat Ferdian yang tampak begitu tenang dengan mata terpejam, diantara selang respirator yang membantu laju pernapasannya.
Jemarinya saling bertautan dengan jemari Ferdian yang terkulai di depannya. Dan sesekali ia mengelusnya lembut, berharap sentuhannya mendapat respon dari Ferdian.
Tiga hari pasca peristiwa kecelakaan itu, kondisi Ferdian terlihat masih kritis dan divonis mengalami koma.
Sementara Lusi yang sudah berangsur membaik tetap setia mendampinginya di sisi tempat tidur siang dan malam. Keinginannya hanya satu, selalu berada di sisi Ferdian, suaminya.
Gadis itu benar-benar takut kehilangan Ferdian. Karena baginya, hanya Ferdianlah satu-satunya tempat ia menyandarkan hidupnya kini.
Terdengar suara pintu dibuka dari luar. Dan Lusi mendongak sekilas. Tampak Reynard melongokkan kepala lalu melangkah pelan menghampiri tempatnya.
Tiba di ujung ranjang, Reynard hanya mampu berdiri terpaku menatap wajah sahabatnya yang terpejam tenang. Lalu mengalihkan perhatiannya pada Lusi yang meletakkan kepala di samping bahu Ferdian.
“Lusi,“ panggil Reynard pelan.
Gadis itu hanya melirik melalui ekor matanya.
“Kamu sebaiknya pulang dulu, ya. Aku sudah kirim supir untuk mengantar kamu pulang.”
Lusi mengangkat kepalanya lalu menggeleng lemah.
“Biar aku yang jaga disini. Kamu istirahat dulu di rumah sebentar, besok datang lagi,” lanjut Reynard lagi.
Dia sangat prihatin melihat raut wajah Lusi yang tampak pucat dan tirus. Tentu saja karena selera makannya yang putus dan nyaris tak tidur demi menjaga suaminya.
“Aku mau disini aja, Bang,” jawab Lusi lemah. Lalu meletakkan kepalanya kembali di sisi bahu Ferdian.
“Lusi, kamu juga harus jaga kesehatan kamu, kondisi kamu belum pulih benar.”
“Ayo pulang dulu, istirahat di rumah. Nanti kalau Ferdian buka mata dan melihat kamu dalam kondisi begini dia pasti ngomel. Tau sendiri 'kan kalo dia udah ngomel ngalahin ibu-ibu komplek cerewetnya,” seloroh Reynard mencoba menghibur Lusi.
Lusi mengangkat kembali kepalanya dan tersenyum kecil di sudut bibir.
Dalam hati dia membenarkan apa yang dikatakan Reynard. Memang Ferdian kalau sudah ngomel itu judesnya luar biasa.
Akhirnya Lusi mengangguk. Reynard pun tersenyum lega.
Perlahan Lusi bangkit dari duduknya, menundukan badan dan mengecup pipi Ferdian lama dan dalam. Lalu meraih punggung tangan Ferdian dan mengecupnya takzim seperti yang biasa dia lakukan setiap harinya.
Reynard tersenyum kecil melihat perlakuan manis Lusi pada Ferdian. Hingga dirinya terbawa perasaan haru karena memperhatikan bagaimana Lusi begitu menghormati dan mencintai suaminya.
“Aku pulang dulu, Bang Rey. Titip Mas Ferdian ya," ucap Lusi sesaat sebelum meninggalkan ruangan itu.
“Iya, Lusi. Hati-hati ya.”
Lusi mengangguk pelan lalu sekilas menengok lagi ke arah Ferdian yang masih terpejam dan tak bergeming.
***
Mobil sedan yang mengantar Lusi sudah memasuki pelataran halaman rumah setelah Pak Dirman membukakan pintu gerbang lebar-lebar.
Segera Pak Dirman berlari kecil menghampiri Lusi yang keluar dari mobil itu. Wajahnya pilu menunjukan rasa prihatin yang mendalam atas musibah yang menimpa Ferdian, majikannya yang sangat dia hormati.
“Alhamdulillah, Non Lusi sudah pulih. Terus bagaimana keadaan Boss sekarang, Non?” Pak Dirman bertanya lirih.
Lusi menatap nanar pada Pak Dirman yang berdiri di hadapannya, menunggu jawabannya.
“Masih kritis, Pak.” jawab Lusi kemudian. Lalu menunduk dan menitikkan air matanya.
__ADS_1
“Ya Allah. Semoga Boss cepat kembali pulih. Sabar ya Non," ucap Pak Dirman tulus.
Lusi menjawab dengan anggukan kepalanya sesaat sebelum melangkah gontai masuk ke dalam rumah.
Dia membuka pintu kamarnya perlahan. Di tatapnya ruangan yang tampak tertata rapi itu.
Bola matanya kembali berair ketika harum khas parfum favorite Ferdian menyeruak menggelitik penciumannya.
Harum woody yang sangat dia suka setiap kali memeluk tubuh Ferdian, membuat nya betah berlama-lama ketika berada didalam rengkuhan pria itu.
Lusi menarik nafasnya perlahan dan menghelanya juga perlahan. Dia berusaha menyurutkan air mata yang terus menerus mengalir.
Di usapnya pipi basahnya sekilas. Lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya sejenak.
***
Di rumah sakit.
Tiing.... Tiiing....
Suara dari telepon genggam Reynard memanggil. Di lihatnya nama kontak yang tertera di layarnya. Ibu Tantri.
Segera di gesernya tanda menerima panggilan dan melangkah sedikit menjauh dari ranjang Ferdian.
“Halo, Bu?” jawab nya lekas.
“Reynard, Kamu harus bawa Ferdian keluar dari rumah sakit secepatnya. Bramanto sudah tau bahwa Ferdian dan istrinya masih hidup. Dan kini sedang mengutus orang untuk mencari mereka.” Suara Bu Tantri begitu panik dan setengah berbisik.
“Apa?!!”
“Pokoknya sekarang juga kau bawa keluar. Kau tau kan apa yang akan terjadi jika orang-orang Bramanto menemukan mereka. Cepat ya.”
Darah Reynard berdesir kencang. Dia menengok tubuh Ferdian yang terbaring lemah di atas ranjang dengan di kelilingi kabel-kabel yang membantu kerja pernafasannya.
Bagaimana caranya aku membawa Ferdian keluar dari sini ?
Reynard memutar otaknya cepat untuk mencari jalan keluar membawa pergi Ferdian dari rumah sakit itu.
Dia segera mendatangi meja perawat jaga di ujung lorong. Lalu berbincang-bincang sesaat. Tak lama kemudian tampak dia melangkah beriringan dengan seorang perawat menuju ruangan dokter yang khusus menangani Ferdian.
Tak lama, Reynard keluar lagi bersama Dokter dan dua orang perawat dan melangkah cepat menuju kamar Ferdian.
Selang lima belas menit kemudian tampak mereka mendorong tubuh Ferdian yang masih terkulai di atas ranjang. Lalu bergegas keluar menuju ambulance yang telah menunggu di pintu utama.
***
Lusi keluar dari kamar mandi dengan mengenakan piyama mandi yang biasa di pakai Ferdian. Dia sudah tampak lebih segar dengan rambutnya yang menjuntai basah.
Dan menuju walk in closet lalu memilih pakaian kesukaannya, celana jeans dan T-shirt putih berlengan panjang. Kemudian dikenakannya cepat.
Di bukanya pintu lemari pakaian disebelahnya, tampak koleksi jas Ferdian yang tergantung rapi dan menyemburkan harum khas dirinya.
“Cepat pulih ya, Mas. Aku kangen,” gumamnya pelan seraya menyentuh salah satu Jas hitam yang tergantung di dalam lemari.
“Lusiiii.... Lusiii, buka!”
Tiba-tiba suara Cantika terdengar dari luar kamar mengagetkan dirinya.
Lusi setengah berlari menuju pintu dan membukanya cepat. Tampak Cantika dan Amanda beserta kawannya, Velly bertolak pinggang dengan menunjukkan wajah penuh kemarahan dan kebencian berdiri tepat di depan pintu kamarnya.
__ADS_1
“Ada apa Cantika?” tanya Lusi heran melihat ketiganya menatapnya bengis seperti hendak menerkam dirinya.
“Sekarang juga kamu keluar dari rumah ini.” Cantika menarik lengan Lusi dengan kasar.
“Hah? Jangan cantika. Awww.... Sakit.” Lusi menahan tangan Cantika yang mencengkramnya dengan sangat kencang.
“Kamu senang kan kakak ku koma seperti sekarang? Apa jangan-jangan kamu memang mengharapkan Kak Ferdian mati supaya kamu bisa kuasai hartanya. Ya, kan?” tuduh Cantika membabi buta tanpa alasan.
“Cantika...?” Lusi menggeleng-geleng kepala mendengar tuduhan Cantika yang sangat menyakitkan hatinya itu.
“Ayo ngaku. Dasar perempuan gak tau diri. Ingat yah, Lusi. Kamu gak akan dapat sepeser pun dari Kak Ferdian. Cepat kamu keluar dari rumah ini. Jangan pernah lagi menginjakkan kaki mu kesini.” Cantika di bantu Amanda menarik kasar lengan Lusi keluar dari kamarnya.
Lusi jatuh terduduk, mendongak dan menatap wajah Cantika dengan tatapan sedih dan kecewa.
“Aku gak seperti yang kamu tuduhkan, Cantika.” Air mata Lusi mulai mengalir.
“Jangan banyak omong, Cepat keluar! Anggap aja uang jajan yang Ferdian kasih ke kamu itu sebagai bayaran untuk kamu menemani dia selama ini.” Amanda ikut berseru ketus. Kata-katanya begitu tajam hingga menusuk hati Lusi.
“Gara-gara kamu datang ke rumah ini semua nya berubah, Lusi. Kak Ferdian jadi tak peduli sama aku, adiknya sendiri. Entah apa yang udah kamu kasih ke kakak ku itu,” serang Cantika seraya menunjuk-nunjuk kasar ke arah Lusi yang masih terduduk di lantai
“Cantika, kamu salah....” sergah Lusi.
“Salah apa, Hah? Aku tau kamu mau diajak nikah sama Kak Ferdian karena butuh uang, kan? Nih ambil uang untuk kamu, sekarang juga kamu pergi dari rumah ini dan jangan kembali lagi.”
Cantika melemparkan segepok lembaran uang berwarna merah dan berhamburan di atas kepala Lusi.
Hati Lusi bagai teriris-iris menerima perlakuan Cantika itu. Harga diri nya bagai terinjak- injak oleh kesombongan mereka.
Lalu dia bangkit dan mengusap air matanya. Dan menatap dalam wajah mereka satu persatu sebelum mengatakan sesuatu.
“Baik, aku pergi. Tapi ingat Cantika, aku bukan orang yang gila dengan harta. Aku tulus mencintai Mas Ferdian. Ambillah uang kalian kembali. Aku gak butuh.”
Tanpa menunggu diusir kedua kali dan menerima segala cacian yang menyakitkan, Lusi bergegas menuruni anak tangga.
“Non Lusi! Non, jangan pergi Non.” Mbak Ira berusaha mencegah kepergiannya di depan ruang makan.
“Aku pergi ya, Mbak. Maaf kalo selama ini aku banyak salah dan selalu ngerepotin Mbak Ira," Lusi berucap pilu seraya menggenggam tangan Mba Ira.
“Jangan pergi, Non. Kasian si Boss butuh Non Lusi.” Air mata Mbak Ira mulai berderai sambil menahan tangan Lusi.
“Aku minta maaf yah, Mbak.” Lusi segera menarik tangannya dari genggaman Mbak Ira dan berlari keluar rumah.
“Nooon Lusiii....Nooonn...!” Mbak Ira masih berusaha mengejar Lusi namun gadis itu sudah melesat cepat keluar gerbang.
Pak Dirman yang kebetulan tengah membuka gerbang karena menerima paket dari seorang kurir hanya terbengong-bengong melihat Lusi yang berlari kencang tanpa menghiraukan dirinya.
“Pak Dirman, gimana sih. Kok gak di tahan Non Lusi nya?” omel Mbak Ira seraya memukul bahu Pak Dirman dengan keras.
“Hah? Ada apa emangnya kok Non Lusi lari-lari?”
“Iihh dasar lemot, Non Lusi pergi, dia di usir sama Non Cantika."
“Hah? Kok gak bilang dari tadi sih. Non Lusiiiii!” Spontan Pak Dirman berlari keluar gerbang hendak menyusul Lusi namun sosok Lusi sudah tak tampak lagi.
Pak Dirman dan Mbak Ira hanya saling menatap pilu menyaksikan kepergian nona muda mereka yang tak dapat mereka cegah lagi.
Siapin Tissue ya gaess...
Please Like, Love, Fave, 5 Rate dan kritik/sarannya di koment.
__ADS_1