
Ferdian Adiwijaya.
Ketika Ferdian membuka pintu balkon kamar, hembusan angin pagi yang dingin dan lembab bekas sisa hujan semalam menyeruak.
Sambil menggeliat sesaat, ia berdiri di teras balkon mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Suasana pagi ini begitu memanjakan matanya yang masih terasa sepat dan berat.
Di langit yang bersih, sang surya sudah mulai menampakan diri menebarkan sinarnya ke bumi. Bersama titik-titik embun yang tampak berkilauan bagai perhiasan di atas dedaunan.
Kicauan burung-burung yang bertengger di ranting pepohonan bagai irama musik indah yang membelai telinga.
Tanpa sengaja pandangannya tertuju pada sosok wanita yang sedang berbaring di kursi tepi kolam renang.
Amanda?
Ferdian melangkah lebih maju lagi untuk memastikan penglihatannya.
Ya, benar. Itu Amanda tengah berbaring di atas kursi panjang di tepi kolam renang. Wanita itu hanya mengenakan pakaian renang yang sangat minim dan mencetak setiap lekukan tubuhnya.
'Ngapain sih itu cewek pagi-pagi sudah ada di sini?' kesal Ferdian dalam hati.
Amanda. Wanita yang dulu pernah dia cintai, dia sayangi, dia kagumi karena kecantikan dan kemolekan tubuhnya.
Betapa dulu Ferdian merasa sangat bangga bisa mendapatkannya ketika dia harus bersaing ketat dengan beberapa pria mapan yang juga ingin memilikinya.
Namun semua kebanggaannya itu musnah seketika saat memergoki Amanda bersama pria lain tengah bergumul panas di atas ranjang kamar hotel tepat sehari sebelum pernikahan mereka.
Amanda tiba-tiba mendongak menoleh ke atas, ke arahnya.
Tanpa bisa dihindari pandangan mereka bertemu. Amanda tersenyum seraya melambaikan tangan padanya. Namun ia enggan membalas. Ia langsung membalikkan badan dan masuk kembali ke dalam kamar.
Dari sudut kamar ia memandang Lusi yang masih terpejam di atas ranjang. Perlahan ia mendekat tanpa menimbulkan suara. Kemudian duduk di samping tubuh gadis yang terbujur lelap itu.
Ia menatap wajah polos Lusi yang tampak tenang dalam buaian mimpi. Tangannya terangkat perlahan, merapikan beberapa helai rambut yang menjuntai di wajah gadis itu.
Tanpa terasa, sudah tiga bulan mereka hidup bersama sebagai pasangan suami istri yang sah walaupun ada sebuah kesepakatan dibaliknya.
Tiga bulan yang penuh cerita sejak kehadiran gadis itu didalam hidupnya. Hari-harinya kini terasa sangat berbeda dan dia sangat menikmatinya.
Ia tak tahu apakah Lusi juga merasakan hal yang sama. Karena ia merasa sikap Lusi padanya hanya sekedar bentuk rasa terima kasih saja karena dia bersedia membantu gadis itu.
Namun setiap kali perasaan itu datang, hatinya merasakan sesuatu yang tak nyaman. Ia tidak ingin hanya sekedar rasa terima kasih saja yang Lusi miliki untuk dirinya, namun ia ingin sesuatu yang lebih dari itu.
Tok...Tok...Tok...
Ketukan di pintu kamar terdengar, membuyarkan lamunannya. Ia lekas menghampiri pintu dan membukanya perlahan agar tidak membangunkan gadis itu
__ADS_1
“Selamat pagi, Boss. Ada Mas Reynard datang,” sapa Mbak Ira di balik pintu dengan tersenyum senyum lebar.
“Reynard? Suruh tunggu sebentar.”
“Baik, Boss.“
“Oiya, Mbak. Bikinin saya telur setengah matang campur madu, ya.” Perintahnya menahan langkah Mbak Ira yang telah membalikkan badan.
Mbak Ira terlihat bingung mendengar permintaannya. Asisten rumah tangga itu memanjangkan leher melongok ke dalam kamar. Lalu tersenyum lebar, mengerti maksud permintaan sang majikan.
“Apa sih cengar-cengir?” omel Ferdian seraya berdiri menghalangi pandangan Mbak Ira yang tertuju ke dalam kamarnya.
“Hmmm ... mau di tambah susu dan jahe, Boss? Biar makin Joss gandos!" goda Mbak Ira polos sambil mengangkat jempolnya.
“Dasar mesum! Udah sana!” Ia membelalak geram karena paham apa yang Mbak Ira katakan.
“Baik, Boss.” Mbak Ira yang masih cengar-cengir penuh arti langsung berlalu pergi.
Ia masuk ke kamar mandi mencuci wajahnya sebentar, lalu keluar kamar dan turun ke lantai bawah menuju meja makan menemui Reynard.
Reynard tengah berdiri mematung menghadap ke kolam renang dengan secangkir kopi di tangan.
“Morning, Rey,” sapanya.
Reynard membalikkan badan, menoleh, lalu menghampirinya yang sudah menempatkan diri di kursi makan.
Ia tak langsung menjawab, hanya mengambil setangkup roti lapis dan mengunyahnya pelan.
“Bro?“ Reynard tak sabar menunggu jawabannya.
“Mungkin dia nginap di sini tadi malam bersama Cantika,” jawabnya setelah menyeruput secangkir kopi di tangan.
“Hah? Cantika udah pulang?“ seru Reynard terperangah.
“Iya, dua hari lalu.”
“Dia sudah dua hari pulang tapi kau gak kabarin aku? Aku, kan juga kangen sama Cantika."
“Aku juga gak tau. Dia pulang dadakan begini. Itu pun Amanda yang jemput dia di bandara.” Ia menggedikkan bahu, malas.
Reynard menoleh lagi ke kolam renang. Amanda yang hanya berbalut baju renang seksi berwarna hitam sedang berdiri membungkus tubuh dengan handuk putih.
“Lusi tau Amanda disini?” tanya Reynard lagi, penasaran.
Ia hanya mengangguk tanpa menoleh pada Reynard. Cangkir kopi di genggaman, ia jadikan mainan.
__ADS_1
“Apa reaksinya? Cemburu? Marah?"
“Gak tuh! Dia biasa aja. Sikapnya santai kayak dipantai,” jawabnya sekenanya.
“Berarti dia gak cinta sama kau, Bro!” ledek Reynard seraya tertawa lepas.
Amanda yang mendengar dari kursi tepi kolam menoleh ke arah mereka.
“Gak tau deh. Mungkin memang begitu.“ Ferdian mengangkat kedua bahunya sekilas. Ada rasa jengkel dihatinya mendengar perkataan Reynard.
“Yang sabar ya, Mas Bro!” Reynard masih terkekeh meledeknya yang kini memasang muka masam.
“Tumben hari libur kau kesini? Gak nge-gym?” tanya Ferdian mengalihkan pembicaraan.
Reynard menyeruput kopinya sebentar. Lalu ikut mengambil setangkup roti lapis di meja.
“Aku ada kabar untuk kau. Soal aset-aset warisan Almarhum ayah Lusi.” ucap Reynard merendahkan suara.
Hal itu menarik perhatian Ferdian.
“Kita bicara di ruang kerjaku saja,” ajaknya, kemudian berdiri dari tempat duduk.
Reynard pun ikut beranjak sambil menenteng cangkir kopinya.
“Hai, kak Rey!" Panggilan Cantika dari depan anak tangga menghentikan langkah mereka.
Wajah Reynard berubah ceria melihat Cantika. Gadis itu langsung menghambur memeluk Reynard erat.
“Apa kabar kamu, Cantika? Aku kangen banget sama adik kecilku ini,” tanya Reynard sambil mengelus pipi Cantika dengan sayang.
“Kabar baik, Kak. Aku juga kangen sama Kak Rey. Makin ganteng aja, deh.” Cantika memuji seraya menepuk bahu Reynard yang tegap.
“Oh iya, dong!” Reynard berdehem jumawa.
“Ganteng tapi jomblo. Kalah sama kak Ferdian,“ goda Cantika lagi melirik ke arahnya.
“Sembarangan! Yang ngantri banyak, nih. Cuma akunya yang masih pilih-pilih calon istri.”
“Betul itu, Kak. Harus pilih yang sesuai. Jangan asal pilih istri. Harus pilih perempuan yang matang, yang dewasa dan mandiri. Jangan yang manja,“ sahut Cantika menyindir sang kakak yang berdiri di samping Reynard.
Reynard menoleh padanya yang menatap tajam pada Cantika. Dan pria itu langsung paham maksud sindiran Cantika barusan.
“Ayo, Rey.“ Ia menepuk lengan Reynard untuk mengikutinya masuk ke ruang kerjanya.
“Nanti kita sambung lagi ya, Cantika,“ ujar Reynard mengelus bahu Cantika. Gadis itu mengangguk lalu melangkah pergi menuju kolam renang menghampiri Amanda.
__ADS_1
PLEASE LIKE, VOTE, 5 RATE, KRITIK DAN KOMEN NYA DIKOLOM KOMENTAR YAH.
HAPPY READING, GAESSS....