
Ferdian membelokkan kemudi memasuki pelataran sebuah hotel berbintang lima dengan bangunan yang sangat unik dan mewah.
Dia hentikan mobilnya tepat di muka pintu lobi, lalu keluar dan menyerahkan kunci mobil pada petugas Vallet Parking untuk dicarikan tempat parkir khusus untuk mobilnya.
Dengan langkah ringan dia memasuki lobi hotel yang mewah dan terang benderang itu menuju sebuah Exclusive Lounge yang sangat terkenal sebagai tempat berkumpulnya para eksekutif muda untuk sekedar melepas penat setelah seharian menguras otak.
Lounge itu tampak begitu ramai pengunjung. Ada yang saling bercengkarama soal bisnis atau apapun. Ada pula yang hanya sekedar menenangkan pikiran sambil meneguk wine, cocktail, jus, atau minuman lain sambil diiringi dentingan piano yang mengalunkan musik-musik sendu.
Ferdian menempati diri persis di kursi bar yang menghadap langsung pada bartender yang dengan cekatan meracik minuman untuk para tamu. Sejenak dia gulung lengan kemeja birunya sampai sebatas siku sebelum memesan minuman.
“Good afternoon. Your order, Sir?” Bartender menyapa dengan sopan.
“Rose wine, please,” pinta Ferdian.
“With alcohol?”
“Zero.”
Bartender itu mengangguk mengerti yang diminta Ferdian, tak lama kembali dengan menyodorkan minuman pesanan ke atas meja dihadapannya.
Ferdian meneguk minumannya sesaat, lalu kembali menundukkan kepala sambil memainkan gelas di genggaman. Matanya terpejam sejenak merasakan penat dan tekanan yang menggelayuti otaknya.
Di sudut lain Exclusive Lounge itu. Amanda dengan mengenakan topi lebar dan kacamata bening berbingkai tebal, memperhatikan gerak gerik Ferdian. Pandangannya tak lepas sedetik pun mengawasi pria itu.
Sudah beberapa hari ini diam-diam Amanda mengikuti Ferdian. Mengekori kemanapun dia pergi. Mencari-cari moment dan kesempatan untuk berbuat sesuatu yang bisa mencelakakan pria itu. Posesif dan ambisinya membuat dirinya tak bisa lagi mengendalikan hati dan akal sehatnya.
'Jika aku tidak bisa memilikimu, orang lain pun juga tak akan bisa.' tekadnya dalam bathin.
Tampak Ferdian beranjak meninggalkan kursi dan gelasnya yang masih terisi penuh di atas meja. Bola mata Amanda memperhatikan kemana tujuan Ferdian. Rest room.
Ini saatnya atau tidak sama sekali, pikir wanita itu.
Bergegas Amanda mendekati meja bar, duduk di sebelah kursi bekas Ferdian, mengedarkan pandangan ke kiri dan kanan sebentar untuk mengawasi orang-orang di sekitar.
Setelah dia rasa aman, tangannya bergerak perlahan, meraih sesuatu dari dalam tas tangannya, kemudian lekas ditaburkan ke dalam minuman Ferdian.
Sesaat diaduknya dengan cara mengguncang-guncangkan gelasnya. Lalu melangkah cepat kembali lagi ke tempat duduknya semula.
Tak lama, Ferdian melangkah santai kembali menempati kursinya lalu meneguk minumannya tanpa curiga.
Kembali rasa rindu pada Lusi menyelimuti hati. Pikirannya terus berpacu menerka-nerka dimana keberadaan istrinya itu sekarang. Wajah manis yang sulit dia lupakan bersama semua kenangan indah yang telah dia lalui kini terpampang di benaknya.
Namun tiba-tiba kepalanya terasa berat, seperti ada beban yang menindih di dalamnya.
Dia tertunduk. Pandangannya mulai kabur. Di kerjap-kerjapkan kelopak matanya untuk menormalkan penglihatannya tapi tak bisa. Semua benda yang dilihatnya tampak buram. Keringat dingin kini mulai mengucur di kening dan tengkuknya. Tubuhnya pun terasa lemah seakan tak bertulang.
Amanda memperhatikan Ferdian dari tempat duduknya. Dia menyungging senyum kecil di sudut bibir. Obat bius yang sudah dia taburkan di dalam minuman Ferdian tampaknya mulai bekerja.
__ADS_1
Dia bangkit melangkah perlahan mendekati Ferdian, lalu duduk di kursi sebelahnya.
“Ferdian....” panggilnya lembut seraya membelai kepala Ferdian.
Ferdian mengangkat kepalanya yang semakin terasa berat. Dia menoleh lemah pada amanda di sampingnya.
“Lusi?” panggilnya lirih. Bayangan wajah Lusi menari-nari di pelupuk matanya kini.
“Lusi, aku kangen....” Lalu menjatuhkan kepalanya lagi ke atas meja.
“Huh, anak bau kencur itu pula yang kau panggil,” omel Amanda kesal. Namun Ferdian sama sekali tak mendengar. Rungunya hanya menangkap suara desingan dan gaungan yang tak jelas.
Amanda melambai pada bartender yang sedang meracik minuman di sudut meja bar. Memberi kode dengan tangannya untuk meminta bill pembayaran. Lalu meletakkan beberapa lembar ratusan ribu di atas meja.
***
Dengan susah payah Amanda memapah tubuh Ferdian memasuki sebuah kamar hotel. Tiba di depan ranjang dia baringkan tubuh Ferdian ke atasnya lalu diaturnya dengan posisi terlentang.
Pria itu benar-benar tak sadarkan diri. Sama sekali tak merasakan apa yang sedang dilakukan Amanda kini.
Perlahan Amanda melucuti pakaian Ferdian satu per satu hingga tak sehelai pun yang menutupi tubuhnya. Dia memandangi sekujur tubuh Ferdian yang tampak sangat menggoda. Gairahnya pun mulai bangkit dan menggelora.
“Malam ini kamu milikku, Beb,” ucap Amanda mengelus lembut paha Ferdian yang ditumbuhi bulu.
Amanda mulai membuka bajunya satu per satu hingga menyisakan bra dan cd g-string yang menutupi area intinya. Lalu dengan gerak lamban dia merangkak ke atas tubuh polos Ferdian.
Kembali Amanda menjilati area-area sensitiv Ferdian dari bawah sampai leher. Kemudian mengecup bibirnya dan melum4tnya lembut.
Jari jemarinya meremas dan membelai lembut ‘sesuatu’ milik Ferdian di bawah sana. Walaupun tak ada reaksi sama sekali dari si pemiliknya namun Amanda sangat menyukainya.
Sejak dulu Amanda memang ingin sekali menyentuh ‘sesuatu’ milik Ferdian itu namun tak pernah berhasil. Karena Ferdian selalu menolaknya dengan berbagai alasan. Namun malam ini dia bisa menyentuhnya sepuas hati.
Segera diambilnya ponsel dari dalam tasnya. Lalu mengambil beberapa gambar dirinya yang sudah polos sambil memeluk dan mencium Ferdian yang masih terpejam.
Amanda memperhatikan foto-foto yang baru saja termuat di dalam layar ponselnya lalu tersenyum lebar. Kemudian membenamkan dirinya, memeluk tubuh Ferdian di dalam selimut yang sama.
****
Triiiiiing....Triiiing....Triiiiing....
Ponsel Ferdian berbunyi nyaring dari balik saku celananya yang tergeletak di lantai. Namun Ferdian mendengarnya hanya sayup-sayup saja.
Dia berusaha mengangkat kelopak matanya yang masih terasa sangat berat. Rasa kantuk itu sulit sekali beranjak walaupun sudah dia usap kedua matanya perlahan untuk mengusirnya.
Kepalanya terasa sangat berat seperti ada bongkahan batu besar yang menimpa didalamnya. Dipijitnya sesaat ruang di atas hidung di antara kedua alisnya untuk menghilangkan rasa pusing yang menjerat.
Dia buka matanya perlahan, menatap langit-langit dan ke sekeliling kamar. Lalu menoleh ke arah samping kirinya.
__ADS_1
Dan....
Ferdian tersentak luar biasa. Jantungnya pun seakan merosot dari tempatnya saat dia dapati sosok Amanda terlelap tepat di sampingnya dengan lengan melingkar di atas dadanya.
Spontan dia berdiri dan makin kaget lagi ketika menyadari tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun. Segera ditariknya selimut putih yang masih menutup tubuh Amanda. Dan tampaklah tubuh wanita itu yang juga nyaris polos hanya mengenakan bra dan cd-nya.
Seketika Amanda terjaga, lalu memicingkan mata seraya mengangkat kepala. Wanita itu mengullum senyum saat melihat Ferdian berdiri dengan mata terbelalak kaget menatap dirinya.
“Good morning, Beb,” sapanya lembut dengan suara serak.
“Kenapa aku bisa ada disini, heh?!” bentak Ferdian dengan nada suara kasar.
“Kamu berbuat apa sama aku?” tanyanya lagi, gusar.
“Tadi malam kamu hebat, Beb,” puji Amanda. Perlahan dia bangkit dan duduk di tepi ranjang menghadap Ferdian yang sudah membungkus tubuhnya dengan selimut.
“Jangan macam-macam, Amanda. Apa-apaan ini?”
Amanda terkekeh kecil menanggapi kepanikan Ferdian yang begitu nampak di wajahnya.
“Ya, tadi malam kita melakukannya, Beb. 3 kali pelepasan. Kamu bikin aku sangat puas. Masa kamu gak ingat?“ Amanda mengerlingkan matanya dan menggigit bibir bawahnya.
“Aaakhhh. Gak... gak ... ini cuma mimpi buruk....” Ferdian meremas rambutnya gemas dan kesal.
Dia tak percaya apa yang tengah dihadapinya saat ini. Dirinya dan Amanda, wanita yang sangat tak disukainya, berduaan dalam satu ranjang tanpa busana.
“Ini bukan mimpi, Sayang. Ini kenyataan. Ayolah, kalo kamu mau melakukannya sekali lagi, aku siap,” ucap Amanda menggoda dengan membuka kedua kakinya.
“Ya Tuhan....” Ferdian bergegas memungut bajunya satu per satu yang berceceran di lantai lalu bergegas mengenakannya asal saja.
Triiiing....Triiiing....Triiiing....
Dering ponselnya kembali memanggil. Di gesernya lekas tombol hijau untuk menerima panggilan seseorang di seberang sana.
“Halo Pak Ferdian, Bapak dimana? Bapak sudah ditunggu di ruang meeting, Pak.” Suara Vika terdengar panik dan sangat gusar.
“Ehh ... ehmm, Vika. Kalian mulai saja duluan. Nanti aku nyusul.” jawab Ferdian tak dapat menyembunyikan gugupnya.
Lekas, Ferdian mengakhiri sambungan telepon itu sebelum sekertarisnya bertanya lebih jauh.
Dia menoleh lagi pada Amanda dan menatap dengan sorot mata penuh amarah. “Ini mimpiku yang terburuk sepanjang hidupku, tau!” umpat Ferdian menunjuk kasar pada Amanda.
Bergegas dia melangkah keluar dari kamar itu meninggalkan Amanda yang masih menyisakan senyum di sudut bibirnya.
“Untuk kamu mungkin mimpi buruk. Tapi untuk aku ini mimpi indah, Sayang.” gumam Amanda sendirian dengan tersenyum penuh kepuasan.
Cast Amanda. Kalo ketemu di jalan jangan di bully ya. Kan cuma visual cast
__ADS_1