
Dio menempelkan kunci card sistem pada key box yang terdapat di atas gagang pintu apartementnya. Tak sampai dua detik pintu terbuka. Dio mendorong pintu itu lalu masuk ke dalam diikuti Lusi yang berjalan di belakang punggungnya.
Lusi mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan yang cukup luas itu, dengan furniture yang bisa dikatakan cukup lengkap untuk sebuah hunian.
Dio yang berdiri bersandar disamping jendela memperhatikan wajah Lusi yang sudah mulai tenang.
“Kamu tinggal disini, Dio?” tanya Lusi tanpa menoleh pada Dio. Matanya sibuk memperhatikan pernak-pernik berbentuk unik yang tertata rapi di atas meja ruang tamu.
“Iya, sudah sebulan ini aku tinggal disini. Sembari mengawasi proyek papa di tower sebelah,” jawab Dio santai. Lalu mendekat ke arah Lusi.
“Oiya bagaimana kabar papamu? Apa sudah sehat?”
“Hmm. Belum, Lusi. justru makin memburuk. Karena itu sekarang aku yang ditugasi melanjutkan semua proyek pembangunan Apartement ini. Ya sekalian mempraktekan ilmu dari bangku kuliah.”
Lusi tersenyum sesaat lalu menghenyakkan pantat dan punggungnya yang terasa pegal ke atas sofa.
“Kamu memang anak pintar dari dulu, Dio,“ puji Lusi bangga.
Dio hanya tersenyum kecil menanggapinya.
“Jadi, untuk sementara kamu tinggal di sini dulu ya, Lusi. Sampai semua keadaan membaik. Termasuk keadaan suami kamu.” ujar Dio ikut menghenyakkan tubuhnya di sofa di hadapan Lusi.
“Terima kasih, Dio. Kamu baik banget sama aku,“ ucap Lusi menatap wajah Dio dengan tulus.
“Pastinya aku gak akan biarin kamu tidur di jalanan, kan.”
Lusi menengadahkan wajahnya pada sandaran di belakangnya. Tatapannya nanar ke atas langit-langit. Ingatannya masih tertuju pada Ferdian, suaminya. Dia butuh sekali untuk mengetahui keadaan Ferdian saat ini. Tapi apa boleh buat, dimana keberadaannya pun dia tak tahu.
“Lusi, kamu masih mikirin suami kamu?” Dio sepertinya paham apa yang dia pikirkan.
Lusi mengangguk pelan. Raut wajahnya mulai redup.
“Aku yakin sekarang suami kamu berada di tangan yang tepat. Kamu jangan khawatirkan. Yang harus kamu pikirkan sekarang kesehatan kamu Lusi.”
“Aku sehat, Dio. Cuma sedikit pusing, mungkin karena lelah.”
“Ya sudah, kamu tidur di kamar ya, biar aku tidur di sofa ini. Kalo kamu mau bersih-bersih, kamar mandi ada di dalam dan kamu bisa pake baju aku dulu, pilih aja di lemari.“
“Oke, Dio....” Lusi beranjak dari duduknya perlahan.
“Dan, jangan lupa kunci pintunya, kadang aku suka berjalan saat tidur,” tambah dio bercanda. Lusi tersenyum sekilas, kemudian berlalu ke kamar yang ditunjuk Dio.
Lusi menatap kamar Dio yang tertata sangat rapi. Beberapa gambar seni arsitektur terpajang di beberapa bagian dindingnya.
Lusi menuju meja kerja Dio yang terdapat di sudut dekat jendela. Tampak buku-buku tentang design dan seni tata bangunan berjajar di atasnya. Jelas sekali Dio mencintai bidang yang ditekuninya sekarang ini.
Tak sengaja, Lusi melihat sebuah buku bersampul merah tua menyembul diantara buku-buku yang berjajar rapi. Di ambilnya buku itu dengan sangat hati-hati supaya yang lainnya tidak jatuh berantakan.
Perlahan dibukanya lembar pertama. Tampak foto dirinya bersama Dio mengenakan seragam putih abu-abu sedang tersenyum ceria, dibalik foto itu terdapat tulisan ‘Best friend forever’.
Disibaknya lagi beberapa lembar berikutnya. Selembar foto jatuh ke lantai. Dipungutnya foto itu dan tampak foto candid dirinya seorang diri sedang duduk di trotoar jalan. Dibaliknya foto itu untuk melihat caption dibelakangnya. ‘I can't stop loving you’. Lusi menghela nafas sesaat lalu tersenyum kecut membaca tulisan itu.
Masih penasaran dengan lembar-lembar berikutnya. Tak ada foto lagi. Tapi di lembar menuju akhir, Lusi menangkap sebuah tulisan tangan Dio yang sangat rapi, singkat, hanya beberapa kata saja.
__ADS_1
‘Dosakah aku karena mencoba memalingkan cintaku untuk yang lain?’. Dan dengan tambahan insial C yang diukir dengan sangat indah.
Lusi coba-coba mencerna makna tulisan itu. Lalu tersenyum manis. Dia paham maksud kata-kata yang di tulis Dio dari hati tersebut.
“Tak dosa, Dio. Kamu berhak jatuh cinta dengan yang lain,” gumam Lusi pelan.
“Seperti aku jatuh cinta pada Mas Ferdian, yang entah dimana dia sekarang.”
Lusi meraba tulisan itu, tiba-tiba air matanya menetes sebulir dan jatuh tepat di tengah tulisan itu. Membuat tintanya merebak dan nge-blur. Lusi panik, segera di tutupnya buku itu lalu di selipkannya kembali ke tempat semula.
Dihenyakkan pantatnya di kursi kerja Dio. Kedua lengannya terlipat di atas meja untuk menopang kepalanya yang masih sedikit terasa berat.
“Mas Ferdian, dimana kamu, Mas. Aku mau ikut sama kamu,” bisik Lusi.
Air matanya kembali deras mengucur dari kedua sudut matanya. Di pejamkan matanya yang basah dan membiarkan bayangan wajah tampan Ferdian yang tersenyum manis bermain-main di benaknya.
***
Kamar mewah itu sangat hening, hanya Bunyi alat ventilator yang terdengar. Bunyi itu seperti mewakili harapan Reynard pada sahabatnya yang kini terbaring koma di hadapannya. Ditatapnya dalam-dalam wajah pucat Ferdian yang tampak seperti orang yang tertidur sangat pulas.
“Wake up, Brother.“ Suaranya lirih berbisik di telinga kiri Ferdian.
Namun tetap tak ada reaksi apapun dari sahabatnya itu.
“Bagaimana keadaannya, Dokter?” Reynard beralih pada Dokter Devia yang baru saja selesai mengecek kondisi Ferdian.
Dokter Devia hanya menggeleng, “Masih sama, Pak Rey. Kita tetap terus berusaha yang terbaik untuk mengembalikan kesadaran Pak Ferdian.”
“Sama-sama, Pak Rey. Kalau begitu saya kembali ke kamar dulu. Dua perawat saya akan menjaga Pak Ferdian dua puluh empat jam bergantian. Pak Rey tak usah khawatir.“
“Baik, Dokter. Selamat beristirahat.”
Reynard mengantarkan Dokter Devia sampai muka pintu unit apartementnya. Lalu mengangguk sesaat sebelum Dokter Devia keluar menuju kamarnya.
Reynard memang sengaja menyewa dua unit kamar di apartement yang sama dengannya untuk Dokter Devia dan dua orang perawat yang dibawanya dari rumah sakit untuk merawat Ferdian yang kini terbaring di kamarnya dalam keadaan koma.
Dia benar-benar terpaksa membawa Ferdian ke Penthouse-nya yang sangat privacy itu untuk menghindari sesuatu yang buruk terjadi karena mendengar orang-orang suruhan Bramanto yang kini masih mengejar Ferdian dan Lusi.
“Lusi?” sebutnya kaget. Dia menepuk jidatnya sendiri gemas akan kealpaannya terhadap gadis itu.
“Ya ampun, kenapa aku gak kepikiran Lusi? Pasti dia cari Ferdian ke rumah sakit. Aku harus bawa Lusi juga ke sini.” Pikirnya.
Bergegas dia meraih batangan gawainya dan menghubungi nomor telepon kediaman Ferdian.
“Halo, selamat malam.” Suara Mbak Ira menyambut dari ujung telepon.
“Mbak Ira, ini saya Rey. Tolong sambungkan ke Lusi ya. Saya mau bicara.”
Mbak Ira sejenak terdiam lalu terdengar isak tangisnya yang berat.
“Ada apa, Mbak? Kok ketawa?” tanya Reynard keheranan.
“Mas Rey, saya bukan lagi ketawa, tapi lagi nangis,” protes Mbak Ira makin sesengukan.
__ADS_1
“Hah? Ada apa, Mbak?”
“Non Lusi, mas. Hikkss...hikkss...”
“Kenapa Lusi?” Reynard mulai gusar. Pikiran buruk terus menggerogoti benaknya.
“Non Lusi pergi, dia diusir Non Cantika. hiikkkssss..”
“Apa?! Diusir Cantika?”
“Iya Mas, tadi siang Mbak Dengar mereka bertengkar, terus tiba-tiba Non Cantika ngusir Non Lusi.”
“Ya Tuhan. Cantika. Kelewatan itu anak.”
“Ya udah, Mbak. Saya cari Lusi dulu. Mudah-mudahan dia ke rumah sakit.”
Reynard menutup sambungan teleponnya. Dan bergegas meraih kunci mobil lalu melesat keluar apartementnya. Tujuannya hanya satu. Ke rumah sakit.
***
Setengah berlari Reynard menyusuri lorong rumah sakit menuju meja perawat.
“Malam, Mas. Saya keluarga dari Pasien yang tadi pagi di rawat di ruang V-VIP 1. Atas nama Ferdian Adiwijaya.” sebut Reynard pada seorang perawat pria yang tengah berkutat dengan komputernya.
“Iya, Pak? Ada yang bisa di bantu?” tanya perawat itu sopan.
“Apa tadi ada perempuan yang datang ke sini mencari Pasien Ferdian Adiwijaya?”
“Hmmm, ada Pak, tadi sore. Tapi cuma sebentar lalu pergi lagi.”
“Nah, terus dia bilang gak kemana?” cecar Reynard.
Perawat itu hanya menggeleng. Reynard makin cemas dan khawatir, takut sesuatu yang buruk terjadi pada Lusi di luar sana.
“Dan bukan hanya perempuan itu saja yang cari Pak Ferdian. Ada dua orang laki-laki juga menanyakan Pak Ferdian,” tutur perawat itu lagi.
“Hah? Siapa ?”
“Mereka bilang dari kolega bisnisnya Pak Ferdian ingin menjenguk.”
Jantung Reynard berdegub kencang. Jangankan rekan bisnis Ferdian, sekertarisnya pun belum tahu apa yang terjadi dengan Ferdian sampai detik ini. Reynard sudah bisa menebak dua laki-laki itu pasti orang suruhan Bramanto untuk menghabisi Ferdian.
“Oke lah, saya permisi dulu. Trima kasih informasinya.”
Reynard bergegas keluar dari tempat itu dan menuju mobilnya. Sejenak dia bersandar di mobilnya. Otaknya berputar cepat. Dia bingung tak tahu harus kemana lagi mencari Lusi di tengah malam begini.
Please Like, Vote, 5Rate, Favorite, dan kritik / sarannya ya.
Author selalu Update 2-3 Bab perhari. tapi tetap menunggu Review dari tim noveltoon sebelum tayang. mohon maaf jika ada keterlambatan release.
Visual Cast Abang Reynard yang bikin hati Author dag dig dug dorr...
__ADS_1