ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 69


__ADS_3

Ferdian Adiwijaya? Adiwijaya? Apakah nama itu masih ada hubungannya dengan Ferry Adiwijaya? Atau hanya kebetulan saja bernama belakang yang sama? Bramanto berpikir keras.


Menyebut nama Ferry Adiwijaya membuat tubuhnya bergetar dan darahnya berdesir kencang.


Betapa tidak. Tujuh tahun silam, Sosok Ferry Adiwijaya adalah orang yang begitu dia benci dan membuatnya sangat sakit hati. Karena menjadi penyebab perusahaannya hancur akibat kalah bersaing dengan perusahaan yang dipimpin oleh Ferry Adiwijaya.


Dia terpaksa kehilangan kontrak senilai ratusan milyar rupiah dari sebuah perusahaan berskala Internasional yang sangat dia harap-harapkan sejak lama.


Karena hal itu menjadikan nama baik perusahaannya jatuh di mata para partner bisnisnya dan banyak investor menarik diri dari kerjasama dengannya karena dinilai perusahaannya tak cukup kredibel untuk bersaing.


Perusahaan yang dia bangun selama hampir dua puluh tahun itu akhirnya goncang dan menghadapi krisis manajemen keuangan.


Banyak karyawannya yang terpaksa di PHK dengan pesangon seadanya. Sakit hati yang membuncah pada Ferry Adiwijaya membuatnya memupuk dendam dan keinginan kuat untuk menghabisi nyawanya.


***Flashback On, 7 tahun silam


“Maaf, Pak. Segala upaya sudah kami lakukan. Tapi memang dewi fortuna belum berpihak pada kita,” ucap Sandi, salah satu manajer yang berposisi sangat strategis di PT Indomarine Corps. Perusahaan Bramanto.


“Siapa yang memenangkan tender itu?” tanya Bramanto dengan suara beratnya.


Sandi, sang manajer, tampak terdiam. Dia berusaha mengumpulkan keberanian untuk menjawab pertanyaan Bossnya yang terkenal sangat tegas dan temprament itu.


“Siapa?!!” teriak Bramanto dengan wajah memerah penuh angkara.


“PT Crystal Adiyaksa,” jawab Sandi cepat dengan wajah yang pias dan gemetar.


Braaaakk ...!!!


Meja kaca menjadi sasaran kemarahan Bramanto. Pecah retak di hajar oleh tinjunya. Buku-buku jemari tangannya tampak tergores dan mengeluarkan darah. Tapi itu tak dipedulikannya.


Rasa sakitnya tak berarti dibanding dengan kekalahannya dalam lelang tender yang bernilai sangat fantastis.


“Ferry Adiwijaya....“ geram suaranya, bola matanya menatap tajam lurus ke depan.


“Dia lagi dia lagi yang selalu mengalahkan aku,” gumamnya kesal.


Manajer Sandi beserta beberapa manajer lainnya yang berada di ruang kerjanya tertunduk dengan nyali yang menciut. Sama sekali tak ada yang berani mengangkat wajah apalagi buka suara.


“Kalian bodoh semua. Bodoh!!! Keluar kalian!!!” pekik Bramanto lagi.


Semua manajer yang berada di dalam ruangan itu sontak keluar beriringan tanpa ada yang berani menoleh sedikitpun padanya.


Bramanto terduduk di kursi kerjanya. Amarah di dada membuat jantungnya berpacu lebih cepat. Emosi yang tak bisa ditahan lagi membuat darahnya berdesir kencang. Tangannya yang sudah mengalirkan darah segar akibat pecahan kaca terkepal kian kencang.


Cepat dia meraih telepon genggamnya yang tergeletak di sudut meja. Dia cari nomor kontak seseorang lalu menggeser tombol hijau dilayarnya untuk memanggil.


“Halo, Boss.” Terdengar sahutan dari seberang.


“Agus, Kau ke kantorku sekarang. Cepat. aku tunggu,” ucap Bramanto dengan suara datar dan dingin. Lalu menutup sambungan teleponnya dan seketika itu juga membanting telepon genggamnya ke lantai.


Tak lama menunggu. Agus, orang yang ditunggu Bramanto datang bersama dua orang rekannya.

__ADS_1


“Siang, Boss. Siap menunggu perintah,” sahut Agus lekas. Menunduk sesaat memberi hormat.


Bramanto melempar amplop coklat besar ke atas meja kaca yang sudah retak dan hancur permukaannya. Agus meraih amplop coklat itu lalu membukanya segera.


Selembar foto di dalamnya bergambar seorang laki-laki setengah baya dengan wajah tampan bermata teduh. Beserta selembar kertas yang berisi data dirinya.


“Habisi dia. Terserah dengan cara apa. Yang pasti aku ingin dia mati!” perintah Bramanto dengan wajah menegang dan guratan dendam yang sudah mengaliri setiap pembuluh darahnya.


“Baik, Boss.“


“Dan ini bayaran kalian.“ Bramanto melempar amplop coklat yang tampak sangat tebal.


Agus segera mengambilnya dan meneliti sejenak isinya. Lembaran uang yang sangat banyak. Lalu dengan cepat dimasukan ke dalam saku jaketnya.


“Oke, Boss. Laksanakan.”


Agus dan kedua rekannya bergegas keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Bramanto yang masih membiarkan dirinya dikuasai amarah.


Satu minggu berlalu, telepon genggamnya berbunyi. Bramanto menjawab panggilan itu dengan cepat.


“Lihat di televisi sekarang juga, Boss.” Suara Agus dari ujung telepon. Hanya itu, lalu memutuskan sambungan teleponnya.


Bramanto menyalakan televisinya cepat. Pembaca berita menayangkan berita mengenai kecelakaan seorang pengusaha terkenal di sebuah jalan tol dini hari tadi. Pengusaha yang bernama Ferry Adiwijaya itu tewas di tempat bersama istri dan supirnya. Diduga supir mengantuk dan rem dalam keadaan tak berfungsi.


Seketika raut wajah Bramanto berubah cerah. Senyum tipis mengembang di sudut bibirnya.


“Rasakan kau, Ferry Adiwijaya. Walaupun kau menang tender tapi kau tak akan pernah bisa menikmati hasilnya," ucap Bramanto pada diri sendiri sambil tertawa puas.


Bramanto menghubungi Berlan lewat sambungan telepon.


“Halo, Pak," sahut Berlan dari ujung telepon.


“Berlan, coba kau selidiki orang yang melaporkan Merry kemarin. Ferdian Adiwijaya. Siapa dia dan data lengkapnya. Saya ingin hasilnya segera hari ini.”


“Baik, Pak. Segera saya laksanakan.”


Sambungan telepon dihentikan. Bramanto terduduk di kursi kerjanya, seraya menelisik dengan serius isi file dari flashdisk yang diserahkan Bu Merry kemarin.


***


Pintu ruang kerja Bramanto diketuk dari luar. Walaupun tanpa ijin dari pemilik ruangan, Berlan masuk dan menghampiri Bramanto yang masih sibuk berkutat dengan berkas-berkas di atas meja kerjanya. Dia hanya menoleh sekilas pada Berlan lalu meneruskan pekerjaannya.


“Selamat malam, Pak," salam Berlan dengan penuh hormat.


Bramanto mengangguk. “Bagaimana tugas yang aku perintahkan tadi?” tanya Bramanto kemudian.


Berlan mengeluarkan map berwarna coklat ukuran besar. Lalu meletakkannya ke atas meja Bramanto.


Bramanto membuka amplop itu lalu mengeluarkan isinya. Selembar foto dengan keterangan data diri yang sangat lengkap. Bramanto mengembangkan kelopak mata menatap lembaran foto di tangannya.


“Ya Tuhan, mirip sekali....” gumamnya pelan. Bramanto mengangkat wajahnya dan menoleh pada Berlan yang masih berdiri tegak di hadapannya.

__ADS_1


“Ferdian Adiwijaya berusia tiga puluh tahun, Direktur Utama PT Emerald Adiyaksa Technology, yang tak lain adalah tranformasi dari PT Crystal Adiyaksa. Dia putra dari Ferry Adiwijaya, owner PT Crystal Adiyaksa yang tewas tujuh tahun yang lalu akibat kecelakaan,” tutur Berlan lugas dengan nada suara datar.


Bramanto tersentak kaget mendengar keterangan dari Berlan.


Pantas saja wajahnya sangat mirip dengan Ferry Adiwijaya. Pikir Bramanto.


“Dia yang melaporkan Ibu Merry atas kasus penganiyaan yang menimpa istrinya, Ilusiana putri Hamzah yang tak lain adalah anak tiri Ibu Merry,” sambung Berlan lagi.


Degh....


Bramanto makin tak kuasa meredam detakan jantungnya yang terasa sangat kencang. Dia menyandarkan tubuhnya yang tiba-tiba terasa tak bertulang ke belakang sandaran kursi.


“Astaga, Lusi, gadis itu...” ucap Bramanto gemas menahan emosinya yang mulai bangkit.


“Siapa mereka, Pak? Anda keliatannya syok sekali mendengar nama-nama mereka?” tanya Berlan dengan lirikan mata yang penuh selidik.


Bramanto menarik nafas dan menghelanya dengan sangat berat.


“Ferdian Adiwijaya, ternyata dia adalah putera dari pesaing bisnisku, Ferry Adiwijaya. Dan Ilusiana adalah anak tiri Merry yang dia jual dengan sangat mahal kepadaku. Tapi anak itu kabur sebelum aku menyentuhnya.”


Berlan ikut tersentak kaget di balik wajah datar dan dinginnya. Keduanya terdiam sesaat.


“Menurut kamu bagaimana, Berlan?”


Berlan menghela nafasnya berat. “Menurut saya, Anda dalam masalah besar, Pak.”


“Maksudmu?”


“Saya yakin Ferdian ini pasti sudah mengetahui bisnis ‘sampingan’ Anda dari Istrinya atau pun dari Bu Merry, Pak. Dan jika dia mengetahui Bu Merry sudah bebas karena dijamin oleh saya selaku pengacara anda, saya yakin dia akan menyeret nama anda juga di kepolisian,” tutur Berlan.


“Apalagi dengan uang dan kekuasaan yang dia punya, sepertinya mudah sekali untuk dia melakukan itu,” sambung Berlan lagi.


Bramanto terdiam menatap Berlan. Sinar matanya menampakkan ketakutan dan kecemasan. Dia takut jika bisnis ilegalnya yang beromset sangat besar itu terbongkar pihak berwajib, bukan hanya dirinya yang dipenjara, bisa jadi nama baik yang selama ini dipeliharanya bisa hancur, bahkan nyawanya pun menjadi taruhannya.


Dulu ayahnya membuat bangkrut perusahaanku. Sekarang dia ingin bermain api dengan aku. Tidak. Aku tak akan biarkan bisnisku hancur kedua kalinya oleh klan Adiwijaya itu. Bathin Bramanto geram.


“Kalo begitu, habisi mereka semua sebelum mereka buka mulut pada polisi," perintah Bramanto dengan nada suara dingin dan sinis.


“Baik Pak. Laksanakan.”


“Berlan, ingat .... Jangan meninggalkan jejak, habisi dengan rapi.”


Berlan mengangguk hormat, lalu membalikkan badan keluar dari ruangan itu


Bramanto menarik nafasnya yang terasa sangat sesak. Jantungnya berdegub sangat cepat. Sakit sekali terasa di dada kiri. Sejenak dia tekan dadanya untuk menahan sakit, tapi tak bisa.


Dia terpejam dan menyandarkan punggungnya ke belakang sambil mengatur nafasnya perlahan.


Please, Like,Love, Vote, Rate, Tips, kritik & saran nya ya.


Thanks a lot yang masih setia ikutin cerita ini... Gass terus yookk. (Author)

__ADS_1


__ADS_2