ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 42


__ADS_3

Bu Merry memperhatikan lagi gedung megah di hadapannya. Bolak-balik matanya tertuju pada layar headphonenya meneliti aplikasi penunjuk arah yang tertera di dalamnya, apakah sudah sesuai tujuannya. Mobil masih dalam keadaan menyala. Petugas parkir telah memberi aba-aba untuknya memajukan mobilnya ke lantai basement untuk parkir.


Tapi karena tak ada jawaban dari Bu Merry, petugas parkir itu langsung menghampirinya yang masih celingak-celinguk menatap bangunan tinggi di hadapannya itu.


“Permisi, Bu. Ibu Mau kemana?” tanya petugas parkir berseragam biru yang sudah berdiri di samping mobilnya.


“Hmmm, betul ini Apartemen Candrakirana Mansion?“ Bu Merry balik tanya.


“Betul Bu, Ada yang bisa saya bantu?” tanya petugas parkir itu sopan.


“Saya mau ketemu famili saya, katanya tinggal di Apartemen ini.”


“Namanya siapa, Bu?“


“Johan Saputra. Dia baru datang dari luar negeri beberapa hari ini.”


“Oooh, Mr. Johan. Beliau di lantai dua lima, Bu. Itu VVIP Penthouse. Tamu yang kesana harus di antar security. Nanti ibu ke Resepsionis dulu, ya. Silahkan parkir di Basement dua ya, Bu,” ucap petugas parkir itu dengan sangat sopan.


Bu Merry mengangguk dengan senyum menyungging kecil di sudut bibirnya, lalu melajukan mobilnya memasuki basement mencari parkiran. Waaahh, tinggalnya di Penthouse, bener-bener kaya banget adik sepupu Hamzah itu ya, gelitik bathin Bu Merry membayangkan kekayaaan Johan.


“Halo Pak Johan, cumi-cumi masuk kandang, cumi-cumi masuk kandang.” Petugas parkir tadi menelepon Johan yang sedang menunggu di ruangan yang sangat mewah dan berkelas tinggi itu.


“Oke, siap di goreng, siap di goreng.” Balas Johan sembari bangkit dari duduknya.


Kemudian Johan segera mencari nama seseorang di layar handphonenya, lalu menggeser tanda dialling untuk menghubungi. Terdengar nada tunggu yang cukup lama, membuat Johan tampak sedikit gusar.


“Yap, bagaimana?“ Terdengar suara datar dari ujung saluran teleponnya.


“Boss, cumi-cumi segera masuk kandang. Sudah di lokasi.”


“Goreng sampe mateng, Oke.“


“Baik Boss Reynard. Laksanakan,” ucap Johan tegas, lalu menutup sambungan teleponnya.


Beberapa saat di ceknya ke sekeliling ruangan yang berinterior elegant itu. Dari mulai ruang tamu, ruang tivi, kamar dan balkon yang menghubungkan langsung ke kolam renang pribadi.


Tampak Foto-foto Reynard dan keluarganya masih bergantung di beberapa sudut didinding yang berwallpaper warna keemasan. Segera diturunkannya dan di letakkan ke dalam kamar mewah di dalam ruangan itu. Di masukkannya semua foto-foto berbingkai cantik itu ke dalam lemari kecil.


Di edarkan pandangannya ke sekeliling ruangan kamar yang berinterior sangat maskulin itu. Di meja kerjanya tampak bertengger beberapa bingkai foto. Gambar Reynard dengan gadis-gadis cantik yang berbeda-beda di tiap fotonya. Ada yang dengan gadis Asia, dengan gadis Eropa, dengan gadis lokal pun ada.


“Boss Reynard ini sebenernya Pengusaha atau anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa sih?“ gumam Johan sambil berdecak lalu mengumpulkan foto-foto Reynard itu dan memasukkannya ke dalam laci meja kerja.


Ting nong...Ting nong..Ting nong... Terdengar bunyi bell dari pintu depan. Sejenak Johan berkutat di cermin dan merapikan rambut klimisnya dengan jari. Bergegas dia menuju pintu. Diintipnya bagian luar melalui lubang pintu. Tampak Bu Merry bersama 2 orang petugas security berdiri menunggu.


Ceklek... Pintu terbuka. Johan nongol dari baliknya dengan memamerkan senyum termanis yang dia punya. Bu Merry pun tersenyum lebar melihat Johan.


“Selamat pagi, Tuan. Ibu ini mencari anda.” Sapa salah satu security berseragam serba hitam dengan tegas dan hormat.


“Iya, saya memang lagi tunggu. Ini kakak ipar saya,“ sambut Johan dengan tersenyum ramah pada kedua security itu.


“Baik. Permisi, Tuan.“ kedua security menunduk hormat lalu meninggalkan tempat itu.


“Silahkan masuk, Kakak ipar.“ Johan membuka pintunya lebar dan mempersilahkan Bu Merry masuk.


Dengan raut wajah takjub Bu Merry melangkah memasuki ruangan mewah yang terbentang di hadapannya. Mulutnya menganga, matanya terbelalak saking kagumnya dengan suasana ruangan unit apartemen itu.


Johan mengikuti langkahnya dari belakang punggungnya sambil tersenyum geli. Apalagi melihat penampilan Bu Merry yang sangat seksi dengan mengenakan rok panjang ketat berbelah tinggi sepaha dan baju kemeja ketat dengan kancing terbuka di bagian dadanya. Ditambah dandanan menor disertai cepolan rambutnya yang super tinggi menjulang sepertinya sengaja memperlihatkan leher nya yang sudah berkerut.


Mangap mangap deh Lu liat apartemen Boss Reynard ini. Dasar matre. Ucap Johan  dalam hati.


“Selamat datang di gubug aku, Kakak Ipar.” Sambut Johan ramah.


Bu Merry membalikkan badan menghadap Johan yang hari ini tampil sangat memikat. Dengan baju polo shirt putih dan celana jeans, rambut klimis licin dan harum tubuh semerbak khas maskuline membuat Johan tampak seperti bintang film sekaligus pengusaha papan atas.


Bu Merry tak berhenti menatap Johan. Dia terpana pada sosok Johan yang berdiri di hadapannya.


“Gubug? Ini Istana, Johan,” jawab Bu Merry dengan mata berbinar-binar.


Johan hanya tertawa renyah mendengarnya. Lalu mempersilahkan Bu Merry duduk di sofa dengan design yang sangat elegant.

__ADS_1


“Jadi, kamu tinggal disini sama siapa? Dengan seseorang kah? Pacar?” Bu Merry melirik Johan penuh selidik.


“Sendirian, kak. Belum punya pacar, hehehe...Mana ada yang mau sama aku yang sudah tua bangka begini,” seloroh Johan seraya menghenyakkan pantatnya persis di samping Bu Merry.


“Ah, masa sih pria setampan dan semapan kamu ini tak punya pacar?“ Tanya Bu Merry memancing dengan genitnya.


“Yang mau sih banyak, Kak. Tapi saya masih pilih-pilih untuk dijadikan pendamping yang serius.”


“Memang perempuan pilihan kamu seperti apa? Kalo boleh tau, loh.” Bu Merry makin mendekatkan duduknya pada Johan.


“Hmmm. Seperti apa ya? Yang pasti baik, cantik, pengertian, pintar dan mau mendukung bisnis aku," jawab Johan sambil menyungging senyum genit pada Bu Merry.


“Dan, Kak Merry sendiri kenapa masih sendiri? Apa gak mau cari pengganti Almarhum Bang Hamzah?” Johan balik tanya dengan suara lembut sambil menatap mata Bu Merry dengan sendu.


Bu Merry tertunduk, senyumnya yang tadi melebar seketika lenyap dan langsung memasang wajah sedihnya.


“Sebenernya ada keinginan untuk mencari pengganti Bang Hamzah. Tapi aku masih belum bisa melupakan Almarhum. Almarhum orang yang sangat baik dan aku sangat mencintai dia," ucap Bu Merry sembari menitikkan airmata.


Cuiihh, boro-boro cinta, aku nikah sama Hamzah karena hartanya aja. Ngapain sama laki-laki berpenyakitan gitu. Bathin Bu Merry mengutuk.


“Kak? Maaf atas pertanyaan saya tadi bikin Kak Merry jadi sedih.” Johan merapatkan duduknya pada Bu Merry dan menyentuh tangan Bu Merry.


“Berarti susah untuk aku mencoba mendekati Kak Merry ya? Aku takut bersaing cinta dengan Almarhum karena Kak Merry sangat  mencintai Almarhum Bang Hamzah.“


Jawaban Johan menyentakkan Bu Merry. Dia yang tadi tertunduk spontan mendongak menatap wajah Johan. Dia merasa sangat tersanjung mendengar penuturan Johan.


“Maksud kamu...?"


“Ya, aku merasa klik dengan Kak Merry sejak pertama bertemu. Aku liat Kak Merry perempuan yang penuh pesona dan pintar. Aku suka wanita pintar karena dia pasti akan mendukung karirku," jawab Johan lembut sambil mengelus-elus punggung tangan Bu Merry.


Hasrat wanita setengah baya yang sedang mengidap puber ke sepuluh itu langsung melayang tinggi. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Bu Merry gantian menggenggam tangan Johan dan meremasnya lembut. Dia terpana dengan senyum tipis Johan yang menggambarkan kewibawaan sikapnya. Bu Merry makin mendekatkan wajahnya pada wajah Johan. Matanya terpejam, bibir merahnya terbuka sedikit untuk mengundang gairah Johan.


Waduuuhhh, main nyosor aja nih tante- tante ganjen. Ngeri off side nih aku. Ucap Bathin Johan, bulu kuduknya bergidik melihat bibir Bu Merry yang menantang di hadapannya.


Kembali terngiang-ngiang perintah Reynard di dalam kepalanya.


“Kau harus bermain cantik, Johan. Rayu dia sampe klepek-klepek, bila perlu gunakan pistolmu," ucap Reynard dua hari lalu di kafe tempat biasa mereka bertemu.


“Maksud aku Pistol mu yang itu,” sahut Reynard menunjuk 'benda' diantara selangkang4n Johan.


“AAAAAKK?! Waduh, ini Properti Hak Milik Istri saya, Boss.“ Johan tersentak kaget dan spontan menutup bawahnya dengan telapak tangan.


“Pokoknya bagaimanapun caranya kau harus berhasil mengambil semua sertifikat dari tangan Merry. Ingat, uang yang akan kau terima nanti bisa untuk melunasi semua hutang-hutangmu dan sisanya bisa kau belikan rumah kecil untuk istri kau. Apa kau mau terus-terusan di kejar debt collector?“


Johan mengangguk ragu. Namun mengingat istri dan anak-anaknya di rumah yang selalu ketakutan tiap kali debt collector datang menagih hutangnya membuat Johan mantap mengangguk menuruti perintah Reynard.


Toh, kerjaannya juga gak berat kok. Cuma ngelus-ngelus “daging” yang hampir kadaluarsa. Pikir Johan saat itu makin menambah keyakinan dirinya.


Bibir Bu Merry masih menantang di hadapannya. Sangat dekat hingga hembusan nafasnya pun menyapu wajahnya. Bibir  Johan mulai mendekat juga, seraya menelan air ludahnya yang getir.


Triiinggg. Trriiinggg. Triiiiing....Johan tersentak. Handphone Johan di saku celananya berbunyi nyaring. Memecah suasana syahdu di antara mereka. Bu Merry pun ikut kaget dan salah tingkah membetulkan anak rambutnya yang menjuntai di wajahnya.


Di tengoknya layar handphonenya. “Bodyguard.” Suaranya pelan namun Bu Merry juga sempat melirik ke layar handphone Johan.


Waduh istri telepon pula, Bathin Johan disergap panik


“Sebentar ya, bodyguard aku telpon, mungkin ada sesuatu.” Pamit Johan dengan tenang lalu ngeloyor menjauhi tempat Bu Merry.


“Ya, Hallo? Ada apa Jarot?” Sapa Johan menjawab panggilan telponnya.


“Hah? Jarot? Ini gue, Maesaroh, Bang!” Sahut seorang wanita dari seberang sambungan teleponnya.


“Oh, iya..iya...Ada apa?” tanya Johan gugup. Tampak Bu Merry tengah memperhatikannya sambil duduk santai menyilangkan kakinya.


“Bang, ini debt collector dateng lagi. Pusing nih Maesaroh ngadepinnya, Bang. Cepetan pulang napa. Mana serem-serem banget nih yang dateng. Badannya kayak truk gandeng semua. Saroh takut nih, Bang,” ucap Maesaroh, istri Johan dengan nada panik dan ketakutan.


“Iya..Iya. Bilang aja abang lagi di luar kota. Ntar ada uang langsung abang lunasin,” ucap Johan berbisik-bisik.


“Aduh Bang, jangan janji-janji mulu deh, buruan lunasin aja napa.”

__ADS_1


“Iya sabar, Saroh. Ini Abang lagi kerja.”


“Cepetan pulang, Bang. Sekalian beliin beras yak, udah 2 hari anak-anak makan bubur mulu kan gak kenyang, Bang.”


“Iya, Saroh. Sebentar lagi Abang pulang. Oke abang kerja lagi ya.”


Tanpa menunggu jawaban dari istrinya Johan langsung menutup sambungan teleponnya. Lalu melangkah kembali menghampiri Bu Merry.


“Maaf Kak, tadi pengawal aku telpon, ada masalah soal pembebasan lahan 100 hektar di pulau Sumatera. Kebetulan aku beli dari penduduk setempat tapi ada beberapa yang suratnya bermasalah,” ujar Johan berdusta.


“Waaahhh, kamu beli segitu luasnya untuk apa, Johan?” Bu Merry tampak antusias.


“Untuk lahan kelapa sawit, Kak. Aku mulai berbisnis kelapa sawit.”


“Ya Tuhan, kamu pandai sekali dalam berbisnis ya, Johan. Aku jadi makin kagum sama kamu,” ucap Bu Merry sumringah.


“Ya usaha kecil-kecilan, Kak. Tapi yang aku bingung sekarang tanah itu akan segera digarap tapi belum ada investor, padahal kalo di hitung-hitung keuntungan bagi hasilnya luar biasa kalo lahan itu di garap semua.”


“Oh ya? Berapa potensi keuntungannya, Johan?“ tanya Bu Merry makin antusias.


Sejenak Johan berpikir sambil memegang keningnya.


“Yaaaa. Sekitar satu milyar sebulan. Kalo bagi hasil dengan investor berarti dapat fifty-fifty.”


“Hah? Lima ratus juta dalam sebulan?” Bu Merry terperangah mendengar nominal uang yang sangat besar. Johan mengangguk mantap.


Kalo aku berinvest dengan Johan berarti aku bisa dapat lima ratus juta tiap bulannya. Jadi aku gak usah cape-cape kerja. Ongkang ongkang kaki aja dirumah tiap bulan dapat tranferan lima ratus juta. Aku bisa shopping tiap hari. Beli apa aja yang aku mau. Dan yang terpenting aku bisa terus bersama-sama Johan yang ganteng ini. Uwuuuhh senangnya..!!! Sorak bathin Bu Merry membayangkan tumpukan uang yang sangat banyak di benaknya.


Johan memperhatikan raut wajah Bu Merry yang sumringah dengan mata yang berbinar-binar. Johan merasa yakin bahwa umpan dustanya akan ditelan oleh Bu Merry. Dan benar saja.


“Johan, aku ingin jadi investor kamu. Berapa uang yang harus aku siapkan?” Bu Merry sangat antusias menawarkan diri.


“Ah serius, Kak?” Johan pura-pura terkejut.


“Aku serius, tapi ada syaratnya, Johan.”


“Hmm, apa syaratnya?” tanya Johan penasaran.


Bu Merry beringsut mendekati tubuh Johan. Tangannya menyentuh paha Johan dan mengelus-elusnya lembut. Sesekali dia menggaruknya pelan mendekati pangkal paha Johan untuk menimbulkan rangsangan gairah pria itu.


Waduuuhhh, kejadian dah nih apa yang disuruh Boss Reynard. Ya Tuhan, hamba mohon lindungilah properti satu-satunya milik istri hamba ini. Johan berdoa dalam hati sambil menengok ke bagian bawahnya. Jakunnya turun naik menahan nafsu dan gugup karena sentuhan Bu Merry yang sangat menggoda imannya.


“Apa syaratnya, Kak?” tanya Johan lagi mengusir nafsunya yang sudah naik ke ubun-ubun.


“Kau nikah sama aku supaya aku juga bisa menjaga investasiku yang ada di kamu," jawab Bu Merry genit sembari mengerlingkan sebelah matanya.


Johan bingung menjawabnya. Dia tak menyangka Bu Merry memberikan syarat yang berat ini karena Johan belum mendapat arahan dari Reynard menghadapi syarat seperti yang dipinta Bu Merry.


“Bagaimana?” tanya Bu Merry sekali lagi. Tangannya masih menggerayangi paha Johan.


“Baiklah, aku terima syarat Kak Merry. Aku juga butuh pendamping yang pintar menjaga investasiku,” ucap Johan akhirnya terpaksa menyetujui.


Bu Merry tersenyum lebar, lalu spontan mengecup bibir Johan.


“Jadi berapa jumlah yang kamu butuhkan untuk menggarap lahan itu?” Tanya Bu Merry lembut.


“Hmmm, gak banyak Kak, sekitar dua puluh milyar untuk menggarap seratus hektar lahanku,” jawab Johan meyakinkan.


“Johan, kebetulan aku gak punya uang cash sebanyak itu, tapi aku punya beberapa aset dan properti yang bisa di jadikan uang. Bisa kamu jual atau digadaikan dulu. Kira-kira totalnya cukup untuk investasi di lahan kamu.”


Bola mata Johan berbinar-binar. Itulah ucapan yang dia tunggu-tunggu dari tadi.


“Boleh juga. Aku bisa bantu jualkan atau kalo Kakak mau gadaikan aku juga punya kenalan pejabat bank yang bisa cepat mencairkan dana sebesar itu. Bagaimana?” ucap Johan mantap. Tangannya mulai berani menggenggam jemari Bu Merry.


“Kalo menurut ku sih di gadaikan saja ya, jadi aku gak kehilangan hartaku tapi malah bertambah dengan investasi di kamu.”


“Baiklah. Itu bisa diatur. Besok disiapkan saja semua sertifikatnya. Besok aku ke rumah Kak Merry, Oke,” ujar Johan bersemangat.


Bu Merry mengangguk setuju. Dia masih terus menggeliat-geliat menempelkan tubuhnya ke tubuh Johan. Pria itu hanya terpejam menikmati sentuhan bu Merry.

__ADS_1


**Please dukung author supaya makin semangat nulis ya. Likes, vote, 5 rate and comments are very required **


__ADS_2