
Pagi ini, Mercedes hitam itu memasuki pelataran Kantor Urusan Agama dan terparkir dengan rapi di tempat yang cukup dekat dengan pintu masuk.
Ferdian yang duduk di belakang kemudi membetulkan dasinya sesaat lewat kaca spion di atasnya. Lalu menoleh ke samping kiri menatap Lusi yang tertunduk tengah memainkan ujung jari-jarinya.
Tampak sekali gadis itu tak mampu menyembunyikan kegugupannya. Jantungnya terus berdegup kencang sejak keluar dari rumah tadi. Terlebih lagi sekarang ini dirinya berada tepat di depan Kantor Urusan Agama, tempat dimana dirinya akan 'diikat' secara resmi oleh pria di sampingnya ini.
Hatinya makin gusar tak menentu. Perasaannya campur aduk antara ragu, bingung, sedih dan bahagia tentunya karena ada seseorang yang akan membantu mengatasi masalah pelik hidupnya.
Ada desir asing menyapa hati Ferdian ketika pria itu menatap wajah Lusi. Dia akui, gadis itu tampak semakin cantik dengan balutan longdress putih panjang dan kerudung putih melingkar di atas kepalanya.
Dengan riasan wajah seadanya namun membuat wajah gadis itu kian manis dengan pipi yang merona jingga. Tanpa sadar bibir Ferdian melengkungkan membentuk senyuman.
Dia cantik, ucapnya di hati.
Tukkk...tukkk...tuukk...
Tiba-tiba kaca pintu mobil di ketuk dari luar, membuyarkan keterpesonaan Ferdian pada Lusi. Ketika menoleh, didapatinya wajah semringah Reynard dari balik kaca.
“Ayo, nanti telat,” ajak Reynard seraya menunjuk jam tangan di pergelangannya.
Ferdian mengangguk sekilas. Sekali lagi dia menatap Lusi yang juga menoleh ke arahnya. Pandangan mereka pun bertemu, lalu tersipu malu.
“Sudah siap?” tanya Ferdian lembut pada Lusi yang berusaha membingkai senyuman walaupun gugup kian melanda hebat.
Lusi hanya mengangguk beberapa kali dan menarik nafasnya lalu menghelanya pelan untuk mengusir kegugupan dan getaran asing di dalam hatinya.
Mereka bertiga memasuki sebuah ruangan ketika sudah mendapat petunjuk arah dari petugas di pintu utama.
Reynard menyodorkan berkas-berkas pada seorang petugas seraya berbincang-bincang sebentar. Sementara itu, Lusi dan Ferdian terjebak dalam diam ketika duduk menunggu.
“Bro, Lusi. Kita mulai sekarang,” ajak Reynard setelah menatap keduanya bergantian, kemudian menuntun keduanya menuju sepasang kursi yang berhadapan dengan tiga orang petugas dari KUA tersebut.
Wajah Ferdian tampak memucat pasi ketika bayangan rencana pernikahannya yang dulu tak kesampaian dengan Amanda tiba-tiba terbersit di benaknya.
Sejujurnya, ada rasa perih menusuk hatinya saat ingatan itu kembali. Dan kini dirinya duduk bersama seorang gadis belia yang belum lama dikenalnya dan sebentar lagi akan menjadi istrinya.
“Kita mulai sekarang ya.” Seorang penghulu yang berada tepat di hadapan Ferdian menyodorkan tangan. Dan Ferdian pun menyambut dan menjabat tangannya.
Beberapa kalimat panjang terucap dari Penghulu tersebut lalu mulai ke inti acara. Ferdian memperhatikan setiap ucapannya dengan seksama.
“Saya terima nikah dan kawinnya Ilusiana putri Hamzah binti Hamzah Suhendra dengan mas kawin tersebut TUNAI.” Ferdian berhasil mengucapkan kalimat sakral itu dalam satu tarikan nafas dan tanpa jeda.
“Sah? Sah? Sah?” penghulu itu menoleh pada Reynard dan seorang saksi lain di sebelah kiri kanannya.
“Sah!” Serentak mereka menjawab.
__ADS_1
“Alhamdulillah.“ Seru penghulu itu seraya mengangkat kedua tangannya memanjatkan doa-doa. Diikuti oleh semua yang hadir di sana.
“Sekarang kalian sudah resmi menjadi suami istri. Silahkan dipasangkan cincinnya,” ucap bapak Penghulu itu lagi.
Dengan tangan yang masih gemetar, Ferdian memasangkan cincin emas putih bermata kecil pada jari manis Lusi. Sesekali bola matanya bergerak melirik wajah Lusi yang tertunduk menatap jemarinya di genggaman Ferdian.
Bergantian, Lusi menyelipkan cincin dengan bentuk yang sama ke jari manis Ferdian, juga dengan tangan yang bergetar mengikuti derap jantungnya yang berpacu cepat. Kemudian mencium punggung tangan Ferdian dengan takzim.
Reynard yang duduk di samping kiri Ferdian tersenyum lebar menyaksikan pasangan suami istri baru yang baru saja resmi itu.
Sejumput rasa haru terselip di hati Reynard saat melihat rona wajah Ferdian yang tersenyum pada Lusi. Walaupun kaku tapi Reynard tahu senyuman itu tulus untuk gadis itu.
Dia sangat tahu bagaimana perjalanan cinta Ferdian yang penuh liku bersama beberapa wanita. Ada yang serius ada yang tidak. Apalagi dengan Amanda setelah dua tahun menjalin hubungan ternyata gagal dibawa ke pelaminan.
Dan sekarang Ferdian justru menikah dengan seorang gadis yang belum lama dikenalnya.
Ternyata hidup semisterius itu.
“Selamat, Bro. Semoga bahagia,” ucap Reynard seraya memberikan pelukan erat pada sahabatnya itu.
“Thanx, Rey," sambut Ferdian terharu.
“Selamat ya Lusi, jadi istri yang baik yah. Harus patuh sama suami, jangan nakal,” ucap Reynard gantian pada Lusi.
“Apaan sih, Om, bikin baper aja deh, ini kan cuma sementara,” sahut Lusi dengan polosnya.
Spontan Reynard dan Ferdian menempelkan telunjuk ke bibir sambil membelalak pada Lusi.
“Ssttt... Jangan bilang begitu disini. Ini rahasia kita bertiga.” protes Ferdian pada Lusi.
Lusi pun manggut-manggut seraya menutup mulutnya dengan telapak tangan ketika menyadari kesalahannya.
“Oke, Bro. Aku langsung ngantor, hari ini aku ada meeting dengan Bramanto dan manajer lain. Nanti aku kabari perkembangan selanjutnya," pamit Reynard seraya memasang kacamata hitamnya.
“Oke, aku juga ke kantor hari ini setelah antar Lusi pulang,” balas Ferdian, lalu melangkah keluar dari ruangan itu dan di sampingnya Lusi mengikuti.
Reynard menepuk bahu Ferdian sekilas, lalu melangkah mendahului mereka menuju parkiran mobil. Tak lama Jeep gagah itu pun berlalu membelah riuhnya jalan raya yang sudah padat oleh kendaraan.
Satu jam kemudian, Mercedes hitam Ferdian memasuki pekarangan rumah mewahnya. Dia setengah berlari memutari muka mobilnya dan segera membukakan pintu untuk Lusi.
Gadis itu keluar dari mobil dan langsung saja berhambur masuk rumah menuju kamarnya tanpa menunggu Ferdian yang melongo bingung menatap kepergiannya begitu saja.
“Dikira aku supir kali ya? Baru satu jam jadi istri udah ngelunjak nih anak,” gumam Ferdian sedikit kesal. Lalu menyusul Lusi ke lantai atas.
Pintu kamar Lusi dia ketuk beberapa kali sambil berdiri bersandar pada tembok menunggu Lusi membukakannya.
__ADS_1
Sekali lagi diketuknya pintu itu, juga tak ada jawaban dari dalam. Perlahan dia tekan gagangnya. Ternyata tak terkunci. Daun pintu pun dia kuak lebar-lebar.
Ferdian melangkah masuk ke kamar itu dan mengedarkan pandangan mencari penghuninya, tapi tak nampak sama sekali.
“Lusi. Lusi? Halo?” panggilnya dengan volume suara setengah kencang.
“Aaaw! Aaaakkk.... Aduuhhh ... aahhh!"
Tiba-tiba suara dari dalam kamar mandi mengejutkan Ferdian. Spontan dia mendekat dan menempelkan telinganya di pintunya. Suara erangan Lusi pun terdengar lagi.
“Suara Lusi? Ngapain dia di dalam? Ah, Gila. Jangan-jangan lagi single player nih anak, kok gak ngajak-ngajak? Aku kan udah sah jadi suaminya,” gerutu Ferdian sedikit kesal. Pikiran mesum mulai merasuk di benaknya.
Tiba-tiba pintu kamar mandi dibuka.
“Aaaaakk! Ngapain Om ke sini?” Lusi tersentak kaget mendapati Ferdian berdiri tepat di hadapannya. Lekas dia menaikkan dress putihnya yang sudah terbuka di bagian bahu.
Ferdian tertegun melihat bahu Lusi yang tampak putih dan bening. Segera dia kerjapkan kelopak matanya untuk menyadarkan diri.
“Kamu ngapain di kamar mandi lama banget? Pake mendesah-desah lagi.” curiga Ferdian seraya menatap wajah Lusi. Gadis itu melangkah lekas keluar dari kamar mandi melewati tubuh Ferdian yang masih berdiri di depan pintu.
“Iiih, apaan sih, Om? Emang Om pikir aku lagi ngapain di kamar mandi? Ini resleting bajunya nyangkut. Boleh minta tolong dong, bukain nih, susah banget.” Lusi menunjukan bagian belakang tubuhnya pada Ferdian.
Sekali lagi pria itu tertegun melihat pemandangan yang menggiurkan. Punggung putih Lusi tampak dari balik gaunnya yang setengah terbuka.
Ferdian meneguk salivanya berat, berusaha membuang jauh-jauh pikiran liarnya yang mulai menggelitik. kemudian mendekat ke arah Lusi. lalu dengan tangan yang gemetar Ferdian menyentuh ujung resleting baju itu.
Lusi pun merasakan getaran itu saat kulit tangan Ferdian menyentuh kulit punggungnya.
“Kok gemeteran, Om? Udah belum? Cepetan dong, aku kebelet pipis, nih.” desak Lusi membuat Ferdian mempercepat jarinya menurunkan resleting baju itu.
Dan selesai. Seluruh bagian punggung Lusi terpampang jelas di depan mata. Dia kembali menarik nafas ketika gairahnya kembali berdesir menggelitik hasrat alaminya.
“Udah ya, Om, Makasih. Ya udah sana, katanya mau ke kantor, ntar telat loh.” Lusi membuyarkan pikiran liar yang sempat mengganggu benaknya.
“Ehh, iya, oke. Aku kerja dulu. Aku cuma mau bilang, kalo kamu butuh sesuatu kamu minta sama Mbak Ira ya. Tapi kalo kamu butuh kehangatan kamu telpon aku,” ucap Ferdian spontan saja karena terbawa suasana hatinya yang sedang bergairah.
“Iihhh apaan sih, Om? Genit banget, sana ah!” protes Lusi seraya mendorong punggung Ferdian keluar kamarnya. Lalu segera menutup pintu.
Ferdian tak tersinggung sama sekali, justru mengullum senyum geli. Dia usap wajahnya dengan telapak tangan untuk mengusir fantasi liar yang sudah menggelayut nakal di dalam benaknya lantaran menyaksikan pemandangan indah di balik baju putih Lusi tadi.
BAGI JEMPOLNYA DUOONKK SAY...
LIKE, VOTE, BINTANG 5, KRITIK DAN SARAN NYA DI KOLOM KOMENTAR YAH.
HAPPY READING....
__ADS_1