ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 76


__ADS_3

Lusi berlari-lari kecil menyusuri Lorong rumah sakit yang mulai lengang. Hanya tampak beberapa perawat saja yang bolak-balik masuk dari satu kamar dan keluar dari kamar yang lainnya.


Dia makin percepat langkahnya menuju ruang perawatan dimana Ferdian di rawat secara intensif disana.


Tanpa sabar Lusi membuka pintu kamar itu. Ternyata kosong. Hanya tempat tidur tanpa penghuni yang terletak ditengah ruangan. Seketika kebingungan serta merta menyelimuti pikirannya.


Apa aku salah masuk ruangan? Tapi rasanya tidak. Aku ingat benar memang ini kamar Mas Ferdian di rawat. Pikirnya dalam hati.


Dia keluar kembali dan bergegas menuju meja perawat yang terletak di ujung lorong. Tampak seorang perawat laki-laki tengah sibuk membereskan berkas-berkas di satu lemari file.


“Selamat sore, Mas. Maaf pasien yang di kamar V-VIP itu kemana? Kok ga ada?”


“Sebentar saya cek ya.” Perawat itu membuka kembali berkas-berkasnya.


“Atas nama Tuan Ferdian Adiwijaya?“ tanyanya lagi.


“Iya betul, Mas. Kemana dia? Apa dipindahkan ke ruangan lain?”


“Di data kami, beliau sudah dipulangkan Atas Permintaan Sendiri, Mbak.”


“Apa? Mungkin Mas salah? Mas Ferdian 'kan masih dalam masa koma, mana mungkin dipulangkan?” Lusi protes karena merasa janggal dengan keterangan si perawat itu.


“Di data kami jelas, Mbak. Tidak mungkin salah, ada keterangannya juga.”


“Apa mungkin di pindahkan ke rumah sakit lain?”


“Maaf Mbak, di data kami hanya ada keterangan di pulangkan Atas Permintaan Sendiri. Itu saja,"


Lusi terdiam tak mengerti. Harapannya pupus sudah untuk bertemu Ferdian, suaminya. Tanpa menoleh lagi pada perawat itu Lusi melangkah gontai menyusuri lorong demi lorong untuk keluar dari rumah sakit itu.


Kemana Mas Ferdian? Apa Cantika yang memindahkan dia ke rumah sakit lain? Supaya aku tak bisa menemuinya lagi. Ya Tuhan apa salah ku sampai Cantika begitu bencinya sama aku? Berbagai pertanyaan yang tak terjawab menghinggapi benaknya.


Dia melangkahkan kakinya gontai menapaki trotoar yang berbatu. Badannya terasa sangat lemah dengan kepalanya yang terasa berat.


Dan dia baru ingat, sudah beberapa hari ini perutnya sulit untuk menerima makanan apapun. Karena itulah dia merasa tubuhnya sangat lemah saat ini


Sejenak dia menghentikan langkahnya, bersandar pada sebatang pohon besar di pinggir jalan dan mencoba menjinakkan sakit yang melanda kepalanya.


Hari mulai senja, perlahan cahaya matahari mulai redup di ufuk barat. Lusi masih melangkahkan kakinya tanpa tujuan. Badannya semakin lemah tapi dia paksa untuk terus berjalan.


Di rogohnya kantung celananya. Dan mengeluarkan isinya. Hanya ada selembar uang dua puluh ribu rupiah di tangannya.


Dengan uang yang cuma segini aku bisa apa dan harus kemana lagi? Pikirnya seraya menatap lembaran uang itu dengan tatapan pilu.


Mungkin ke kios Bu Dahlia? Tapi apa bisa dengan uang yang cuma segini? Tempatnya lumayan jauh dari sini. Pikirnya lagi.


Pandangannya tertuju pada sekumpulan driver ojek online motor yang sedang duduk-duduk di pinggir trotoar. Dengan sedikit percaya diri dia menghampirinya.


“Permisi, Bang. Maaf, kalo mau ke jalan Mega berapa ya ongkosnya?” Lusi bertanya pada salah seorang driver ojek online itu.


“Jalan Mega yang dekat kantor walikota ya?” Si driver itu balik tanya untuk meyakinkan tujuan Lusi.


“Iya Bang, betul. Berapa?”


“Oooh itu jauh sekali, Mbak. Kalo mau tiga puluh ribu aja deh, sekalian saya mau pulang nih udah sore,” jawab si driver itu seraya bangkit dari duduknya.


Lusi sejenak terdiam.


“Hmm, maaf Bang. Kalo dua puluh ribu aja bisa gak? Soalnya uangnya cuma ada segini.” Lusi menunjukan lembaran dua puluh ribunya pada si abang driver.

__ADS_1


Si driver itu mengamati wajah Lusi yang tampak lemah dan sangat pucat, hingga akhirnya membuat hatinya merasa jatuh iba.


“Ya udah deh, boleh. Ayo pake helmnya,” jawab si driver, kemudian menyerahkan sebuah helm hijau pada Lusi.


Lusi tersenyum sekilas lalu mengenakan helm nya cepat.


***


Lusi berdiri terpaku mengamati kios bunga Bu Dahlia. Kosong. Wadah-wadah bunga yang biasa bertengger di depannya pun tak ada lagi.


Perlahan dia mengintip ke dalam kios melalui jendela kaca yang tak bertirai. Di dalamnya pun kosong. Hanya ada kayu-kayu bekas rangkaian bunga yang berserakan.


Kakinya penat dan terasa panas di bagian tumit. Dia putuskan untuk duduk berselonjor di depan pintu kios bunga tersebut untuk sekedar meluruskan kakinya.


“Ehh, ini Kak Lusi, kan?” Tiba-tiba seorang bocah usia belasan tahun menghampirinya.


Lusi pun mendongak dan senyumnya seketika mengembang dari kedua sudut bibirnya.


“Kamu Andi, kan? Anak ibu warteg depan itu?” tebak Lusi.


“Iya Kak, bener. Kakak ngapain ke sini?”


“Oh iya, aku mau ketemu Bu Dahlia, tapi kok tumben kiosnya jam segini udah tutup.”


“Ohhh, Bu Dahlia memang sudah tidak jualan lagi, Kak,” tutur Andi ringan.


“Hah? Pindah kios atau bagaimana?" Lusi terlonjak kaget dan spontan berdiri.


“Sudah tutup, Kak. Kira-kira sudah satu minggu. Saya denger sih Bu Dahlia pulang kampung. Semua barang-barang dagangannya di kembalikan ke supliernya.”


Lusi berdiri lemas. Seluruh tulang dan persendiannya serasa rontok satu persatu. Dia menunduk sambil menyandarkan bahunya pada tiang marka jalan di sisinya.


Harapannya untuk bisa menumpang sebentar di rumah Bu Dahlia seketika hilang dan musnah di hembus angin sore yang mulai terasa dingin.


Kembali Lusi mengumpulkan tenaganya yang mulai terkuras. Badannya lemah, perutnya terasa terlilit dan lapar, ditambah pusing yang masih menggelayuti kepalanya.


Dia melangkahkan kaki nya kembali tanpa tujuan. Hanya berjalan dan berjalan entah kemana.


Tak terasa langkahnya membawanya tiba di taman kota. Tempatnya biasa menghabiskan waktu untuk melamun dan menghayal.


Sudah tampak sepi rupanya. Karena senja yang sudah mulai  merambah naik mengantar malam. Hampir tak ada lagi orang yang datang ke sana. Hanya tampak satu atau dua pasang pemuda pemudi saja yang menghabiskan waktu untuk memadu asmara.


Perlahan dia henyakkan pantatnya di bangku kayu. Merasakan perutnya yang terasa sangat perih karena lapar yang luar biasa membelitnya.


Yang bisa dia lakukan untuk menahan rasa laparnya saat ini hanya menelan salivanya yang terasa sangat getir.


“Mas Ferdian....” lirih suara Lusi menyebut nama suaminya.


Tak terasa buliran air matanya jatuh tak terbendung lagi karena dilanda rasa rindu yang luar biasa pada Ferdian yang masih terbaring tak berdaya entah dimana.


“Mas Ferdian, Aku kangen, Mas. Kamu dimana?” Lusi menangis terisak.


Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya menahan air matanya yang sudah tak terbendung lagi.


Tiba-tiba seseorang menyentuh bahunya lembut. Lusi pun tersentak kaget dan spontan dia menoleh ke belakang.


Dio, tersenyum manis padanya.


“Anak cantik gak boleh nangis,” ucap Dio lembut demi melihat wajah Lusi yang beruraian air mata.

__ADS_1


“Dio...” panggil Lusi lirih di sela isaknya.


Dio menautkan kedua alisnya ketika memperhatikan wajah Lusi yang berbeda dari biasanya. Tampak wajah cantik itu begitu pucat, tirus dan lemah.


“Lusi, Kamu sakit? Kamu pucat sekali,” tanyanya dengan rasa khawatir. 


Di sentuhnya kening Lusi sesaat dengan punggung tangannya. Panas sekali.


“Dio, aku....” Belum sampai menyelesaikan kalimatnya, Lusi terjatuh lemah. Untung saja Dio sigap menangkap tubuhnya.


“Lusi....Lusi....Bangun, Lusi.” Sembari memeluk tubuh Lusi, Dio menepuk-nepuk pipinya untuk menyadarkannya. Tapi Lusi tak juga membuka matanya.


Dengan rasa panik dan khawatir, Dio membopong tubuh Lusi menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempat itu.


Di baringkannya tubuh Lusi di kursi depan. Lalu dengan lembut dipijatnya telapak tangan Lusi. Dan tak lama, tampak gadis itu mulai menggerakkan kepalanya lemah.


“Lusi....” panggil Dio lagi di sisi tubuhnya.


Perlahan Lusi membuka matanya. Tampak olehnya walaupun samar, Dio dengan raut wajah yang menyiratkan kepanikan tengah menatap dirinya.


“Dio?” panggil Lusi lemah.


“Kamu lemah sekali Lusi, kita ke rumah sakit ya.”


Lusi menggeleng lemah. “Gak usah Dio. Aku cuma sedikit lapar," ucap Lusi sambil memegang perutnya.


“Hah? Ya Ampun, Lusi. Sebentar aku carikan makanan ya.”


Tanpa membuang waktu lagi, Dio bergegas menuju gerai roti yang kebetulan berada tak jauh dari tempatnya memarkirkan mobil.


Tak lama Dio kembali lagi dengan membawa bungkusan berisi beberapa potong roti dan sebotol susu coklat. Lalu diletakkan ke pangkuan Lusi.


Lusi menerimanya dengan lemah lalu melahapnya pelan sampai tak bersisa. Dan akhirnya rasa sakit di perutnya berangsur- angsur mulai sirna.


“Kamu kenapa, Lusi? Kok bisa sampe kelaparan begini?” tanya Dio yang duduk di sampingnya.


Sejenak Lusi menarik nafasnya dan menghelanya pelan. Wajahnya memerah dan seketika itu juga tangisnya pecah. Dio makin kebingungan dibuatnya.


“Lusi, ada apa?” tanya Dio panik dan menyentuh punggung tangan Lusi.


“Suami ku, Dio." Lusi tak kuasa melanjutkan kalimatnya. Air matanya terus berderai tanpa henti.


“Kenapa suami mu? Apa dia memukul kamu? atau....”


Lusi menggeleng lemah menatap Dio yang masih penasaran dengan kalimat Lusi yang masih menggantung.


“Suami ku sekarang dalam keadaan kritis, Dio. Sudah tiga hari ini dia koma.”


“Apa? Koma?” Dio tersentak kaget menatap manik Lusi yang masih mengucurkan air mata.


Lusi mengangguk dan tertunduk menyembunyikan isaknya yang makin menjadi-jadi.


Dio mengangkat wajah Lusi dan sibuk menyeka air matanya. Dio paham Lusi sedang syok dan mengalami situasi yang sangat berat saat ini.


“Ayo, cerita Lusi. Ceritakan semuanya padaku, Jangan kamu simpan sendiri.”


Dengan air mata yang masih berderai, Lusi menceritakan semua peristiwa yang dialaminya pada sahabatnya itu. Dio mendengarkannya dengan rasa iba dan prihatin yang mendalam.


Sesaat dia menggeleng pelan seraya menghembuskan nafasnya yang terasa berat, Bola matanya pun ikut berkaca-kaca.

__ADS_1


Dia benar-benar tak menyangka nasib Lusi setragis ini. Lusi yang Hidup sebatang kara, dari dulu hidup menderita dan kini tercampakkan begitu saja.



__ADS_2