
Suara panggilan dari ponsel berdering kencang membuyarkan konsentrasi Ferdian yang tengah memeriksa data keuangan yang baru saja diantarkan sekertarisnya, Vika.
Ditengoknya sekilas layarnya. Nama Reynard tertera di sana. Segera Ia menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan itu.
“Ada apa, Rey?“ sahut Ferdian kemudian.
“Bisa kita ketemu, Bro? Di kafe Sentani, nanti aku share locationnya,“ sambut Reynard bergegas.
“Sekarang? Aku lagi ada kerjaan penting, Rey.”
“Iya sekarang. Ini jauh lebih penting. Cepat ya, aku tunggu.” Reynard langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa menunggu alasan lagi dari Ferdian.
Ferdian termenung sejenak. Menebak-nebak apa yang akan dibicarakan Reynard sehingga mendadak ingin bertemu.
Segera Ferdian meraih kunci mobil dan ponselnya lalu melangkah keluar ruangan menuju meja Vika.
“Vika, aku keluar sebentar. Berkas yang di ruanganku tolong di bereskan,“ perintah Ferdian lekas.
“Baik, Pak.”
Tanpa banyak bicara lagi Ferdian bergegas menuju lift untuk turun menuju mobilnya di parkiran.
Tak lama Mercedes Benz hitam itu pun meluncur, bergabung ke jalan raya yang tidak terlalu padat. Ferdian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sambil mengamati petunjuk arah dari layar ponsel di hadapan.
Tiga puluh menit perjalanan, Ferdian tiba di sebuah kafe yang sangat unik dan rindang dengan banyaknya tumbuhan dan pohon-pohon besar menaungi, sehingga kafe itu tampak sangat teduh dan asri.
Ferdian mengedarkan pandangan mencari keberadaan Reynard. Dari meja di sudut kanan ruangan tampak Reynard melambaikan tangan padanya. Lalu ia pun bergegas menghampiri Reynard yang duduk bersama seorang pria.
“Silakan duduk dulu, Bro. Kau mau minum apa? Aku pesankan ya.” Reynard menawarkan Ferdian.
“Tak usah, Rey. Jadi ada apa kau suruh aku ke sini?”
Reynard tak langsung menjawab. Ia mengeluarkan tumpukan map tebal dari sebuah tas besar, lalu ia hamparkan di hadapan Ferdian.
“Apa ini, Rey?” tanya Ferdian penasaran. Diambilnya salah satu map biru lalu dibukanya.
“Sertifikat?” tanya Ferdian lagi sambil membaca seluruh isinya.
“Ini semua sertifikat aset dan property dari almarhum ayahnya Lusi, Bro. Dan ini semua sudah dicek keasliannya oleh notaris,“ tutur Reynard jelas.
Senyum Ferdian perlahan mengembang di bibirnya. Makin lama makin lebar setelah membuka satu persatu map biru yang ada di hadapannya.
“Hebat kau, Rey. Bisa dapatkan ini semua dari ibu tirinya Lusi," seru Ferdian antusias.
“Ini orangnya yang berhasil mengambil itu semua," jawab Reynard sembari menunjuk pria yang duduk tegak di sampingnya.
Ferdian menoleh pada Johan. “Ini orang suruhan kau, Rey?” tanya Ferdian lagi.
“Yap. Ini Johan. Aktingnya hebat. Harusnya dapat piala citra untuk kategory peran antagonis,” puji Reynard sambil berseloroh memperkenalkan Johan pada Ferdian.
“Ah, Boss Rey bisa aja. Itu juga karena saya dapat arahan dari Boss,“ sahut Johan merendah.
“Terima kasih banyak. Tenang aja nanti ada reward yang besar untuk pekerjaan kamu ini," ucap Ferdian mengulurkan tangannya pada Johan dan Johan pun membalas menjabat tangannya.
“Ah, saya senang bisa bantu, Boss. Karena Boss Reynard juga selama ini baik sama saya. Walaupun pulang dari apartemen Boss Reynard, dirumah saya terjadi perang dunia,“ jawab Johan lirih sambil menunduk sedih.
“Perang dunia?” tanya Reynard dan Ferdian nyaris serentak.
Johan mengingat kembali kejadian di apartemen Reynard tiga hari lalu bersama Bu Merry.
Bu Merry begitu agresif menghujani ciuman ke wajah dan lehernya. Alhasil meninggalkan jejak stempel merah bekas sesapan bibir Bu Merry di sekujur leher dan dada Johan.
__ADS_1
Bu Merry sudah melepaskan atasannya dan menyisakan bra hitam yang menutupi payudara kendurnya. Johan pun panik dan ketakutan.
Ia memutar otak bagaimana caranya Bu Merry menghentikan aksi liarnya. Terus terang Johan sangat risih dan jijik diperlakukan begitu.
Namun ia tak tahu lagi bagaimana membuat Bu Merry berhenti. Wanita itu seperti macan betina yang menemukan macan jantan yang tangguh di segala medan.
Triiiing...Triing...Triiing...
Suara ponsel menyentakan mereka berdua. Bu Merry langsung menghentikan serangan mautnya pada Johan. Pria itu menjawab panggilan di teleponnya. Ia bergegas bangkit dan menjauh dari Bu Merry.
“Halo?” jawab Johan dengan napas tersengal-sengal.
“Bang? Ngapain ngos-ngosan gitu?" Suara Maesaroh memekik ditelinganya.
“Abis naik tangga ke kantor boss. Liftnya mati,“ jawab Johan berdusta.
“Bang, buruan pulang, si Jefri mencret-mencret.”
“Hah? Kenapa tuh anak? Saroh kasih makan apa kok bisa jadi begitu?” tanya Johan dengan panik mendengar anak bungsunya yang sangat ia sayangi sakit.
“Dia minum susu kuda liar punya abang yang di kulkas.“
“HAH? Ya ampun Saroooh!!! Ya udah Abang langsung pulang. Nanti kita bawa ke dokter.”
Bergegas ia mengenakan kembali T-shirt polonya yang tadi dilepas paksa oleh Bu Merry.
“Kak, maaf aku ada keperluan mendadak harus segera ke bandara jemput kolegaku yang baru datang dari Jepang," ucap Johan berdusta lagi.
Ia harus mengakui pekerjaannya kali ini butuh skill berbohong tingkat tinggi.
Bu Merry tampak sangat kesal karena usahanya membawa Johan ke tempat tidur tak kesampaian. Wanita separuh baya itu memungut kemejanya yang tergeletak di lantai, lalu mengenakannya dengan malas.
“Okelah. Tapi besok kamu ke rumah, ya. Jangan lupa.”
Bu Merry mengangguk sambil tersenyum lebar. Sekilas dikecupnya bibir Johan kemudian berlalu dari hadapan Johan keluar dari penthouse itu.
Johan mengecup ponselnya berkali-kali. “Maesaroh, engkau emang penyelamat hidupku! Kalo Saroh gak telepon, bisa kering nih abang disedot sama nenek lampir tadi," seru Johan penuh rasa syukur.
Sesampainya Johan di rumahnya yang berlokasi di gang yang sempit dan sesak, ia melihat wajah Maesaroh tampak begitu lelah tengah menggendong putera bungsunya yang tertidur pulas.
“Gimana Jefri?“ tanya Johan khawatir sambil menyentuh dahi puteranya.
“Udah baikkan, Bang. Tadi Saroh kasih susu cap beruang madu.“
“Alhamdulillah.”
Karena tangannya sudah berasa pegal menggendong anaknya hampir satu jam, Maesaroh meletakkan tubuh bocah itu ke atas tempat tidur yang kasurnya mulai tipis. Lalu menepuk-nepuk pantatnya lembut agar tak terbangun.
“Abang darimana aja, Bang? Jam segini baru pulang. Saroh pusing, Bang ngadepin semua sendirian,” ucap Maesaroh setelah membuatkan teh manis untuk suaminya, Johan dan diletakkan di atas meja di kamarnya.
“Abang kerja, Saroh. Ada proyek besar," sahut Johan setelah menyeruput teh manis hangatnya. Lalu membuka baju kaosnya dan melemparnya ke keranjang baju kotor.
Maesaroh yang duduk di tepi ranjang memperhatikan leher dan dada Johan banyak terdapat bekas-bekas merah keunguan. Matanya terbelalak lebar. Lalu sontak berdiri meyakinkan penglihatannya.
“Abaaaang, Ini apa? Tuh! Tuh! Tuh! Leher pada merah-merah gini?” teriak Maesaroh menunjuk leher dan dada Johan.
Seketika Johan bercermin dan tersentak menyadari ada banyak jejak sengatan yang ditinggalkan Bu Merry di sekujur leher dan dadanya
Lidahnya kelu, matanya ikut terbelalak menatap istrinya, bingung hendak menjawab apa.
"Gara-gara ... tawon, Saroh. Ini...." jawab Johan terbata-bata.
__ADS_1
"Tawon apaan?! Tawon bergincu?!" potong Maesaroh sengit melotot geram pada Johan.
“Dasar Abang gak tau diri! Udah miskin, banyak utang pake selingkuh pula! Aku minta cerai, Bang! Cerai, cerai, cerai. Titik!” Maesaroh memekik kesal. Bantal, guling, sisir, asbak melayang dilemparnya ke arah Johan.
“Saroh, tenang dulu, Abang mau jelasin semua. Sabar.... Aawww!” Tabung susu anaknya mendarat tepat di jidat Johan.
“Jelasin apa? Saroh gak kuat Bang! Pokoknya sekarang juga pulangkan Saroh pada ayah ibu Saroh!"
“Saroh, ayah ibu Saroh, kan udah meninggal.”
Maesaroh berpikir sejenak. “Oiya, lupa. Pokoknya Saroh minta cerai. Titik!” pekik Maesaroh lalu bergegas pergi ke kamar anaknya dan mengunci pintunya.
Johan termangu duduk di kursi meja rias. Is mengelus jidatnya yang berasa berdenyut hebat akibat lemparan botol susu dari istrinya.
Reynard dan Ferdian tertawa geli mendengar cerita Johan.
“Jadi dimana Istri kau sekarang?” tanya Reynard pada Johan.
“Ada di rumah, Boss. Tapi ya begitu, masih ngambek dan gak mau bicara sama saya” jawab Johan lirih.
Ferdian tertawa lagi. Lalu meninggalkan mereka sebentar menuju mobilnya. Tak lama kembali lagi ke kursinya. Ia keluarkan selembar cek lalu menuliskan sejumlah nominal beserta tanda tangannya lalu diserahkan ke hadapan Johan.
“Ini, kasihkan ke Istrimu. Mudah-mudahan gak ngambek lagi.”
Johan menerima kertas cek itu. Spontan matanya terbelalak kaget dan tak percaya melihat rangkaian nominal yang tertera disitu.
“Dua ratus juta?“ tanyanya lirih lalu menengok pada Ferdian dan Reynard bergantian. Keduanya mengangguk sambil tersenyum.
“Alhamdulillah, Saroooh!!! Tunggu Abang, Saroh!” seru Johan dengan suara lantang mengundang mata para pengunjung menoleh ke arahnya.
“Heh, Johan. Malu-maluin aja kau. Duduk!” bentak Reynard menarik ujung baju Johan.
“Hehehe, Maaf Boss. Ehmmm. Kalo begitu boleh saya pamit pulang, Boss. Udah gak sabar pengen ketemu Istri," ucap Johan sambil cengar-cengir.
“Iya, boleh. Tugas kau sudah selesai. Yang penting kau jangan sampe ketemu lagi dengan Merry, oke.”
“Siap Boss. Terima kasih. Arigato. Kamsia. Thank you. Hatur nuhun,” pamit Johan menunduk-nunduk hormat pada Ferdian dan Reynard. Kemudian berlalu dari hadapan mereka.
“Jadi, bagaimana langkah kita selanjutnya, Bro?" tanya Reynard pada Ferdian yang tengah merapikan berkas berkas surat berharga di hadapannya.
“Aku akan serahkan semua sertifikat ini pada Lusi. Karena ini semua haknya yang sudah kembali. Dan kapan saja Lusi bisa mendepak ibu tirinya keluar dari rumah itu.”
“Berarti tinggal satu urusan lagi yang kita hadapi ... Bramanto.”
Ferdian menatap Reynard tajam. Nama orang itu terdengar sangat menjijikan di telinganya.
“Iya, aku ingin orang itu secepatnya membayar semua perbuatan kejinya atas kematian orangtuaku dan kekejamannya terhadap Lusi.“
“Tenang, Bro. Sebentar lagi dia akan hancur. Liat aja nanti.”
Ferdian mengangguk lalu kembali merapikan berkas-berkas di hadapannya.
“Dan setelah semua masalah ini selesai, kau harus segera menceraikan Lusi sesuai isi kesepakatan kalian,” tutur Reynard pelan.
Ferdian terdiam mendengar ucapan Reynard. Kenapa tiba-tiba hatinya terasa teriris mendengarnya. Ada perasaan tak rela untuk berpisah dengan gadis itu.
Ia tertunduk dengan tatapan nanar, tak tahu harus mengatakan apa pada Reynard. Lalu mengangguk lemah.
“Kenapa, Bro? Kau gak rela bercerai?” selidik Reynard ingin tahu.
“Gak tau, aku belum bisa menjawab.” Ferdian enggan menanggapi. Tangannya masih sibuk merapikan satu persatu berkas di atas meja tanpa menoleh sedikit pun pada Reynard yang mengullum senyum memperhatikan raut wajahnya yang berubah tak bersemangat.
__ADS_1
Reynard tertawa kecil menggodanya. Tanpa dijawab pun Reynard tahu bagaimana perasaan Ferdian pada gadis itu. Semua bentuk perhatiannya selama ini pada Lusi bukan hanya sekedar rasa kasihan dan ingin melindungi, tapi juga karena ada rasa cinta.
** PLEASE LIKE, KOMEN DAN VOTE YAH PARA READER YANG BAIK. SUPAYA AUTHOR MAKIN SEMANGAT MENULIS.