ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 66


__ADS_3

Senyum Bu Merry makin lebar merekah ketika Berlan membelokkan mobilnya memasuki pekarangan rumahnya yang teduh dan asri itu.


Pulang kembali ke rumah serasa mendapatkan nyawa yang baru bagi Bu Merry setelah sekian hari mendekam di balik jeruji besi.


Dia rindu ranjangnya yang empuk, rindu masakan rumahnya yang lezat, rindu bercengkrama tiap malam dengan putrinya, walaupun terkadang putrinya itu telat mencerna setiap obrolan mereka, walhasil membuat obrolan mereka sama sekali tak terkoneksi dengan baik.


Berlan menghentikan mobilnya tepat di samping teras rumah. Tanpa sabar Bu Merry turun dan langsung melangkah masuk menuju ke dalam.


“Pris...Priska?” panggilnya setengah berteriak. Hal pertama yang dia lakukan ketika menginjakkan kakinya di rumah itu adalah mencari putri kesayangannya.


“Maaaa....” Priska memekik girang. Dari depan kamarnya setengah berlari dia menghampiri dan langsung berhambur memeluk mamanya.


“Rencana kita berhasil, Sayang,” bisik Bu Merry di telinga Priska.


“Siapa dulu dong yang punya ide,” sambut Priska senang.


“Ya mama lah, ide siapa lagi. Kalo kamu, mana sampe otakmu memikirkan jalan keluar untuk mama,” timpal Bu Merry membuat Priska memanyunkan bibir merahnya.


“Eits, tapi yang SMS Pak Bramanto siapa? Aku 'kan.” bantah Priska tak mau kalah.


“Yaa...Yaa...terserahlah. Yang penting mama udah keluar, udah bebaassshh...” ucap Bu Merry seraya merentangkan kedua lengannya.


“Oiya, Mama pulang sama siapa itu?” tanya Priska ketika pandangannya tertuju pada mobil sedan mewah berwarna silver yang terparkir di halaman rumah.


lbu Merry mengikuti pandangan Priska keluar rumah. Tampaknya Berlan masih berada di dalam mobilnya, menunggu Bu Merry di belakang kemudi sambil mengawasi gerak gerik Bu Merry dan putrinya.


“Oo, itu Pengacaranya Bramanto. Dia yang menjamin penangguhan penahanan Mama,” jawab Bu Merry kemudian.


“Terus, itu kenapa dia belum pergi juga?”


“Ooo, dia nunggu sesuatu dari Mama.“


Tampak Berlan sudah tak sabar menunggu lama. Dia turun dari mobilnya dan tanpa ijin ngeloyor masuk ke dalam rumah dan menghampiri kedua ibu anak itu yang masih berdiri melepas rindu.


“Mana file-nya? Cepat Bu, serahkan ke saya!” pinta Berlan datar dan dingin.


“Sabar dong, Bung. Kasihlah aku nafas dulu sebentar,” seru Bu Merry sedikit kesal.


“Kalo anda berlama-lama membuang waktu saya, jangan harap anda bisa melanjutkan bernafas lagi. Ayo cepat, Bramanto menunggu," ancam Berlan dengan kata-kata yang lebih tajam lagi.


“Oke, tunggu sebentar.“


Bu Merry menggandeng Priska masuk ke kamarnya. Lalu mengunci pintunya cepat. Berlan menunggu mereka di depan pintu sambil bersidekap dengan wajah yang tampak menegang.


“Ma, File apa, Ma?” tanya Priska ingin tahu.


Bu Merry tak menggubris pertanyaan putrinya itu. Dia buka laptopnya dan membuka semua isi file tentang Bramanto.


Di dalamnya berisi video dan catatan kesaksian dari beberapa korban transaksi Bramanto beserta foto-foto yang menampilkan perempuan-perempuan muda dengan pakaian sangat minim dan bergaya sensual lengkap dengan keterangan yang menunjukan data pribadi mereka.


“Siapa mereka, Ma? Kok kayak begitu penampilannya? Jijik, iiih!” seru Priska terperangah dengan kelopak matanya terbelalak lebar ketika melihat isi file yang di buka mamanya.


“Ini semua perempuan-perempuan yang dibeli oleh Bramanto dan setelah puas di tidurinya mereka dijual lagi ke tempat-tempat hiburan malam kelas kakap,” jawab Bu Merry pelan takut terdengar keluar. Dia tahu di luar kamar ada Berlan yang masih menunggunya.


“Ya Tuhan, Mama. Apa begitu yang akan terjadi pada Lusi dulu, Ma?” Tiba-tiba Priska tersontak mengingat Lusi yang dulu pernah dibawa oleh ibunya ke rumah Bramanto.

__ADS_1


Bu Merry pun terkejut mendengar pertanyaan putrinya itu. Dia menoleh dan memandang putrinya dengan sorot matanya yang meredup. Lalu mengangguk lemah.


“Tapi untung saja Lusi berhasil melarikan diri sebelum terjadi sesuatu yang buruk padanya,” ucap Bu Merry dengan suara lirih.


“Astaga Mama, ini benar-benar mengerikan.“ Bola mata Priska mulai menghangat dan basah.


Walaupun dia sangat tidak menyukai Lusi selama ini, tapi hati kecilnya tak sanggup membayangkan seandainya saudara tirinya itu mengalami hal yang sama dengan perempuan-perempuan muda di foto-foto yang baru saja dia lihat.


“Mama jadi merasa benar-benar bersalah pada Lusi, Priska,“ ucap Bu Merry lirih dan tertunduk sejenak.


“Ya Mama, aku juga.” Bulir air mata di pelupuk mata Priska mulai meluncur di pipinya.


Bu Merry melihat itu, lalu mengusap-usap punggung putrinya dengan lembut.


“Mama menyesal, Priska,” ucap Bu Merry mengangkat wajahnya dan menempelkan pipinya pada pipi Priska lalu membelai kepalanya penuh kasih.


Tok...Tok..Tok...


Pintu diketuk kasar dan kencang dari luar.


“Bu, cepat, Bu. Saya hitung sampe tiga. Kalo tidak keluar juga, saya dobrak pintu ini.” Suara Berlan terdengar lantang dari balik pintu.


Bu Merry bergegas menyalin file di dalam laptopnya itu ke dalam satu flashdisk lalu menunggunya beberapa menit sampai semua file tersalin sempurna.


Tok...Tok...Tok...


Kembali terdengar ketukan dipintu, kali ini suaranya lebih kencang dari sebelumnya.


“Iyaaaa....Sabaarrrr!” teriak Bu Merry.


Tak lama, pintu terbuka. Bu merry dan Priska keluar dari kamar dengan ketakutan yang memenuhi relung hati mereka.


“Ini file-nya." Bu Merry menyerahkan flashdisk berwarna biru itu ke tangan Berlan.


Berlan menimang-nimang flashdisk itu sambil melirik Bu Merry dan Priska dengan tatapan dingin dan menyelidik.


“Ayo ikut, kau sendiri yang harus menyerahkannya pada Bramanto,” perintah Berlan kemudian.


“Mama?“ panggil Priska lirih penuh cemas dan ketakutan yang mendalam. Dia menggenggam tangan mamanya sangat erat.


“Oke, ayo berangkat sekarang,” ucap Bu Merry setelah mengumpulkan keberanian.


Bu Merry menepuk punggung tangan Priska lembut dan menatapnya sejenak.


“Mama, aku ikut.”


“Biar Mama aja ya. Kamu tunggu di rumah ini. Sebentar Mama kembali. Oke, Sayang.”


Bu Merry mengecup kening putrinya. Dan segera berlalu keluar dari dalam rumah mengikuti langkah Berlan menuju mobilnya. Priska terpaku di teras dengan air mata yang sudah mengalir mengiringi kepergian mobil Berlan yang membawa ibunya serta.


***


Selang satu jam berlalu. Mobil Berlan memasuki pekarangan rumah Bramanto yang sangat luas dengan beberapa penjagaan yang ketat dari pegawal-pengawalnya yang berbadan besar dan tegap.


Bu Merry dan Berlan turun bersamaan, lalu Berlan berjalan di belakang Bu Merry masuk ke dalam rumah Bramanto yang terkesan menyeramkan dan menegangkan.

__ADS_1


Beberapa pengawal Bramanto kompak mengalihkan pandangan pada Bu Merry. Membuat hati Bu Merry bergidik ngeri.


“Ayo, masuk.“ perintah Berlan pada Bu Merry untuk masuk ke dalam ruang kerja Bramanto.


Bu Merry menurut dan melangkah masuk. Tampak Bramanto dengan wajah angkernya duduk di kursi kerjanya dan tengah menatap tajam padanya.


Berlan memberikan kursi untuk Bu Merry tepat di hadapan Bramanto.


“Kucing tua macam kau coba-coba mengancam aku ya!” Suara Bramanto lantang disertai tawa yang membahana.


Lagi-lagi Bu Merry bergidik.


“Saya tidak mengancam. Saya hanya memberitahu anda, apa yang saya punya ini jangan sampe tercecer ke tangan polisi,” tutur Bu Merry memberanikan diri melawan tatapan tajam Bramanto.


“Busuk kau! Pintar bicara! Mana filenya?”


Bu Merry menoleh pada Berlan. Laki-laki itu langsung mendekat ke meja Bramanto dan meletakkan sebuah laptop di hadapannya. Dia masukkan flashdisk itu ke salah satu lubangnya, dan tak sampai lima detik terpampanglah seluruh isinya.


Bramanto memperhatikan dengan serius apa yang tertayang di layar laptop itu. Tampak sekali raut wajahnya menegang dan bola matanya menyorotkan kemarahan.


Setelah melihat semua isi file itu, Bramanto menggeser laptopnya kasar. Di tatapnya kembali manik Bu Merry dihadapannya.


“Jadi, apa mau kamu?” tanya Bramanto dingin.


“Seperti yang sudah aku katakan pada Pengacara anda itu. Satu sudah terpenuhi. Tinggal yang satu lagi belum. Bebaskan semua hutang saya disertai dengan pernyataan tertulis dari anda. Setelah itu saya tak akan pernah berhubungan dengan anda lagi.”


Bramanto mengangguk samar. Di raihnya pena dan secarik kertas. Lalu mulai menuliskan sesuatu di atasnya dan membubuhkan tanda tangannya diatas materai  yang dia tempel di bagian bawah kertas itu. Kemudian lekas dia geser kertas itu ke hadapan Bu Merry.


Bu Merry menerimanya lalu membacanya dengan teliti. Dan senyumnya pun seketika mengembang tipis.


“Baiklah, dengan begini semua urusan saya sudah selesai dengan anda. Saya permisi,” ucap Bu Merry seraya bangkit dari duduknya.


Beberapa pengawal Bramanto yang berdiri di sekeliling ruangan itu tampak bergerak cepat hendak mencegat Bu Merry keluar. Namun mereka terhenti ketika Bramanto mengangkat tangannya dan membiarkan Bu Merry keluar dari ruangan itu dengan senyum meledek.


Berlan mendekat kepada Bramanto. Lalu mengucapkan sesuatu. “Saya tidak percaya sama orang itu, Pak. Saya yakin dia sudah menyalin isi flashdisk ini ke media lain,” kata Berlan kemudian.


“Aku pun tidak percaya. Aku memenuhi permintaannya cuma ingin tau bukti apa yang dia punya sebenarnya sampai-sampai dia berani mengancam aku. Dan ternyata dia benar-benar tahu lebih banyak dari yang aku duga sebelumnya."


“Jadi bagaimana selanjutnya, Pak?”


Bramanto berpikir sejenak. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk pelan kaca meja kerjanya.


“Habisi dia. Dan culik anak kandungnya.” Perintah Bramanto dengan nada yang sangat dingin.


Berlan mengangguk patuh.


“Lakukan serapi mungkin. Orang itu harus tau, berurusan denganku pilihannya hanya dua, hidup atau mati.”


“Baik, Pak. Segera saya laksanakan.“


Berlan mengangguk hormat lalu dengan ujung jarinya memberi kode kepada para pengawal Bramanto untuk mengikutinya keluar dari ruangan itu. Dan meninggalkan Bramanto yang bersandar pada kursi kerjanya dengan seringai tipis dan sinis.


"Ferdian Adiwijaya?" sebutnya pelan.


Seketika dia terngiang-ngiang nama seseorang yang di sebut-sebut  pengacaranya tadi siang melalui telepon. Nama seseorang yang telah melaporkan Bu Merry dan menjebloskannya ke dalam penjara.

__ADS_1


"Sepertinya nama yang tak asing ditelingaku. Tapi siapa?" gumamnya sendiri.


Bramanto berpikir keras, namun tak juga menemukan jawabannya. Dia menghela nafasnya berat. Lalu memejamkan mata mengusir rasa penat dan tegang yang sedari tadi menggumpal didalam dirinya.


__ADS_2