ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 41


__ADS_3

Rumah bercat putih dengan pepohonan yang teratur rapi itu tampak sepi.


Johan melongokan kepalanya kedalam pagar yang berukuran rendah. Di pencetnya bel ditembok beberapa kali. Tak ada juga orang yang keluar dari rumah itu. Dipencetnya lagi berulang kali.


Tiba-tiba sebuah mobil sedan merah berhenti tepat di depan pagar rumah itu. Johan menoleh. Kaca mobil dibuka. Bu Merry melepas kacamata hitamnya lalu memperhatikan Johan dengan seksama.


“Cari siapa?” tanya Bu Merry dari dalam mobilnya.


“Ehmm, maaf. Apa betul ini rumah bang Hamzah ?” tanya Johan sopan.


“Bang Hamzah?” Bu Merry balik tanya untuk memastikan pendengarannya.


“Iya, Hamzah Suhendra.“


Di tatapnya sosok Johan dari atas sampai bawah. Johan yang mengenakan setelan jas abu-abu lengkap dengan dasi hitamnya dengan rambut klimis dan kumis tipis melintang diatas bibirnya menarik perhatian Bu Merry. Dia turun dari mobilnya menghampiri Johan.


“Betul, ini rumah Pak Hamzah. Mas ini siapanya Pak Hamzah?” tanya Bu Merry.


“Oh, iya. Kenalkan saya Johan. Adik sepupu Pak Hamzah.” Johan mengulurkan tangannya. Bu Merry membalas menjabat tangannya. Matanya tak lepas memandang sosok perlente Johan.


“Saya Merry. Istri Pak Hamzah.” Sahut Bu Merry.


“Ohh, kakak ipar. Maaf.“ Johan menangkupkan telapak tangannya dan menunduk hormat.


“Rasanya saya belum pernah tau suami saya punya saudara bernama Johan.” Lirik Bu Merry curiga.


“Oohh, memang saya sudah lama sekali tidak tinggal di Indonesia. Sudah 15 tahun saya tinggal di Kanada," jawab Johan lugas. Senyumnya sangat menarik perhatian Bu Merry.


Bu Merry memicingkan matanya berpikir sesuatu. Dahinya berkerut.


“Oooohh, mas ini sepupunya Pak Hamzah yang tinggal di Kanada. Yaa...Yaa..Ya...saya baru ingat dulu Pak Hamzah pernah cerita sama saya bahwa satu-satunya saudara terdekatnya tinggal di luar negeri.” Seru Bu Merry senang. Johan mengangguk penuh wibawa.


“Ayo masuk dulu. Itu mobilnya?“ tunjuk Bu Merry pada BMW silver keluaran terbaru yang terparkir di samping gerbangnya. Johan mengangguk lagi sambil tersenyum manis.


Waahhhh mobilnya keren banget, pasti orang kaya ini,  jiwa matre Bu Merry meronta-ronta.


“Ayo silahkan duduk, Mas Johan.” Bu Merry mempersilahkan Johan.


Pria perlente itu pun duduk persis di hadapan Bu Merry.


“Mau minum apa?”


“Gak usah, Kak. Saya sudah minum tadi di rumah kawan.” Johan menolak dengan sopan.


Bu Merry mengangguk. Wajahnya tampak berseri-seri menatap Johan.


“Bang Hamzah kira-kira pulang jam berapa dari kantor, Kak?” tanya Johan melirik jam tangannya.


Spontan Bu Merry pasang wajah sedih. Matanya tampak berkaca-kaca menahan air mata.


Johan pun bingung melihat wajah Bu Merry yang tiba-tiba sendu.


“Mas Johan belum tau Pak Hamzah sudah tiada?” Suara Bu Merry lirih penuh kesedihan.


“Maksud Kakak apa?”


“Pak Hamzah sudah meninggal dunia sekitar empat bulan lalu. Huuuuu..Huuu...Huuuu..!” Tangis Bu Merry pun pecah. Bahunya bergoyang-goyang turun naik menahan isaknya.

__ADS_1


Johan bengong merasa tak percaya apa yang diucapkan Bu Merry.


“Innalillahi wa inna Illaihi Rojiun,” ucap Johan lirih lalu menunduk menatap lantai.


“Suami saya sudah lama sakit-sakitan, Mas Johan. Sejak Almarhum sakit saya lah yang mengambil alih tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga untuk mencari nafkah.“


Johan menatap wajah Bu Merry dengan rasa iba yang mendalam.


“Lalu keponakan saya mana, Kak? Saya mau ketemu dia,” tanya Johan kemudian.


Bu Merry tersentak mendengar permintaan Johan. Wajahnya pucat dan mendadak gugup.


“Ehmm, itu, Mas. Anu... Lusi ya?“ Bu Merry gelagapan bingung mencari jawaban.


“Iya, Lusi. Putri satu-satunya Bang Hamzah. Saya pengen ketemu.”


“Ehmm, Ehh...Oohh iya, dia sedang di luar kota. Kerja di Kalimantan,” jawab Bu Merry berdusta.


Johan menatap wajah Bu Merry yang tampak kian gugup dan pucat.


“Ohh, sayang sekali. Sekarang cuma Lusi satu-satunya keluarga yang saya miliki, Kak. “ ucap Johan lirih sambil menunduk menahan air matanya.


“Ooohhh, jangan bilang begitu. Saya kan istri Almarhum Pak Hamzah, berarti saya keluarga Mas Johan juga.” Bujuk Bu Merry lembut. Sengaja dia menyentuh lengan Johan untuk menarik perhatian pria itu. Johan menoleh pada lengannya. Bu Merry langsung menarik kembali tangannya.


“Tadinya saya ada rencana ingin bawa Lusi tinggal sama saya di Canada. Kebetulan saya punya beberapa cabang restoran di sana.  Saya ingin Lusi bantu saya mengurus usaha saya itu. Karena saya kerepotan juga ngurus sendiri,” tutur Johan penuh percaya diri.


Mata Bu Merry langsung terbelalak mendengarnya.


Waaahh pengusaha restoran di Kanada, beneran tajir ini orang. Hati Bu Merry bersorak girang.


Johan tersenyum malu. Dia melirik Bu Merry sekilas.


“Saya belum menikah, Kak. Jomblo Istiqomah.” jawab Johan tersenyum malu-malu.


Seketika bola mata Bu Merry berbinar-binar. Wajahnya langsung berseri-seri.


“Ah, masa? Mas Johan kan ganteng, masa gak ada yang mau?" Rayu Bu Merry disertai kerlingan mata kirinya.


“Ada  sih yang mau Kak, tapi bule. Kebetulan saya gak begitu tertarik dengan cewek bule. Saya lebih suka perempuan Indonesia, lebih manis," ucap Johan tak mau kalah mengerlingkan mata kanannya.


“Ooh begitu. Usia Mas Johan berapa sekarang? “


“Sudah tua, kak. 45 tahun,” jawab Johan malu-malu.


“Waaah, berarti kita seumuran dong!" Sorak Bu Merry girang. Johan masih tersenyum malu.


Dia melirik jam tangannya yang tampaknya berharga sangat mahal.


“Sudah sore, Kak. Saya pamit dulu,” ucap Johan seraya berdiri dari duduknya dan merapikan jas nya.


“Oiya, Mas Johan jangan sungkan main-main ke sini lagi ya. Kita kan keluarga. Harus saling mengunjungi.”


“Betul Kak, pasti saya main lagi ke sini. Atau Kak Merry boleh berkunjung juga ke apartemen saya.”


“Ohya? Boleh minta alamatnya? Siapa tau kalo dekat saya bisa mampir.”


“Berapa nomor handphone Kak Merry. Saya kirim via WA alamatnya.”

__ADS_1


“Oh ini, Mas. Silahkan.” Bu Merry menyerahkan ponselnya ke tangan Johan. Tampak olehnya Johan mengetikkan nomor telepon dan alamat lengkap apartemennya. Lalu menyerahkan kembali ponsel itu ke tangan Bu Merry.


“Baiklah. Saya pamit. Oiya, Kalo Lusi telepon Kak Merry tolong titip pesan bahwa saya cari dia dan kasihkan nomor telepon saya, Ya Kak.”


“Oke, Mas Johan.“


Johan mengangguk hormat pada Bu Merry sebelum memasuki mobil mewahnya. Bu Merry pun membalas dengan sopan.


Gak nyangka Hamzah punya sodara tajir begitu. Laki-laki yang macam begitu baru selera aku. Gumam Bu Merry dalam hati. Dia senyum-senyum sendirian sambil menatap mobil mewah Johan yang sudah menjauh sampai hilang dari pandangannya.


***


Johan memarkirkan mobil mewahnya di pelataran parkir sebuah kafe. Lalu bergegas masuk ke dalamnya.


Suasana kafe tak begitu ramai, hanya ada beberapa meja yang terisi pengunjung. Dia mengedarkan pandangannya mencari seseorang. Ternyata orang itu duduk di meja paling belakang. Kemudian Dia melangkah cepat menghampiri.


“Selamat siang, Boss,” sapa Johan pada Reynard yang tengah santai menyeruput kopi nya.


Reynard mengangguk samar. Dengan telapak tangannya memberi kode mempersilahkan Johan untuk duduk di seberang mejanya.


“Bagaimana?“ tanya Reynard serius.


“Beres, Boss. Sesuai perintah Boss, umpan sudah saya tebar, sebentar lagi tikus masuk perangkap.” Lapor Johan tegas dan mantap.


“Bagus. Pokoknya kau harus terus ikutin arahan saya. Dan Ini uang jajan untuk hari ini.“ Reynard menggeser sebuah amplop coklat tebal ke hadapan Johan.


“Terima kasih, Boss.” Johan mengecup amplop itu dengan perasaan girang lalu segera memasukkannya ke dalam saku celana.


“Kalo begitu saya permisi dulu, Boss. Istri saya dari tadi sms terus, dia lagi nunggu saya untuk bayar listrik dan beli gas.“ Pamit Johan lalu berdiri dari duduknya.


“Oke, salam untuk istri dan anak kau ya. Bilang dapet salam dari orang ganteng,” ucap Reynard seenaknya.


“Hehehe...Siap Boss. Oiya. Ini kunci mobilnya.” Johan menyerahkan kunci mobil yang dia pakai tadi pada Reynard. Lalu berbalik badan hendak pergi.


"Eeeehhh, Johan...." panggil Reynard lagi. Johan menghentikan geraknya dan memutar badannya kembali menoleh ke arah Reynard.


"Ya, Boss?"


"Jam tangan saya...." pinta Reynard seraya menunjuk jam tangan berharga fantastis miliknya yang melingkar di pergelangan tangan Johan.


Spontan Johan menoleh ke arah arloji yang menggantung di pergelangan tangannya dan menyadarinya.


"Oh Iya, Sorry Boss.... Kirain Boss Reynard lupa. Hehehe...." celetuk Johan dengan wajah polos malu- malu dan tersenyum lebar.


Segera di lepas nya perlahan arloji mahal itu dari tangannya dan di serahkan ke tangan Reynard yang sudah tersodor di hadapannya.


"Enak aja...." sungut Reynard menarik sudut bibirnya.


"Hehehe.... Permisi, Boss..." ucap Johan, kemudian membalikkan badannya dan langsung ngeloyor pergi dari hadapan Reynard.


Reynard memang sengaja mendandani Johan dengan mengenakan barang -barang mewah miliknya dengan tujuan membuat Bu Merry terkesan dengan penampilan 'orang suruhan nya' itu dan percaya dengan semua bualannya.


Reynardpun tersenyum puas. Ini baru langkah awal untuk menjebak Bu Merry yang dzolim dan serakah itu.


Sabar Lusi, apa yang menjadi hak mu pasti akan kembali lagi pada mu.  Ucap Reynard dalam hatinya. 


PLEASE LIKE, VOTE, 5 RATE, KRITIK DAN SARAN DI PERSILAHKAN DI KOLOM KOMENTAR. YA SAY....

__ADS_1


__ADS_2