
Harum semerbak aroma woody yang sangat maskuline menyemarakkan seantero ruangan ketika Ferdian keluar dari kamar mandi. Tanpa menoleh pun Lusi tahu suaminya berada tepat di belakangnya karena wangi khas dari tubuhnya itu.
Namun Lusi tetap sibuk membalas pesan Watsapp dari Nikita. Sesekali dia tersenyum dan tertawa kecil membaca text dari teman kampusnya yang centil itu.
“Kamu tau gak, Lusi. Ashanti syok berat loh pas tau cowok yang dia taksir itu ternyata suami kamu. **emoticonLOL* sampe sekarang dia gak ada nafsu makan katanya, tapi tadi aku liat dia makan bakso sampe dua kali nambah loh. Kamu bayangin ya gak nafsu makan aja kayak gitu apalagi pas nafsu makan. *emoticon LOL*“
Lusi tersenyum lebar membacanya.
Ferdian memperhatikan raut wajah Lusi yang sumringah. Penasaran, langsung disambarnya ponsel itu dari tangan Lusi lalu segera dia sembunyikan di belakang punggungnya.
“Aaaaahhh, Mas. Apa-apan sih.” Lusi protes. Kedua tangannya melingkari pinggang Ferdian berusaha keras merebutnya kembali.
“Ehh, ngapain nih peluk - peluk.” Giliran Ferdian yang protes. Tentu saja dia cuma pura-pura protes, karena memang dia senang Lusi memeluk pinggangnya.
Kesempatan langka, pikirnya.
“Balikin dong, Mas,“ pinta Lusi memelas. Dia takut Ferdian membaca pesan dari temannya itu.
Benar saja. Dengan santai Ferdian menghenyakkan pantatnya di sofa dan membuka seluruh isi percakapan mereka.
Lusi masih berusaha merebut ponselnya dan Ferdian pun tetap mempertahankannya.
“Kalo gak ada chat yang berbahaya santai aja napa sih,“ ucap Ferdian cuek lalu mulai membacanya dari baris teratas satu persatu.
Lusi duduk bersimpuh di samping lutut Ferdian. Dia memperhatikan raut wajah Ferdian yang datar tengah membuka seluruh isi percakapan di watsapp-nya. Sesekali pria tampan itu tersenyum, sesekali menautkan alisnya, sesekali rautnya sangat serius.
“Nih, ambil. Chat-nya banyak kata-kata alay. Malas bacanya. Dasar ABG,“ ucap Ferdian seraya menyerahkan ponsel itu ke tangan Lusi.
“Aahhh Lega...“ Sambut Lusi seraya mendekap ponsel itu ke dadanya.
“Coba aku liat luka kamu.” Ferdian meminta tangan Lusi.
Sejenak di lihatnya pergelangan tangan Lusi yang masih diperban rapi. Kemudian matanya beralih pada Luka goresan di samping pelipis Lusi yang masih kentara. Lalu diusapnya lembut dan hati-hati.
“Sakit?” tanyanya ketika melihat Lusi meringis. Lusi mengangguk pelan.
“Kasian, muka mulus begini di tampar orang gila," ucap Ferdian lembut seraya mengusap kedua pipi Lusi yang berubah merona pink.
Lusi memejamkan mata menikmati usapan jemari Ferdian yang berulang-ulang di kedua pipinya. Dia suka sekali diperlakukan begitu. Membuat rasa kantuk menghampirinya.
Dia ingat masa kecilnya dulu ketika dia susah tidur, almarhum ayah atau almarhumah bundanya selalu mengusap-usap lembut pipinya sampai dia tertidur pulas.
Ferdian memperhatikan lekat wajah imut Lusi. Wajah ya semakin mendekat. Bibirnya siap mendarat ke bibir mungil Lusi.
Dan.... Tuuukk....
Kening Lusi terantuk beradu pada keningnya.
“Awww...!” seru kedua nya berbarengan seraya memegang kening masing-masing.
“Kamu ketiduran ya di usap-usap pipinya?” tanya Ferdian sambil meringis.
Lusi mengangguk juga sambil meringis. ”Abis enak," ucap nya polos.
“Dasyaaarrr!” Ferdian mencubit hidung Lusi gemas. Keduanya pun tertawa geli.
__ADS_1
“Makan yuk, laper.” Ajak Ferdian menarik tangan Lusi bangkit dari duduknya.
“Aku makan di sini aja, Mas. Malas keluar,“ ucap Lusi seraya merebahkan tubuhnya di sofa.
“Oke lah, aku turun dulu ya. Nanti aku bawain makanan untuk kamu.“
Lusi hanya mengangguk lalu melanjutkan kembali chat nya dengan Nikita yang terjeda tadi.
Di meja makan, Ferdian menyantap makan malam nya seorang diri. Hanya Mbak Ira yang tampak bolak balik bersliweran antara dapur dan meja makan. Ada-ada saja yang dikerjakannya. Membuat Ferdian tak konsentrasi menikmati makannya.
“Cantika udah pulang, Mbak?” tanya Ferdian pada Mbak Ira yang mengantarkan secangkir kopi untuk Ferdian.
“Udah dari tadi, Boss. Sekarang Ada di kamarnya.“
“Udah makan belum itu anak?” tanya Ferdian lagi.
“Tumben nanyain adeknya yang cantik tak berujung ini.” Tiba-tiba dari arah belakang Cantika berseru. Ferdian menoleh sejenak pada Cantika yang sudah mengenakan baju tidur baby dollnya.
Cantika memeluk Ferdian dari belakang. Lalu meletakkan kepalanya dengan manja di tengkuk kakaknya.
“Pasti ada maunya,” ucap Ferdian curiga.
Mbak Ira hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan adik kakak itu.
“Kak, ini...” Cantika meletakkan brosur bersampul mewah bergambar gedung apartement di hadapan Ferdian.
Ferdian melihat dan membaca isi brosur itu dengan seksama.
“Kamu mau beli?” tanya Ferdian kemudian. Cantika mengangguk mantap.
“Boleh yah, Please. Aku dikasih diskon gede loh, Kak. Terus bonus-bonusnya, wuiihh ... mantap deh pokoknya.”
Ferdian menghela nafasnya lalu mengangguk seraya tersenyum kecil pada Cantika.
“Iya boleh. Tapi inget, jangan di pake untuk pacaran. Awas!”
“Asyiiikkk! Terima kasih kakakku yang paling ganteng sedunia,“ sorak Cantika kegirangan. Dia memeluk lagi leher Ferdian dengan erat.
“Kapan transaksinya? Mau aku temenin?” tanya Ferdian seraya melepas pelukan Cantika yang membuatnya sedikit susah bernafas.
“Besok, Kak. Gak usah ditemenin. Aku paham, kok. Lagipula ini developernya kelas wahid, Kak. Dijamin terpercaya.”
“Oke lah, tapi jangan lupa kamu perhatikan juga kelengkapan surat-suratnya ya. Kalo ada kesulitan cepat telepon aku.”
“Siap, Kang Mas,” ucap Cantika seraya menangkupkan kedua telapak tangannya di kepala dan menunduk hormat pada Ferdian.
“Bobok 'aaahhh. Good night, Kakak. Muuuahhh...” Cantika mengecup pipi Ferdian lalu ngeloyor pergi sambil menari-nari kegirangan karena keinginannya dikabulkan oleh kakak tersayangnya.
Ferdian sendirian kembali termenung di meja makan. Dia menopang dagunya sambil mengaduk-aduk kopi yang dibuatkan Mbak Ira.
Tiiiingg....Tiiiing....Tiiiing.... Handphone di saku celananya berdering.
Segera dia raih lalu dilihat nama kontak yang muncul di layar. Pak Hermansyah.
“Halo, Pak?” jawab Ferdian lekas.
__ADS_1
“Pak Ferdian, Bu Merry sudah di ketemukan, sekarang sudah di bawa ke kantor polisi.“
“Hah? Good. Aku ke sana sekarang.“ Ferdian spontan bangkit dari duduk nya.
“Maaf Pak Ferdian, saya rasa besok pagi saja. Biar polisi yang menangani nya dulu malam ini.”
“Oh, begitu ya? Baiklah, besok kita ke sana. Terima kasih informasinya, Pak. Selamat malam," ucap Ferdian, lalu mengakhiri sambungan teleponnya.
Dia mencari nama Reynard di kontaknya. Lalu menelponnya segera.
“Halo, Bro?” Suara Reynard dari ujung telepon.
“Rey, ibu tirinya Lusi sudah tertangkap. Barusan Pak Hermansyah telepon aku.”
“Wah, bagus itu. Ayo kita ke kantor polisi sekarang. “
“Hmm, Rey. Aku rasa biar aku saja yang ketemu Bu Merry. Kamu jangan muncul dulu di hadapan dia.”
“Loh kok begitu? Aku juga pengen kasih pelajaran buat dia.”
“Jangan dulu, Rey. Ingat jangan sampe nama kamu terdengar oleh Bramanto dalam kasus ini. Besar resikonya untuk kamu. Dan bisa berantakan semua rencana kita.”
“Ooo, iya betul. Kau tepat sekali, Bro. Baiklah kalo begitu. Kau hati-hati juga yah.”
“Pasti, Rey. Sudah dulu ya.”
Ferdian mengakhiri sambungan teleponnya. Lalu menghela nafasnya lega dan tersenyum puas. Dia salut atas kerja kepolisian yang bergerak cepat menindaklanjuti laporannya.
“Mbak Ira....” panggilnya kemudian.
“Ya Boss...?”
“Tolong siapin makanan untuk Lusi ya. Saya mau bawa ke kamar.”
“Baik, Boss.“
Dengan cekatan Mbak Ira menata makan malam untuk Lusi diatas nampan lalu mengantarkannya ke hadapan Ferdian.
Ferdian menerimanya kemudian lekas membawanya ke kamarnya untuk Istri kesayangan.
“Lusi, Sayang? Darling? Sweet heart? Ini makan malam kamu,” panggil Ferdian ketika melangkah memasuki kamarnya yang tampak sudah temaram.
Di dapatinya Lusi sudah terlelap pulas di sofa dengan posisi satu kakinya yang menjuntai ke lantai.
Di letakkannya nampan berisi makan malam untuk Lusi itu di atas meja. Kemudian pelan-pelan membopong tubuh mungil Lusi ke ranjang. Lalu menyelimutinya sampai batas leher.
Ditatapnya wajah imut Lusi yang polos. Dan merapikan anak rambutnya yang menutup keningnya.
Sebenarnya dia ingin sekali membangunkan gadis itu untuk memberitahukan berita yang menggembirakan untuknya. Tapi dia tak tega melihat Lusi sudah lelap terbuai alam mimpinya.
Di baringkan tubuhnya di samping Lusi. Tatapannya lurus ke langit-langit. Jemarinya ditautkan ke jemari Lusi di bawah selimut. Lalu memejamkan kedua kelopak matanya menuju alam mimpi dan berharap bertemu dengan Lusi di mimpi indahnya.
Good night all....Have a nice dream
(from Author)
__ADS_1
Please Like, vote, dan komen nya yah...
Terima kasih