
Lobby Apartement Candrakirana Mansion itu tampak begitu terang benderang di bawah siraman cahaya puluhan lampu kristal yang bergelantungan di bagian tengah dan setiap sudut langit-langit.
Nuansa putih dan keemasan membuat lobby mansion itu mampu memukau pandangan.
Dengan melangkah santai, Ferdian mendatangi meja resepsionis. Lalu menyapa petugas di belakang meja.
“Selamat malam, Pak. Ada yang bisa kami bantu?” sambut seorang resepsionis pria dengan tingkah yang sedikit gemulai.
“Saya mau ke lantai dua puluh lima. Penthouse atas nama Reynard.“
“Baik, Pak. Saya cek dulu. Mohon ditunggu sebentar," ucap Resepsionis pria itu sambil mengerlingkan mata kirinya pada Ferdian, membuat Ferdian menautkan kedua alisnya, bingung.
Dia merasakan ada sesuatu yang janggal dengan tingkah Pria di hadapannya itu.
“Ini dengan Pak Ferdian Adiwijaya?” tanya Resepsionis gemulai itu lagi.
“Iya betul.“
“Ooh, nama Pak Ferdian sudah ada di appointment list Bapak Reynard hari ini. Silahkan langsung ke lantai dua puluh lima, Pak. Atau mau saya antar?” goda si resepsionis itu sembari mengerlingkan sebelah matanya lagi, kemudian membasahi bibir dengan lidahnya sekilas. Lalu melempar senyum genit pada Ferdian.
“Ya Tuhan....” sebut Ferdian seraya menggeleng-geleng kepala.
“Tak usah, saya bisa sendiri. Terima kasih,” lanjutnya kemudian,
Ferdian segera melangkah menuju lift meninggalkan resepsionis itu yang masih menatap bokongnya dengan penuh nafsu.
Tiiingg
'twenty fifth floor.'
Suara mesin operator dari dalam lift terdengar. Pintunya terbuka tepat di depan pintu masuk penthouse milik Reynard.
Dia menekan bell di depan pintu penthouse itu beberapa kali. Namun tak juga kunjung dibuka.
Dia tekan lagi bell itu berkali-kali dengan tak sabar. Bahkan lebih lama, hingga menimbulkan suara bising di dalam sana.
Klek!
Akhirnya terdengar pintu dibuka dari dalam.
“Lama sekali kau, Rey....Ooow...” Kalimat Ferdian terputus demi melihat seorang wanita cantik memakai baju tidur sexy warna pink berbahan satin tipis membukakan pintu untuknya.
Sejenak dia terpana lalu mengusap tengkuknya, bingung.
“Apa aku salah room, ya?” gumamnya sambil menoleh ke bagian atas pintu.
“Bener, ah! Ini penthouse nomor satu,“ gumamnya lagi.
“Anda gak salah kamar, kok. Mas Rey ada di dalam. Silakan masuk," ucap wanita cantik itu, mempersilakan dengan lembut.
Ferdian pun masuk ke dalam apartement Reynard yang luas itu dengan langkah ragu. Sesekali dia menoleh pada wanita yang berjalan persis di belakang punggungnya.
“Hai, Bro!“ Reynard muncul dari kamar tidur utama dengan hanya memakai piyama dan rambutnya yang masih basah.
Ferdian menoleh bergantian pada Reynard dan wanita cantik di belakangnya dengan tatapan penuh tanda tanya. Reynard yang ditatap curiga seperti itu, merasa canggung dan rikuh.
__ADS_1
“Ehmm, mau minum apa?” tanya Reynard berusaha menepis kegugupannya di hadapan Ferdian.
“Apa aja, asal jangan yang beralkohol,“ jawab Ferdian lalu menghenyakkan diri pada sofa yang berhadapan langsung ke kolam renang pribadi.
“Ehm, Ven, minta tolong ya. Bikinin kopi dua," suruh Reynard pada teman wanitanya itu. Lalu wanita itu menjawab dengan anggukan sambil tersenyum nakal pada Reynard. Reynard pun balas mengerlingkan sebelah mata.
Reynard ikut menghenyakkan diri di sofa tepat di seberang Ferdian.
“Ganti lagi?” tanya Ferdian dengan suara pelan sambil melirik ke arah minibar.
Reynard hanya tersipu malu karena merasa diinterogasi sahabatnya itu.
“Cemilan doang, Bro. Nothing special....” jawab Reynard enteng, juga dengan suara setengah berbisik.
Ferdian hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban Reynard yang seenak jidatnya itu.
Keduanya menghentikan celotehan ketika si wanita cantik itu meletakkan dua cangkir kopi di atas meja. Sesekali matanya melirik menggoda Ferdian, namun Ferdian tak acuh saja.
“Bagaimana pertemuan kamu sama ibu tirinya Lusi tadi pagi?“ Reynard membuka pembicaraan.
“Lancar, dia janji akan menyeret serta Bramanto untuk kasus Lusi yang dulu. Dia tau Bramanto ini memang bersindikat untuk transaksi maksiat," tutur Ferdian, lalu menyeruput kopinya sejenak.
“Pasti itu. Aku, kan menyaksikan sendiri dan juga keterangan dari istrinya Bramanto, bahwa dia punya bisnis maksiat Ilegal di balik bisnis utamanya.“
“Semoga segera terungkap semua. Aku sudah muak nama manusia satu itu selalu terngiang-ngiang di otakku selama ini,“ ucap Ferdian geram, karena sekilas terbayang kembali wajah mendiang kedua orangtuanya.
“Oiya. Aku ada kabar baik untuk kau," seru Reynard seraya bangkit dari duduknya.
“Apa?”
Ferdian hanya menghela nafasnya malas, lalu menyandarkan lehernya yang terasa penat pada sandaran sofa.
Tanpa sengaja pandangannya berbenturan dengan teman wanita Reynard yang tengah duduk berselonjor di depan kolam renang dengan jarak beberapa meter saja di hadapannya.
Wanita itu melirik nakal menggoda Ferdian. Sesekali baju tidurnya tersingkap menampilkan sepasang pahanya yang putih mulus untuk menggugah nafsu.
'Benar-benar *g*odaan iman. Please Lusi... Lusi... Lusi... Lusi....' gumamnya dalam hati seraya memejamkan mata, berusaha menghadirkan wajah Lusi di benaknya.
'Lusi? Bahkan di saat seperti ini pun aku ingat dia. Ya Tuhan, aku jatuh cinta. Benar, gak salah lagi,' tegasnya dalam hati, seraya memegang dada sebelah kiri dan merasakan denyutan jantung yang begitu cepat.
Tanpa sadar senyum manisnya pun mengembang di sudut bibir kala benaknya dipenuhi bayangan wajah Lusi yang cantik dan menggemaskan.
Dia membuka kelopak mata perlahan. Namun yang dia dapati teman wanita Reynard itu justru tersenyum genit padanya. Spontan Ferdian menghapus senyum di wajahnya yang masih tersisa.
“Bro, selamat. Sekarang kau adalah pemegang saham mayoritas dari PT IndoMarine.“ Tiba- tiba Reynard muncul di hadapannya dengan sebuah map tebal di tangannya.
Ferdian terkesiap seolah tak percaya apa yang didengarnya. Dia bangkit dari duduknya menatap Reynard yang tersenyum lebar padanya.
“Kau serius?” tanya Ferdian tak percaya.
“Hari ini resminya. Bramanto dan investor utusan kau itu sudah tanda tangan di hadapan semua direktur dan komisaris. Dan Ini dokumennya. Silahkan.” Reynard menyerahkan map tebal itu pada Ferdian yang masih melongo tak percaya.
Dia membuka map itu lalu membacanya perlahan dan sangat teliti. Seketika wajahnya semringah dengan bola mata berbinar-binar menatap Reynard.
“Congratulation, Bro. You are the man,” ucap Reynard seraya menjulurkan tangannya ke hadapan Ferdian.
__ADS_1
Spontan Ferdian memeluknya dengan sangat erat. Reynard menepuk-nepuk bahu Ferdian penuh rasa bangga.
Keduanya pun tertawa sangat bahagia, tanpa memedulikan wanita cantik yang duduk di depan kolam renang itu memperhatikan mereka dengan pandangan heran.
“Udah, udah.... Ntar aku nafsu sama kau. Bahaya. Aku gak bakat main pedang-pedangan," seloroh Reynard sambil menepuk bahu Ferdian sekali lagi.
Ferdian pun melepas pelukannya dari tubuh tegap Reynard.
“Sekarang kau adalah Bossnya si Bramanto. Dan pastinya Boss aku juga. Hehehehe...." ucap Reynard sambil terkekeh.
“No! Aku bukan boss kau. We are brothers, Man,” balas Ferdian menepuk bahu Reynard.
"Kendali perusahaan itu sekarang ada di tangan kau. Yang pasti aku tetap mendukung apapun yang akan kau perbuat pada perusahaan itu," lanjut Reynard lagi meyakinkan Ferdian.
“Pada saatnya nanti akan aku hancurkan perusahaan itu. Akhirnya, setahap demi setahap dendamku terbalas. Tapi aku belum puas sebelum orang itu masuk penjara dan membayar kejahatannya pada mama papaku dan juga pada Lusi," ucap Ferdian dengan raut wajah dingin dan datar.
“Sabar, Bro. Sebentar lagi waktunya.“
“Hmm, ngomong-ngomong soal Lusi, ketika ini semua selesai, apa kau masih pegang komitmen sesuai perjanjian kau dan Lusi? Bahwa kau akan menceraikannya dan kalian bebas dengan hidup masing-masing,” tanya Reynard pelan dan nada suaranya sangat serius.
Ferdian menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghelanya berat. Dia terduduk dalam diam. Tak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan Reynard itu.
“Aku jatuh cinta sama Lusi, Rey,” ucapnya kemudian menatap wajah Reynard.
“I knew it,” Reynard mengangguk yakin.
“Kalo aku gak mau menceraikan dia bagaimana, ya?“
“Dianya mau atau gak? Kau juga harus pikirkan keinginannya. Dia masih sangat muda. Mungkin masih banyak cita-citanya yang ingin dia capai dengan bebas tanpa ikatan dengan siapapun, termasuk dengan kau,” tutur Reynard perlahan dan hati-hati.
Ferdian terpaku dengan dilemanya. Benar apa yang dikatakan Reynard. Tapi dia pun tak mungkin sanggup melepaskan gadis yang sudah menggenggam hatinya itu. Apalagi membayangkan Lusi dimiliki orang lain, mungkin dia bisa gila.
Wajah Ferdian spontan berubah lesu dan senyumnya pun memudar. Dia mengusap wajahnya sejenak.
“Kau benar, Rey. Jadi pening aku mikirin dia,” gerutunya, kemudian menarik-narik rambutnya sendiri dengan gemas.
“Aku punya obat sakit kepala, mau?” canda Reynard mencairkan suasana.
“Aku gak butuh obat kau. Ini peningnya beda. Aku harus pulang sekarang.“ Ferdian beranjak dari sofa dan sejenak merapikan kemejanya.
“Loh, kok buru-buru. Nantilah, Bro.“ Reynard berusaha menahannya.
“Ngapain aku lama-lama disini? Kau suruh aku nonton Live show, gitu?“ tukas Ferdian seraya melirik wanita yang masih terbaring di kursi panjang tepi kolam renang.
Reynard tertawa renyah, meninju bahu Ferdian pelan.
“Sudah hampir jam sebelas. Pasti Lusi sudah tidur," gumam Ferdian setelah melirik jam tangannya.
“Okelah. Salam untuk Lusi dan Cantika,“ ucap Reynard mengiringi langkah Ferdian menuju pintu.
Ferdian mengangguk lalu keluar dari apartement Reynard, membiarkan Reynard menghabiskan malamnya dengan wanita cantik yang hampir terlelap menunggunya.
Terima kasih reader...
please Like, Vote, kritik Dan saran yang membangun di kolom komentar.
__ADS_1